
Happy Reading πΉπΉ
"Rose, setelah kuliah ada acara lain hari ini?" Tanya Ayah Nugroho.
"Hanya kuliah saja Ayah, apa Ayah ingin di temani ke suatu tempat?" Tanya Rose pelan.
"Ayo kita ke makan Bunda." Ajak Ayah Nugroho dengan menyuapkan makanannya kedalam mulut.
Rose mengangguk, "Jika begitu Ayah jemput Rose ke kampus ya." Jawab Rose lagi.
"Ya, nanti siang Ayah akan menjemputmu." Kata Ayah Nugroho.
Rose dan Ayah Nugroho akhirnya keluar dari rumah bersama, karena mereka akan ke makam sang istri. Ayah Rose mengantarkan anaknya terlebih dahulu.
"Bye, hati-hati ayah." Ucap Rose dengan mengecup kedua pipi ayahnya.
Sang ayah melambaikan tangan dari dalam mobil sebelum kembali berjalan.
"Antar di kediaman keluarga Danuarta." Perintah Ayah Nugroho kepada asistennya.
"Baik, Tuan." Jawab sang Asisten.
Ayah Nugroho membuang pandangannya keluar jendela mobil dengan tangan bersedekap di depan dada.
...πΎπΎ...
Setelah dosen terakhir menutup pembelajarannya dengan segera Rose mengemasi barang-barangnya.
"Aku pulang terlebih dahulu ya." Pamit Rose kepada temannya yang ada disana
"Oke, hati-hati Rose." Jawab salah satu rekannya.
Rose segera berdiri dari duduknya dan melangkah keluar kelasnya.
Kini Rose tengah menunggu jemputan Ayahnya, terlihat gadis itu duduk di bangku depan dengan memainkan kaki yang mengenakan sepatu kets.
Suara klakson membuyarkan lamunannya, dengan senyum yang mengembang Rose berlari kecil ke arah mobil keluarga.
"Kita berhenti di toko bunga dulu Yah," Ucap Rose yang sudah duduk di samping ayahnya.
"Ya, seperti biasa." Jawab sang Ayah.
Asisten segera melajukan mobil menuju area pemakaman keluarga, dimana Nyonyanya di kuburkan.
Mobil itu berhenti tepat di depan toko bunga, segera Rose keluar untuk membeli satu buket bunga mawar.
Ya, mawar adalah bunga kesukaan mendiang ibunya. Untuk itu dia menamai anaknya Rose yang berarti mawar.
Cukup lama perjalanan yang mereka tempuh, tidak terasa telah sampai di pemakaman. Rose dan Ayah Nugroho berjalan untuk menuju makam sang Bunda.
__ADS_1
Terlihat makan yang sangat terawat, hanya beberapa rumput liar yang tumbuh disana.
Rose dan Ayah berjongkong membersihkan rumput-rumput liar itu, dan menaruh satu buket bunga mawar di depan nisan.
"Ayah pimpin do'a" Ucap Rose
Segera sang Ayah memimpin do'a di depan makan istrinya, seperti biasa mereka hanya menangis dalam diam.
Cukup lama Rose dan Ayahnya duduk di depan makam sang Istri.
"Rose." Panggil ayahnya pelan.
"Ya, Ayah." Jawab Rose dengan suara serak.
"Apa kamu memiliki kekasih?" Tanya sang Ayah.
"Ya, tapi masih masa percobaan." Jawab Rose jujur.
Sang Ayah menoleh ke arah putrinya, masa percobaan? Apa ada pacaran dengan masa percobaan.
"Kenapa? Apa kamu tidak yakin dengan perasaanmu?" Tanya Sang Ayah
Rose menggelengkan kepalanya, "Tidak Ayah, Rose sangat yakin. Tetapi... dia belum mencintai Rose." Jawab Rose sendu.
"Dave?" Ucap Ayahnya.
Rose hanya diam, Rose tidak akan bertanya darimana sang Ayah tahu. Karena gadis itu sudah tahu jawabannya.
Rose hanya diam dengan bermain daun kering yang dia ambil dari tanah.
"Rose, lepaskan jika itu menyakitkan. Semakin kita genggam semakin membuat kita terluka itu bukan cinta. Cukup kamu berjuang, hargailah hatimu Rose." Lanjut sang Ayah.
Rose semakin tertunduk, dia semakin berfikir apakah memang dia harus melepaskan cintanya. Memang Rose selalu di buat kecewa oleh Dave, tetapi bukanlah itu pilihannya sendiri.
