
Happy Reading πΉπΉ
Terlihat pantulan cahaya matahari dari kaca-kaca yang menyelimuti gedung pencakar langit dinpusat kota.
Orang-orang terlihat berlalu lalang di dalam gedung tersebut, setiap devisi terlihat sangat sibuk.
Mobil-mobil mewah datang silih berganti dengan membawa penumpang ber jas hitam, sepatu mengkilat, dan rambut klimis. Mereka tidak datang sendirian namun di dampingin oleh asisten maupun sekertarisnya.
Para penjaga terlihat melakukan bow seiring datangnya tamu-tamu penting di perusahaan Kristoff, menunjukkan jalan di mana rapat penting kali ini akan di gelar.
Para tamu terlihat saling menjabat tangan satu sama lain dan membicarakan hal-hal ringan, karena apapun pilihan mereka adalah rahasia masing-masing. Terlihat baik di depan namun menikam di belakang hal itu sudah suatu hal yang tidak dapat terhindarkan di dunia bisnis.
Hukum rimba menjadi tombak mereka, siapa yang kuat yang akan menjadi penguasa. Hukum akan tumpul kepada pemilik kuasa.
Terlihat Eve keluar dari rumah yang baru kemarin dia tempati, dengan mengenakan gaun sexy dan angun dirinya berjalan keluar menuju mobil Ketua Kim yang sudah menunggu di teras rumahnya.
Sopir membukakan pintu untuk Eve dan melakukam bow kepada wanita tersebut, menutup kemudian berlari menuju pintu untuk segera mengendarai mobil sang majikan.
"Apa ayah sudah memberitahu keluarga Krostoff?" Tanya Eve yang terlihat meletakkan tas jinjingnya.
"Belum, kita akan memberitahunya ketika di perusahaan. Pasti mereka akan kalang kabut karena tidak memiliki persiapan untuk melawan kita, dan ini adalah foto-foto jika Kristoff tengah sekarat di Rumah Sakit. Ayah sudah menyebarkan berita tentang kesehatan Kristoff melalui media online dan ayah yakin saat ini mereka pasti berusaha meredam berita tersebut." Jawab Ketua Kim panjang lebar.
Eve memgambil beberapa lembar foto di mana mantan mertuanya tengah terbaring lemah di Rumah Sakit.
"Ayah dapat darimana? Tidak mungkin kita dapat memasukkan mata-mata ke dalam pengawal Keluarga Kristoff." Ucap Eve dengan meletakkan kembali lembaran foto tersebut.
"Tenti dari ibunya Minzy." Jawab Ketua Kim enteng.
Eve menolehkan kepalanya ke arah Ketua Kim, "Ayah belum menceraikannya?" Tanya Eve dengan wajah datar.
"Sudah, dia dengan gampangnya menandatangani surat perceraian itu tanpa melakukan drama seperti biasanya. Berkasnya sudah di proses di pengadilan." Jawab Ketua Kim jujur.
"Hem, Eve juga sudah mengurus perceraian dengan Stevan." Ucap Eve kemudian.
"Semudah itu?" Tanya Ketua Kim agak terkejut.
"Tentu tidak ayah, awalnya Stevan tidak mau menandatangani surat perceraian. Namun Eve menawarkan hal yang sebelumnya sudah kuta bicarakan." Jelas Eve dengan bersedekap dada.
"Bagus, sebentar lagi kamu akan berada di titik puncak Eve. Akhirnya setelah puluhan tahun kita dapat di posisi tertinggi." Ucap Ketua Kim dengan tertawa kencang.
Eve hanya diam dan membuang pandangannya ke luar jendela, terlihat bibir Eve tersungging miring entah apa yang ada di dalam benaknya kali ini.
Benar apa yang di katakan Ketua Kim, berita tentang sakitnya Kakek Kristoff liar di dunia online bagaikan bola panas yang siap membakar siapa saja.
Ketua IT paman Seo berusaha meredam berita tersebut, karena sudah mempengaruhi harga saham perusahaan Kristoff.
"Bagaimana?" Tanya paman Seo.
__ADS_1
"Berita baru terus bermunculan saat kita berhasil meng-takedown beberapa platform berita online." Jawab salah satu anak buahnya.
"Sial, jika seperti ini akan membuat pendukung Tuan Muda menjadi goyah. Terus takedown berita tersebut lacak semua IP yang menyebarkannya, panggil beberapa pengawal untuk menyeretnya kemari." Perintah paman Seo dengan tegas.
Paman Seo menatap tajam layar-layar yang berada di depannya, tidak bisa. Semua harus terungkap di publik, selama ini paman Seo sudah menjalankan perintah mendiang Nyonya Krostoff dengan baik. Kali ini tinggal menunggu pengacara mendiang Nyonya Kristoff muncul.
Para pegawai di devisi IT tengah berperang kelincahan dan otak dengan penyebar berita yang seakan mati satu tumbuh seribu. Bahkan muncul berita baru jika Daniel selama ini mengidap penyakit mencuat di permukaan.
