Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Ruang CCTV


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Terdengar suara MC yang memulai membuka acara pertuangan Daniel dan Gabriel hari ini.


"Mah, Gabriel kebelakang dulu." Pamit Gabriel.


"Sebentar lagi kamu harus maju, El." Ucap Stevan.


Gabriel hanya acuh dan berdiri dadi duduknya.


"Segera kembali ya." Ucap Kristal pelan.


Gabril mengangguk dan berjalan meninggalkan meja keluarganya, terlihat Stevani menatap punggung Gabriel yang kemudian menatap Stevan sang adik.


"Sungguh cocok sekali keduanya." Gumam Stevani dalam hati.


MC membuka acara sesuai urutan dalam kertas yang berada ditangannya, terlihat Kristal gelisah karena Gabriel tidak kunjung datang.


"Mau kemana kamu Kris?" Tanya Stevani pelan.


"Menyusul El, Kak. Sebentar lagi masuk acara inti." Jawab Kristal dengan raut wajah khawatir.


"Tenang saja, El tidak akan lari." Ucap Stevani menenangkan.


Kristal mengurungkan niatannya untuk menyusul Gabriel ke toilet, hingga suara MC kembali terdengar mempersilahkan calon pria untuk naik ke atas panggung.


Kristal yang gelisah dikursi berangsung lega karena Gabriel muncul dari samping panggung. Terlihat Gabriel berjalan dengan sorot lampu yang mengikutinya hingga didepan panggung terlihat gelap.


Namun kedua mata Kristal langsung mengerjab cepat, itu bukan Gabriel namun Daniel. Membuat raut wajah Kristal menjadi sendu sudah lama rasanya tidak memeluk tubuh Daniel.


"Jangan menangis." Ucap Kakek Kristoff yang dapat didengar oleh Stevan yang duduk disampingnya.


Stevan menolehkan kepalanya ke arah Kristal, terlihat mantan istrinya itu menatap menuh haru ke arah panggung.


"Apa kamu sebahagia itu melihat putra kita akan menikah setelah bertunangan." Tentu Stevan hanya berbicara didalam hati.


Kedua keluarga dan para tamu undangan bertepuk tangan dengan meriah setelah kedua calon pengantin itu menyematkan cincin dijari masing-masing secara bergantian.


Prok


Prok


Prok


Riuh tepuk tangan menggema diruangan tersebut, kecuali satu orang yaitu Rose. Rose hanya terpaku menatap sepasang kekasih yang kini sudah resmi terikan dengan status tunangan.


20 menit yang lalu.


Gabrile berjalan meninggalkan meja dan keluar dari ruangan acara.


Terlihat wajah datar dan dingin mengiringi setiap langkah Gabriel, hingga seseorang menutup kepalanya menggunakan sesuatu yang berwana hitam.


Greb


Gabriel meronta namun tidak dapat melawan karena orang tersebut lebih kuat daripada dirinya, terlebih lagi posisi Gabriel kalah karena tidak dapat melihat arah sekitar.


"Siapa kamu!! Lepaskan!" Seru Gabriel.


Karena Gabriel terus meronta membuat orang tersebut memanggul tubuh Gabriel dengan posisi melintang agar penutup kepala Gabriel tidak lepas.


"Brengsek! Lepaskan atau aku bunuh kalian!" Seru Gabriel lagi.


"Tolong!!! Tolong!!" Suara Gabriel semakin menggelegar.


Sekeras apapaun Gabriel berteriak tidak ada jawaban dari si penculik maupun orang lain yang berusaha menolongnya.


Gabriel hanya pasrah saja dibawa kemana oleh si penculik, hingga tubuhnya terbanting di tempat yang empuk.


Segera Gabriel membuka penutup kepalanya dan siap menghajar orang tersebut, namun niatnya di urungkan karena melihat Ayah Agung dan Daniel beserta satu pengawal berbadan kekar yang belum pernah Gabriel lihat.


