Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Dua Persimpangan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Tentu berbeda, bedanya Dave dapat kembali bersama Rose sedangkan kau. Pria yang paling menyedihkan di antara kisah kalian bertiga.


"Ck, menyebalkan." Ucap Briel berdecak kesal.


"Ada apa gadis cerewet itu datang menemuimu?" Tanya Sky yang penasaran.


Gabriel menceritakan wanita paruh baya yang pernah dilihatnya dikediaman keluarga Amanda, dan bagaimana Rose menyampaikan keinginan wanita tersebut.


Sky terlihat sangat serius dan seksama mendengarkan penjelasan saudaranya.


"Kamu menolaknya?" Tanya Sky to the point.


"Seperti yang kamu tahu." Jawab Briel acuh.


"Kamu beri solusi agar Rose datang ke tempat Dave?" Tanya Sky lagi.


"Heem." Ucap Briel berdehem.


"Pantas saja kamu jomblo sejak lahir, ternyata kamu sangat bodoh." Ucap Sky dengan menggelengkan kepalanya pelan.


Gabriel menatap sinis kearah Sky, terlihat gayanya yang sangat menyebalkan dimata Briel.


"Apa perlu aku ambilkan kaca yang besar untukmu." Jawab Briel kesal.


Sky hanya menjulurkan lidahnya saja kearah Gabriel.


"Seharusnya kamu terima saja, coba kamu pikirkan. Dengan adanya wanita itu, kamu dapat menanyai bagaimana kebiasaan atau kegemaran gadis cerewetmu itu. Yah, secara tidak langsung wanita itu adalah sumber informasimu." Jelas Sky kepada Gabriel.


Gabriel terdiam sesaat, otaknya tengah memproses masukan dari saudaranya itu.


"Wah, aku rasa kali ini Dave akan memenangkan jackpot. Mungkin, waktu dekat kita akan mendapatkan undangan pernikahan mereka Briel." Ucap Sky dengan mengelus dagunya.


Tidak ada jawaban lagi.


"Briel... sial, aku belum selesai bicara orangnya sudah menghilang." Umpat Sky kesal.


Ya, Gabriel langsung berlari keluar dari ruangannya tanpa menjawab ucapan dari Sky.


Gabriel harus mengejar Rose, baiklah sebelum janur kuning melengkung biarkan Gabriel berusaha sekali lagi.


"Aku, mohon Rose. Jangan pergi dulu." Do'a Briel dalam hati.


Terlihat langkah kaki Gabriel berjalan menuruni anak tangga, karena Gabriel tidak sabar menunggu lift untuk naik. Gabriel memutuskan turun melalui tangga darurat.


Akhirnya Briel sampai dipantai satu, para karyawan yang bertemu Gabriel menyapanya namun tidak digubris.


Briel terus berlari hingga sampai didepan gedung perusahaan Gandratama, terlihat Briel mengedarkan pasangannya kesegala arah guna mencari sosok gadis pendeknya.


"Apa kamu melihat gadis pendek, yang keluar dari dalam perusahaan?" Tanya Briel kepada penjaga dengan memperagakan tinggi tubuh Rose.


"Sudah pergi sejak tadi, Tuan. Mungkin sepuluh atau lima belas menit yang lalu." Jawab penjaga.


Briel mengguyar rambutnya bertepatan mobil perusahaan sampai didepannya.


"Turun." Ucap Briel langsung kepada sang sopir.


Sopir perusahaan Gandratama langsung turun tanpanbertanya, mengingat perangai asisten atasannya yang tidak terlalu banyak berbicara.


Tanpa menunggu lama, Briel melakukan mobil perusahaan untuk menyusul Rose jika beruntung.


...🐾🐾...

__ADS_1


Rose langsung keluar dari kantor Gabriel dengan perasaan yang tidak menentu.


Tanpa menoleh kebelakang Rose langsung masuk kedalam lift begitu pintu kotak besi itu terbuka.


"Kenapa kamu menangisinya, Rose. Memang benar apa yang diucapkan pria kanebo itu, kamu lebih baik meminta bantuan kekasihmu." Ucap Rose pelan dengan menyeka air matanya yang sudah meluncur bebas membasahi pipinya.


Ting


Rose langsung keluar lift begitu sampai dilantai satu, Neni yang melihat teman Putri keluar begitu saja hanya menatapnya dengan berkedip.


Rose keluar dari dalam gedung Gandratama, langkah pendeknya berjalan menuju kemobil dimana Mang Asep masih setia menunggu.


Buk


Suara pintu mobil terdengar ditutup kencang, Mang Asep yang tengah tiduran bangun karena kaget.


"Astaga, Non. Sudah selesai?" Tanya Mang Asep dengan mengelus dadanya pelan.


