
Happy Reading 🌹🌹
Terlihat jalan raya mulai dipadati mobil kendaraan pribadi para pekerja kantoran yang mulai keluar untuk pulang kerumah masing-masing, tidak terkecuali Gabriel.
Pekerjaannya hari ini menjadi sangat berat, karena banyak kejadian yang membuatnya kesal dan marah.
Briel mendengus kesal saat mengingat kejadian tadi siang, dirinya dan Rose bertengkar hebat. Baru kali ini mereka saling berteriak satu sama lain, lebih parahnya setelah itu nomor Rose tidak dapat dihubungi karena ribuan pesan dan telfonnya tidak diangkat.
Gabriel menatap sejenak foto yang menjadi wallpaper ponselnya, terlihat gambar pernikahan merka. Tega sekali Rose berbuat seperti ini kepadanya.
Dihembuskannya nafas panjang dengan memijat pangkal hidungnya, Robby yang mengemudi hanya melihatnya melalui kaca spion tengah. Menyaksikan bagaimana frustasinya seorang Gabriel.
"Kakak tadi pergi kemana dengan Rose?" Tanya Briel tanpa melihat ke lawan bicara.
"Hanya di taman depan kantor saja." Jawab Robby berbohong.
"Membicarakan apa." Ucap Gabriel lagi.
"Hal yang tidak penting." Kata Robby acuh.
Duak!
"Jangan mengatakan seperti itu, apapun yang dibicarakan oleh Rose itu penting untukku." Sungut Briel menendang kursi Robby.
Tapi bagiku sungguh tidak penting! Jerit Robby gemas.
Gabriel memutuskan untuk menghubungi istri pendeknya, ingin memberi kabar jika dirinya tengah di perjalanan pulang. Berharap Rose ingin dibelikan sesuatu.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada jawaban. Sungguh parah, hanya suara operator yang menjawab panggilan Gabriel. Menandakan jika istrinya belum membuka blokiran nomornya atau ponselnya mati.
Gabriel melempar ponselnya asal dengan bersedekap dada Briel merebahkan punggungnya dengan kasar, memejamkan kedua matanya dengan bibir yang mengerucut lucu.
Robby ingin sekali memfoto Briel saat ini dan dijadikan senjata jika dirinya tengah dalam keadaan yang tidak menguntungkan.
"Kak, bangunkan aku jika sudah sampai mansion." Ucap Briel tanpa membuka kedua matanya yang terpejam.
"Baiklah." Jawab Robby pelan.
Robby melihat jika Gabriel sudah tidur dengan posisi duduk dan bersedekap dada, dalam keheningan Robby menjalankan mobil menuju suatu tempat yang akan menjadi tempat bersejarah untuk Gabriel di negara Korea.
__ADS_1
...***...
"El, bangun." Robby membangunkan Gabriel dengan sedikit meninggikan suara serta mengguncang lengannya.
"Eugh." Briel melenguh dan berusaha membuka kedua matanya yang sangat mengantuk.
Sejenak, Robby menunggu Gabriel mengumpulkan serpihan nyawanya karena baru bangun tidur. Setelah kesadaran Gabriel sudah terkumpul secera utuh dahinya mengkerut karena pemandangan yang didepannya.
"Di mana ini?" Tanya Briel karena dirinya sadar jika saat ini mereka bukan di mansion Kristoff.
Padahal Briel ingin segera pulang untuk memeluk Rose dan kembali berusaha berdamai karena Rose tengah merajuk kepadanya.
"Kamu akan segera tahu, sebaiknya segera kita masuk." Jawab Robby.
Briel hanya menurut saja, karena pikirannya sudah terlalu lelah sehingga dirinya melangkah masuk kedalam gedung yang terlihat sepi dan gelap. Lagipula Robby juga tidak mungkin berbuat macam-macam kepadanya, Briel sangat percaya dengan asistennya tersebut.
Dengan langkah pelan dan hati-hati Gabriel melangkah, karena suasana didalam gedung sangat gelap gulita tidak ada pencahayaan.
"Kak Robby, kenapa gelap sekali?"
Tidak ada jawaban dari Robby, bahkan kedua tangan Briel sudah meraba sekitarnya tidak merasakan kehadiran Robby disana.
"Robby! jangan bercanda!" Seru Gabriel emosi, bisa-bisanya sang asisten ikut membuatnya marah dua kali hari ini.
Gabriel meraba jasnya, si*al ponselnya tidak Briel bawa. Dia ingat jika ponselnya tadi dilempar disamping kursi. Gabriel kembali berjalan kedepan dengan hati-hati.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Tak!
