
Happy Reading🌹🌹
Pagi menjelang, terlihat aktivitas para pelayan dimansion Kristoff sangat aktif.
Dengan cekatan mereka membawa makanan dari dapur dan menyajikannya di atas peja panjang sebelum penghuni mansion ada yang duduk dikursi.
Kakek Kristoff muncul bersamaan dengan selesainya pekerjaan maid yang mengurus makanan keluarganya.
"Pergilah." Ucap kakek Kristoff.
"Selamat menikmati, Tuan." Jawab maid dan langsung berlalu dari hadapan Kakek Kristoff.
Kakek Kristoff hanya mengangguk dan mendudukkan dirinya diatas kursi makan yang berada dibagian tengah dan kanan kirinya yang akan di isi oleh keluarga Kristoff yang lain.
Tak berselang lama Gabriel turun dari lantai dua yang sudah berpenampilan rapi seperti kesehariannya di Jakarta.
Terlihat Gabriel mengenakan jas hitam yang membalut tubuhnya dengan didasari kemeja warna putih, tidak lupa rambut yang sudah tertata rapi karena pomade hingga tidak akan pernah longsor diterpa badai.
"Bagaimana tidurmu El, apakah nyenyak?" Tanya Kakek Kristoff kepada Gabriel yang baru saja duduk.
"Ya." Jawab Gabriel singkat.
Kakek Kristoff tersenyum, mengingat kejadian tengah malam tadi.
"Kakek berharap, kamu betah tinggal bersama kami El." Ucap Kakek Kristoff pelan.
Gabriel hanya menganggukkan kepalanya saja sambil menunggu Kristal turun untuk bergabung bersamanya dimeja makan.
Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang, Kakek Kristoff dan Gabriel menolehkan kepalanya menuju suara tersebut.
Mereka berfikir jika itu adalah Kristal, namun salah. Sepasang suami istri berjalan menuju ke arah mereka dengan bergandengan tangan.
Bahkan Eve bergelayut manja ditengah Stevan, Stevan yang melihat tatapan Gabriel tanpa sadar melepaskan tangan Eve hingga tidak bergelayut manja lagi.
Eve menatap Stevan heran karena selama ini Stevan tidak pernah menolaknya, namun tatapan Eve menjadi sinis ketika melihat Gabriel.
Stevan hanya berdehem dan melanjutkan langkahnya menuju meja makan, diikuti Eve dengan wajah kesalnya dibelakang sang suami.
"Pagi Ayah." Ucap Stevan dan Eve.
"Pagi." Jawab Kakek Kristoff singkat.
"Kamu sudah rapi, El. Apa akan berangkat kekantor?" Tanya Eve basa-basi dengan senyum palsunya.
"Aku harap, Anda tidak buta." Jawab Gabriel sarkas.
Eve tersenyum kecut mendengar jawaban Gabriel yang di koran Daniel oleh Stevan dan Eve.
"Kamu terlalu kasar, El. Mami hanya bertanya." Ucap Eve dengan menahan amarahnya.
__ADS_1
Gabriel yang tengah menatap Stevan tajam meggulirkan biji matanya hingga menatap Eve dengan sinis.
"Anda terlalu baper." Jawab Gabriel dengan bahasa andalan orang Indonesia.
Eve dan yang lainnya terlihat mengerutkan dahi, karena mendengar bahasa asing yang keluar dari mulut El.
"Baper? Apa itu baper?" Tanya Eve dengan wajah bingung.
"Baper itu cantik." Jawab Kristal yang baru saja ikut bergabung dimeja makan.
"Cantik?" Beo Eve.
Kristal mengangguk dengan wajah meyakinkan, sedangkan Gabriel mencoba menahan tawanya dengan mencubit paha kakinya sendiri.
Kakek Kristoff dan Stevan terlihat menganggukkan kepalanya saja, meskipun Kakek Kristoff cukup lama tinggal di Indonesia.
Namun tidak ada yang berucap dan mengajari Kakek Kristoff singkatan-singkatan yang aneh.
"Duduklah Kristal." Ucap Kakek Kristoff kepada sang menantu.
Kristal mengangguk dan sebelum mendudukkan dirinya, Kristal dengan cekatan mengambilkan sarapan Kakek Kristoff dan Gabriel terlebih dahulu sebelumnya.
Hingga Kristal dengan sengaja mengambil piring Stevan dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Kristal kepada Gabriel dan Kakek Kristoff.
"Eh, maaf." Ucap Kristal yang belum meletakkan piring Stevan.
