Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Nyonya Kim dan Minzy menjadi sekutu


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Terdengar deru mobil yang perlahan menjauh dari kediaman keluarga Kim, Minzy mengangkat kepalanya dan menghapus jejak air matanya dengan cepat.


Segera Minzy berdiri dan membuka pintu kamar untuk berlari mencari Mamanya.


"Mama." Panggil Minzy yang membuka ruang kerja sang Ayah.


"Minzy, cepat kunci pintunya." Jawab Nyonya Kim tergesa.


Minzy panik dan langsung mengunci pintu dari dalam.


"Minzy, beberapa waktu lalu kamu menanyakan letak dokumen penting keluarga Kim?" Tanya Nyonya Kim.


Minzy mengangguk, terlihat wajah Minzy memucat karena takut ketahuan.


"Minzy jujur dengan Mama, siapa yang menyuruhmu untuk mengambil dokumen penting dari keluarga Kim?" Tanya Nyonya Kim lagi.


Minzy menggelengkan kepalanya cepat bahkan langkahnya perlahan mudur.


"Tenang saja sayang, Mama tidak akan memarahimu. Ayo kita cari bersama." Ucap Nyonya Kim.


Minzy masih diam dan melihat wajah Nyonya Kim dengan serius.


"Mama tidak bohong, Minzy. Mama ingin berpisah dari Ayahmu apa kamu marah?" Tanya Nyonya Kim.


Minzy sejenak tertegun namun sedetik kemudian kepala Minzy menggeleng cepat, "Tidak Mama." Jawab Minzy lirih.


Nyonya Kim berjalan ke arah Minzy dan memeluk tubuh sang putri dengan erat, terlihat bibir Nyonya Kim bergetar dengan hebat.


"Minzy, Minzy dapat menikah dengan Daniel. Mama tidak akan menghalanginya, ayo kita hidup bahagia." Kata Nyonya Kim.


Minzy ikut menangis membalas pelukan Nyonya Kim dan mengangguk, menyetujui ucapan Mamanya.


"Baiklah, sekarang bukan waktunya menangis. Ayo kita cari dokumen berharga keluarga Kim sayang." Ucap Nyonya Kim yang sudah melepas pelukannya.


Segera Nyonya Kim dan Minzy menggeledah seluruh ruang kerja Tuan Kim dengan cepat dan teliti. Mereka tidak dapat memprediksi kapan Tuan Kim akan pulang.


Sedangkan Gabriel duduk diam di kamarnya dengan mendengarkan percakapan Nyonya Kim dan Minzy.


"Aku akan membantumu agar bersama Daniel, Minzy." Gumam Gabriel.


Gabriel segera menghubungi Ayah Agung untuk memberitahukan pemilihan CEO akan digelar.


πŸ—£οΈ Hallo Ayah.


πŸ‘€ Ada apa Briel?


πŸ—£οΈ Ayah, kurang dari tiga minggu lagi pemilihan CEO baru akan digelar.


πŸ‘€ Kenapa cepat sekali?


πŸ—£οΈ Briel juga tidak tahu.

__ADS_1


πŸ‘€ Bagaimana dengan dokumen dan barang bukti untuk menjebloskan mereka dipenjara.


πŸ—£οΈ Sudah cukup Ayah, meskipun kurang memberatkan.


πŸ‘€ Kamu harus lebih banyak menyelidiki mereka.


πŸ—£οΈ Baik Ayah, kapan Ayah datang?


πŸ‘€ Dua minggu lagi, Ayah akan datang bersama Daniel.


πŸ—£οΈ Apakah Daniel tidak masalah melakukan perjalanan jauh?


πŸ‘€ Tidak masalah, Daniel bahkan melakukan kemoterapi hanya tiga hari sekali sekarang.


πŸ—£οΈ Syukurlah, kabar yang membahagiakan.


πŸ‘€ Hem.


πŸ—£οΈ Briel akan menunggu kalian.


Gabriel menatap layar ponselnya yang sudah padam dengan senyum tipis, berita kesembuhan Daniel akan sangat membahagiakan untuk Kristal.


Di Indonesia.


Terlihat Daniel baru saja keluar dari ruang kemoterapi dengan duduk di kursi rodanya.


"Bagaimana dokter?" Tanya Agung to the point.


"Mari ikut saya akan saya jelaskan diruangan." Jawab dokter sopan.


Kini Agung, Daniel dan dokter sudah berada di dalam ruangan dengan menatap layar monitor lebar yang memperlihatkan keadaan kanker pada tubuh Daniel.


"Gambar yang hitam ini adalah kankernya, Tuan. Kanker yang berada pada tubuh Tuan Daniel sudah banyak yang mati namun kita harus menuntaskannya sampai akar-akarnya karena jika sampai berhenti maka kanker akan lebih cepat mengenai seluruh organ dalam tubuh." Jelas dokter dengan pelan agar kedua pria yang duduk didepannya paham.