"Jalan, Mang." Perintah Rose dengan membuang pandangannya keluar jendela.


Mang Asep tidak banyak bertanya, melihat majikannya menangis.


Dasar anak muda, sehari bertengkar besoknya sudah baikan. Ahh... indahnya percintaan kaum muda. Begitu pikir Mang Asep.


Mang Asep mulai menjalankan kuda besinya hingga meninggalkan perusahaan Gandratama.


Melihat majikannya sedang sedih, membuat Mang Asep bingung. Lebih baik memutar lagu, pikir Mang Asep.


Ada yang salah dalam diriku


Aku bahkan tidak dapat melarikan diri


Aku jatuh cinta


Akhirnya aku berlari ke arahmu


Kini, semuanya sudah berbeda


Sejak saat itu, kamu dan aku tidak akan pernah bisa bersatu.


Rose menangis kencang, entah kenapa hatinya sangat sedih.


"Hik... hik... hik... kenapa dia sangat jahat!!." Adu Rose dengan menangis seperti anak kecil.


"Yah, memang dunia sangat kejam Nona." Jawab Mang Asep.


Tangis Rose makin pecah, sedetik kemudian tangisan mereda


"Tunggu, darimana Kak Gabriel tahu aku berpacaran dengan Kak Dave lagi?"


Seketika tangis Rose reda begitu melewatkan sesuatu yang seharusnya hanya Rose dan Dave yang tahu.


"Saya tidak tahu Nona, mungkin kekasih Nona yang memberitahukannya." Jawab Mang Asep sok tahu.


"Benarkah? Tapi tidak mungkin." Ucap Rose berspekulasi.


Mang Asep mengangguk saja, demi kesehatan telinganya. Karena suara Nona Mudanya yang sangat menyakitkan telinga.


"Nom, kita mau pergi kemana lagi?" Tanya Mang Asep kepada Rose.


"Pulang saja, Mang. Rose merasa sangat lelah hari ini." Jawab Rose pelan.


Rose menghela nafasnya panjang, hingga terdengar suara ponselnya berdering.

__ADS_1


Terlihat nama Dave dilayar benda pipih tersebut, Rose segera mengangkatnya.


πŸ—£οΈ Halo, Sayang.


πŸ‘€ Ada apa, ka... sayang?


πŸ—£οΈ Apakah kamu masih diluar?


πŸ‘€ Masih dijalan, sayang. Ada apa?


πŸ—£οΈ Bukankah kamu sudah pulang sejak tadi, kamu mampir kemana lagi?


πŸ‘€ Tadi aku bertemu dengan Putri.


πŸ—£οΈ Baiklah, hati-hati dijalan. Hubungi aku jika sudah sampai sayang.


πŸ‘€ Baik.


πŸ—£οΈ Love you 😘


Rose diam terpaku mendengar ucapan Dave, bahkan Dave yang memanggil namanya disebrang telfon tidak terdengar.


πŸ—£οΈ Halo, sayang. Kamu masih di sana.


Rose masih terdiam, dengan perlahan tangannya yang memegang HP turun dan ibu jarinya memencet tombol merah.


"Aaaaaaa...." Rose berteriak dengan mengacak rambutnya dengan kasar.


Mang Asep terjingkat kaget, kenapa dengan Nona Mudanya hari ini.


Deru suara mobil memasuki pelataran mansion Amanda, terlihat mobil hitam berhenti didepan pintu utama.


Satu kaki turun dari dalam mobil hingga tubuhnya dicondongkan keluar dari dalam mobil.


Kini dirinya sudah keluar sempurna dengan berdiri tegap, terlihat tangannya membenarkan jasnya agar terlihat rapi.


"Ayo Briel, jangan sia-siakan kesempatan ini." Ucap Briel pelan.


Gabriel mulai berjalan menuju pintu utama dengan langkah lebarnya, bahkan suara sepatu pantofel begitu nyaring terdengar.


Tok


Tok


Tok


Briel berdehem demi menetralkan perasaannya.


Cklek


Suara pintu terbuka, Briel segera mengangkat kepalanya terlihat wanita paruh baya berdiri menatap dirinya yang menatapnya dengan intens.


"Maaf, apakah Rosenya ada?" Tanya Gabriel sopan.


Kristal menatap wajah yang sangat dirindukannya siang dan malam, mengingatnya membuat Kristal menyesali tindakan masa lalunya.


"Tante." Panggil Briel membuyarkan lamunan Kristal.


"O... oh, ayo masuk dulu Tuan." Jawab Kristal terbata.


Gabriel mengangguk dan berjalan masuk kedalam kediaman Amanda, Kristal menuntunnya menuju ruang tamu untuk menunggu Rose.


...🐾🐾...

__ADS_1



__ADS_2