Kristal berkedip cepat, biasanya Stevan akan memakai atau meneriakinya jika seperti itu. Seakan Stevan sangan jijik dengan apapun yang sudah tersentuh oleh tangan Kristal.
Kristal mulai mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri, ketika akan duduk. Gerakan Kristal terhenti karena Eve.
"Ambilkan." Ucap Eve dengan mendorong piringnya.
Kristal hanya menatap Eve dan piring secara bergantian dengan datar.
"Tanganmu sehat?"
"Sehat."
"Apakah ada gejala gatal ketika menyentuh benda?"
"Tidak, apa kamu pikir aku terkena penyakit kulit." Sungut Eve.
"Ambillah sendiri." Ucap Kristal dengan mimik wajah yang tenang.
Eve mendelik kesal, baru saja akan menggebrak meja namun harus diurungkan karena suara Kakek Kristoff.
"Jangan merusak suasana pagi ini dengan ulahmu, Kristal bukan pembantu dikeluarga Kristoff. Jika tidak ingin mengambil makananmu sendiri tidak perlu sarapan." Ucap Kakek Kristoff tenang namun penuh penekanan.
Eve langsung berdiri dengan kasar dari kursi makan, dan melangkahkan kakinya menjauh menuju kamarnya.
__ADS_1
Kakek Kristoff dan yang lainnya memulai sarapan pagi ini dengan keheningan, meskipun ada sedikit drama dari Eve.
Tidak serta merta membuat Kakek Kristoff dan Kristal mengalah, hal tersebut sudah tidak asing lagi bagi keduanya.
Hanya Gabriel yang masih mencoba beradaptasi dengan kelakuan Eve maupun orang-orang yang berada di sekitar keluarga Kristoff.
"Ayah, ketua Kim akan mengadakan rapat akhir bulan ini." Stevan membuka percakapan.
"Benarkah, rapat apa?" Tanya Kakek Kristoff pura-pura tidak tahu.
"Ayah, Stevan harap Ayah menyerahkan jabatan CEO kepada Stevan tanpa melibatkan siapapun. Bagaimanapun, Ayah sudah tua dan Daniel masih masa pemulihan selama ini." Ucap Stevan pelan.
"Apa hidupmu hanya terobsesi dengan sebuah jabatan?" Tanya Kakek Kristoff.
Stevan bergeming, sebenarnya untuk jabatan tinggi bukan tujuan hidup Stevan. Hanya saja jika Stevan memiliki jabatan tinggi maka Robby dan Daniel pasti akan lebih tunduk dan patuh terhadapnya.
"Stevan, Ayah harap kamu tidak melakukan apapun yang akan membuatmu menyesal." Ucap Kakek Kristoff sebelum meninggalkan meja makan.
Kristal dan Gabriel juga ikut berdiri dan meninggalkan Stevan seorang diri dimeja makan pagi ini.
"Ayah, apa Ayah yakin dengan rencana Ayah?" Tanya Kristal was-was.
"Yakin, Ayah yakin El dapat melakukannya." Jawab Kakek Kristoff.
"Tapi, keluarga ketua Kim sangat jahat." Ucap Kristal lirih.
"Tenang saja, kita akan membalasnya dengan harga yang setimpal Mama." Ucap Gabriel memeluk tubuh Kristal.
Kristal menganggukkan kepalanya dalam pelukan Gabriel, sebelum Gabriel melepaskan pelukannya.
"Aku dan Kakek berangkat dulu, Mah." Pamit Gabriel.
"Hati-hati, El." Ucap Kristal pelan.
Gabriel meggangguk dan masuk kedalam mobil menyusul sang Kakek yang sudah mendahuluinya.
Kristal menatap sendu dan berdoa semoga masalah yang tengah di hadapi segera berlalu.
Tanpa Kristal sadari setelah Gabriel masuk kedalam mobil, Stevan sudah berdiri tidak jauh dari Kristal.
Jantung Stevan selalu berdebar ketika melihat dan berdekatan dengan Kristal, seperti pagi ini. Stevan terkesima dengan penampilan Kristal, Stevan tidak menampik jika mantan istrinya begitu cantik sejak muda.
Meskipun usia mereka tidak terpaut jauh, namun wajah itu yang selalu menemani Stevan dalam mimpinya.
Stevan bahkan tidak rela jika piring yang sudah diisi makanan oleh Kristal diambil kembali. Meskipun Eve marah dan meninggalkan meja makan, Stevan tidak mengejarnya hari ini.
Ada perasaan hangat dan sedih didalam hati Stevan, teringat tengah malam dapat makan bersama Daniel meskipun hanya sebentar namun sudah dapat membuat Stevan bahagia.
...🐾🐾...
__ADS_1