Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Hasil DNA


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Halo."


"Tuan, hasilnya sudah keluar." Jawab dokter disebrang telfon.


"Apa kamu yakin? Bukankah harus menunggu dua minggu." Jawab Agung dengan suara dinginnya.


"Kami sudah berusaha secepat mungkin Tuan, dan ini sudah keluar hasilnya." Jelas sang dokter.


"Baik, tunggu Aku disana. Jangan beri tahu istriku dulu." Ucap Agung cepat.


"Baik, Tuan." Jawab dokter menurut.


Segera Agung mengambil jaket dan keluar dari mansion Gandratama.


"Ayah, mau kemana?" Tanya Putri yang melihat mertuanya terburu-buru.


"Ke rumah sakit." Jawab Agung singkat.


Putri hanya menatap kepergian Ayah mertuanya dan seketika panik, "Astaga, apakah terjadi sesuatu kepada Gabriel."


Segera Putri berjalan ke kamarnya untuk menghubungi Sky, memberitahu keadaan Gabriel.


Dengan langkah pelan akhirnya Putri sampai, segera mengambil ponsel yang sedang di carjer tersebut.


"Halo, Mas." Ucap Putri terlebih dahulu.


"Halo, sayang. Ada apa?" Tanya Sky dengan meletakkan penanya di meja kerja.


"Mas, sepertinya kita harus menyusul ke Rumah Sakit. Ayah terlihat tergesa-gesa, mungkin terjadi sesuatu terhadap Gabriel." Jelas Putri panjang.


"Baik, tunggu aku di rumah." Sky langsung meninggalkan pekerjaannya begitu saja.


Dengan tergesa-gesa, Sky kekuar dari ruangannya sambil memakai jasnya.


"Batalkan pertemuan beberapa hari kedepan, dan schedule ulang." Ucap Sky kepada sekertarisnya tanpa menunggu jawaban.


.


.


.


Sedangkan Agung mengendarai mobilnya menuju kediaman Amanda.


"Ada yang bisa, Saya bantu Tuan?" Tanya Mang Asep sopan.


"Tolong panggilkan Nyonya Kristal, bilang saja Ayahnya Gabriel menunggu didepan." Jawab Agung cepat.


"Tunggu sebentar." Mang Asep segera menekan telfon.

__ADS_1


"Bi Asih, Nyonya Kristal di cari Ayahnya Gabriel begitu. Tolong cepat sampaikan ya." Ucap Mang Asep yang meniru pesan Agung.


Setelah mendapatkan jawaban dari Bi Asih, Mang Asep segera mematikan telfonnya.


"Sebentar ya, Tuan. Sedang dipanggilkan." Ucap Mang Asep dengan suara lembut.


Agung hanya mengangguk saja tanpa menjawab.


Mang Asep yang berhadapan dengan Agung bergidik ngeri, karena tatapan pria itu sangat tajam, belum lagi suaranya yang deep.


.


.


.


Kini Agung dan Kristal telah masuk kedalam mobil untuk menuju Rumah Sakit.


Terlihat Kristal yang sangat tegang, kedua tangannya berkeringat, hatinya bedebar-debar.


"Ya Tuhan, semoga Gabriel adalah Elbarackku." Do'a Kristal dalam hati.


"Tenangkan dirimu, Nyonya." Ucap Agung dengan suara tenangnya.


Kristal hanya mengangguk, bagaimana dapat tenang jika sebentar lagi Kristal akan mendapatkan jawabannya.


Kristal lebih memilih menyerahkan bukti kepada Agung, karena Kristal tahu jika membutuhkan uang banyak untuk tes DNA. Uang Kristal tidak sebanyak itu, dan tidak mungkin merepotkan Rose dan Ayahnya lagi.


"Jika benar, Gabriel adalah putramu. Apa yang akan kamu lakukan?" Pertanyaan itu akhirnya lolos dari mulut Agung.


Agung hanya dapat tersenyum getir, "Bagaimana jika kami tidak melepaskan Gabriel untuk Anda bawa?" Tanya Agung lagi.


Kristal langsung menoleh melihat wajah Agung meskipun dari samping.


"Saya yakin, kalian tidak sekejam itu. Tuan." Jawab Kristal jujur.


