Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Rencana Robby


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Terdengar suara pecahan benda kaca yang menggema di ruang tamu.


Terlihat pecahan kaca bertebaran diatas lantai marmer mewah tersebut, dengan nafas memburu dan kedua tangan mengepal erat Gabriel mengutuk Eve dan Ketua Kim.


Ya, setelah kepulangannya dari Rumah Sakit menunggu Rose. Gabriel dan yang lainnya kembali ke apartemen.


Mereka terlihat kaget karena Nyonya Kim sudah berada didalam namun hanya seorang diri, Nyonya Kim bercerita dan meminta maaf kepada keluarga Krostoff.


Hingga seorang pengawal keluarga Kim kembali ke apartemen melaporkan jika komplotan penjahat yang menculik Kristal sudah berhasil di bekuk.


Tidak lupa jika pengawal melaporkan, Daniel tertembak di lokasi kejadian dan saat ini sedang berada di Rumah Sakit bersama Stevan dan yang lainnya.


Kakek Kristoff langsung memegang dadanya karena terlalu kaget mendengar berita sang cucu, keadaan bertambah kacau karena Kakek Kristoff langsung dilarikan ke Rumah Sakit.


"Aku akan membunuh kalian." Desis Gabriel dengan mata yang memerah dan bekaca-kaca.


"Tenanglah son, kamu dapat membalasnya sesuka hatimu. Kakek Kristoff hanya kaget mendengar kabar saudara kembarmu." Ucap Agung yang menepuk pundak Gabriel.


"Secepatnya Briel ingin pemilihan CEO di gelar." Kata Gabriel dengan pandangan tajam.


"Tiga hari, tiga hari dari sekarang kita siapkan semuanya. Ayah sudah menghubungi Robby untuk kembali ke apartemen biarkan Kakek Kristoff di tunggu oleh Bibimu dan Nyonya Kim." Ucap Agung dengan tenang.


Sedangkan di Rumah Sakit, Robby terlihat yang paling sibuk.


Mengurusi administrasi Kakek Kriatoff dan memastikan jika mendapatkan perawatan terbaik.


"Nona, saya menitipkan Tuan Kristoff kepada anda. Saya harus segera kembali ke apartemen." Ucap Robby kepada Stevani.


"Baiklah, segera hubungi Stevan dan yang lainnya untuk mengurus kepindahan Daniel di Rumah Sakit ini." Perintah Stevani kepada asisten sang Ayah.


"Baik, Nona. Saya akan ke Rumah Sakit untuk mengurus kepindahan Tuan Daniel." Jawab Robby sopan.


Stevani mengangguk dan Robby undur diri dari ruang perawatan Kakek Kristoff.


Terlihat Robby berjalan dengan langkah lebarnya, benda pipih yang sudah terhubung dengan seseorang menempel di telinga kanannya.


"Segera cari pengacara mendiang Nyonya Kristoff saat ini Daniel sedang kritis di Rumah Sakit karena tembakan dan kesehatan Tuan Kristoff menurun. Kami akan segera menggelar pemilihan CEO." Perintah Gabriel kepada Paman Seo ketua IT di perusahaan Krostoff.


"Baik." Jawab Paman Seo.


Panggilan langsung teputus dan segera Robby menghubungi bagian IT yang lainnya, Robby mempunyai rencana sendiri tanpa berunding kepada yang lainnya.

__ADS_1


"Saat ini Tuan Krostoff tengah sakit, buat berita sakitnya pemimpin perusahaan Kristoff dan undang wartawan untuk waktunya akan aku hubungi lagi." Ucap Robby dengan cepat.


"Baik Tuan." Jawab bagian IT.


Robby langsung memasukkan ponselnya begitu panggilan terputus, ya Robby sengaja menghubungi bagian IT di orang berbeda. Karena ingin Paman Seo fokus dengan pencarian pengacara mendiang Nyonya Krostoff.


Robby mulai menjalankan mobilnya menuju pinggiran kota, Robby harus mengurus kepindahan Daniel agar lebih mudah untuk mengurus semuanya.


Cukup lama waktu yang ditempuh Robby untuk sampai di Rumah Sakit tersebut, begitu sampai Robby langsung keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk Rumah Sakit.


Robby berjalan menuju ruang informasi menanyakan pasien atas nama Daniel, segera perawat tersebut memberitahu dimana pasien tengah mendapatkan perawatan.


Setelah mengucapkan terima kasih, Robby bergegas berjalan menuju ruangan Daniel yang tengah dirawat dengan intensif.


"Tuan." Sapa Robby yang berpapasan dengan Stevan.