"Kami akan melakulan perjalanan ke Korea, apakah Daniel sudah diperbolehkan melakukan perjalanan jauh?" Tanya Agung.


"Boleh, nanti akan saya beri hasil pemeriksaannya untuk meneruskan pengobatan disana." Jawab sang dokter.


"Baik, terima kasih dok sebelumnya." Jawab Agung sopan.


"Sama-sama Tuan, saya juga berterima kasih karena sudah dipercayai mengobati Tuan Daniel." Ucap sang dokter.


Agung dan Daniel segera undur diri dari ruangan yang didominasi berwarna putih tersebut.


"Bagaimana, El. Apa kamu sudah siap kembali kenegaramu?" Tanya Agung dengan mendorong kursi roda.


"Siap, Ayah. Gabriel pasti sangat kesulitan disana." Jawab Daniel dengan sendu.


"Ayah rasa tidak, Briel masih mengumpulkan bukti kejahatan Ibu Tirimu." Jelas Agung.


"Dia wanita yang sangat licik, bahkan El saja tidak menemukan celahnya." Ucap Daniel jujur.


"Sekarang yang sedang dia lawan adalah Gabriel, kakakmu yang kaku itu." Jawab Agung dengan tertawa pelan.

__ADS_1


"Benar, kenapa dia bisa seperti itu Ayah? Mama Kristal orangnya lembut dan sabar." Tabya Daniel dengan memiringkan kepalanya heran.


"Mungkin menurun dari sifat Ayahmu." Jawab Agung apa adanya.


"Bisa jadi, sama-sama pria menyebalkan." Ucap Daniel menyetujuinya.


"Apa kamu yakin akan menggantikan Gabriel bertunangan dengan wanita yang bernama Minzy?" Tanya Agung serius.


"Yakin Ayah, bagaimana jika Kak Gabriel bertunangan dengan Minzy dan tahu jika Rose tidak jadi menikah dengan Kak Dave? El rasa Kak Gabriel akan terjun dari puncak gunung tertinggi di dunia." Jawab Daniel panjang yang diakhiri gelak tawa.


"Apa Briel tidak tahu jika Rose dan Dave membatalkan pertunangan mereka?" Tanya Agung lembali.


"Tidak, bahka ketika Daniel akan memberitahukannya. Kakak selalu menyela ucapan Daniel." Jelas Daniel jujur.


"Nanti biar Ayah yang urus, sepertinya mengerjai Gabriel sekali dalam seumur hidup hanya ada kesempatan satu kali." Ucap Agung dengan mengelus dagunya.


"Apa yang Ayah rencanakan?" Tanya Daniel curiga.


"Nanti kamu juga akan tahu, sudah ayo pulang. Pasti Mama Ambar sudah menunggumu." Jawab Agung.


Segera Agung memapah Daniel untuk masuk kedalam mobil dan memasukkan kursi roda dibagian belakang mobil.


Kembali ke mansion keluarga Kim.


Hampir dua jam lamanya Nyonya Kim dan Minzy mencari berkas-berkas penting keluarga Kim.


"Mah, sepertinya tidak ada disini." Ucap Minzy dengan menyeka keringatnya.


Terdengar suara nafas Nyonya Kim berat, dirinya juga sudah sangat lelah mencari brangkas yang berisi dokumen penting.


"Satu kali Minzy, bagian mana yang belum kita cari?" Tanya Nyonya Kim.


"Hanya lukisan dan pajangan-pajangan saja Mah. Tapi tidak mungkin brangkas sebesar itu disembunyikan dalam hiasankan?" Jawab Minzy panjang.


Nyonya Kim langsung beranjak dari duduknya dan membuka satu per satu lukisan serta foto yang menggantung didalam ruang kerja Ketua Kim.


Nihil, tidak ada apapun. Padahal Nyonya Kim sudah meraba-raba dinding tersebut.


"Bagaimana Mah?" Tanya Minzy.


"Tidak ada apapun." Jawab Nyonya Kim.


"Hah, lelah!" Seru Minzy yang merobohkan tubuhnya di sofa.


Tanpa sengaja tangan Minzy menggeser sebuah vas bunga yang berada dimeja kaca.


Terdengar suara pintu terbuka, keduanya langsung kaget dan panik secara bersamaan karena Ketua Kim sudah datang.


"Mama, Ayah datang." Ucap Minzy panik.


"Cepat sembunyi." Ucap Nyonya Kim yang ikut panik.


Sejak kapan Tuan Kim kembali, kenapa tidak terdengar suara mobilnya. Apa mereka yang terlalu fokus mencari dokumen penting itu.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2