
Happy Reading 🌹🌹
Gabriel langsung menyambar jasnya dan berjalan cepat keluar dari ruangan sang Kakek.
Ya, saat ini Gabriel tengah mempelajari perusahaan bersama dengan Bibinya Stevani.
"Ya! El, kau mau pergi kemana!" Teriak Vani dari ambang pintu ruang CEO.
Gabriel tidak menjawab maupun menoleh, melainkan hanya melambaikan tangannya saja hingga tubuhnya masuk kedalam lift.
"Ishhh, ponakan menyebalkan! Persis seperti Stevan." Gerutu Vani yang memandang pintu lift hingga tertutup.
Sedangkan Gabriel terlihat sangat tidak sabaran karena Nyonya Kim mengajaknya bertemu secara mendadak terlebih lagi mengajak serta Mamanya Kristal.
"Apa yang sedang direncanakan keluarga itu." Gumam Briel pelan.
Hingga pintu lift terbuka membawa Gabriel sampai dibasement perusahaan Kristoff.
Dengan langkah lebarnya , Gabriel berjalan keluar satu tangannya merogoh saku celana untuk mengambil kunci mobil.
Masih berjalan Gabriel menekan alarm mobil agar berbunyi, terlihat mobil baru berwarna biru tua tengah menyala-nyala lampu utamanya.
Buk
Terdengar suara pintu mobil ditutup oleh sang empunya, deru mesin mobil mulai tersengar. Perlahan roda mobil bergerak perlahan seiring Gabriel menancapkan gasnya.
Gabriel mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggia, karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Nyonya Kim.
Terlihat Gabriel begitu fokus dijalan raya, hingga tidak membutuhkan waktu lama Gabriel telah sampai dimansion Kristoff.
"Dimana Mama?" Tanya Gabriel to the point.
"Didapur Tuan." Jawab Maid dengan takut.
Gabriel melenggang melewati maid tersebut untuk pergi kedapur menghampiri Kristal.
Terlihat Ibunya begitu cekatan bekerja didapur, "Mah." Panggil Gabriel.
Kristal menolehkan kepalanya dan tersenyum, "Sudah pulang? Kenapa cepat sekali, lalu dimana Bibimu?" Tanya Kristal beruntun.
Gabriel mendekat dan membisikkan sesuatu ditelinga Kristal karena mengingat Stevan dan Eve berada didalam mansion.
Kedua mata Kristal melebar karena kaget atas undangan Nyonya Kim.
"Apa kamu yakin, El?" Tanya Kristal pelan.
Gabriel mengangguk dengan pasti.
Kristal segera mematikan kompor dan berlari menuju kamarnya yang berdekatan dengan Gabriel.
Sedangkan Gabriel berjalan memasuki ruang kerja Kakek Kristoff untuk menyiapkan sesuatu.
Gabriel tidak tahu tujuan dan makhsud dari undangan Nyonya Kim, sehingga membuat Gabriel harus waspada dengan segala kemungkinan yang ada.
Meskipun Gabriel melihat bagaimana sayangnya Nyonya Kim terhadap Minzy, juga Nyonya Kim yang diperlakukan kadar oleh Ketua Kim. Tidak membuat seorang Gabriel lengah.
Gabriel langsung keluar ruang kerja sang Kakek, namun langlahnya langsung terhenti karena Stevan tengah berdiri didepannya.
"Ada apa?" Tanya Gabriel dengan suara khasnya.
"Apa kamu ingin pergi memancing?" Tanya Stevan kikuk.
"Tidak." Tolak Gabriel cepat.
Hingga suara langkah kaki dari atas membuat Gabriel dan Stevan menoleh.
"Ayo, El." Ajak Kristal dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Gabriel yang digandeng oleh Kristal segera berjalan, namun langkah mereka harus terhenti karena Stevan memegang pergelangan tangan Kristal.
"Kalian mau kemana?" Tanya Stevan yang merasa iri karena Gabriel dengan mudahnya mengiyakan ajakan Kristal.
"Bukan urusanmu." Ketus Kristal dengan menarik kasar tangannya agar terlepas dari Stevan.
Kristal melenggang pergi setelah menjawab pertanyaan Stevan, sedangkan Gabriel juga tidak peduli dengan Ayahnya dan segera menyusul Mamanya.
