Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Daniel Drop


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Terlihat sebuah mobil. mewah memasuki area apartemen mewah.


Mobil tersebut berhenti tepat di depan apartemen, dengan cekatan para bodyguard membuka pintu mobil untuk tamu majikan mereka.


"Silahkan, Tuan." Ucap salah satu bodyguard mempersilahkan tamu untuk mengikutinya.


Daniel dan kakek Kristoff berjalan mengikuti pria berbadan kekar tersebut, hingga pandangan Daniel merasa kabur dan bebayang.


Bahkan teriakan sang Kakek sudah tidak dapat di dengarnya.


Daniel pingsan dan langsung terjatuh ke lantai dingin apartemen, segera bodyguard perusahaan Gandratama membopong dan membawa ke unit apartemen.


Kakek Kristoff berusaha menekan perasaan khawatirnya, sedangkan Robby dan bodyguard yang lainnya berlari menaiki lift yang lain.


Kini telah sampai di unit apartemen dan direbahkannya tubuh lemas Daniel.


"Mana dokternya!" Seru kakek Kristoff.


"Maaf, Tuan." Ucap seorang pria memakai kaos rumahan.


Kakek Kristoff tidak ingin berdebat, mengingat kondisi Daniel.


"Cepat periksa, cucuku." Ucap kakek Kristoff.


Segera sang dokter mengeluarkan peralatan yang ada di dalam tasnya, mengecek detak jantung dan nadinya.


"Tuan, sejak kapan kondisi Tuan Muda seperti ini?" Tanya sang dokter.


"Aku baru mengetahuinya tadi siang, ketika akan bertolak ke Indonesia." Jawab kakek Kristoff jujur.


Dokter memeriksa secara detail dan berhati-hati, "Kapan terakhir sakit?" Tanya dokter kembali.


"Sudah lama mungkin hampir satu tahun, kami kira juga sudah sembuh. Karena sudah lama tidak pernah cek up kesehatan." Jelas Robby sang asisten.


Dokter melepaskan stetoskop dari kedua telinganya dan memandang wajah kakek Kristoff dengan serius.


"Tuan, lebih baik di bawa ke Rumah Sakit agar kami dapat memeriksanya lebih lanjut." Ucap dokter tersebut.


"Apakah semakin parah?" Tanya kakek Kristoff dengan mata sendunya.


"Saya tidak dapat menjawab dengan pasti, Tuan. Sekarang hanya dapat saya pasang infus untuk mememberi cairan pada tubuhnya agar tidak lemas." Jawab sang dokter sopan.


Kakek Kristoff menganggukkan kepalanya pelan, dan memberi ruang untuk dokter agar dapat memasang infus di punggung tangan sang cucu.


Segera dokter tersebut mengambil jarum suntik untuk memasangkan selang infus kecil.


Kakek Kristoff dan Robby hanya dapat memandang tubuh Daniel yang ada di kasur, dengan wajahnya yang sangat pucat.


"Saya permisi dulu, silahkan hubungi saya sewaktu-waktu jika hal seperti ini terjadi lagi." Ucap sang dokter dengan menyerahkan kartu namanya kepada Robby.


"Baik, terima kasih." Jawab Robby sopan.


Sang dokter berlalu darinhadapan Robby dan kakek Kristoff dengan di antar oleh salah satu bodyguard Gandratama.

__ADS_1


Bodyguard yang lain mendekat ke hadapan Robby dan kakek Kristoff, "Tuan, Rumah Sakit sudah kami hubungi. Apakah ingin membawanya sekarang atau esok hari?" Ucap sang bodyguard.


"Besok saja, istirahatlah." Jawab kakek Kristoff.


Para bodyguard Gandratama undur diri.


"Robby, istirahatlah juga." Ucap kakek Kristoff kepada asistennya.


"Baik, Tuan." Jawab Robby.


Robby merasa tubuhnya juga sangat lelah, karena tengah malam sampai di Indonesia. Robby juga memberikan ruang kepada bosnya.


Sedangkak kakek Kristoff, duduk disamping kasur besar disana. Terlihat tangan rentanya mengelus wajah pucat sang cucu.


"El, kakek mohon. Bertahanlah." Ucap kakek Kristoff pelan.


Setitik air mata turun begitu saja dari mata tuanya. Hatinya selalu sakit ketika melihat Daniel terkapar di brangkat Rumah Sakit.


.


.


.


Pagi telah datang, suara riuh di jalan raya bahkan sudah menggema di penjuru arah.


