
Happy Reading 🌹🌹
Gabriel keluar bersama Robby setelah bergulat dengan pikirannya sendiri, Gabriel harus fokus dengan masalah keluarganya.
Sentar lagi, hanya sebentar lagi semuanya akan selesai.
Asisten manager hotel menyambut baik kedatangan Gabriel dan Robby, keduanya masuk kedalam ruangan CEO hotel tersebut.
Terlihat seorang pria yang duduk dikursi kebesarannya dengan tumpukan berkas yang sudah terbiasa dilihat oleh Gabriel dan Robby.
"Selamat datang, Tuan Daniel." Sapa Nikolas pemilik hoten mewah tersebut.
"Terima kasih, Tuan Niko." Jawab Gabriel dengan wajah datarnya.
"Aku merasa terhormat, karena keluarga Kristoff memilih hotel kami untuk acara yang sakral." Ucap Niko dengan berjalan menuju sofa.
"Terima kasih, Tuan." Jawab Robby karrna Gabriel tidak menanggapi.
Terlihat empat orang duduk saling berhadapan, Robby mengeluarkan secarik kertas yang berisi denah ruangan pertunangan esok.
Nikolas mengambil lembaran kertas tersebut dan melihat dengan teliti, terlihat alis Nikolas terangkat satu dan menatap dua pria yang ada didepannya.
"Aku ingin seperti digambar." Ucap Gabriel.
"Tapi, bukankah pria dan wanita datang dari depan? Kenapa pria keluar dari samping Tuan?" Tanya Nikolas pelan.
"Terserahku, aku yang akan bertunangan." Jawab Gabriel dengan wajah datar namun terdengar menyebalkan.
"Baik, Tuan." Jawab manager hotel cepat.
Manager hotel tidak ingin kehilangan keluarga Kristoff karena mengajukan pembayaran gedung dua kali lipat dari harga sewa.
Nikolas menolehkan kepalanya ke arah kepala manager dengan tatapan tajam sang manager berdehem dan membisikkan sesuatu ditelinga CEO tersebut.
Terlihat Nikolas mengangguk danbterbit senyum lebarnya.
"Baiklah, Tuan Daniel apapun yang Anda inginkan kami akan berusaha memenuhinya." Ucap Nikolas dengan ramah.
"Aku ingin CCTV di tambah sebelah sini, sini, dan sini." Gabriel menunjuk beberapa sudut ruangan.
"Baik." Jawab Nikolas.
"Ini adalah DP dari Tuan Kristoff." Robby meletakkan koper kecil diatas meja kaca.
"Ya, ya, saya terima." Ucap Nikolas dengan cepat.
"Orang-orang WO akan ke hotel beberapa hari lagi bantu mereka." Kata Gabriel tegas.
"Baik Tuan." Jawab Nikolas dan asistem manager.
"Jika begitu kami permisi dulu, terima kasih." Robby menutup pertemuan hari ini.
Gabriel melenggang pergi begitu saja saat Nikolas akan menyalami hingga Robby yang menerima lagi jabatan tangan Nikolas.
Robby keluar dari ruangan Nikolas dengan menggelengkan kepalanya, sifat Gabriel sungguh membuat orang merasakan naik wahana rollercoaster.
Robby menyusul langkah Gabriel yang sudah masuk kedalam lift.
"Kenapa kamu bersikap seperti itu?" Tanya Robby dengan menyeka keringatnya dengan tisu.
"Seperti apa?" Tanya Briel kembali.
Robby berdecak kesal, "Seperti tadi, mengabaikan jabatan tangan dari Nikolas." Jawab Robby.
"Urusanku sudah selesai." Ucap Briel sekenanya.
"Astaga, aku bisa gila berbicara denganmu." Gerutu Robby kesal.
"Jangan berbicara." Jawab Gabriel yang melenggang keluar dari dalam lift setelah sampai dilantai dasar.
Robby yang dibelakang Gabriel mencekik leher Gabrieo dengan kuat namun dari jarak jauh saja.
Gabriel berdiri didepan hotel menunggu Robby mengambil mobil dari basement hotel, mataGabriel menyincing tajam.
Terlihat Dave tengah berjalan bergandengan lagi dengan wanita yang dia lihat didalam hotel lagi.
Terlihat Dave dicium-cium oleh wanita itu, hingga sebuah taxi berhenti didepan mereka.