Singkat cerita, mobil biru tua telah sampai dilokasi yang dikirim oleh utusan Nyonya Kim. Para penjaga yang sebelumnya sudah diberitahu oleh ketua IT segera berlari menuju mobil Gabriel.
"Mereka kenapa berlari kesini, El?" Tanya Kristal takut.
"Biar El saja yang turun, Mama jangan turun jika berbahaya langsung pergi ya." Ucap Gabriel mengintrupsi Kristal.
Kristal menggeleng cepat, "Jangan El." Larang Kristal.
"Tidak apa-apa, Mah." Ucap Gabriel.
Gabriel langsung membuka seat beltnya dan keluar seorang diri dari mobol.
Pengawal Nyonya Kim langsung menundukkan kepala sebagai rasa hormat mereka kepada Gabriel dan Kristal.
"Selamat datang, Tuan. Nyonya sudah menunggu." Ucap pengawal dengan sopan.
Kedua mata Gabriel dengan jeli mengamati situasi, diluar aman.
"Mah, ayo keluar." Ucap Gabriel membuka pintu mobil dan memasukkan kepalanya sedikit kedalam mobil.
Kristal segera membuka mobil, keduanyaberjalan masuk kedalam sebuah gedung dengan pengawalan dari anak buah Nyonya Kim.
Terlihat ruangan penuh dengan layar PC dan banyak pria berjas hitam disana.
Kristal terlihat menggerakkan kepalanya kekanan , kekiri, kebawah, dan keatas mengamati ruangam tersebut.
Hingga satu ruangan dibuka, terlihat lebih terang dari ruangan yang ada diluar.
"Silahkan masuk, Tuan." Ucap pengawal.
Terlihat wanita yang seumuran dengan Kristal tengah berdiri menyambut kedatangan keduanya.
"Kristal." Panggil Nyonya Kim.
Kristal sedikit familiar dengan suara itu namun siapa, Kristal lupa.
"Kamu ingan aku, aku Kim Hee In." Ucap Nyonya Kim dengan nada sedikit bergetar.
"Kim Hee In." Gumam Kristal.
Terlihat Kristal masih belum merespon ucapan Nyonya Kim, membuat Nyonya Kim sedih.
"Kita duduk dulu." Ucap Gabriel memecahkan keheningan.
Gabriel kembali berjalan dengan menggandeng Kristal menuju sofa, Nyonya Kim membali duduk ditempatnya dengan mengamati Kristal dari ujung kaki sampai kepala.
"Ada perlu apa memanggil kami?" Tanya Gabriel to the point.
"Sebenarnya, aku ingin bertemu dengan Mamamu." Jawab Nyonya Kim yang masih memandang Kristal.
"Ada keperluan apa? Mamaku sepertinya tidak mengenali Anda." Ucap Gabriel dingin.
Nyonya Kim mengeluarkan satu lembar foto masa SMA dimana seluruh anggota chirliders berfoto bersama setelah tim baskes mereka memenangkan pertandingan.
Nyonya Kim menggeser foto hingga didepan Gabriel dan Kristal. Kristal terenyuh memandang foto itu terlihat tiba-tiba air matanya mengalir.
Masa-masa sekolah yang sangat membahagiakan sekaligus memusingkan karena harus belajar dan belajar untuk dapat masuk universitas impian.
"Apa kamu sudah ingat, aku Kim Hee In ketua cherleders." Ucap Nyonya Kim pelan.
__ADS_1
Kristal mengangguk namun masih terpaku menatap foto dimana dirinya tersenyum dengan sangat bahagia tanpa beban apapun.
Nyonya Kim mengeluarkan beberapa foto yang dia temukan didalam kotak penyimoanan Ketua Kim kemarin.
Banyak foto dari mendiang kedua orangtua Kristal disana, Nyonya Kim mengeluarkan semua foto-foto tersebut hingga memenuhi meja kaca berwarna gelap itu.
"Ayah, Mama." Ucap Kristal dengan air mata yang sudah menetes.
Tangannya bergetar meraba foto mendiang Ayah daj Mamanya yang bahkan Kristal sudah tidak memilikinya.
Kristal terisak dirinya menangis karena rasa sakit kehilangan itu datang kembali.
"Ayah, Mama." Panggil Kristal dengan suara yang bahkan nyaris tidak ada.
Gabriel merengkuh tubuh kecil Mamanya kedalam pelukannya.
Menepuk dan mengelus punggung Kristal.