"Memang apa yang, Anda tahu dari keluarga Saya. Bahkan anak pertama Saya dapat menghancurkan sebuah perusahaan dengan sekali tepuk." Ucap Agung lagi.


Hati Kristal sedikit gentar, "Mungkin dapat menghancurkan perusahaan tapi tidak dengan sebuah keluarga." Kata Kristal dengan suara sedikit gemetar.


Agung hanya diam tidak menanggapi, mungkin Agung masih dapat berfikir dengan dingin. Yang ditakutkan adalah Ambar dan Sky.


Bagaimana kedua orang itu akan bertindak ketika mengetahui kebenarannya, terutama sang istri Ambar. Yang merawat Gabriel dengan sepenuh hatinya, bahkan Agung ingat ketika Gabriel menunjukkan gejala PTSDnya. Ambar yang selalu ada 24jam di samping anak angkatnya itu.


Sedangkan Sky saat itu masih kecil, Agung juga sibuk di perusahaan. Untuk menemani Gabriel tidak seperti Ambar yang ada setiap saat dan waktu.


Tidak terasa kini mobil yang dikendarai oleh Agung telah sampai di pelataran Rumah Sakit.


Klek


Terdengar suara membuka seatbelt dan pintu mobil, Agung berjalan memimpin jalan menuju ruangan dokter sedangkan Kristal mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Ayo, masuk." Ucap Agung kepada Kristal yang telah sampai di depan ruangan dokter.


Kristal menarik nafas panjang dengan tangan yang berada didepan dadanya.


Kakinya melangkah masuk keruangan dokter yang bernuansa serba putih itu.


"Silahkan, duduk Tuan dan Nyonya." Ucap sang dokter sopan.


Agung segera duduk dan di ikuti Kristal yang duduk di sampingnya.


"Mana." Ucap Agung tak basa basi.


Dokter langsung mengeluarkan amplop putih besar di tangannya menyerahkan kepada Agung dengan menggeser amplop tersebut.


Agung dan Kristal terpaku menatap surat itu, belum ada yang menyentuh maupun membuka suara. Begitu juga sang dokter, dia hanya diam saja dengan jantung yang berdebar hebat.


"Kau saja yang buka." Ucap Agung menggeser amplop itu dan duduk memunggungi Kristal.


Kedua mata Kristal memanas, bahkan sudah menganak sungai. Dengan tangan yang bergetar, Kristal mengambil amplop tersebut.


Dibukanya secara perlahan seakan surat itu adalah hal paling penting di dunia ini.


Dengan tangan gemetar Kristal mulai menarik pelan kertas hasil DNA tersebut.


Tangis Kristal pecah, dirinya menangis dengan tersedu-sedu.


"El-ku, hiks." Ucap Kristal di sela tangisnya.


Agung masih memunggungi Kristal bahkan dokter hanya diam meskipun sangat penasaran.


Terlihat kedua mata Agung memerah bahkan rahangnya bergetar karena menahan tangisnya, suara Kristal begitu memilukan.


Agung menengadahkan kepalanya agar tidak menumpahkan air matanya. Kedua pria tersebut hanya diam dengan mendengarkan Kristal yang menangis.


"Aaa... El-ku. El-ku." Ucap Kristal yang memeluk surat hasil DNA itu.


Hingga suara pintu dokter dibuka dari luar.


"Maaf, dokter emergency dari kamar Tuan Gabriel." Ucap perawat dengan nafas memburu.


Kristal langsung berdiri begitu juga Agung dan dokter.


Sang dokter langsung berjalan melewati Kristal untuk menuju lantai tiga.


"El." Kristal langsung berlari menyusul dokter begitu juga Agung.


Terlihat rombongan dokter sudah memenuhi lift, meninggalkan Kristal dan Agung di lantai satu.


"Ada apa dengan El-ku, Tuan." Ucap Kristal dengan memegang lengan jas Agung.


"Tenang, aku juga tidak tahu." Jawab Agung.

__ADS_1


Kristal histeris karena baru akan bertemu dengan anak kandungnya tapi keadaanya sekarang seperti apa karena banyak dokter yang menuju ke kamarnya.


...🐾🐾...


__ADS_2