Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Menuju Hutan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Kedatangan Stevan dan Daniel bersamaan dengan kedatangan Minzy beserta Nyonya Kim.


Minzy yang melihat Daniel langsung berlari memeluk pria yang dia cintai, terlihat Daniel juga memeluk dan mengecup dahinya.


Ya, Daniel sudah jatuh cinta dengan Minzy semenjak Gabriel berbicara bagaimana selama ini Minzy menolak keberadaannya meskipun wajah dan fisik mereka kembar.


"Ayo, kita masuk dulu." Ucap Stevan.


Semuanya beriringan masuk kedalam apartemen mewah tersebut, terlihat diluar dan dalam apartemen dijaga ketat oleh para pengawal yang baru karena pengawal yang sebelumnya diberi waktu istirahat sejenak.


Dengan menaiki lift, semuanya naik menuju lantai apartemen. Tidak menunggu lama mereka telah sampai, Stevan segera menekan kode kunci apartemen.


Terlihat ruangan yang cukup berantakan mengingat bagaimana ketiganya mencari cincin Kristal yang hilang.


Daniel, Minzy, dan Nyonya Kim hanya melihat sekeliling ruangan yang memang benar-benar beranrakan.


"Ah, maaf ruangannya berantakan. Sebelum meninggalkan apartemen, kami mencari cincin milik Kristal." Jelas Stevan pelan.


"Tidak apa-apa Tuan, terima kasih sudah menerima kami. Aku secara pribadi memohon maaf karena kelemahan dan keegoisanku membuat Kristal berhasil diculik." Jawab Nyonya Kim dengan melakukan bow kepada Stevan.


"Tidak, Nyonya. Kami juga sedang berusaha mencari keberadaan Kristal." Ucap Stevan dengan wajah sendu.


Minzy menggigit bibirnya dalam, dirinya bimbang apakah perlu memberitahu sekarang. Namun melihat wajah Daniel yang cukup pucat Minzy urungkan.


Nyonya Kim yang ingin menjawab diberi kode oleh Minzy dengan tatapannya tanpa menggerakkan apapun.


"Duduklah di sofa dulu bersaa Mama, aku akan ganti baju sebentar." Ucap Daniel dengan mengacak rambut Minzy.


Minzy mengangguk lembut dan menggandeng Mamanya menuju sofa.


Stevan pergi kedapur untuk mengambilkan minum calon besannya.


Stevan meletakkan dua kaleng minuman dimeja, "Maaf, hanya ini yang ada dikulkas." ucap Stevan.


"Terima kasih, Tuan." Jawab Nyonya Kim.


Stevan duduk dan membuka minuman kaleng yang berada ditangannya, meneguknya beberapa cecapan yang terasa sangat pahit di lidahnya.


"Apa, Anda tahu dimana Kristal disekap?" Tanya Stevan dengan pelan.


Nyonya Kim menoleh melihat ke arah Minzy, Minzy melihat sekeliling takut jika Daniel sudah selesai.


Melihat situasi yang aman akhirnya Minzy memberi kode.


"Kristal disekap di gudang yang berada ditengah hutan." Jawab Nyonya Kim.


Stevan menoleh ke arah Nyonya Kim dengan wajah yang shock, tengah hutan.


"Cepat katakan dihutan mana." Ucap Stevan.


Nyonya Kim menjelaskan jalan menuju gudang tersebut dengan terperinci tanpa terlewatkan sedikitpun.

__ADS_1


"Aku akan menemanimu kesana Tuan, karena seperti kata Minzy. Sekarang bukan Ketua Kim yang berkuasa namun aku dan Minzy."Ucap Nyonya Kim.


Tanpa berkata apapun Daniel yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka langsung berlari menyambar kunci yang tergeletak di meja makan.


Ya, Daniel sadar dengan gelagat Nyonya Kim hanya diam dengan menatap Minzy yang bedara disebelahnya.


"Daniel." Seru semuanya.


Stevan langsung mengejar anaknya di ikuti oleh Minzy karena khawatir dan merasa bersalah.


"Mama disini saja, handel disini. Kirim pengawal yang sudah mengetahui kekuasaan kita Mah. Cepat." Ucap Minzy yang sudah ingin menangis.


Minzy langsung berlari menuju tangga darurat karena tidak ingin kehilangan jejak Daniel.


Minzy terus menuruni anak tangga meski dirinya sempat terjungkal.


"Ach, Stt!"


Minzy tidak memiliki waktu untuk merasakan kakinya yang sakit, dirinya kembali menuruni anak tangga hingga akhirnya sampai di basement.


Terlihat mobil yang di tumbangi Daniel telah meninggalkan basement, Minzy mencari mobil yang dapat dia gunakan.


Minzy langsung menarik Stevan yang akan masuk, menutup pintu dengan cepat. Langsung saja Minzy menekan pedal gas dalam agar tidak tertinggal jejak oleh Daniel


Terlihat Daniel dan Minzy saling berkejaran meski dengan jarak yang cukup jauh, Daniel tidak mencoba menghindari Minzy karena yang dipikirannya saat ini adalah mamanya.


Minzy sesekali meringis merasakan kakinya yang berdenyut nyeri, Minzy menahannya saat ini yang dipikiran Minzy adalah menyusul Daniel.


Terlihat kedua mobil dengan berkecepatan tinggi melaju kencang dilajan raya menuju luar kota.