Memperlihatkan, jika banyak manusia yang sudah mulai beraktivitas seperti hari-hari biasanya.


Robby sudah terlihat rapi dengan jasnya, dirinya masuk ke kamar bosnya terlihat keduanya masih tertidur.


Terlihat asisten Robby menghubungi Gabriel, untuk memundurkan waktu rapat mereka.


"Maaf, Tuan. Saya meminta tolong untuk memundurkan waktu rapat kita hari ini." Ucap Robby kepada Gabriel.


"Ya." Jawab Briel singkat.


"Baik, terima kasih." Kata Robby yang seakan bingung akan berkata apa kepada asisten kolega mereka.


"Hem." Jawab Briel yang kemudian mematikan sambungan telfonnya.


Robby hanya mendesah pasrah, sepertinya harus menyediakan tenaga dan kesabaran yang ekstra untuk kolega mereka kali ini.


Robby kembali masuk ke apartemen, kembali mengecek keadaan bosnya.


"Tuan." Sapa Robby dengan melakukan bow.


"Pagi, Robby." Kata kakek Kristoff.


"Tunggu aku bersiap, maaf membuatmu menunggu." Lanjut kakek Kristoff.


"Tidak, Tuan. Saya sudah memghubungi pihak perusahaan Gandratama untuk mengundurkan pertemuan rapat hari ini. Jadi tidak perlu terburu-buru." Jawab Robby dengan sopan.


"Kamu memang selalu cepat bertindak, Rob. Aku merasa sangat tenang jika meninggalkan cucu dan menantuku kepadamu." Ucap kakek Kristoff dengan tersenyum lembut.


"Mohon, jangan berbicara seperti itu Tuan. Ini semua juga berkat kebaikan Anda kepada keluarga Saya." Jawab Robby kepada bosnya.

__ADS_1


Kakek Kristoff menepuk pundak Robby dengan rasa bangga, setelah itu kakek Kristoff berlalu untuk membersihkan dirinya.


Robby duduk di sofa sembari menunggu kakek Kristoff dan menjaga Daniel yang masih tertidur.


Hingga panggilan suara lirih mengusik pendengaran Robby.


"Kak." Panggil Daniel dengan suara pelan.


Robby segera berdiri dan berjalan mendekat dengan cepat, "Apa yang kamu rasakan?" Tanya Robby cepat.


Daniel hanya tersenyum tipis, "El, ingin bertemu Mama." Jawab Daniel dengan suara lirih dan sendu.


"Akan, kakak carikan." Ucap Robby tanpa berfikir panjang.


"Mama, disini." Kata Daniel lagi.


Robby menaikkan sebelah alisnya, "Makhsudmu?" Tanya Robby bingung.


"Mama, di negara ini." Jelas Daniel.


"Benarkah, di mana?" Tanya Robby sedikit kaget.


"Tidak tahu, Mama ikut dengan gadis pendek yang datang ke mansion dulu." Ucap Daniel jujur.


"Baiklah, Kakak segera meminta bantuan kepada kolega kita." Jawab Robby kepada Daniel.


Daniel mengangguk, "Kak, tubuh El sakit semua." Kata Daniel dengan menyerengit.


"Kita akan ke Rumah Sakit hari ini." Jawab Robby.


Segera Robby berdiri dan mengeluarkan ponselnya, mencari nomor dokter yang semalam memeriksa Daniel.


Beruntung, Robby langsung menyimpan nomornya sehingga tidak. perlu mencari kartu nama sang dokter.


Tanpa menunggu lama, panggilan Robby diangkat oleh dokter.


"Dok, bisakah kami. mengantarkan Tuan Muda ke Rumah Sakit saat ini?" Tanya Robby dengan cepat.


"Bisa, Saya akan menunggu kalian." Jawab sang dokter.


"Baik, dok. Tolong kirimkan alamatnya." Ucap Robby.


"Baik."


Setelah sambungan telfon terputus, Robby segera membuka pesan singkat dari sang dokter yang mengirimkan google map Rumah Sakit.


"Ada apa, Robby?" Tanya kakek Kristoff.


"Tuan, kita harus segera ke Rumah Sakit. Karena Taun Muda merasa tubuhnya sangat sakit." Jawab Robby jujur.


"Ayo, cepat." Kakek Kristoff menjadi panik.


Dengan menggunakan jas yang sudah rapi, Robby membopong Daniel untuk menuju Rumah Sakit.


Sedangkan Kakek Kristoff membawa infus yang jarumnya masih menancap di punggung tangan Daniel.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2