
Happy Reading πΉπΉ
Terdengar suara sepatu hak tinggi menggema di ruang tengah dengan terburu-buru.
"Kakak mau kemana?" Tanya Stevan yang baru saja keluar dari dapur.
Langkah Stevani terhenti dengan memasang anting dikedua telinganya secara bergantian.
"Kenapa pakaianmu seperti itu, cepat ganti." Seru Stevani pada adiknya.
"Stevan hanya dirumah, apanya yang salah?" Tanya Stevan bingung.
Telingan Stevan terasa berdengung karena pukulan keras dari Kakaknya dikepala.
"Ya! Bodoh, hari ini pertunangan Daniel dengan Minzy." Umpat Stevani pada adiknya.
Stevan terpaku ditempatnya bahkan tidak berkedip karena terlalu kaget dengen ucapan Stevani, karena jujur saja Stevan tidak menahu untuk tanggal pasti pernikahan Daniel.
"Kenapa masih bengong, cepat ganti bajumu." Ucap Stevani lagi.
Stevan langsung tersadar dan menegakkan kepalanya, "Untuk apa, Stevan bahkan tidak tahu apapun." Jawab Stevam dingin.
Stevani tersenyum miring, "Apa istri tercintamu tidak mengatakan jika Kristal sudah mengatakan untuk datang ke acara pertunangan Daniel?" Tanya Stevani pada Stevan karena dirinya mendengar Kristal berbicara pada Eve ketika Stevan sedang mandi.
Melihat kebisuan Stevan membuat Stevani mendapatkan jawabannya.
"Ahhh--- aku tahu, kalian berdua sama saja. Sudahlah aku berangkat dulu berbicara dengan orang bodoh sepertimu membuatku darah tinggi." Ucap Stevani dan melangkah meninggalkan Stevan yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Langkah Stevani terhenti didepan pintu utama, "Jika kamu masih memiliki hati nurani datanglah di Hotel Sila." Ucap Stevani lagi sebelum dirinya benar-benar meninggalkan kediaman Kristoff.
Deru mobil terdengar tidak lama setelah kepergian Stevani, suara mobil yang semakin lama semakin tidak terdengar.
Stevan mengepalkan kedua tangannya dan segera mencari keberadaan istrinya.
"Eve!"
"Eve!!!"
Teriakan Stevan menggelegar diruangan tengah tersebut , dengankasar bahkan Stevan membuka pintu kamarnya dengan kasar.
Brak!
Eve yang tengah memoleskan cream wajah ditangannya terlonjak kaget karena suara pintu kamar yang dibuka dengan kasar.
"Sayang, ada apa?" Tanya Eve lembut meski dalam hati takut.
Terlihat kedua mata Stevan mengeluarkan kilatan amarah, dengan cepat Stevan berjalan menghampiri Eve yang masih duduk dikursi rias.
Tamparan keras mendarat dipipi kanan Eve hingga membuat Eve tersungkur dan menjatuhkan beberapa barang yang berada diatas meja riasnya.
Terasa perih, panas, dan kebas yang dirasakan oleh Eve.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya Eve dengan suara bergetar setelah berusaha kembali di posisi semula.
"Kamu tanya kenapa, hah! Kenapa kamu tidak mengatakan jika Kristal memberitahumu jika hari ini pertunangan Daniel!" Seru Stevan dengan sekiat tenaga bahkan otot pada leher Stevan sampai timbul.
Eve melebarkan kedua matanya, sialnya Eve sendiri juga lupa soal pertunangan Daniel karena melihat keberadaan Kristal membuat Eve menjadi acuh dengan apa yang wanita itu katakan.
"Ti---tidak sayang, Kristal tidak mengatakan apapun kepadaku." Elak Eve dengan menggelengkan kepalanya cepat.
"Cih, apa kamu pikir aku akan percaya! Setelah acara pertunangan kita akan bercerai." Ucap Stevan dengan tegas dan langsung berjalan menuju walk in closet.
Eve terpaku ditempatnya mendengarkan ucapan Stevan yang baru saja keluar dari bibirnya.
Bercerai? Lalu bagaimana dengan jabatan CEO. Tidak bisa, tidak akan pernah Eve biarkan Stevan menceraikannya sebelum tujuan tercapai.
Stevan dengan cepat berganti pakaian dengan mengenakan koleksi pakaian terbaiknya.
"Brengsek! Seharusnya aku dapat menyiapkan pakaian dengan pakaian terbaik, kira-kira warna pakaian apa yang digunakan Daniel dan Kristal." Ucap Stevan marah pada dirinya sendiri.
Stevan langsung menyambar jasnya begitu selesai mengenakan pakaiannya.
Stevan berjalan keluar dengan pakaian yang sudah sangat rapi dari ujung kaki hingga kepala.
"Sayang, percaya padaku. Aku tidak mendapatkan kabar apapun dari Kristal." Ucap Eve dengan memegang tangan Stevan memohon.
Stevan menyentak kasar tangan Kristal dan menatapnya tajam, "Apa lagi kebohonganmu selain ini, kamu bahkan berbohong jika Daniel bukan anak kandungku tapi nyatanya dia adalah anak kandungku Eve!!" Seru Stevan didepan wajah Eve.
Sekali lagi Eve terpaku ditempatnya, "Ba--bagaimana."