Dave membukakan pintu dan kemudian barulah Dave masuk, pandangan Gabriel tidak putus hingga taxi itu pergi menjauh dari pandandan Gabriel.
"Ck dasar cassanova, sudah memiliki tunangan masih saja bermain gila dengan wanita lain." Gerutu Gabriel pelan.
Robby yang sejak tadi sampai hanya menatapbya dari dalam mobil dengan memiringkan kepalanya.
"Apa kamu tidak mau naik?" Tanya Robby membuyarkan pandangan Gabriel.
Gabriel mendengus kesal dan membuka pintu mobil dengan kasar begitu jiga ketika menutupnya.
Sedangkan yang berada didalam taxi hanya terkekeh geli terutama Prilly.
"Pasti pria itu sangat ingin membunuhmu, sayang." Ucap Prilly dengan sisa tawanya.
__ADS_1
"Mungkin." Jawab Dave dengan tersenyum tipis.
"Hah, jika seperti ini tidak akan membosankan. Berarti kita harus sering-sering muncul didepannya." Ucap Prilly.
Dave hanya berdehem saja sebagai jawaban.
"Seharusnya kita melobatlan Rose, bagaimana jika kota buat seolah-olah Rose melihatmu sedang bersamaku. Aku sangat penasaran apakah pria itu akan menghajarmu di tempat." Ucap Prilly lagi dengan membayangkan adegan yang sedang dia rencanakan.
"Aku yakin akan mati." Jawab Dave yang mengingat jika dirinya pernah dihajar oleh Gabriel dan rasanya sangat sakit.
"Aku akan menolongmu sayang." Ucap Prilly dengan tawanya.
"Sudah lupakan pria iru, ide dari Paman Agung dan Daniel sangat kekanakan sekali." Kata Dave dengan kesal karena harus bersandiwara.
"Bukankah ini lucu, membuat pria yang gengsi selangit seperti itu harus dibuat kapok dulu." Ucap Prilly.
"Hem." Ucap Dave.
"Ayo kita jalan-jalan saja." Kata Prilly dengan semangat.
"Apa kamu tidak lelah?" Tanya Dave yang menoleh ke arah Prilly dengan bersedekap dada.
"Tidak, ada pengisi daya didekatku." Jawab Prilly dengan iseng.
Dave hanya menaikkan alisnya satu karena tidak paham, "Apa kamu robot?" Tanya Dave.
"Bukan." Jawab Prilly
"Lalu?" Tanya Dave.
"Karena ada kamu disampingku jadi aku tidak lelah." Jawab Prilly gombal.
Dave hanya berdehem lagi dan membuang pandangannya keluar jendela taxi, namunterlihat semburat merah di pipi Dave karena merasa sangat dibuat melayang oleh Prilly.
Dikampus setelah Rose melakukan kencan buta yang dirancang oleh kedua teman barunya, kini Jin secara terang-terangan selalu mendekati Rose.
Seperti hari ini, Rose tengah melakukan riset dipasar tradisional dengan seluruh teman satu kelasnya. Jin secara tiba-tiba datang dengan membawa bekan makan siang untuk Rose.
"Hey, apakah masih lama?" Tanya Jin yang muncul dibelakang Rose.
"Astaga! Apa kamu tidak dapat muncul secara normal?" Omel Rose dengan memegang dadanya kaget.
Jin hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Kejutan!" Ucap Jin dengan tetap tersenyum.
Rose menghela nafasnya panjang dan melihat jam yang melingkar indah di tangannya, "Sebentar lagi, kamu tunggu saja disana." Rose menunjuk taman yang tidak jauh dari pasar.
"Oh, kamu ingin piknik? Baiklah akan aku siapkan." Ucap Jin yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban Rose.
IU dan Yumi datang menghampiri Rose setelah melihat kepergian Jin.
"Bagaimana, sampai mana hubunganmu dengan Jin?" Tanya Yumi dengan kepo.
"Apa kalian sudah ini." IU menggerakkan kedua tangannya dengan ujung bertemu ujung seperti mempraktikkan adegan orang ciuman.
"Apasih, tidak. Aku dan Jin tidak ada hubungan apapun." Jawab Rose kepasa kedua temannya.
"Yah, tidak asik. Kamu tahu Jin itu pria populer di jurusannya." Ucap IU.
