
Happy Reading๐น๐น
Dave menatap sedih punggung gadis yang berjalan menjauh dan hilang di balik tembok.
Segera Dave menyeka air matanya dan menghirup nafas panjang.
"Jangan menyerah Dave, kamu baru memulainya." Ucap Dave pada dirinya sendiri.
Segera Dave berlari keluar dari bandara dan mengendarai mobilnya di samping landasan pacu pesawat.
Dave keluar dari dalam mobil dan menutup pintunya, disandarkannya punggung lebar itu di mobilnya dengan bersedekap dada.
Terlihat satu pesawat yang siap melandas dari sana, Dave menatap lekat pesawat tersebut hingga terbang tinggi ke angkasa.
"Aku akan menantimu, Rose." Ucap Dave pelan.
Dave masih berada di posisinya hingga pesawat yang diyakini Dave ada Rose di dalamnya menghilang tertutup awan putih.
Sedangkan Rose yang ada di dalam pesawat, hanya dapat menatap sedih pemandangan negara yang akan dia tinggalkan.
Hingga suara pramugari yang menginformasikan jika pesawat akan segera lepas landas, para penumpang untuk memakai sabuk pengamannya.
Rose mengikuti intruksi dari pramugari maskapai yang Rose gunakan, hingga Rose merasa jika tubuhnya merasa melayang dengan posisi miring.
"Selamat tinggal." Ucap Rose dalam hati.
(Autor tidak bisa mendeskripsikan secara detail, karena belum pernah naik pesawat ๐ kalau mudik dekat tinggal naik motor)
Sedangkan kini Ayah Nugroho sedang berada di dalam ruangannya bersama Surya sang asisten.
"Jadi, Rose berangkat hari ini?" Tanya Surya kaget dengan kepergian mendadak Rose.
"Iya, aku sendiri juga tidak tahu jika Rose akan secepat ini. Padahal Rose kemarin ingin mengikuti ujian terlebih dahulu." Jawab Ayah Nugroho kepada Surya.
"Lalu, sekarang bagaiamana? Apa ingin segera diurus kepindahan sekolahnya." Tanya Surya.
"Jangan dulu, ajukan saja cuti untuk semester ini. Dan kirimkan juga pengawal untuk Rose disana, aku tidak ingin Dave menganggunya." Perintah Ayah Nugroho kepada Surya.
"Dave? Dave tahu kepergian Rose?" Tanya Surya heran.
"Ya, tadi dia datang ke mansion dan Bi Asih memberitahukannya." Jawab Ayah Nugroho pelan.
Surya menghembuskan nafasnya dalam.
"Maaf, aku lupa memberikan informasi kepada Asep dan Bi Asih." Ucap Surya menyesal.
"Tidak apa-apa, biarkan saja Dave tahu kepergian Rose. Mungkin dia akan berfikir jika Rose sudah melupakannya." Jelas Ayah Nugroho kepada Surya.
Surya hanya mengangguk saja sebagai jawabannya, "Yasudah, aku akan segera mengirim pengawal untuk Rose." Ucap Surya dengan berdiri dari duduknya.
"Ya, jangan sampai lengah dalam menjaga Rose. Aku tidak ingin mendengar berita buruk yang menimpa anakku." Jawab Ayah Nugroho dengan wajah serius.
"Tentu, aku juga tidak ingin keponakanku terluka. Aku kembali keruanganku dulu." Ucap Surya yang berlalu dari ruangan Ayah Nugroho.
__ADS_1
Terdengar suara pintu terbuka.
"Ada apalagi sih Surya, sudah cepat laksanakan perintahku." Ucap Ayah Nugroho tanpa mengalihkan perhatiannya dari laporan perusahaan.
"Paman." Ucap seorang pria.
Ayah Nugroho menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke arah sumber suara.
Terlihat pria yang penampilannya sudah tidak rapi lagi, bahkan jejak air matanya masih terlihat karena matanya cukup bengkak.
"Paman, maafkan aku." Ucap Dave yang langsung bersimpuh di depan pintu yang masih terbuka.
Surya yang melihat dari belakang hanya menatap Dave datar, apalagi Ayah Nugroho semakin datar pula ekspresinya.
"Kamu siapa?" Tanya Ayah Nugroho yang pura-pura tidak kenal.
"Paman, maafkan aku... maafkan aku." Ucap Dave dengan wajah yang memelas.
"Untuk apa?" Tanya Ayah Nugroho.
"Untuk semuanya." Jawab Dave dengan nada bergetar.
Terlihat pandangan Ayah Nugroho sangat dingin terhadap Dave yang masih bersimpuh di sana.
"Aku tidak tahu maksudmu." Ucap Ayah Nugroho.
"Surya, bawa dia pergi dari sini. Aku tidak memiliki waktu untuk bermain." Lanjut Ayah Nugroho yang memberi intruksi kepada asistennya.
