Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Selera Mama Bukan Anda


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Pagi telah datang, sang mentari tampak tak malu-malu keluar dari persembunyiannya.


Tok


Tok


Tok


"Daniel, bangun." Seru suara seseorang dari depan pintu kamar Daniel.


Daniel hanya bergerak mencari posisi ternyamannya.


"Daniel, bangun!" Kali ini suaranya lebih melengking tinggi.


Daniel berdecak kesal, dengan kasar Daniel membuka selimut tebalnya dan segera berdiri untuk membuka pintu kamarnya.


Cklek


"Apa." Ucap Daniel dengan wajah masam.


"Em, sayang. Mami sudah masakkan masakan kesukaanmu. Ayo cepat turun." Ucap Eve dengan wajah yang ramah dan senyum lebar sempurna.


"Mengganggu saja." Ucap Daniel dengan menutup pintu kamarnya.


Eve mendengus kesal, terlhat kedua tangannya mengepal dan menatap tajam pintu kamar Daniel.


"Dasar, anak sialan. Aku juga tidak sudi, jika bukan karena Ayahmu." Umpat Eve pelan dan berlalu dari depan kamar Daniel.


Stevan yang melihat istrinya turun sendiri menatap bingung, "Dimana, Daniel?" Tanya Stevan pelan.


"Ah, sayang. Daniel sedang mandi." Jawab Eve dengan suara mendayu.


Kakek Kristoff yang mendengar suara Eve merasa jijik, jika bukan karena mendiang istrinya sudah sejak awal akan Kristoff depak wanita ular itu dari keluarganya.


"Oh, begitu." Jawab Stevan singkat.


Kakek Kristoff menyerengitkan dahinya, terlihat satu alisnya naik. Kenapa dengan Stevan, biasanya memanggil dengan embel-embel kata sayang.


Kakek Kristoff hanya bertanya dalam hati, namun tidak menurunkan koran yang tengah dia pegang pagi ini.


Sedangkan Daniel di dalam kamar mandi, melihat tubuhnya di cermin semakin banyak lebam yang muncul di tubuhnya.


Daniel mendesah kasar, dan segera masuk kedalam bathup yang sebelumnya sudah dia isi penuh dengan air hangat.


Dengan pelan, Daniel menggosok tubuhnya hingga bersih.

__ADS_1


.


.


.


Tak


Tak


Tak


Terdengar suara sepatu pantofel yang menggema berjalan mendekat ke meja makan.


Terlihat sudah berkumpul disana kecuali Daniel yang baru saja hadir.


"Pagi, Kakek." Sapa Daniel yang langsung duduk di samping Kakeknya.


"Pagi, El." Jawab Kakek Kristoff dengan melipat korannya pagi ini.


Stevan dan Eve sudah terbiasa tidak pernah mendapatkan sapaan dari Daniel. Hingga keduanya tidak mempermasalahkannya.


"Sayang, kamu ikut keluar negri dengan Kakek?" Tanya Eve dengan ramah dan perhatian.


"Ya." Jawab Daniel singkat.


Daniel hanya melirik sang Kakek, "Apa rumah ini akan hilang jika aku tidak ada?" Tanya Daniel tajam.


"Daniel, bukan begitu maksud Mami kamu. Dia itu sangat khawatir jika kamu kelelahan." Ucap Stevan membela Eve.


"Khawatir? Jangan membuat aku tertawa." Jawab Daniel semakin dingin.


"Sudah. Ayo kita makan." Kakek Kristoff menengahi keduanya.


Stevan menatap tajam ke arah Ayahnya dan juga Daniel, kenapa keluarganya menjadi seperti ini. Belum lagi kembarannya, bahkan tidak pernah berkunjung lagi di mansion Kristoff.


Stevan sangat ingat, dulu mansion ini sangat hangat dan ramai. Meskipun mendiang Ibunya sangat keras dan memiliki mulut yang tajam, tapi mendiang Ibunya sangat menyayangi kedua anaknya secara adil.


Eve hanya menggeram kesal didalam hatinya, sulit sekali bersandiwara didepan Daniel.


Sedangkan Kakek Kristoff dan Daniel makan dalam diam dan tenang, mereka tidak memperdulikan kedua makhluk didepan mereka.


"El, apa kamu sudah menyiapkan semuanya?" Tanya Kakek Kristoff memecah keheningan.


"Sudah, Kek. Tinggal berangkat saja." Jawab Daniel pelan.


"Biarkan nanti di bawa oleh Robby, setelah ini kita berangkat ke kantor dan langsung ke bandara saja." Ucap kakek Kristoff kepada sang cucu.