Stevan tersenyum miring, "Bagaimana aku mengetahuinya? Oh Eve kau terlaku meremehkanku selama ini, seharusnya sejak dulu aku menyelidikimu dan tidak percaya dengan segala ucapanmu yang penuh racun itu." Potong Stevan dengan suara sinis.
"Sial, dia sudah mengetahui kebohinganku. Seberapa banyak yang Stevan ketahui tentang aku, gawat gawat aku harus cepat bergerak untuk mengalihkan semua harta keluarga Kristoff. Ya benar, pemilihan CEO harus segera dilakukan." Ucap Eve pelan dengan menganggukkan kepalanya.
"Pintar kamu Eve, surat kuasa menculik Kristal dan menjabat menjadi CEO. Eve yang akan menggugat cerai Stevan miskin itu." Ucap setan dalam pikiran Eve.
Segera Eve berjalan kedalam walk in closet untuk mengganti pakaian santainya dengan gaun, dirinya juga harus memoles make up cukup tebal agar menutupi jejak tamparan dari Stevan.
Sedangkan Stevan terus mamaki pengendara mobil yang membuatnya semakin lambat untuk datang ke Hotel Sila.
Tin
Tin
Tinnnnn!!
Bunyi klakson terus dimengiringi perjalanan mobil Stevan, Stevan tidak ingin ketinggalan acara sakral sang putra.
Stevani yang baru saja sampai langsung saja melangkahkan kaki berbalun sepatu hak tinggi menuju Hotel Sila.
"Acara Keluarga Kristoff." Ucap Stevani.
Pegawai hotel langsung mempersilahkan Stevani berjalan terus dan di ikuti oleh pegawai lainnya takut salah ruang acara.
__ADS_1
Stevani masuk kedalam ruang acara yang sudah banyak tamu undangan disana, Stevani dan para tamu saling menyapa karena sudah lama tidak pernah muncul setelah dirinya menikah.
"Saya permisi dulu ya, belum bertemu dengan Ayah." Ucap Stevani sopan dan meninggalkan kerumunan rekan kerja keluarga Kristoff.
Stevani mengedarkan pandangannya mencari anggota keluarga inti, hingga pandangan matanya menangkap Kristal yang tengah berlari ke suatu tempat.
Stevani datang terlebih dahulu menemui sang Ayah untuk sekedar menyapanya.
"Ayah." Panggil Stevani.
"Oh, kamu sudah datang dimana Stevan dan Eve?" Tabya Kakek Kristoff.
"Mereka akan menyusul karena ada sesuatu dirumah." Jawab Stevani menutupi kenyataan takut jika sang Ayah tambah kecewa dengan sang adik Stevan.
"Begitu, duduk sini." Kakek Kristoff menepuk kursi yang berada disebelahnya.
"Dimana Kristal dan Daniel, juga Tuan Kim?" Tanya Stevani dengan mencari keberadaan mereka.
"Tidak tahu." Jawab Kakek Kristoff singkat.
"Stevani ingin ke toilet sebebtar ya Ayah, sudah di ujung." Ucap Stevani yang langsung beranjak dari duduknya.
Kakek Kriatoff yang melihat polah Stevani hanyya geleng kepala, kenapa gadis kecilnya itu tidak menjaga imagenya sebagai ibu dua orang anak.
Stevani berjalan cepat mencari kemana perginya Kristal, karenadirinya sepat melihat pria mengenakan jas putih yang di tarik seseorang. Entah itu siapa Stevani tidak tahu karena hanya punggungnya saja.
"Bisa-bisanya aku tersesat." Gerutu Stevani.
Namun langkah Stevani di urungkan untuk meninggalkan lorong sepi tersebut, sayup-sayup mendengarkan percakapan beberapa orang.
Stevani segera melepas sepatu hak tingginya dan berjalan berjinjit agar tidak menimbulkan suara.
Stevani mengintip dari balik tembok hanya sedikit, terlihat Kristal dan Daniel serta seorang wanita yang dia kenal sebagai istri Tuan Kim.
"Jadi dia Gabriel? Ucap Nyonya Kim dengan menuding kearah Gabriel yang masih berdiri ditempatnya.
"Apa! Gabriel?" Stevani kaget dengan ucapan Nyonya Kim yang menunjuk Daniel sebagai Gabriel.
Stevani terus mendengarkan percakapan ketiganya, hingga akhirnya Stevani paham jika selama ini dirinya memiliki keponakan kembar dan Gabriel sedang menggantikan Daniel yang sakit.
"Tolong jangan katakan kepada siapapun sebelum pemilihan CEO perusahaan Kristoff, kamu pasti pernah mendengar rumor jika Daniel sakit dan itu benar. Aku tidak ingin mereka mebyakiti salah satu putraku." Ucap Kristal dengan memohon.
"Lagi-lagi karena kedua benalu tidak malu itu." Ucap Nyonya Kim dengan nada kesal.
"Sebaiknya pemilihan CEO segera dilakukan." Ucap Stevani yang tiba-tiba bersuara.
Membuat ketiga orang yang berada di lorong tersebut terkejut dan mencari sumber suara itu.
Terlihat Stevani yang keluar dari persembunyiannya dengan bersedekap dada, tidak lupa sepatu yang masih menggantung ditangannya.
...πΎπΎ...
__ADS_1
...Autor Minta Reviewnya dong, jangan lupa kasih rate ya π...