
Happy Reading 🌹🌹
Mobil hitam melaju kencang menuju salah satu apartemen mewah yang berada di pusat kota.
Briel langsung membelokkan mobil yang tengah dia kendarai menuju basement apartemen, terlihat lampu mobil mati bersamaan dengan pintu yang terbuka.
Gabriel segera berlari menuju lift, beruntung ada penghuni apartemen yang baru saja sampai dinasement sehingga Briel tidak perlu menunggu waktu yang lama.
Ditekannya angka dimana apartemen keluarganya berada, sehingga pintu lift menutup secara perlahan.
Denting bunyi lift menandakan jika Briel telah sampai segera dengan langkah yang tergesa-gesa Briel berjalan.
Cklek.
Pintu terbuka dari dalam terlihat Stevani, Briel langsung menerobos masuk tanpa menyapa Bibinya tersebut.
Terlihat Gabriel menggeledah seluruh ruangan di aparteman, Stevani yang melihat Briel merasa heran.
"Apa yang kamu cari Briel?" Tanya Stevani yang melihat Gabriel mencari di bagian dapur.
Stevan yang mendengar nama anaknya disebut segera bangun dari tidurnya.
"Cincin, mana cincin Mama." Jawa Gabriel dengan sibuk mencari cincin pemberiannya.
"Cincin?" Beo anak kembar disana. (Stevan dan Stevani)
"Cincin Tante, yang biasanya dipakai Mama. Cincin pemberian Gabriel." Ucap Gabriel terlihat geram.
Stevani langsung ikut mencari karena seingat dia Kristal masih mengenakannya ketika mengobrol dengannya diruang tamu.
"Argh! Dimana Mama melepaskannya!" Seru Gabriel frustasi sekaligus emosi.
"Tidak mungkin Mamamu melepaskannya, tadi masih dipakai ketika mengobrol dengan Tante juga Rose disini." Jawab Stevani sibuk.
Gerakan Stevani dan Gabriel terhenti keduanya langsung menolehkan kepala hingga berpandangan.
Astaga, Rose! Keduanya hampir melupakan gadis itu.
"Dimana Rose sekarang Tante?" Tanya Gabriel dengan memegang kedua pundak Stevani setelah menghampirinya.
"Ro---rose, tadi keluar bersama Kristal." Jawab Stevani dengan gagap.
Terlihat mata keduanya bergetar, Briel langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi sang kekasih.
Tidak ada jawaban.
Sekali lagi Gabriel mencoba, bahkan Gabriel sudah menjambak rambutnya karena khawatir.
"Angkat Rose, angkat!" Seru Gabriel dengan menggebrak meja makan.
Stevani bahkan masih terpaku ditempatnya, bagaimana jika Rose ikut diculik dan yang paling ditakutkan dibunuh oleh mereka.
Gabriel mendudukkan dirinya dengan kasar dikursi makan, dicoba lagi menghubungi nomor kekasihnya.
"Sayang." Panggil Gabriel dengan perasaan lega karena akhirnya panggilan diangkat.
__ADS_1
"Halo."
"Siapa ini? Dimana Rose!" Sentak Gabriel karena kaget yang bersuara orang lain.
"Apakah ini dengan keluarga korban?" Tanya seorang suster disebrang sana.
Jantung Gabriel terasa berhenti berdetak, korban? Korba apa.
"Dimana pemilik ponsel ini." Ucap Gabriel menekan ketakutannya.
"Pasien sedang mendapatkan perawatan, jika ini adalah keluarga korban tolong segera datang ke Rumah Sakit karena keadaannya sangat kritis." Jawab suster dengan cepat hingga suara rekan kerjanya terdengar.
"Butuh kantong darah lagi." Serunya.
Kedua mata Gabriel memanas bahkan kedua matanya sudah berkaca-kaca, hatinya sangat sesak mendengar suara yang sangat gaduh disebrang sana.
Air mata Gabriel menetes tanpa permisi, dirinya masih terpaku ditempatnya bahkan ponsel sudah jatuh kelantai entah sejak kapan.
Stevani yang melihat Gabriel berdiri terpaku segera menghampirinya, "Briel ada apa, hah. Ada apa dengan Rose." Ucap Stevani dengan mengguncang tubuh keponakannya.
Gabriel tidak menjawab namun air mata yang kembali luruh adalah jawaban dari semuanya.
Stevani menutup mulutnya tidak percaya, sedangkan Stevan yang sejak tadi sibuk mencari cincin yang dimaksud akhirnya menemukan sebuah cincin di kamar mandi.
Stevani langsung mengambil ponsel Gabriel yang berada dilantau, beruntung sambungan telfon belum dimatikan.
Terdengar suara suster masih mencoba memanggil Gabriel.
"Ya, dimana?" Tanya Stevani to the point.
"Di Rumah Sakit, Nyonya. Silahkan datang karena keadaan pasien yang mungkin tidak akan dapat diselamatkan." Jelas suster.
"Stevan! Stevan!" Panggil Stevani.
Stevan sudah berlari mengambil kunci mobil miliknya, "Ayo kak cepat, Stevan sudah menemukan cincinnya." Ucap Stevan.