"Hemm, dan banyak wanita yang ingin berkencan dengannya. Tidak bahkan kencan terlaku standar yang tinggi berbicara dan disapa olehnya sudah merupakan sesuatu yang mustahil." Timpal Yumi pada ucapan IU.
Rose yang mendengarlannya hanya mengerutkan kening "Apa dia anti sosial?" Tanya Rose polos.
Yumi dan IU hanya mendesah kesal, teman barunya kenama lemot seperti ini.
"Sudah sekarang susul dia, ini sudah waktu istirahat nanti baru kita lanjutkan." Usir Yumi pada Rose.
"Ayo." Rose mengajak keduanya.
"Tidak! Aku dan Yumi akan makan dengan pacar kami." Tolak IU cepat.
"Jadi aku hanya sendiri?" Tanya Rose.
Kedua temannya mengangguk, "Tenang Jin tidak akan memakanmu." Kelakar keduanya.
"Baiklah, selamat bersenang-senang." Jawab Rose yang kemudian mengambil tas miliknya dan berjalan menjauh dari kedua temannya.
Yumi dan IU hanya melihat punggung Rose, "Apa kita perlu membantu Kak Jin?" Tanya Yumi pada IU.
"Kita sudah membantunya, jika Rose tidak suka jangan dipaksa." Jawab IU.
Keduanya menghembuskan nafasnya kasar merasa kasihan kepada Jin karena menyukai gadis yang tidak peka seperti Rose.
Terlihat Rose memeluk buku dan kertas yang dia gunakan untuk survei pasar hari ini, Rose berdiri dibibir jalan untuk menyebrang ke taman setelah berjalan cukup jauh dari pasar.
Rose melihat Jin melambaikan tangan yang sudah menunggu ditaman, Rose membalas lambaian tersebut dengan tersenyum hangat.
"Bukankah itu Nona Rose?" Tanya Robby yang menghentikan mobil dilampu merah.
Gabriel tidak menggubrisnya karena menganggap Robby hanya menggoda.
"Siapa pria itu? Daebak tampan sekali kekasih gelap Nona Rose." Ucap Robby lagi seakan melihat pria tertamoan didunia.
__ADS_1
Gabriel hanya berdecak malas dan menutar bola matanya, namun bola mata Gabriel belum selesai menyelesaikan putarannya langsung terhenti menangkap seorang gadis yang berlari dengan memeluk buku didadanya dan seorang pria yang tersenyum menunggi ditaman.
Pandangan Gabriel menyincing tajam, "Kakak pinggirkan mobilnya." Ucap Gabriel tanpa melihat ke arah Robby.
Robby hanya tersenyum dengan melipat bibirnya kedalam, terlihatbagaimana wajah Gabriel yang berubah ketika melihat Rose bersama pria lain.
"Kita harus kembali kekantor, masih banyak yang perlu disiapkan." Robby mengingatkan Gabriel.
"Kak!" Seru Gabriel.
"Baiklah, baiklah sebentar saja." Robby menggoda dan lampu berubah hijau.
Mobil yang dikendarai Robby menepi kearah taman agar Gabriel tidak semakin kesal karena harus menunggu menyebrang.
Dengan tergesa-gesa Gabriel keluat dari dalam mobil di ikuti Robby, Gabriel membungkuk mengendap-endak dibalik semak-semak yang tinggi.
Terlihat Rose dan Jin sudah duduk diatas tikar berwarna merah muda dan bergaris putih yang dibentangkan ditengah taman.
"Sepertinya mereka makan siang." Ucap Robby yang melakukan permainan mata-mata.
Tidak ada tanggapan dari Gabriel karena pria itu tengah menatap tajam kearah Jin yang dia ingat ketika di reatoran.
"Oh manis sekali, lihatlah Nona Rose tersipu malu membuat wajanya memerah." Ucap Robby lagi yang seakan menyulut bengsin disampingnya.
"Apakah Nona Rose berselingkuh, bukankah tadi Tuan Dave juga datang dengan wanita lain. Apakah keduanya saling berselingkuh sebelum menikah?" Tanya Robby membuat clue untuk Gabriel.
Namun Gabriel yang tengah dilanda cemburu, otaknya tidak dapat memproses dengan baik clue demi clue dari beberapa orang.
