
Happy Reading 🌹🌹
Beberapa hari yang lalu.
Terlihat Sky berjalan menuju ruangan Gabriel.
Tok
Tok
Tok
"Masuk." Ucap Gabriel dari dalam.
Terdengar pintu terbuka, terlihat Sky tengah berdiri tepat didepan pintunya dengan satu tangan di masukkan ke dalam saku celana.
"Apa kamu sibuk?" Tanya Sky yang sudah berjalan masuk dan duduk di sofa ruangan Gabriel.
"Memang kapan aku terlihat santai." Jawab Briel tanpa melihat ke arah Sky.
"Benar juga sih, kamu selalu bekerja keras." Ucap Sky membenarkan.
"Karena ini juga ulahmu." Kata Briel menyalahkan Sky.
"Kenapa jadi aku, tentu saja seorang CEO di bantu oleh asistennya." Jawab Sky membela diri.
"Seorang CEO seharusnya juga mengerjakan pekerjaannya, tidak hanya tanda tangan saja. Waktumu lebih banyak dirumah daripada dikantor." Ucap Briel yang masih sibuk membaca berkas.
"Ck... Ck, kamu menikahlah agar tau kenapa aku lebih betah di rumah daripada dikantor Briel." Kata Sky kepada Gabriel.
"Alasan, bilang saja jika kamu selalu mesum dengan Putri." Ucap Briel telak.
Sky hanya tertawa keras, karena memang benar adanya. Semenjak istrinya hamil semakin membuat wanita itu semakin sexy.
"Sudah, ada apa perlu datang ke ruanganku?" Tanya Gabriel yang sudah meletakkan penanya.
"Oh, iya. Hampir lupa, dua hari lagi ada pertemuan dengan perusahaan Korea. Perusahaan biji besi." Ucap Sky.
"Lalu?" Tanya Briel dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Begini, Briel... Putrikan sedang hamil, jadi...."
"Jadi kamu tidak bisa meninggalkannya sendiri?" Ucap Briel menyela ucapan Sky.
"Benar." Jawab Sky dengan menaikkan satu kakinya ke kaki yang lain.
Briel tidak menjawab dan langsung menelfon seseorang dengan suara di loudspeaker.
"Halo, Kak." Ucap seorang wanita di sebrang sana.
"Halo, Put. Apa kamu masih dalam acara ngidam?" Tanya Briel tanpa basa basi.
Sky yang mendengar panggilan Briel melebarkan matanya dan menoleh ke Briel.
"Tidak, Kak. Ada apa?" Jawab Putri jujur.
"Sky bilang jika kamu menginginkan dia berada disampingmu dua puluh empat jam. Dua hari kedepan ada pertemuan rapat penting, dan dia menginginkan aku untuk menggantikannya. Bagaimana menurutmu." Ucap Briel panjang lebar.
__ADS_1
Terdengar Putri menghela nafasnya, "Bilang saja ke suami Putri, jika dia terus membolos bekerja. Putri akan pulang ke rumah Mama dan tidur bersama Mama." Jawab Putri di sebrang telfon.
"Baiklah." Jawab Briel dan mematilan telfonnya.
Briel menopang dagunya di atas meja dan memandang Sky dengan wajah mengejek.
"Kamu dengar Sky, istrimu akan tidur dengan Ibu Mertuamu." Ucap Gabriel.
"Si@l, kenapa kamu menelfon istriku. Huh!" Kata Sky dengan nada tinggi karena sebal.
"Tinggal kamu pilih, kamu datang atau tidak." Jawab Briel to the point.
"Ishhh... sudah, sangat menyebalkan." Ucap Sky dengan meninggalkan Gabriel begitu saja.
Brak
Suara pintu di tutup dengan keras, pemilik ruangan tidak marah. Hanya memandangnya sebentar dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
.
.
.
Di tempat lain.
Terlihat sebuah keluarga tengah melakukan makan malam seperti biasanya.
Suasana yang dingin dan hening, hanya ada suara sendok yang sasekali mengenai piring mereka masing-masing.
"Ada apa?" Tanya Kakek Kristoff dengan acuh.
"Ayah istirahat saja di rumah, biarkan Stevan yang melakukan perjalanan kali ini." Ucap Stevan kepada sang Ayah.
Kakek Kristoff hanya tersenyum miring, "Apa lagi yang kalian rencanakan." Ucap Kakek Kristoff.
"Ayah, bagaimanapun aku yang akan meneruskan usaha keluarga kita. Bagaimana bisa, Stevan tidak pernah diajak terlibat dengan perusahaan." Kata Stevan dengan suara yang kesal.