Stevan sudah keluar lebih dulu untuk mengambil mobil sedangkan Stevani mengajak Gabriel namun masih terpaku ditempat.
"Ayo Briel, Rose membutuhkanmu." Ucap Stevani dengan lembut.
Gabriel masih bergeming saat ini raga dan nyawa Gabriel seperti tengah terpisah.
Stevani menampar Gabriel karena sejak tadi hanya diam, "Sadarlah!" Seru Stevani.
"Rose." Panggil Gabriel lirih dengan mata kembali berkaca-kaca.
Stevani langsung menyeret Gabriel dengan paksa meskipun perku menggunakan tenaga cadangan yang dia simpan dibawah jaringan kulit.
Stevan sudah menunggu didepan pintu utama apartemen, hingga terlihat sang kakak menyeret anaknya dengan paksa.
Terlihat dengan jelas wajah kaget dan sedih di wajah sang putra. Stevan berjanji akan menebusnya meski mempertaruhkan nyawa.
Suara pintu terdengar terbuka, "Masuk!" Stevani mendorong Gabriel agar masuk dikursi penumpang.
"Cepat jalan, Stev." Perintah Stevani setelah dirinya ikut duduk disamping Gabriel.
__ADS_1
Dengan kecepatan tinggi Stevan mengendarai mobilnya, meliuk liuk di jalan raya menghindari mobil yang berada didepannya.
Stevani menggenggam tangan ponakannya yang twrlihat begitu kaget dengan kabar ini.
"El, ini bukan saatnya kamu seperti ini. Rose membutuhkanmu, maafkan Tante tidak menghalangi mereka untuk tidak pergi keluar apartemen." Ucap Stevani dengan terisak.
Kepala Gabriel terangkat dan melihat ke arah Stevani, Stevani yang masih terisak kembali berbicara.
"Jangan diam seperti ini El." Ucapnya.
"Seharusnya Gabriel tidak menyuruh Rose datang." Jawab Gabriel lirih dengan air mata yang kembali menetes.
"Tidak El, ini semua salah Eve dan Ketua Kim. Karena ketamakan mereka keluarga kita jadi seperti ini." Ucap Stevani yang berubah wajahnya menjadi bengis.
Stevan hanya fokus menyetir dan mendengarkannya saja, dalam hati bertekad akan menemukan Kristal apapun caranya dan membunuh Eve dengan kedua tangannya sendiri.
Mobil berhenti dengam cepat didepan Rumah Sakit, Gabriel langsung membuka pintu mobil dan berlari kedalam di ikuti oleh Stevani. Sedangkan Stevan kembali melajukan mobilnya untuk kembali ke mansion.
Gabriel berlari seperti orang kesetanan, "Dimana Rose." Ucap Briel pada perawat yang ditemunya.
Perawat bingung Rose siapa.
"Korban yang baru saja dibawa ke Rumah Sakit ini suster." Ucap Stevani yang tidak berselang lama sampai.
"Mari ikuti saya." Suster segera melebarkan matanya dan memimpin jalan.
Gabriel dan Stevani ikut berlari dibelakangnya, para suster sudah di beritahu jika keluarga Rose dan Jin datang untuk segera diantar keruang operasi.
Langkah keduanya memelan karena melihat satu ruangan yang bertuliskan Ruang Operasi.
"Tuan dan Nyonya mohon tunggu diluar." Ucap sang perawat.
Sang perawat masuk kedalam ruangan, sedangkan pandangan Gabriel terlihat nanar memandang tulisan dan lampu yang masih menyala hijau menandakan jika operasi masih berjalan.
Stevani menepuk pundak Gabriel dengan pelan seakan memberikannya kekuatan, "Ayo kita tunggu disini." Ucap Stevani.
Stevani mengajak Gabriel untuk duduk dikursi tunggu, terlihat tubuh Gabriel bergetar karena merasa seluruh dunianya runtuh.
Ibu yang baru ditemuinya beberapa bulan diculik, baru satu hari resmi berpacaran dengan wanita yang dia cintai kini tengah bertaruh nyawa diruang operasi.
Stevani memeluk tubuh kekah namun tengah rapuh seperti cangkang telur tersebut.
"Rose akan baik-baik saja." Ucap Stevani.
Gabriel meraung menangis seperti anak kecil dalam dekapan Stevani, kenapa untuk menghidupkan dongeng miliknya banyak cobaan didalamnya.
"Kenapa harus Gabriel, Tante. Kenapa!" Seru Gabriel dengan menangis.
"Tenanglah El." Jawab Stevani.
Gabriel menumpahkan seluruh perasaan sesak yang sejak tadi dia tahan di apartemen.
Cukup lama Stevani dan Gabriel menunggu didwoan ruang operasi hingga seorang dokter muncul dengan melepaskan masker dan juga topi operasinya.
Gabriel dan Stevani yang melihatnya segera berdiri dan berjalan menghampiri sang dokter.
__ADS_1
"Bagaimana dokter! Apa kekasihku baik-baik saja." Tanya Gabriel dengan menggebu.
...🐾🐾...