"Paman, Dave mohon. Maafkan aku, beri aku kesempatan untuk menjelaskannya paman." Ucap Dave yang memohon bahkan kedua telapak tangannya dia tangkupkan di depan dada.
Terlihat dua security yang berlari mendekat ke arah Surya.
"Usir dia dari sini." Ucap Surya yang menatap punggung Dave.
Segera kedua security menghampiri Dave dan mengapit tangannya agar berdiri.
"Tidak!!! Lepaskan Aku!!! Paman, Dave mohon dengar penjelasan Dave dulu!" Seru Dave yang memberontak.
"Seret dia keluar dan jangan pernah mengijinkan dia masuk kedalam perusahaan ini lagi." Ucap Ayah Nugroho dingin namun penuh penekanan.
Segera kedua security perusahaan Amanda menyeret Dave secara paksa dari ruangan bosnya.
"Lepaskan!!! Aku mencintai Rose!! Aku minta maaf paman!!" Seru Dave dengan suara yang menggema di lorong ruangan Ayah Nugroho.
Surya yang melihat Dave dan kedua security memasuki lift, segera Surya masuk ke dalam ruangan Ayah Nugroho.
"Apa kamu tidak keterlaluan?" Tanya Surya kepada Ayah Nugroho.
"Keterlaluan yang bagaimana? Aku bahkan tidak menyentuhnya." Jawab Ayah Nugroho acuh.
"Benar, kamu tidak menyentuh fisiknya. Tetapi... apa tidak terlalu keras sikapmu kepada Dave." Ucap Surya.
"Lalu bagaimana sikapnya kepada Rose? Dave tidak menyentuhnya tetapi sikapnya meluluh lantakkan hati dan seisinya." Ucap Ayah Nugroho yang kini menyandarkan punggungnya di kursi.
__ADS_1
Suryo hanya dapat menghela nafas pelan, jika di pikir benar juga ucapan Nugroho.
"Bagaimana, apa kamu sudah mengirim bodyguard untuk Rose?" Tanya Ayah Nugroho mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah, dia sedang berangkat menuju Korea menyusul Rose." Jawab Surya.
"Baguslah, sudah lanjutkan lagi pekerjaamu." Usir Ayah Nugroho halus.
Surya hanya berdecak kesal tetapi kakinya tetap melangkah keluar meninggalkan ruangan Nugroho.
Sedangkan Dave, sudah di bawa keluar oleh dua security perusahaan Amanda.
"Jangan halangi aku!" Seru Dave yang mencoba menerobos keamanan.
"Maaf Tuan, bos kami memerintahkan untuk mengusir Anda." Jawab salah satu security.
"Apa kau tidak tahu aku, hah!!! Aku Dave Danuarta!" Ucap Dave menggunakan nama keluarganya.
Sesaat kedua security tertegun, siapa yang tidak tahu keluarga Danuarta di negara ini. Perusahaan yang sama-sama di dunia hiburan dengan peringkat perusahaan big tree.
"Maaf, Tuan. Kami tetap menjalankan perintah atasan." Kata security dengan tegas.
Beberapa saat yang lalu.
"Mbak, Tuan Nugrohonya ada?" Tanya Dave dengan jantung yang berdegup cepat.
"Apa Tuan sudah membuat janji?" Resepsionis tidak menjawab melainkan balik bertanya.
"Sudah, tapi Saya terlambat. Bisa Saya menemui Tuan Nugroho sekarang." Jawab Dave berbohong agar segera dapat bertemu dengan Ayah Rose.
"Sebentar, Saya telfonan Tuan Surya terlebih dahulu. Tuan bisa menunggu di tempat duduk sebelah sana." Tunjuk resepsionis di deretan kursi yang tersedia di loby.
"Saya tunggu di sini saja. Bisa tolong cepat, bilang saja dicari Dave." Ucap Dave yang tidak sabar.
Segera resepsionis tersebut menelfon Surya yang baru saja menutup pintu ruangan Nugroho.
"Ada apa?" Tanya Surya to the point.
"Maaf Tuan, ada Tuan Dave yang ingin menemui Tuan Nugroho." Jawab resepsionis.
"Suruh dia segera ke atas." Ucap Surya tegas yang langsung mematikan sambungan telfonnya.
"Bagaimana?" Tanya Dave tidak sabaran.
"Mari Tuan, Saya antarkan ke ruangan Tuan Nugroho." Jawab resepsionis yang memimpin jalan di ikuti Dave dari belakang.
Keduanya kini masuk ke dalam lift khusus untuk para petinggi di perusahaan Amanda hingga bunyi lift menandakan telah sampai di lantai CEO.
Terlihat Surya mengintruksi resepsionis untuk segera pergi dari sana, sedangkan Dave keluar dengan langkah lebar yang langsung membuka pintu ruangan Nugroho tanpa mengetuk terlebih dahulu.
...๐พ๐พ...
__ADS_1
Tetap tampan paripurna ๐