
Happy Reading 🌹🌹
Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa sebentar lagi akan menuju hari pertunangan Minzy dan Gabriel digelar.
Terlihat Minzy tengah mencoba gaun pertunangannya ditemani oleh Gabriel.
"Benar aku akan bertunangan dengan Daniel, kan?" Tanya Minzy memastikan.
"Aku tidak janji." Jawab Gabriel.
"Ck, aku tidak mau bertunangan denganmu. Aku ingin bersama adikmu." Ucap Minzy dengan kesal.
"Kamu juga bukan seleraku." Jawab Gabriel datar.
"Huh, pantas saja Rose tidak ingin bersamamu." Ucap Minzy sengit.
Raut wajah Gabriel berubah dingin, Minzy langsung memegang lengan Gabriel yang akan keluar dari ruang ganti.
"Maaf." Cicit Minzy menyesal.
"Cepat ganti pakaianmu, jika tidak suka coba saja yang lain." Ucap Gabriel dengan melepaskan pegangan tangan Minzy dan melenggang pergi keluar ruangan.
Minzy menggigit bibirnya gemas karena dia sudah mengatakan tentang Rose, pasti Gabriel sedih.
Sedangkan Gabriel langsung melepaskan jas yang dia coba dan diterima oleh pelayan butik dengan cepat.
"Sesuaikan saja apa yang dikenakan gadis didalam sana." Ucap Gabriel tanpa melihat ke arah pelayan.
"Baik Tuan." Jawab pelayan sopan.
Briel langsung menghempaskan bobot tubuhnya disofa dengan memainkan ponsel sembari menunggu Minzy.
Ya, Gabriel tidak bisa menjamin jika yang akan bertunangan dengan Minzy adalah Daniel karena sampai saat ini Daniel tidak kunjung kembali ke Korea dengan alasan masih menjalani kemoterapi.
Srek
Suara tirai dibuka, ternyata Minzy masih belum puas dengan beberapa gaun yang sudah dua coba.
Gabriel mengangkat kepalanya dan menatap lurus pandangannya didepan, terlihat Minzy yang tetap sama cantiknya dengan gaun yang berbeda.
"Bagaimana?" Tanya Minzy tersenyum ceria.
"Biasa saja." Jawab Gabriel.
Minzy mencebik namun tetap tersenyum kearah pantulan kaca karena Minzy sangat puas dengan gaun yang dia kenakan terakhir ini.
Tanpa keduanya sadari, sejak tadi Rose berdiri tidak jauh dari keduanya. Dengan kedua mata kepalanya sendiri Rose mengamati interaksi kedua pasangan yang akan mengesahkan hubungan mereka.
Sejak saat Gabriel keluar dari dalam ruangan ganti bahkan hingga Minzy keluar dengan gaun yang sangat cantik menurut Rose.
__ADS_1
Ya, Rose setelah mendapatkan undangan pertunangan Gabriel berusaha tegar dan tetap menghadirinya. Oleh karena itu Rose ingin membeli gaun yang terbaik untuk acara sakral itu.
Namun apa yang ditemui oleh Rose, ternyata orang yang akan bertunangan juga tengah melakukan feeting baju dibutik yang sama dikunjungi oleh Rose.
Tanpa ekspresi apapun, air mata Rose tumpah bahkan tak ada gerakan pada tubuh Rose.
Seolah air matanya adalah jawaban atas perasaannya saat ini.
"Nona, jadi ambil yang mana?" Tanya pelayan yang mengagetkan Rose.
"O---oh , ini saja." Jawab Rose menjatuhkan pilihannya kesalah satu gaun yang sudah dicobanya.
"Silahkan lakukan pembayaran dikasir, Nona." Ucap pelayan sopan.
Rose mengangguk dan segera berjalan menuju kasir untuk membayar sepotong gaun yang sudah dipilih. Dengan tergesa-gesa Rose membayar serta mengambil barangnya.
Gabriel menyadari keberadaan Rose, meskipun tidak menatap wajahnya namun Gabriel tahu jika itu adalah Rose.
"Kenapa?" Tanya Minzy yang sudah keluar dengan baju santainya.
Minzy tidak mendapatkan jawaban dari Gabriel karena Gabriel menatap ke arah lain. Minzy mengikuti arah pandangan Gabriel yang menatap gadis muda hingga masuk kedalam mobil.
"Kejar." Ucap Minzy menyenggol Gabriel.
Gabriel hanya bergeming dan melangkahkan kakinya kearah kasir untuk membayar pakaian mereka.
