
Happy Reading🌹🌹
Terlihat para bodyguard dari keluarga Kristoff tengah berkeliaran di sekitar kediaman Amanda, Gandratama dan Rumah Sakit.
Awalnya para penjaga kedua mansion keluarga Amanda dan Gandratama sempat curiga, namun dapat di hempaskan begitu saja oleh para bodyguard yang tengah menyamar.
Ada yang menyamar sebagai turis tersesat, tukang penjual makanan, bahkan sampai pemulung.
Benar-benar, penyamaran yang sangat totalitas tanpa batas.
Hingga salah satu bodyguard yang tengah mengepel di lorong dekat dokter dimana Kristal masuk bersama pria asing menguping hingga mendapatkan informasi.
Langsung saja, bodyguard tersebut berlari membawa ember di tangannya sebelum ada orang yang memergokinya.
Di dalam bilik kamar mandi, sang bodyguard menelfon Robby untuk memberikan informasi yang sangat penting bahkan dirinya sampai terpaku sesaat didepan pintu dokter tersebut.
"Tuan, pria yang bernama Gabriel adalah anak dari Nyonya Kristal." Jawab sang bodyguard to the point.
Robby yang tengah meminum air putih di dalam apartemen langsung tersedak.
"Jangan bercanda!" Seru Robby di sebrang telfon.
"Benar, Tuan. Mereka sudah menguji kebenarannya dengan DNA." Jawab sang bodyguard.
"Apa kau ada buktinya?" Tanya Robby dengan dingin.
"Akan segera kami dapatkan." Ucap sang bodyguard dengan yakin.
"Baik, cepat hubungi teman-teman untuk menuju Rumah Sakit. Aku akan menyusul dengan Tuan Kristoff." Kata Robby.
"Baik, Tuan." Sang bodyguard mematikan panggilan penting itu.
Segera bergerak keluar memberika kode sesama rekannya dalam penyamaran, semuanya mengangguk paham dan segera keluar melalui pintu darurat.
Sedangkan para bodyguard yang berada di luar segera menuju ke Rumah Sakit.
Beruntung, Robby hari ini telah sampai di Indonesia. Jika tidak, bagaimana dengan Tuannya.
"Kenapa dengan wajahmu, Robby?" Tanya Kakek Kristoff dengan membaca koran.
"Tuan, kita harus segera ke Rumah Sakit." Ucap Robby pelan.
"Ada apa? Daniel sudah di perbolehlan rawat jalan. Kita sebentar lagi akan terbang ke Korea." Kata Kakek Kristoff dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Tuan, bagaimana jika Anda memiliki dua cucu?" Tanya Robby hati-hati.
"Bukankah aku memiliki tiga cucu, apa kamu lupa Daniel dan kedua ponakannya." Jawab Kakek Kristoff mengingatkan Robby.
"Bukan, maksud saya. Bagaimana jika Tuan Daniel memiliki saudara kandung." Jelas Robby sedikit bertele-tele.
__ADS_1
"Yang jelas, Robby!" Ucap Kakek Kristoff.
"Nyonya Kristal memiliki anak kembar, Tuan. Daniel dan Gabriel." Jawab Robby jujur.
Kakek Kristoff yang mendengarkannya tertawa, "Rob, aku sudah memikirkannya sejak beberapa hari lalu. Tidak mungkin Kristal memiliki dua bayi, aku takut dulu Kristal hanya melahirkan satu bayi karena hanya ada satu tangis bayi saat itu." Jelas Kakek Kristoff kepada Robby.
Ponsel Robby berdering hingga membuatnya menunda menjawab ucapan kakek Kristoff.
Terlihat bodyguard bagian IT mengirimkan informasi dari Rumah Sakit.
Dengan secepat kilat, Robby membuka pesan tersebut dan membacanya dengan teliti tanpa meninggalkan satu informasi apapun.
"Tuan, silahkan baca." Robby menyerahkan ponselnya kepada kakek Kristoff.
Kakek Kristoff membola, bahkan tangan rentanya gemetar.
"Apakah ini benar?" Tanya kakek Kristoff dengan suara bergetar.
"Itu buktinya, Tuan. Kita harus segera ke Rumah Sakit." Ucap Robby dengan mengambil ponsel dan memasukkan ke dalam saku jasnya.
"Siapkan semuanya, Robby. Aku ingin mendengar penjelasan dari Kristal." Perintah kakek Kristoff kepada asistennya.