"Surprise!!" Ucap Daniel dengan membentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


Daniel langsung meloncat diatas kasur berukuran king size tersebut memeluk tubuh saudara kembarnya, membuat Gabriel terjengkang.


"Hihihi, bagaimana surprise dariku Kak?" Tanya Daniel yang tengah mendudukkan dirinya diatas kasur.


Gabriel bangkit dari tidurnya dan menjitak kepala samping Daniel, terlihat wajah Gabriel yang memerah karena menahan amarah.


"Ishhh, dasar menyebalkan." Ucap Daniel dengan mengelus kepalanya.


"Kenapa kalian tidak dapat dihubungi." Sungut Gabriel yang turun dari atas kasur.


"Cepat tukar pakaian kalian, sebentar lagi akan masuk acara inti." Perintah Agung kepada keduanya.


Gabriel dengan cepat melepas pakaiannya hingga teronggok diatas lantai, sedangkan ketiga orang lainnya bergeming ditempatnya.


"Kenapa diam? Cepat lepaskan pakaianmu." Ucap Gabriel kepada Daniel yang hanya duduk dan menatapnya.


"Ayah menyuruh kalian bertukar pakaian juga tidak langsung disini Gabriel, apa kamu tidak malu?" Kata Agung dengan mendesah kasar.


Gabriel berdehem menyadari tindakannya, karena Gabriel terlalu senang tidak menggantikan Daniel yang akan bertunangan dengan Minzy.


Daniel tertawa kencang dengan memungut jas yang ada dilantai, "Dasar bodoh, celananya juga lepas sini." Ucap Daniel dengan menarik-narik celana Gabriel.


"Apa sih." Ucap Gabriel sebal.


Daniel tergelak dan berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian, sedangkan Gabriel berjalan ke arah sofa dengam bertelanjang dada.


Agung tersenyum simpul dan mengikuti lagkah Gabriel mendudukkan dirinya disamping pria tersebut.


"Apa kamu sebahagia itu?" Tanya Agung kepada Gabriel.


"Tidak." Elak Gabriel.


"Benarkah, Ayah dengar kamu mengundang Rose dan Dave." Ucap Agung memulai aksinya.


"Hem." Jawabam Gabriel hanya berdehem dengan bersedekap dada.


"Pasti mereka sangat cocok bukan." Ucap Agung kembali.


Suara pintu kamar mandi terbuka terlihat Daniel sudah mengenakan jas putih namun bercelana kain hitam.


"Kak cepat lepaskan celanamu." Ucap Daniel tanpa dosa.


Bodyguard yang menculik Gabriel menyerahkan paperbag di atas meja.


"Baju gantinya Tuan." Ucap bodyguard tersebut.


Gabriel bersedekap dada memandang pria berbadan kekar itu mendelik kesal, pantas saja dia tidak mampu melawan ternyata tubuhnya benar-benar besar dan keras.


Dengan kasar Gabriel mengambil paperbag yang diatas nakas setelah dirinya berdiri.


Pintu kamar mandi tertutup cukup keras seakan menggambarkan betapa kesal hatinya dengan kejadian hari ini.


Agung memberi tanda kepada bodyguard untuk keluar, dengan sopan bodyguard tersebut keluar dari kamar hotel.


"Bagaimana reaksi Kakak?" Tanya Daniel pelan.


"Apanya?" Tanya Agung balik.


"Itu, reaksi tahu jika Rose jomblo." Jawab Daniel terkekeh geli.


"Ayah belum memberitahunya." Ucap Agung jujur.


Daniel menegakkan duduknya, "Serius, lalu kapan akan memberitahu Kakak?" Tanya Daniel.


"Nanti saja setelah acara pertunanganmu." Jawab Agung.


Daniel hanya mengangguk saja, hingga Gabriel sudah keluar dengan mengenakan jas biru tua.


Daniel tersenyum dan langsung beranjak dari duduknya berjalan menghampiri sang Kakak untuk mengganti celananya.


Tidak membutuhkan waktu lama, ketiganya telah selesai dengan urusan masing-masing.