"Oh oh no!" Robby terpekik gemas karena Jin akan mencium Rose.
Hingga suara Gabriel mengagetkan kedua insan muda yang tengah makan siang tersebut.
"Ya! Jangan ciuaman didepan umum." Seru Gabriel dengan dengan berdecak pinggang.
Rose dan Jin terperangah dengan ucapan Gabriel, bahkan banyak orang yang ditaman menonton ke arah mereka.
Terlihat Rose mengucek salah satu matanya karena kemasukan debu, Jin mendekat karena ingin meniup mata Rose.
"Brengsek! Rose tidak ciuman! Mata Rose terkena debu dan akan dibantu oleh Kak Jin!" Seru Rose yang sudah berkaca-kaca karena dituduh yang bukan-bukan oleh Gabriel.
Eh...
"O... o... bagaimana ini ternyata aku salah lihat." Ucap Robby dengan wajah yang terkejut karena salah menuduh.
Sedangkan Rose sudah berlalu pergi meninggalkan ketiga pria tersebut, disapa sekali oleh Gabriel namun dituduh berciuman dengan pria lain.
Cih, Rose ingin sekali menggampar mulut itu. Namun Rose lebih baik pergi daripada bertemu hanya membuatnya sakit hati.
"Apa sudah puas Tuan, Anda membuat teman Saya pergi begitu saja tanpa menyelesaikan makan siangnya." Ucap Jin tajam.
Gabriel berlari mengejar Rose begitu sadar jika wanita pendeknya sudah tidak ada ditempat.
"Maafkan majikan Saya, Tuan." Ucap Robby sopan.
Jin mendengus kesal, "Duduk sini, sekarang kamu bantu aku menghabiskan makanan ini." Jawab Jin kepada Robby.
Eh, kok malah diberi makan.
Sedangkan Gabriel berlari menyusul Rose yang ternyata sudah cukup jauh hingga membuat Gabriel berkeringat.
"Rose!" Ucap Gabriel yang berhasil memegang lengan dan memutar tubuh gadis pendek itu.
Terlihat kedua mata yang memerah karena menahan tangis, hingga air mata itu menetes tanpa permisi.
"Maafkan aku." Ucap Gabriel dengan menghapus airmata yang membasahi pipi Rose.
"Ini pertama kalinya Kakak mengajak Rose berbicara setelah kejadian dulu, tapi langsung menuduh Rose berciuman dengan pria lain?" Kata Rose dengan tersenyum sinis.
"Maaf, tadi itu seperti menciummu." Jawab Gabriel dengan membuang pandangannya kearah lain.
"Sejak kapan Kakak disana?" Tanya Rose pada Gabriel.
"Apa?" Ucap Gabriel.
"Jangan pernah ikuti Rose meskipun Rose bersama orang lain, Kakak tidak memiliki hak untuk mematai kegiatan Rose." Jelas Rose panjang kepada Gabriel.
"Tidak! Siapa yang memataimu, aku--- aku hanya mencari angin segar saja dengan Kak Robby dan tidak sengaja melihatmu bersama pria lain. Dan apa kamu tidak takut menyakiti Dave dengan berjalan bersama pria lain kalian sebentar lagi akan menikah namun kalian datang dinegara ini dengan pasangan yang berbeda." Ucap Gabriel panjang lebar.
Rose mengigit bibir dalamnya gemas, ingin sekali memukul pria yang menjulang tinggi didepannya dan berkata jika mereka sudah membatalkan pertunangan itu.
"Terserahku dan Kak Dave, yang menikah kami kenapa Kakak yang pusing." Jawab Rose sarkas.
Gabriel tersenyum getir, percuma mengkhawatirkan gadis yang ada didepannya ini.
"Baiklah, Kakak tidak akan pernah peduli lagi denganmu. Lagipula Kakak juga akan menikah datanglah." Ucap Gabriel dengan merogoh saku jasnya memberikan kartu undangan kecil di tangan Rose dan berlalu dari hadapan Rose begitu saja.
Rose memandang punggung Gabriel dan undangan kecil yang ada ditelapak tangannya, air matanya luruh karena pria itu benar-benar akan bertunangan dengan Minzy.
Sedangkan Gabriel berjalan dengan membawa amarah, amarah karena Rose menolak perhatian darinya.
...🐾🐾...
__ADS_1