Lampu kecil menyala, membuat Gabriel cukup jelas melihat area sekitar yang terkena cahaya lampu. Matanya menyincing melihat satu kertas berwarna pink berbentuk hati menempel di tembok. Segera Gabriel melangkah mendekat dan mengambilnya.
Terima kasih sudah menjadi Gabriel yang hebat sampai hari ini.
Lampu-lampu kecil terus menyala seiring Gabriel berjalan maju.
Kamu adalah pria yang sangat tampan hingga aku ingin menatap wajahmu untukku
sendiri.
Briel tersenyum melihat tulisan tersebut.
Aku suka cemburumu itu namun, tolong kurangi kadarnya sedikit.
__ADS_1
Briel tertawa pelan tanpa terasa kedua matanya berembun.
Terima kasih sudah memaafkan dan menerima keluarga Kristoff.
Setetes air mata turun hingga mengenai kertas pink tersebut.
Kamu kakak yang paling aku sayang.
Briel menyeka air matanya dengan kasar.
Hingga kini kertas yang menutupi sebuah bingkai foto kecil di tembok, “Ini hadiah untukmu.” Briel mengambil kestas tersebut.
Kening Briel mengkerut karena sebuah foto hitam putih yang belum pernah dia lihat sebelumnya, Briel mengambil bingkai foto tersebut dan membaliknya berharap mengetahui apa foto itu.
Secarik kertas disisipkan dibelakang terlipat dengan rapi, Briel mengambil dan membukanya dengan tidak sabar.
"Aku mencintaimu setinggi mungkin, sejauh yang aku bisa lihat, hingga tak terbatas dan lebih jauh. Dari hari ini hingga hari-hari terakhir kita, kamu adalah milikku dan aku milikmu. Aku ingin hubungan kita di dunia ini berakhir bahagia, jika kita harus berpisah pun kuharap bukan karena orang ketiga atau adanya perbedaan. Tapi aku ingin kita berpisah ketika aku tak bisa berdiri dan tak sanggup bernapas lagi untukmu. Ucapan terima kasih tak cukup untuk kuucapkan, karena kamu lebih berharga dari apapun. Terima kasih suamiku dan selamat kamu sudah menjadi seorang Ayah."
Briel langsung membalik bingkai foto kecil tersebut dan dengan lembut meraba foto hitam putih itu, tubuh Briel bergetar menatap foto yang bahkan dirinya tidak paham bagaimana membacanya namun membayangkan seorang bayi disana didalam perut istrinya.
Grep!
Sebuah tangan kecil melingkar di balik tubuhnya, "Selamat ulang tahun sayang, terima kasih sudah menjadi pria hebat untukku dan semuanya. Aku sangat mencintaimu." Ucap Rose dengan lelehan air mata.
Gabriel langsung membalik tubuhnya dan memeluk tubuh kecil istrinya, Briel menangis tersedu-sedu dalam pelukan sang istri. Wajahnya di sembunyikan diceruk sang istri.
"Hiks! Terima kasih sayang, terima kasih." Ucap Briel dengan suara tercekat.
Keduanya saling berpelukan dengan tangis bahagia, semua keluarga dan karyawan yang berkumpul mengusap air matanya penuh haru. Kristal terisak dipelukan Stevan karena untuk pertama kalinya keluarga Kristoff meyarakan ulang tahun Gabriel.
Gabriel melerai pelukannya dan menangkup wajah sang istri yang terlihat menggemaskan, diusapnya air mata istrinya dengan lembut. Pandangannya turun ke arah perut.
"Apakah ada Gabriel junior didalam sini?" Tanya Briel dengan suara serak.
Rose mengangguk dengan menahan bibirnya agar tidak menangis, "Iya, sudah dua bulan." Jawab Rose yang akhirnya airmata kembali menetes.
Gabriel berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan perut yang masih terlihat rata tersebut, di ciumnya perut sang istri yang terhalang pakaian dengan penuh kasih sayang. Rose mengelus surai hitam sang suami dengan lembut.
"Jagoan Papa, baik-baik ya." Ucap Briel setelah melepaskan kecupannya.
Rose mengangguk seakan mengiyakan jika bayi mereka menjawab ucapan Gabriel. Briel mendongak untuk menatap wajah sang istri. Terlihat wajah yang sangat bahagia dari keduanya, Briel memeluk perut sang istri dan kembali mengecup perut berisi Gabriel junior tersebut.
...🐾🐾...
...Jangan lupa mampir ya, seru ceritanya 🌹...
__ADS_1