"Tuan, berita Tuan Muda muncul." Lapor anak buah paman Seo.
Paman Seo langsung menggeser anak buahnya, terlihat wajah yang sudah berkeringat membaca dengan cepat berita yang bergulir di luaran.
"Take down semua!" Perintah paman Seo.
Paman Seo langsung berdiri dan keluar dari ruangan ketika menerima telfon dari Stevani.
π£οΈ Apa kau tidak becus!
π€ Maaf kami sedang berusaha.
π£οΈ Siapa otaknya?
π€ Kami belum menemukannya, Nona. Karena kini berita Tuan Muda Daniel yang memiliki penyakit mencuat di permukaan.
π£οΈ Bedebah sialan! Aku akan hubungi Rocky.
Segera Stevani yang masih berada di dalamnruang rawat Daniel menghubungi putranya, Rocky yang sangat bandel dan suka meretas segala sesuatu jika dirinya bosan.
π€ Hallo Mah.
π£οΈ Rocky bantu Mama, lacak pemilik IP dan takedown berita Kakek serta pamanmu.
π€ Biarkan saja bukankah bagus keluarga kita menjadi bahan omongan.
π£οΈ Apa kau mau mati.
π€ Rocky akan segera kirimkan hasilnya.
"Dasar setan kecil, bisa-bisanya mematikan telfon Ibunya saat seperti ini." Umpat Stevani dengan menatap layar ponselnya.
Tidak membutuhkan waktu lama ponsel Stevani bergetar, terlihat satu pesan masuk dari sang putra Rocky.
π© Jangan ganggu Rocky lagi.
Stevani mendelik membaca pesan selanjutnya dari sang anak, "Anak ini, apa dia pikir dapat lahir dari pohon pisang." Omel Stevani.
Stevani tidak membalas pesan Rocky, karena meladeni anak laki-lakinya hanya membuat penyakit darah tingginya kambuh.
__ADS_1
Ponsel paman Seo bergetar, terlihat Stevani mengirimkan pesan yang berisi data untuk meretas sumber berita. Paman Seo terlihat mencari lokasi penyebar berita, ternyata di perusahaan salah satu stasiun TV.
"Segera ringkus orang itu." Perintah paman Seo kepada pengawal yang datang keruangan IT.
"Baik." Pengawal segera keluar untuk memanggil teman-temannya.
Segera paman Seo melanjutkan pekerjaannya memasukkan pasword yang sudah diberikan oleh Stevani kepadanya, dengan cekatan dan jemari yang lincah paman Seo menekan enter untuk mengakhiri semuanya.
Di sebrang sana, terlihat seseorang terlonjak kaget karena PCnya tiba-tiba meledak hingga membuat rekan-rekan devisi dirinya langsung berdiri ketika melihat kebulan asap.
π₯ Ada apa?
Riuh para pekerja yang bertanya, hingga masuklah beberapa gerombolan pria berjas hitam masuk menerobos devisi mereka.
Terlihat orang yang PC-nya meledak pucat pasi namun tetap berusaha tenang, tidak boleh ada yang tahu jika dirinya sudah di bayar mahal oleh Ketua Kim dan Eve.
"Ikut kami." Ucap seorang pengawal yang sudah berdiri di samping tersangka.
Ketua devisi yang baru saja masuk berhenti dan melihat kondisi ruangan devisinya.
"Kalian siapa? Kenapa menerobos masuk ke devisiku." Tanya ketua devisi.
Pelaku langsung berlari ke arah ketua devisi dengan memasang wajah yang menyedihkan.
"Bos tolong aku, aku tidak kenal dengan orang-orang itu." Ucap pelaku.
"Ada apa ini sebenarnya, apa urusan kalian dengan salah satu anak buahku?" Tanya kepala devisi kepada salah satu bodyguard.
Bodyguard tidak banyak bicara langsung menodongkan pistol tepat dikepala pelaku sehingga membuat orang yang berada di devisi tersebut verteriak histeris begitu juga ketua devisi terlihat bergetar.
"Tu---tunggu tuan." Kata kepala devisi.
Bodyguard yang lain maju dan menunjukkan kartu jika mereka adalah utusan dari perusahaan Kristoff.
Glek
Kepala devisi menelan ludahnya susah payah.
"Apa kami sudah bisa membawanya?" Tanya bodyguard tersebut.
"O---oh ten---tentu, silahkan." Jawab kepala devisi dengan berjalan mundur menjauh dadi anak buahnya.
Segera bodyguard meringkus pelaku dan menggiringnya keluar dari devisinya, sebul keluar bodyguard yang lain melakukan bow dan meminta maaf atas kekacauan yang terjadi.
Setelah memastikan pria seram itu menjauh, terlihat ketua devisi dan yang lainnya menghela nafasnya lega bahkan ketua devisi sampai luruh di lantai karena kakinya terasa sangat lemas.
... πΎπΎ...
__ADS_1