"Robby, ba---bagaimana kamu ada disini?" Ucap Stevan kaget.


"Maaf tuan tidak memberitahu anda terlebih dahulu, bagaimana keadaan Tuan Daniel." Jawab Robby sopan.


Terlihat raut wajah Stevan yang berubah murung, "Dia masih belum sadarkan diri." Ucap Stevan lirih.


"Tuan saya di utus Nona Stevani untuk memindahkan Tuan Daniel di Rumah Sakit, saat ini Tuan Kristoff tengah terbaring sakit setelah mendengar kabar tertembaknya Tuan Daniel." Kata Robby oanjang lebar kepada Stevan.


"Benar, Tuan." Jawab Robby jujur.


"Baiklah, jika begitu segera urus kepindahan Daniel. Namun kita terlebih dahulu menemui dokter yang menangani Daniel sejak awal." Ucap Stevan cepat.


Stevan langsung berbelok dan berjalan kembali menuju ruangan dokter dengan di ikuti Robby dibelakangnya.


Cukup lama keduanya berada diruang dokter, hingga dokter keruangan Daniel untuk memastikaan keadaannya.


Kristal dan Minzy yang berada diruang rawat Daniel langsung berdiri begitu melihat sang dokter.


"Bagaimana dok?" Tanya Stevan dengan cepat.


"Pasien sudah menjalani masa kritisnya, saya akan segera siapkan untuk kepindahan pasien. Utuk hasil pemeriksaan yang lain akan kami kirimkan lewat surel." Jelas sang dokter pelan.


"Baik dok, terima kasih." Jawab Stevan.


Dalam hati Stevan senang karena sang putra dapat pindah Rumah Sakit yang lebih besar, namun rasa khawatir tidak lepas dari raut wajah tampan Stevan.


Dokter undur diri, sedangkan Kristal dan Minzy terlihat bingung tentang kepindahan Rumah Sakit untuk perawatan Daniel.

__ADS_1


"Ada apa sebenarnya?" Tanya Kristal heran.


"Ayah masuk Rumah Sakit." Jawab Stevan pelan.


Kristal terpaku ditempatnya, terlihat kedua matanya berkaca-kaca.


"Ba---bagaimana bisa." Ucap Kristal.


"Ayah kaget mengetahui kondisi Daniel yang tertembak di kejadian perkara dan Kakak menginginkan Daniel dipindahkan Rumah Sakit dimana Ayah dan Rose dirawat." Jelas Stevan panjang.


"Rose? Kenapa dengan Rose." Ucap Kristal panik karena dirinya baru mengingat jika Rosw bersamanya saat kejadian.


"Lebih baik kita urus kepindahan Tuan Daniel duku, Nyonya." potong Robby.


"Kenapa, ada apa dengan Rose." Kristal tetap menanyakan gadis tersebut.


"Nona Rose, kecelakaan." Jawab Robby.


Kristal menutup mulutnya dengan tangan kanannya dan berjalan mundur, air matanya luruh karena bertubu-tubi mengetahui orang-orang terdekatnya celaka.


Minzy segera memeluk tubuh Kristal karena saat ini Minzy harus lebih tegar untuk dirinya dan yang lain.


"Tenang Mah, kita akan melihat keadaan Rose dengan memindahkan Daniel dari Rumah Sakit ini." Ucap Minzy pelan.


Kristal mengncengkram kuat pakaian Minzy dan menangis tanpa suara.


Minzy mengelus punggung Kristal dengan pelan, Minzy juga belum tahu kronologis kecelakaan Rose dan bagaimana bisa Rose kecelakaan.


Beberapa perawat masuk, Robby dan Stevan menyingkir memberi ruang pada tenaga medis.


Terlihat tenaga medis dengan hati-hati memindahkan alat yang akan dibawa oleh Daniel menuju Rumah Sakit yang di tuju.


"Mari Tuan, Nyonya." Ucap perawat.


Stevan dan Robby berjalan terlebih dahulu meninggalkan dua wanita yang masih berpelukan.


"Tenang Mah, ayo kita berangkat dulu agar mengetahui keadaan Kakek dan Rose semoga semuanya baik-baik saja." Ucap Minzy menenangkan.


Kristal berjalan keluar dari ruangan Daniel dengan dipaoah oleh Minzy, karena Kristal merasa jika tubuhnya sudah tidak memiliki tenaga saat ini.


Cobaan bertubu-tubi datang kepada dirinya, Daniel yang sekarat karena dirinya, Ayah Mertua yang sakit akibat dirinya juga dan sekarang Rose. Bagaimana keadaab gadis itu.


...🐾🐾...

__ADS_1


__ADS_2