Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Pertemuan Setelah Keluar Dari RS


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Belum tahu, aku masih memikirkannya." Ucap Briel dengan suara pelan.


"Tidak perlu dipikirkan, tidak perlu pergi ke Korea." Jawab Sky enteng.


Putri mencubit paha suaminya, karena berusaha meracuni pikiran Gabriel.


"Sakit." Ucap Sky dengan mengelus pahanya yang terasa panas.


"Diamlah, Mas." Ucap Putri memperingatkan.


Sky menekuk wajahnya, "Kalau Gabriel pergi, siapa yang akan menjadi asistenku?" Tanya Sky.


"Bisa buka lowongan kerja yang baru." Jawab Putri enteng.


"Benar juga idemu sayang, bukankah sebentar lagi banyak lulusan mahasiswa baru." Ucap Sku dengan mengelus dagunya.


Putri menyincingkan kedua matanya, dan terdengar suara gaduh di sofa depan Gabriel.


Gabriel menghela nafasnya kasar, beranjak meninggalkan sepasang suami istri yang tengah ribut disana.


...🐾🐾...


Pagi menjelang.


Terlihat Lila tengah menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


"Dave, jangan lupa hari ini ajak Rose untuk mencari gaun." Ucap Lila yang melihat Dave berjalan mendekat ke meja makan.


"Iya, Mah." Jawab Dave singkat.


Lila hanya menaikkan satu alisnya saja, membuang prasangka buruk yang ada didalam pikirannya.


"Jangan lupa yang paling penting, cincin pertunangan kalian." Ucap Rudi yang tengah mengambil secangkir kopi miliknya.


Dave menganggukkan kepalanya saja. Dave segera membuka HP dan mengirimkan pesan singkat kepada Rose.


πŸ“© Hari ini kita pergi ke butik.


Setelah selesai mengirim pesan, Dave meletakkan kembali ponsel miliknya.


Rose yang masih bermalas-malasan di atas kasur hanya melirik sekilas ponsel yang bergetar.


Menghembuskan nafasnya pelan, Rose membalas pesan dari Dave.


πŸ“€ Baik.


Dave yang sudah selesai makan, merogoh saku celananya. Terlihat satu pesan baru masuk di ponselnya.


πŸ“₯ Aku jemput sebelum makan siang, sayang.


Dave membalas cepat dan kembali memasukkan ponselnya lagi.


Sedangkan di meja makan, Lila tengah berbicara dengan suaminya.


"Pah." Panggil Lila.


"Apa, Mah?" Tanya Rudi pelan.

__ADS_1


"Apa, Papa tidak merasakan hal yang aneh kepada Dave?" Tanya Lila dengan wajah serius.


"Tidak, memang ada apa dengan Dave." Jawab Rudi jujur.


"Mama, merasa khawatir." Ucap Lila dengan raut wajah yang berubah.


"Tenanglah, Mah. Kita percaya saja jika Dave akan baik-baik saja." Kata Rudi menenangkan sang istri.


Lila hanya mengangguk namun gurat ke khawatirannya masih terlihat jelas di wajah cantiknya di usia senja itu.


Dave mengendarai mobilnya menembus jalan raya, terlihat wajah datar namun dingin hari ini.


Mengambil hedset bluetooth dan di pasang bagian telinga kirinya.


Mencari satu kontak nomor di layar LCD kecil, yang berada di tengah mobil.


Tut


Tut


Tut


"Apakah sibuk?" Tanya Dave to the point.


"Tidak, ada apa?" Tanya seseorang di sebrang telfon.


"Aku ingin bertemu." Ucap Dave.


"Baiklah, langsung saja datang." Jawabnya.


Segera Dave mematikan tombol kecil yang ada di bluetooth miliknya, dan melepaskan dari sumpalan telinga.


Dave terlihat melihat spion untuk mengecek apakah di belakang mobilnya ada kendaraan lain, dirasa kosong. Dave segera memutar haluannya menuju suatu tempat.


"Kenapa dia datang, apakah hari ini jadwalnya." Ucap pelan orang tersebut.


Waktu terus berjalan, hingga waktu menunjukkan pukul sebelas siang.


Mengingat, Dave akan menjemputnya. Segera Rose beranjak dari peraduannya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Rose segera menyalakan shower setelah melepaskan seluruh kain yang menutupi tubuh rampingnya.