__ADS_1


"Baik, kek. Lebih cepat lebih baik." Kata Daniel setuju.


"Kenapa cepat sekali berangkatnya, bukankah pertemuannya masih hari Senin." Ucap Stevan yang sudah menghentikan aktivitas sarapannya.


"Apa kamu tidak dengar, lebih cepat lebih baik." Jawab Kakek Kristoff tanpa beban.


"Yah, bagaimana bisa Ayah memperlakukan Stevan seperti ini." Protes Stevan kepada kakek Kristoff.


"Bukankah seperti ini keinginanmu, dirumah dengan istri tercintamu dan mengikuti kemauannya dengan mengambur-hamburkan uang perusahaan." Jawab Kakek Kristoff men-skak Stevan.


"Ayah, maafkan Eve. Dulu keluarga Eve, benar-benar membutuhkan uang yang cukup besar sehingga menggunakan uang perusahaan." Ucap Eve dengan nada dan wajah penuh penyesalan.


Kakek Kristoff tidak menjawab, apa wanita ular itu pikir Kakek Kristoff tidak tahu jika kehidupan keluarganya masih sama terbelenggu dalam kemiskinan.


"Ayah, Eve dan Stevan meminta maaf. Karena dulu tidak meminta ijin kepada Ayah dulu, berikan Stevan kesempatan. Siapa yang akan memimpin perusahaan jika bukan Stevan." Kata Stevan menimpali.


"Ayah memiliki dua anak dan satu cucu, apa yang perlu Ayah takutkan." Jawab Kakek Kristoff dengan tersenyum miring.


Eve yang mendengarkan jawaban Ayah Mertuanya hanya dapat mencengkram sendok dan garpu di tangannya.


"Sial, jika sampai Stevan tidak mendapatkan perusahaan bagaimana nasibku. Aku harus melakukan sesuatu." Ucap Eve dalam hati.


Daniel yang mendengar jawaban dari sang Kakek hanya dapat tersenyum, melihat wajah Stevan yang sudah memerah.


"Tapi, Stevan adalah anak laki-laki di keluarga ini Ayah!" Seru Stevan yang tidak terima.


"Lalu kenapa jika kamu anak laki-laki sati-satunya sebagai keturunanku? Ayah juga memiliki anak perempuan yang tangguh dan tidak hanya bisa menjadi lintah saja dikeluarga suaminya, Ayah memiliki cucuk laki-laki yang pintar dalam mengelola perusahaan. Bahkan, Ayah memiliki Kristal sebagai menantu yang berguna selama ini." Jawab Kakek Kristoff dengan tenang namun penuh penekanan.


"Menantu, Ayah hanya Eve. Kenapa Ayah selalu membandingkan Eve dengan Kristal." Ucap Stevan dengan tajam.


"Mungkin kamu lupa, sejak awal yang mendukungmu menakahi Eve adalah mendiang Ibumu bukan Ayahmu ini. Lagipula, Eve pasti ingat bukan bagaimana pernikahan kalian terjadi?" Kata Kakek Kristoff dengan santai.


"Ayah, jika bukan karena Kristal yang menjebak Stevan. Tentu kami akan menikah dengan baik-baik dan cara yang terhormat." Ucap Eve yang tidak tahan lagi.


"Benarkah? Aku pikir dulu putraku benar-benar cinta kepadamu. Ternyata, siapa sangka yang dicari wanita lain." Kata Kakek Kristoff dengan wajah mengejeknya.


"Benar apa yang dikatakan, Kakek. Daniel pikir, selera Mama juga bukan anak Kakek. Lihat Mama Daniel, wanita yang sangat cantik, cerdas, sopan, dan terpenting hatinya seperti malaikat bukan iblis." Jawab Daniel menimpali ucapan sang Kakek.


"Apa kamu pikir, aku tertarik dengan Ibumu!" Seru Stevan yang sudah berdiri dari duduknya dengan nafas memburu.


"Jika tidak tertarik, kenapa Anda memperkosanya? Benar apa yang dikatakan, Kakek. Kenapa Anda mencari wanita lain bukan dia." Jawab Daniel dengan menunjuk Eve dengan dagunya.


"Arghhh!"


Stevan menggeram marah dan meninggalkan area meja makan begitu saja. Sedangkan Daniel hanya tersenyum miring ke arah Eve.


"Sudah, ayo kita berangkat ke kantor. Sudah cukup membicarakan masa lalu." Ajak Kakek Kristoff kepada Daniel.

__ADS_1


__ADS_2