Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Jadi Aku Memiliki Saudara Kembar


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Stevan berjalan menuju kamarnya, dengan cepat Stevan membuka dan mengunci pintu dari dalam.


Langkah kakinya segera masuk kedalam kamar mandi.


"Arghhh!" Stevan terasa sangat marah hari ini.


Dengan kasar Stevan menyalakan kran yang ada di wastafel dan membasuh mukanya dengan air.


"Kenapa harus kamu Kristal, kenapa!" Ucap Stevan dengan menatap tajam pantulan dirinya di cermin.


"Untuk apa aku menggoda Stevan jika sedari awal Stevan mencintaimu tentu saja akan mencarimu bukan mencariku!!"


Ucapan Kristal 28 tahun yang lalu terus terngiang di benak Stevan, jika memang benar Stevan mencintai Eve kenapa malam itu justru mencari Kristal.


Lamunan Stevan buyar karena suara gedoran pintu kamarnya.


Stevan membuang nafasnya kasar, dirinya sungguh lelah menjalani biduk rumahtangga seperti ini.


Segera Stevan mengeringkan wajahnya dan berjalan ke arah pintu untuk membukanya.


Terlihat istrinya Eve sudah menangis dan memeluk tubuhnya, "Maafkan aku sayang, maafkan aku." Ucap Eve dengan menangis.


Stevan membalas pelukan istrinya dan menepuk punggungnya pelan, "Aku juga meminta maaf." Jawab Stevan pelan.


Asisten Robby yang melihat pemandangan tersebut, hanya menatap datar dan sulit diartikan.


Stevan segera melepas pelukan Eve karena tatapan yang Robby berikan sungguh membuatnya tidak nyaman.


"Bersihkan dirimu, aku ingin menemui Ayah." Ucap Stevan yang segera berlalu dari hadapan Eve.


Eve mengepalkan tangannya, ingin sekali dia melarang tetapi Eve tidak ingin Stevan kembali marah kepadanya.


Terlihat Stevan melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, hingga berheti tepat di ruang kerja sang Ayah.


Tangannya terhenti di udara ketika mendengar sayup-sayup suara di dalam ruang kerja Kakek Kristoff.


"Tidak Ayah, belum saatnya. Kristal ingin membawa seseorang ke dalam kehidupanku juga Daniel." Tolak Kristal halus.


"Siapa? Apa kamu memiliki seorang kekasih Nak?" Tanya Kakek Kristoff yang terlihat bahagia.


Kristal menggeleng pelan, "Jauh seorang kekasih Ayah." Jawab Kristal pelan.


Percakapan yang di dengar oleh Stevan membuat hatinya mendidih, Stevan sangat tidak suka mendengar percakapan tersebut.


Dengan membawa rasa amarahnya, Stevan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mansion Kristoff.


...🐾🐾...


Sedangkan kini dua anak muda tengah berada di kamar Kristal.


"Ini kamar Mamamu?" Tanya Rose menyelidik.


"Tentu, tidak mungkin kamarku memakai selimut berenda." Jawab Daniel dingin.

__ADS_1


Rose hanya mengendikkan bahunya saja, terlihat kaki dengan langkah pendek tersebut berjalan mengelilingi sudut kamar yang menurut Rose sangat indah.


"Apa yang ingin di cari, Mamaku?" Tanya Daniel kepada Rose.


Rose menghentikan langkah kakinya, sedetii. kemudian menepuk jidatnya karena terlalu asik melihat kamar Kristal.


"Barangnya ada di lemari." Ucap Rose.


Daniel berjalan ke arah lemari yang di ikuti Rose, segera Daniel membukanya.


Terlihat baju-baju rumahan Kristal yang sederhana, mungkin bajunya sudah sangat lama karena banyak warna pakaian yang sudah lusuh.


Rose menggeser tubuh Daniel dan berjongkok membuka kotak-kotak yang tersusun rapi di bawah pakaian Kristal.


Daniel hanya berdiri dan menatap Rose yang berada dibawahnya, terlihat Rose sangat sibuk membuka setiap kotak dan mengecek isinya.


"Ketemu." Ucap Rose dengan tersenyum sembari mengusap peluhnya.


Daniel segera merebut map yang ada di tangan Rose, dibukanya dengan cepat.


"Ini dokumen penting, ada paspor, visa, ijazah Mama." Ucap Daniel lirih.


Rose segera berdiri dan merebut kembali map yang sempat di buka oleh Daniel.


"Sudah, kamu bereskan saja kotak-kotak ini." Ucap Rose yang menutup map milik Kristal.


Daniel masih terpaku, pikirannya tengah memproses apa yang sedang di pikirkan Mamanya.