"Apa kamu tahu Rose, Ayah begitu mencintai Ibumu. Ibumu sama persis sepertimu yang selalu ceria dan apa adanya, awalnya ibumu selalu menolak Ayah karena menganggap Ayah kulkas dua pintu yang tidak asik di ajak mengobrol tapi siapa sangka karena kami terbiasa bersama membuat kami saling melengkapi." Ucap sang Ayah kembali.
Tubuh Rose bergetar dia menangis sesenggukan meskipun tanpa suara, entah kenapa mengingat hubungannya membuat dirinya sedih.
Ayah Rose merangkul pundak anaknya, dan membawa Rose dalam pelukannya.
"Lihatlah sayang, anak kita sudah besar dan sudah tahu cinta. Apa kamu melihat kami di sini, bagaimana jika kamu saja yang memilihkan suami untuk Rose." Ucap sang Ayah dengan memandang langit.
Rose memukul pelan Ayahnya, tetapi Rose memeluk tubuh pria tua itu.
...πΎπΎ...
Malam telah datang.
π© Jangan lupa datang ke hotel XX.
__ADS_1
Rose memandang nanar layar tipis itu, dia melihat dirinya di cermin. Tidak ada gaun indah yang membalut tubuhnya, hanya kaos oversize dan juga jeans tidak lupa sepatu kets kesayangannya.
π© Aku akan segera berangkat.
Dave membaca pesan Rose tanpa membalas, terlihat dia duduk di sofa hotel suits dengan segelas alkoholnya.
Mata tajam itu memandang langit malam ini, seperti biasa kota yang sangat padat bahkan tidak pernah tidur.
Rose telah sampai di hotel, dia masuk dan duduk di area loby hotel mewah tersebut.
π© Aku sudah sampai, kakak di mana?
π© Naiklah ke lantai 20 nomor kamar 198.
Segera Rose berjalan menuju lift untuk menuju lantai dan kamar yang di maksud Dave, Rose mengepalkan tangannya entah perasaannya berkecamuk hari ini.
"Bukankah itu teman Putri, mau kemana gadis pendek itu." Briel tidak sengaja melihat Rose masuk ke dalam lift.
Segera Briel mendekat ke arah lift dan melihat di lantai berapa Rose berhenti, secara impulsif Briel menekan lift sebelah untuk menyusul Rose.
Rose menghirup udara sebanyak banyaknya, dengan perasaan gugup, sedih, kecewa, marah menjadi satu.
Terlihat kaki kecil itu sudah berhenti di depan kamar yang di maksud Dave, Rose mengetuk pintu kamar itu.
Tidak lama, pintu itu terbuka. Terlihat Dave dengan gaya bad boynya.
"Ayo masuk." Ucap Dave.
Rose melangkah masuk ke dalam kamar itu mengikuti langkah Dave, Dave menunjuk sebuah sofa untuk Rose duduk.
"Ada apa Kak Dave mengajak bertemu di sini?" Tanya Rose menyembunyikan rasa takutnya.
Dave menyunggungkan senyum sinis, "Tentu saja untuk sesuatu hal yang tertunda." Jawab Dave ambigu.
"Makhsudnya?" Tanya Rose yang tidak paham.
Dave berjalan mendekat dan duduk di samping Rose, tangannya kembali terulur menelusuri wajah dan bibir yang kemarin dia cium.
"Apa yang kamu pikirkan, ketika wanita dan pria berada di dalam kamar?" Tanya Dave dengan senyum smirknya.
Rose menelan ludahnya kasar, "Maaf kak, aku tidak akan pernah melakukannya selama Kakak belum mencintaiku." Ucap Rose dengan keyakinan yang tipis.
"Rose.. Rose.. apa kamu tahu, hubungan orang dewasa sampai tahap ini tidak perlu memikirkan masalah cinta dan tidak. Apa kamu yakin masih ingin memperjuangkan hubungan ini hingga akhir?" Tanya Dave dengan menatap kedua netra Rose.
"Tentu Rose akan berjuang hingga akhir Kak, Rose tidak akan pernah menyesali semuanya meskipun kita berakhir tetapi Rose sudah berusaha." Jawab Rose panjang lebar.
"Jadi... apa kau mau melayaniku?" Tanya Dave dengan seringainya.
...πΎπΎ...
__ADS_1