Suara gemericik air memenuhi kamar mandi Dose, aroma sabun mawar menyeruak hingga indra penciuman seakan di penuhi dengan bunga segar yang sedang bermekaran.


Segera Rose menyelesaikan kegiatan mandinya setelah merasa lebih segar dan semangat memulai harinya yang terlambat ini.


Suara gemericik air langsung hilang, ketika Rose memutar kran air.


Mengambil handuk kecil untuk mengeribgkan rambut panjangnya, melilit tubuh mungilnya dengan handuk yang lebih besar.


Kaki pendek Rose, menuntun untuk segera keluar dan berganti pakaian.


Bahkan terlihat gadis tersebut sudah berdiri didepan lemari dengan melihat isinya, menimang-nimang pakaian mana yang akan di kenakan.


"Kemeja saja, akan lebih cepat ketika harus mencoba gaunnya nanti." Gumam Rose pelan.


Rose menjatuhkan pilihannya pada kemeja bermotif kotak-kotak dengan di padukan jaket jeans serta celana jeans ketat.


__ADS_1


Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Rose berjalan ke arah meja riasnya. Dibukanya handuk yang bertengger di atas kepalanya.


Dengan perlahan, Rose menepuk agar air dirambutnya tidak menetes lagi.


Terdengar suara alat pengering rambut yang menyala, dengan mengarahkannya ke kepala. Rose juga mengacak-acak rambutnya sendiri agar kering merata.


Cukup lama mengeringkan rambut panjangnya, akhirnya Rose selesai.


Dengan mengenakan make up tipis dan kilat, hanya bedak juga lipstik. Rose segera berdiri untuk mengambil tas beserta ponselnya.


Rose keluar dari dalam kamar dengan menenteng sepatu andalannya, yaitu sepatu kets berwarna putih.


"Mau pergi, Non?" Tanya Bi Asih.


"Iya, Bi. Mau ke butik dengan Kak Dave." Jawab Rose halus.


"Iya, Non. Hati-hati." Ucap Bi Asih yang kemudian undur diri.


Rose berjalan hingga di teras depan, belum ada mobil Dave yang menjemputnya.


Rose mendudukkan pantatnya di kursi besi yang ada di sana, dengan memakai sepatu ketsnya. Hingga suara deru mobil disertai suara klakson membuatnya mendongakkan kepala.


Terlihat mobil Dave berhenti tepat di depan Rose, pintu mobil terbuka keluarlah Dave dengan kacamata hitam yang bertengger indah di hidung mancungnya.


"Maaf membuatmu menunggu lama, sayang." Ucap Dave dengan berjalan mendekat ke arah Rose.


"Tidak apa-apa, aku juga baru saja turun sayang." Jawab Rose dengan tersenyum halus.


Dave meneliti penampilan Rose siang ini, sangat sederhana dan simpel namun terkesan tomboy.


"Apa apa?" Tanya Rose yang risih dengan pandangan Dave.


"Tidak apa-apa, ayo kita berangkat sekarang." Ajak Dave kepada Rose.


Rose mengangguk dan segera berdiri mengikuti langkah Dave menuju mobilnya.


Roda empat itu berputar perlahan dengan meninggalkan mansion Amanda.


"Kamu sudah makan?" Tanya Dave dengan fokus menyetir.


Rose menggelengkan kepalanya pelan.


"Kita makan dulu." Ucap Dave dengan mengarahkan mobilnya menuju satu tempat makan.


Hingga mobil Dave berhenti di depan cafe, Dave keluar dari dalam mobil dengan di ikuti Rose.


Keduanya berjalan beriringan tanpa berpegangan tangan, hingga pandangan Dave tertuju pada seorang pria yang tengah berbincang dengan seorang klien.


"Ayo, kita kesana." Ucap Dave dengan mengambil tangan Rose hingga saling bertautan.


Rose hanya diam, dirinya juga merasa bingung dengan sikap Dave belakangan ini.


Rose dan Dave berjalan hingga mendekati satu meja, dimana klien orang tersebut sudah beranjak dari mejanya.


"Hey! Briel, sudah lama tidak bertemu." Sapa Dave dengan wajah cerahnya.


Briel hanya diam, namun pandangannya lurus menatap sepasang tangan yang saling bertautan tersebut.


"Kak Gabriel, sendiri?" Tanya Rose dengan kikuk.

__ADS_1


...🐾🐾...


...Maaf telat update, author baru ngetik novel baru jadi becabang meng-halunya 😭...


__ADS_2