
Happy Reading πΉπΉ
Daniel melangkah keluar mansion, "Dimana, pria itu?" Tanya Daniel pada penjaga.
"Sepertinya di taman belakang, Tuan." Jawab penjaga sopan.
Para penjaga memang sudah tidak kaget dengan panggilan yang di sematkan Daniel kepada Ayahnya maupun Ibu tirinya itu.
Daniel kembali melangkah menuju samping mansion, terlihat Stevan tengah duduk termenung di sana.
Entah apa yang di pikirkan Stevan, Daniel tidak ambil pusing.
Dengan langkah lebar, Daniel menghampiri dimana Stevan duduk dan mengambil gunting di saku celananya.
Krek
Daniel langsung memotong rambut Stevan tanpa ca ci cu ce co lagi.
Stevan yang merasa rambutnya dipegang oleh seseorang segera menoleh. Terlihat Daniel yang tengah memasukkan sesuatu di saku celananya.
"Apa, yang kau lakukan!" Seru Stevan langsung berdiri.
"Tidak ada." Jawab Daniel acuh dan langsung berlalu dari hadapan Stevan
Stevan menatap tajam punggung Daniel, tangannya terulur memegang rambutnya.
"Apa yang di lakukan anak keras kepala itu." Gumam Stevan.
.
.
.
__ADS_1
"Mama, simpan baik-baik semuanya." Ucap Daniel.
Kristal mengangguk, sebelum pergi dari mansion Kristoff sepasang ibu dan anak tersebut saling berpelukan.
"Mama, pergi dulu El." Ucap Kristal lirih.
Daniel mengangguk, "Bawa Kakak pulang, Mah." Ucap Daniel pelan.
"Pasti, kita akan berkumpul bertiga." Kata Kristal dengan menepuk punggung Daniel pelan.
Lagi-lagi Daniel memganggukkan kepalanya, "El, tunggu Mah." Ucap Daniel yang sudah melepaskan pelukannya.
"Menunggu, apa?" Tanya Kakek Kristoff yang berada tidak jauh dari Daniel dan Kristal.
"Menunggu, Mama pulang." Jawab Daniel berbohong.
Kakek Kristoff hanya ber oh ria.
"Apa." Jawab Kakek Kristoff sengit.
"Kakek, jangan merindukan Rose ya." Ucap Rose yang sudah memeluk tubuh pria tua itu.
Kakek Kristoff hanya mendengus kesal, sedangkan asistennya Robby melipat bibirnya kedalam.
"Harusnya aku, bocah yang bilang seperti itu." Kata Kakek Kristoff.
Rose hanya terkekeh pelan, "Jaga kesehatan Kakek, sampai bertemu di lain waktu." Ucap Rose.
"Siapa juga yang ingin bertemu dengan gadis pendek sepertimu." Jawab Kakek Kristoff membuang wajahnya kesamping.
Rose hanya memutar bolanya malas, "Padahl, Rose hanya basa basi saja. Ini sebagai salah satu bentuk sopan santun bertamu di rumah orang lain." Jawab Rose menyebalkan.
Kakek Kristoff yang mendengarkan jawaban Rose, menyipitkan matanya. Ingin sekali Kakek Kristoff menenggelamkan Rose di inti bumi.
__ADS_1
"Baiklah, Ayah. Kami pamit dulu. Jaga kesehatan Ayah dengan baik." Ucap Kristal memelik tubuh mantan Ayah mertuanya.
"Segeralah kembali, Kristal." Jawab Kakek Kristoff dengan sayang.
Kristal melepaskan pelukannya dan mengangguk, Kristal bergeser hingga menghadap asisten Robby.
"Robby, jaga Ayah untuk Kristal ya." Ucap Kristal halus.
"Tentu saja, Nyonya." Jawab Robby dengan melakukan bow.
Kristal dan Rose segera berjalan meninggalkan ketiga orang yang masih berdiri menatap punggung mereka.
Sedangkan di dalam mansion, Stevan menatap kepergian mantan istrinya dengan pandangan yang sulit di artikan.
Ingin sekali Stevan keluar, dan melarangnya untuk pergi. Tapi, apa haknya mereka bahkan sudah bercerai sejak usia kandungan Kristal menginjak sembilan bulan.
(gais ini bukan agama Islam ya)
Eve hanya dapat menggeram menahan amarah dari ujung tangga, pandangannya terkunci pada sang suami Stevan yang memandang kepergian Kristal dari balik kaca jendela.
"Bahkan, setelah dia pergi. Kamu masih tetap mencintainya." Gumam Eve dalam hati.
Eve tahu, sejak kehadiran Kristal di mansion Kristoff. Stevan sudah jatuh hati, jatuh se jatuh jatuhnya.
Namun, Eve berusaha meracuni pikiran Stevan. Seolah-olah Kristal bukan wanita baik di hadapannya. Meskipun sampai merelakan janinnya meninggal tidak masalah toh bukan anak dari Stevan.
...πΎπΎ...
...Maaf autor upnya telat hari ini, autor tadi pagi baru diberi kabar jika Kakek autor meninggal dunia. ...
...Jadi, autor ngetik di dalam mobil sambil jalan ke Madiun. ...
...Pusing ngetik didalam mobil yang sedang jalan ππ...
__ADS_1