"Kamu masih belum dapat merenungi kesalahanmu?" Tanya Kakek Kristoff.
"Perusahaan mengalami kerugian sesekali itu wajar, Ayah." Jawab Stevan.
"Sesekali?" Ucap Kakek Kristoff dengan nada dingin.
Daniel hanya diam mendengarkan perdebatan kedua pria paruh baya itu, pandangannya menatap ke arah Ibu Tirinya. Terlihat senyum tipis Eve disela mengunyah makanan.
.
.
.
"El, kamu yakin akan ikut Kakek?" Tanya Kakek Kristoff pelan.
"Yakin, Kek. Daniel ingin mengunjungi negara yang belum pernah Daniel kunjungi." Jawab Daniel tidak kalah pelan.
"Baiklah, jangan sampai kamu kelelahan. Perjalanan hampir tiga belas jam." Ucap Kakek Kristoff mengingatkan sang cucu.
__ADS_1
"Ya, Kek." Jawab Daniel menurut.
"Jika begitu, tidurlah. Besok malam kita terbang, agar tidak terlalu kaget dengan perbedaan waktu di Indonesia." Kata Kakek Kristoff dengan menepuk pundak Daniel pelan.
Daniel mengangguk dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur berkurang king size tersebut.
Sedangkan, Kakek Kristoff berjalan keluar dan mematikan saklar lampu kamar Daniel hingga menyisakan lampu tidur saja.
Mendengar suara pintu yang tertutup, Daniel kembali membuka kedua matanya.
Segera, Daniel menyingkap selimutnya dan berjalan pelan menuju pintu kamarnya untuk memastikan apakah sang Kakek sudah benar-benar pergi.
Cklek
Suara pintu terkunci dari dalam, Daniel mengunci agar tidak ada yang masuk kedalam kamarnya. Meskipun memang tidak pernah ada yang berani masuk kecuali Kristal dan sang Kakek.
Daniel segera membuka lemari pakaiannya, segera Daniel mengepaki pakaian santainya daripada jas kerjanya.
Daniel sudah bertekat akan mencari keberadaan Mama dan saudara kembarnya.
"Hanya waktu empat hari, aku mencari Mama dan kembaranku." Gumam Daniel pelan.
Bahkan Daniel mengeluarkan satu bungkus plastik putih dengan merk ternama, dibukanya plastik tersebut terlihat sepasang jacket yang dibeli Daniel tempo hari.
Daniel merabanya, dengan mengulas senyum. Daniel membayangkan jika dapat memberikannya kepada saudara kembarnya.
Ya, yang dibeli Daniel adalah jacket kembar untuk dirinya juga kembarannya. Meskipun belum pernah melihat saudara kembarnya, Daniel tetap membeli ukuran yang sama dengan dirinya.
"Aku pasti akan menemukan kalian." Do'a Daniel dalam hati.
Daniel segera memasukkannya kedalam koper, dan menutup koprenya dengan seuntai do'a.
Tes
Setetes darah menodai badan koper Daniel, "Jangan sekarang, Tuhan." Ucap Daniel yang segera menghapus noda darah dan menengadahkan kepalanya ke atas.
Segera Daniel berjalan cepat menuju kamar mandi, dengan menyalakan kran di wastafel. Daniel menyeka darah yang keluar dari hidungnya dengan perlahan.
Terlihat darah segar bercampur dengan air yang jernih di wastafel tersebut. Cukup lama Daniel berada didalam kamar mandi hingga merasa tidak ada cairan yang kembali keluar barulah Daniel mematikan kran air.
Daniel menatap cermin, terlihat kulitnya timbul seperti memar. Daniel menolehkan lehernya dan kemudian melihat tubuhnya.
"Tenang, Daniel. Sudah lama kamu sembuh, hanya kelelahan saja." Ucap Daniel pada dirinya sendiri.
Dalam hati Daniel merasa sangat takut, sudah cukup lama Daniel tidak pernah kambuh. Kenapa disaat penting seperti ini tubuhnya tidak mendukungnya.
Daniel menguatkan hatinya, jika memang Daniel harus mati biarlah. Toh, Mamanya sudah ada yang menjaga menggantikan dirinya.
Segera Daniel melangkah keluar dari dalam kamar mandi untuk menuju tempat tidurnya, pandangannya teralihkan di koper besar yang sudah ada kado darinya untuk saudaranya.
"Semangat, Daniel." Ucap Daniel menyemangati dirinya.
...🐾🐾...
Maaf autor kemarin tidak up, autor sedang pilek.
Harap teman-teman selalu jaga kesehatan ya ❤
__ADS_1