Minzy langsung berlari menyusul Gabriel, "Kenapa tidak kamu kerjar? Jelaskan kepada Rose, aku tidak ingin dia salahpaham." Ucap Minzy panjang.
Buk
Suara pintu mobil tertutup, Minzy langsung mengenakan sabuk pengamannya.
"Kak, kenapa kamu begitu egois." Ucap Minzy.
"Apa." Jawab Gabriel.
"Kakak sebenarnya cinta tidak sih dengan Rose, seharusnya Kakak mengejar dan menjelaskannya. Katakan jika Minzy akan bertunangan dengan Daniel." Ucap Minzy menggebu dengan emosi.
"Daniel belum tentu hadir, jika dia tidak hadir maka kita tetap bertunangan." Kata Gabriel tegas.
"Tidak! Minzy hanya ingin Daniel bukan Gabriel." Tolak Minzy tegas.
"Lihat saja nanti." Jawab Gabriel santai.
"Kakak pasti akan menyesal jika tidak menjelaskan kepada Rose hari ini." Ucap Minzy dengan bersedap tangan didepan dada.
"Dia juga akan menikah." Jawab Gabriel sekenanya.
"Cih, bodoh!" Ucap Minzy berdecih.
__ADS_1
Minzy sudah mengetahui kebenaran tentang Dave yang membatalkan pertunangan dengan Rose, siapa lagi jika bukan dari Daniel.
Sesuai janji Gabriel, Gabriel menghubungi Daniel agar berbicara dengan Minzy. Keduanya bercengkrama dengan lama melalui ponsel bahkan bertukar nomor telfon.
Memang sudah tiga hari ini Minzy tidak dapat menghubungi nomor Daniel, padahal pertunangan mereka empat hari lagi akan digelar.
Membuat Minzy selalu menanyakan kepada Gabriel, memastikan jika Minzy akan bertunangan dengan Daniel bukan Gabriel.
Disisi lain, tepatnya dibandara Incheon. Terlihat dua orang pria berjalan dengan pengawalan ketat oleh penjaga.
Terlihat pakaian serba hitam kacamata hitam, masker hitam dan topi hitam outfit yang dinekan keduanya.
"Ayah, kita sangat keren." Ucap Daniel dibalik masker hitamnya.
"Apa kau suka?" Tanya Agung dengan bangga.
"Tentu saja, ini sangat keren. Daniel tidak pernah melakukan hal keren bersama Ayah Stevan." Jawab Daniel dengan jujur.
"Cih, Ayahmu kalah jauh denganku yang keren ini." Ucap Agung membusungkan dada.
Daniel tertawa, "Benar, kita langsung keapartemen?" Tanya Daniel kepada Agung.
"Iya, kita harus bersembunyi dari Gabriel sampai hari H." Jawab Agung.
"Apa rencana Ayah akan berhasil?" Tanya Daniel khawatir.
"Seratus persen, karena kecerdasa Gabriel tidak akan sampai pada hal yang melenceng." Jawab Agung.
Daniel dan Agung kini memasuki mobil yang sudah Kakek Kristoff siapkan untuk mengabtarkan mereka bersembunyi diapartemen miliknya.
Mobil mewah itu bergerak perlahan meninggalkan bandara menuju apartemen mengantarkan kedua majikannya tersebut.
Terlihat Daniel membuang pandanganbya keluar jendela mengabati bangunan dan jalan yang mereka lewati, ternyata musim telah berganti berapa lama waktu Daniel tinggal di Indonesia hingga membuat bunga pepohonan bermekaran.
"Ini musim semi." Ucap Daniel dengan memandang jalan raya.
"Benarkah?" Tanya Agung.
"Iya, apa Ayah pernah melihat bunga sakura?" Tanya Daniel yang menengok ke arah Agung.
"Pernah." Jawab Agung.
"Benarkah? Dimana, bagaimana harumnya?" Tanya Daniel dengan antusias.
"Digambar." Jawah Agung tanpa ekspresi.
Daniel yang mendapatkan jawaban dari Agung merasa sangat kesal, padahal Daniel sudah sangat antusias karena selama ini Daniel hanya dapat memandang bunga sakura dari dalam mobil jika melintas menuju perusahaan.
Sedangkan sopir keluarga Kristoff hanya melipat bibirnya dalam agar tidak tertawa dengan jawaban Agung yang sangat diluar ekspestasi.
__ADS_1
...🐾🐾...