"Tidak! Mama!" Seru Daniel yang paham jika Kristal akan pergi.


Terlihat Rose hanya mengangguk dan meninggalkan Kristal sendiri.


"El."


"Mama."


Ucap Kristal dan Daniel secara bersamaan.


Daniel berjalan cepat menuruni anak tangga dan memeluknya sangat erat.


"Jangan tinggalkan El, Mah." Ucap Daniel yang sudah menangis.


Bibir Kristal bergetar dirinya hanya mampu membalas pelukan Daniel tidak kalah eratnya.


"Jangan pergi." Ucap Daniel lagi.


Kristal melepaskan pelukannya bersama Daniel, dengan mengusap air matanya pelan Kristal mengajak Daniel untuk pergi kekamarnya.


"Ayo, ikut Mama." Ucap Kristal yang menggandeng Daniel.


Tidak membutuhkan waktu lama, kini Daniel dan Kristal telah duduk di sofa kamar Kristal.


"Sayang Mama, El." Ucap Kristal pelan.


Daniel menggelengkan kepalanya pelan dengan air mata yang sudah menetes deras dari kedua matanya.

__ADS_1


"Jangan, Mah." Jawab Daniel.


"Dengarkan Mama sayang, Mama hanya pergi sebentar saja. El sementara tinggal bersama Kakek Kristoff." Ucap Kristal pelan.


Daniel semakin menangis deras, bagaimana kehidupannya tanpa Kristal.


"Bawa El pergi juga Mah." Jawab Daniel memohon.


"Tidak El, Mama belum sanggup memberikan kehidupan yang layak untukmu." Ucap Kristal mengelus pipi Daniel pelan.


"El tidak butuh banyak harta Mah, hanya Mama yang El butuhkan. Bawa El pergi bersama Mama." Tangis Daniel pecah dan menyandarkan kepalanya di pundak Kristal.


Kristal menepuk pelan punggung Daniel dengan sayang.


"Tidak mungkin El, kamu harus sembuh dulu. Mama mohon sementara ikutlah dengan Kakek, Mama tidak akan lama. Kita bertiga akan hidup bahagia." Ucap Kristal yang menahan sesak di dalam dadanya.


"El sudah sembuh Mah, El sudah sembuh. Lihat El tidak pernah masuk Rumah Sakit lagi." Jawab Daniel yang semakin menangis pilu.


"El... Mama memiliki satu rahasia." Ucap Kristal pelan.


Kristal sejak di mengetahui Gabriel selalu berfikir, bagaimana caranya Kristal menyampaikan kepada Daniel jika Gabriel adalah saudaranya begitu juga sebaliknya jika benar Dabriel adalah anak kandungnya.


Kristal mengangkat kepala Daniel pelan, dihapusnya dengan lembut airmata yang sudah membasahi pipi Daniel.


"Jangan menangis, Mama sakit jika melihat El menangis." Ucap Kristal dengan tersenyum lembut.


Daniel memeluk kembali tubuh Kristal hingga sedikit terhuyung kebelakang.


"Apa rahasia Mama?" Tanya Daniel dengan masih memeluk tubuh Kristal.


"El... bagaimana jika kamu memiliki saudara?" Tanya Kristal pelan.


"Tentu saja sangat senang, apakah Mama sedang hamil? Tapi dengan siapa?" Tanya Daniel dengan posisi yang masih sama.


"Apa Mama bisa hamil jika tidak memiliki suami?" Kelakar Kristal.


Daniel hanya mencebikkan bibirnya pelanbelakan di belakang Mamanya.


"Serius Mah, lalu maksud Mama apa?" Tanya Daniel sedikit merajuk.


"Mama memiliki anak selain El." Jawab Kristal pelan.


"Iya, berarti Mama hamilkan?" Ucap Daniel lagi.


"Bukan sayang, El memiliki saudara kembar." Ucap Kristal dengan berbisik di telinga Daniel.


Daniel melepaskan pelukannya dan tertawa pelan, "Mama jangan bercanda." Ucap Daniel di setal tawanya.


"Apa Mama pernah bercanda tentang hal yang serius El?" Tanya Kristal dengan menatap lekat wajah Daniel.


Tawa Daniel mulai surut berganti dengan wajah yang entah sulit di artikan.


"Jadi, benar El memiliki saudara kandung. Bahkan kita kembar?" Tanya El dengan wajah serius.


...🐾🐾...

__ADS_1


...KIRA-KIRA EL BAKAL MENERIMA KEBERADAAN SAUDARA KEMBARNYA ATAU TIDAK YA? ...


__ADS_2