Meskipun pengawal yang berjaga di gudang nanti adalah orang-orang dari keluarga Kim, namun Stevan tetap mempersiapkan semuanya.


Waktu sudah akan petang, namun masih terlihat seorang pria berdiri didepan pintu kaca kecil. Menatap nanar seseorang yang tengah berbaring dengan berbagai alat penopang hidup.


"El, dokter mencarimu." Ucap Stevani.


Gabriel menolehkan kepalanya dan berjalan berama Stevani menuju ruang dokter.


"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya." Ucap dokter yang melihat tamunya sudah datang.


Kakek Kristoff juga ikut masuk begitu saja tanpa persetujuan siapapun dan langsung duduk didepan meja dokter sehingga membuat Stevani mengalah dengan berdiri.


"Bagaimana dok, apakah parah?" Tanya Gabriel to the point.


Dokter menunjukkan hasil CT Scan dari tubuh Rose di layar PCnya yang dihadaokan ke arah Gabriel dan lainnya.


"Dibagian kepala, terutama bagian ini cukup parah Tuan karena keadaan korban yang tidak menggunakan helm saat kecelakaan dan menyebabkan kehilangan banyak darah." Jelas dokter.


"Motor?" Beo Gabriel.


"Benar, pasien yang bersama kekasih Anda juga masih kritis. Namun masih beruntung karena mengenakan helm, kemungkinan karena mengendarai dengan kencang sehingga tubuh keduanya terpelanting dijalan raya. Karena motor korban berjarak cukuo jauh dari tubuh keduanya." Jawab dokter panjang lebar.


Gabriel diam mencoba mencerna informasi dari dokter.

__ADS_1


"Rose dan orang tersebut pasti mengejar Kristal dengan kecepatan tinggi karena tidak ingin kehilangan jejak." Ucap Stevani dengan wajah yang serius.


"Siapa nama korban selain kekasih saya, Dok?" Tanya Gabriel cepat.


"Jin, Seok Jin." Jawab dokter.


"Jin." Beo Gabriel.


Briel terlihat menyipitkan kedua matanya, karena ingat Jin. Pria yang ingin menyatakan cinta kepada Rose.


Stevani menukul kepala Briel seakan tahu pikiran sang ponakan, "Bukan waktunya cemburu, bodoh." Jawab Stevani tajam.


Gabriel mendelik kesal, benar bukan waktunya cemburu. Namun Briel akan tetap menanyakan jika keduanya sudah sadar nanti.


"Apakah sudah menghubungi keluarganya?" Tanya Stevani.


"Sudah Nyonya, orang tuanya sedang perjalanan kembali ke Korea karena saat kami hubungi tengah berada di Paris." Jawab dokter.


"Dari kecelakaan ini, apakah akan ada efek kepada cucuku?" Kakek Kristoff akhirnya bersuara.


"Benar Tuan, banyak kemungkinan yang terjadi. Nona bisa tetap koma seperti saat ini, hilang ingatan, dan cacat." Jelas Dokter.


Terlihat tangan Kakek Kristoff gemetar setelah mendengar penjelasan sang dokter, sama halnya dengan Gabriel yang mengepalkan kedua tangannya.


"Aku akan membuat perhitungan yang setimpal dengan semua ini." Ucap Briel dalam hati.


"Berapa lama kekasihku akan koma dokter?" Tanya Briel lirih.


"Untuk waktu kami tidak bisa menjawab dengan pasti Tuan, itu tergantung keinginan pasien juga untuk bangun. Saran saya, ajaklah berkomunikasi sesering mungkin agar alam bawah sadar pasien tidak melupakan kehidupan di dunia nyata." Jawab dokter.


Semuanya diam mendengar penjelasan dokter, semua hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Terima kasih dok, tolong beri pewaratan yang terbaik untuk cucuku juga temannya. Semua biaya akan ditanggung oleh keluarga Kristoff." Ucap Kakek Kristoff pelan.


"Baik Tuan." Jawab dokter melakukan bow kepada Kakek Kristoff.


Diluar ruangan terlihat Agung berbincang dengan Robby.


"Kamu bilang, orang itu akan muncul dengan waktu yang tepat bukan?" Tanya Agung.


"Benar Tuan." Jawab Roby sopan.


"Baiklah, aku tidak ingin berlama-lama disini. Kamu tahu menantuku akan melahirkan sebentar lagi dan aku ingin melihat cucu pertama di keluarga Gandratama. Jadi, sekarang buat pengumuman online jika pimpinan perusahaan Kristoff adalah Daniel." Ucap Agung panjang lebar dengan serius.


"Tapi itu akan membahayakan Daniel, tuan." Jawab Roby cepat.


"Tidak, guncang negara ini dengan berita tersebut dan juga umumkan jika Stevan menggugat cerai Eve karena perselingkuhan." Lanjut Agung lagi.


"Perselingkuhan? Dengan siapa?" Ucap Roby polos.


"Bodoh, itu hanya pancingan agar pemegang saham yang mendukung mereka goyah dan akan berlari di kubu Daniel." Agung memukul kepala Roby.


"Jadi merusak kepercayaan para pemegang saham?" Tanya Roby.

__ADS_1


"Benar, buat sepanas mungkin berita itu. Kita lihat reaksi keduanya ketika mengetahui berita disaat penyekapan Kristal." Ucap Agung dengan tertawa.


...🐾🐾...


__ADS_2