"Bagaimana dengan Tuan Muda?" Tanya Robby sebelum meninggalkan apartemen.
"Tinggalkan dulu saja, aku takut dia tidak dapat menerima semua ini. Jika benar selama ini Kristal menyembunyikan fakta sebesar ini." Jawab kakek Kristoff dengan wajah sendunya.
Tanpa keduanya sadari, Daniel telah berdiri tidak jauh dari keduanya.
Terlihat tubuhnya dia sandarkan di tembok dengan kedua tangan yang menutup mulutnya.
Kedua matanya sudah menganak sungai dan rasanya sangat panas.
Di dalam hati rasanya bergemuruh, antara bahagia dan sedih yang bersamaan.
"Akhinya, Mama menemukanmu Kak." Ucap Daniel lirih.
Daniel langsung menyeka air matanya dengan kasar, "Aku tidak boleh bersedih, aku harus segera ke Rumah Sakit." Ucap Daniel pada dirinya sendiri.
Segera Daniel masuk kedalam kamar menuju lemari pakaian.
Terlihat Daniel mengganti baju rumahnya dengan kaos putih polos dengan di balut jaket hitam dan celana jeans hitam, tidak lupa satu topi hitam beserta masker.
Sebentar, Daniel menatap dirinya didepan cermin. Terlihat wajahnya yang masih pucat dan bibirnya yang cukup kering bahkan bagian mata yang terlihat cekung.
"Kamu harus sehat, Daniel. Ayo berjuang bersama." Ucap Daniel penuh semangat.
Daniel memasang masker dan memakai topinya hingga hanya terlihat mata sayunya saja.
Segera Daniel ke luar kamar memastikan jika Robby dan Kakek Kristoff telah pergi terlebih dahulu.
__ADS_1
Daniel memakai sepatu kets hitamnya dan keluar dari apartemen, terlihat kepala Daniel menyembul keluar memastikan jika tidak ada pengawal didepan apartemen.
Mengingat bagaimana ketatnya penjagaan yang Kakeknya berikan ketika berada di Rumah Sakit.
Daniel segera keluar dan menutup pintu apartemen dengan pelan, langkah kakinya berjalan menuju kotak besi yang tidak jauh dari unit apartemen mereka.
Dengan menekan tombol lantai dasar, Daniel segera masuk dan menunggu hingga sampai tujuan dengan tenang.
"Berarti benar, itu suara Mama. Daniel tidak salah menebak, ternyata Mama selama ini dekat dengan Daniel." Ucap Daniel dalam hati.
Hingga suara lift memecahkan lamunannya, dengan membenarkan topi. Daniel langsung keluar dari dalam lift dan menuju ke luar apartemen.
Tepat Daniel keluar, ada seseorang keluar dari taxi.
Daniel menunggu dan mendekat ketika orang tersebut hendak membayar.
"Pak, bisa antarkan saya ke Rumah Sakit?" Tanya Daniel sopan.
"Bisa, silahkan." Jawab sang sopir.
Daniel langsung membuka pintu penumpang dan menutupnya.
"Jalan, Pak." Ucap Daniel.
Transportasi beroda empatbtersebut segera bergerak perlahan meninggalkan area apartemen merah itu.
Daniel terlihat memegang bagian dadanya, jantungnya berdetak dengan cepat seperti genderang perang.
Apakah ini perasaan bahagia, atau perasaan takut?
Di sisi lain, iring-iringan mobil mewah memasuki area Rumah Sakit.
Banyak para pengunjung dan pasien yang berada di luar merasa takjub dengan hal tersebut, yang biasanya hanya dapat di lihat di dalam drakor.
Bahkan para perawat dan beberapa dokter sampai terheran, melihat siapa gerangan yang tengah dikawal dengan banyak mobil mewah.
Apakah dia presiden atau konglomerat di negara ini, banyak pria berjas hitam dengan memakai kaca mata hitam kekuar dari mobil-mobil tersebut.
Banyak wanita bersorak, karena selain tubuhnya yang berbadan kekar wajah mereka juga sangat tanpa.
Segera salah satu dari mereka membuka pintu mobil dan keluarlah pria yang sudah tidak muda lagi, yaitu kakek Kristoff.
"Mari, Tuan." Ucap Robby.
Baru saja mereka akan melangkah, datanglah mobil mewah lainnya yang sudah di pastikan bukan salah satu dari mereka.
Mobil tersebut berhenti tepat didepan kakek Kristoff dan Robby.
...🐾🐾...
__ADS_1