"Kristal, waktunya bukan bersedih. Aku tahu kalian pasti sedang mencari ini." Ucap Nyonya Kim dengan mengeluarkan sebuah dokumen.
Gabriel menerimanya dan membacanya dengan seksama, keluarga Han.
Namun alisnya mengkerut, kenapa keluarga Han memberikan semua hak waris Kristal kepada Ketua Kim. Mereka tidak ada ikatan apapun bahkan tetanggapun tidak.
"Dari mana Anda dapat surat ini?" Tanya Gabriel datar.
Nyonya Kim akhirnya menjelaskan bagaimana rencananya dan bukti-bukti yang sudah dia kumpulkan selama ini.
Bukti pembunuhan berencana yang dilakukan Ketua Kim berserta ibu tiri Daniel yaitu Eve. Bahkan pengalihan harta keluarga Kim yang dirubah atas namanya, juga rencana penculikan Kristal karena saham 10% yang dimiliki Kristal diperusahaan Kriatoff.
"Lalu tujuan Anda apa?" Tanya Gabriel setelah Nyonya Kim selesai berbicara.
"Mari kerjasama. Aku akan menceraikan Ketua Kim dan mendepaknya jauh dari kehidupanku juga Minzy. Sedangkan Kristal dapat mendepak Eve dari kediaman Kristoff, bukan itu saja kita dapat menjebloskan keduanya dengan hukuman yang sangat berat." Jawab Nyonya Kim menjelaskan makhsud dan tujuannya.
"Untuk pembunuhan berencana, apakah Anda dapat memiliki bukti?" Tanya Gabriel serius.
Nyonya Kim menuntukkan foto-foto diruangbrahasia dan juga rekamannya , dimana papan dengan benang merah saling menghubungkan. Bahkan foto mendiang neneknya terpajang dengan figura yang besar.
"Apa hubungan Ketua Kim dengan Mamaku?" Akhirnya Kristal bertanya karena sejak tadi masih meratapi masa lalu.
"Mamamu adalah cinta pertama Ketua Kim." Jawab Nyonya Kim dengan mata yang sudah memerah menahan tangis.
Hati wanita mana yang tidak sakit, mengetahui suaminya memiliki anak dari wanita lain dan memuja wanita yang bahkan sudah lama meninggal dunia.
"Apa karena cintanya sehingga membuat kedua orangtuaku meninggal." Ucap Kristal dengan bibir gemetar.
"Itu bukan cinta namun obsesi, obsesinya terhadap Mamamu membuanya buta dengan tindakannya yang akan merusak kehidupanmu." Jawab Nyonya Kim.
"Selama puluhan tahun bahkam kamu hidup dengan seorang pembunuh, apa kamu tidak mencurigainya." Ucap Kristal yang mulai terbawa emosi.
"Ya kamu benar, karena aku dibutakan oleh cinta bahkan ucapan orangtuaku bagaikan angin lalu." Jawab Nyonya Kim dengan getir.
"Mah, tenanglah." Ucap Gabriel.
Kristal mengusap air matanya dengan kasar namun entah sepertinya air matanya sedang tidak dapat dikendalikan sehingga terus meluncur membasahi kedua pipinya.
"Aku ingin dia mendapatkan hukuman yang setimpal, oleh karena itu aku mengundang kalian kesini dan memgajak kerjasama." Kata Nyonya Kim yang berusaha kuat.
"Bagaimana aku bisa mempercayai Anda?" Tanya Gabriel yang masih penuh rasa curiga.
"Apa dengan aku membawa bukti-bukti ini masih belum kamu percaya Daniel, pasang kamera pengawasmu dam juga perekam suara di tasku. Aku hanya membawa tas ini kemanapun." Jawab Nyonya Kim dengan meletakkan tas kesayangannya dimeja kaca hingga menindih foto-foto itu.
Gabriel masih diam dengan wajah datarnya, dan sedetik kemudian mengeluarkan sebuah cincin dari dalam jasnya.
"Jangan pernah lepas cincin itu, jikaada sesuatu yang berbahaya tinggal tekan tombol yang berada disamping cincin." Jelas Gabriel.
Nyonya Kim mengambil cincin sederhana namun elegant tersebut dan memasang disalah satu jarinya.
__ADS_1
"Terima kasih." Jawab Nyonya Kim dengan tulus.
...🐾🐾...