__ADS_1


"Apa kamu ingin bertemu dengan Minzy?" Tawar Gabriel.


"Tidak, cukup katakan saja jika aku adalah Daniel yang asli." Jawab Daniel.


Agung menepuk pundak kedua anak kembar terseut dengan bangga dan mengucapkan selamat kepada Daniel atas status barunya.


"Gabriel akan keruangan Minzy dulu, Ayah dan Daniel dulun saja." Ucap Gabriel.


"Ayah akan duduk di meja paling belakang agar orang lain tidak mengetahui keberadaan kalian." Jawab Agung.


"Baik." Gabriel segera melangkahkan kakinya menuju kamar Minzy yang berbeda lantai dengannya.


Denting bunyi lift menandakan jika Gabriel telah sampai ditenpat yang dituju, dengan langkah lebarnya Gabriel berjalan menuju kamar Minzy.


Dua pengawal yang menjaga kamar Minzy segera menunduk hormat dan membuka pintu kamar Minzy.


Terlihat gadis yang cantik tengah duduk dengan wajah cemas mencoba tersenyum bertemu dengannya.


Minzy menaikkan sebelah alisnya melihat penampilan Gabriel yang mengenakan jas biru tua.


"Kenapa kakak memakai jas lain, apa mungkin---"


"Iya, Daniel sudah datang. Dia menunggumu didalam ruangan." Jawab Gabriel to the point dan ekspresi datarnya.


Minzy menutup mulutnya karena terlalu bahagia bahkan air matanya akan kembali tumpah.


"Jangan menangis, kita harus segera turun karena sebentar lagi acara inti." Peringatan Gabriel kepada Minzy.


Minzy mencebik kesal namun tersenyum lebar kemudian, ternyata ketakutannya tidak menjadi nyata.


"Panggilkan pengawal wanita untuk menuntun Minzy kebawah." Perintah Gabriel kepada kedua pengawal yang berada didepan pintu.


"Baik Tuan." Jawab mereka serentak.


Tidak membutuhkan waktu lama dua pengawal wanita melakukan bow dihadapan Gabriel.


"Lakukan tugas kalian." Ucap Gabriel.


Gabriel berlalu dari hadapan semuanya berjalan menuju lawan arah, Minzy memutar kepalanya memandang punggung Gabriel yang perlahan menjauh.


"Semoga Kakak mendapatkan kebahagiaan dengan Rose." Ucap Minzy dalam hati.


Minzy kembali melihat kearah depan dan berjalan bersama empat bodyguard laki-laki dan perempuan.


Sedangkan Gabriel berjalan menuju ruang CCTV untuk memastikan tidak ada peristiwa yang mengacaukan acara sakral tersebut.


Pengawal yang melihat kedatangan Gabriel segera membukakan pintu, langsung saja Gabriel duduk di kursi yang terdapat banyak layar CCTV hotel.


"Apa ada yang mencurigakan?" Tanya Gabriel.


"Sampai detik ini belum, Tuan." Jawab penjaga ruang CCTV.


"Duduklah." Ucap Gabriel.


"Terima kasih." Jawab penjaga ruangan CCTV.


Gabriel bersedekap dada dengan menatap salah satu CCTV yang menangkap gambar seorang gadis berbalut gaun biru tua sepertinya.


Gabriel tersenyum getir, bukankah ini seperti sebuah takdir karena tidak ada kesengajaan hingga pakaian yang mereka gunakan hari ini berwarna sama.


Acara inti dimulai, terlihat Daniel dan Minzy aaling bertukar menyematkan cincin dari pilihan Daniel sendiri.


Kedua mata tajam Gabriel tidak lepas mengamati gerak gerik Rose dan Dave tidak lupa juga seorang wanita yang terlihat sudah kenal dengan Daniel sejak lama.


"Siapa selingkuhan Dave itu, kenapa Daniel bisa begitu akrab. Lalu kenapa juga Rose hanya diam saja melihat tunangannya ditempeli ulat bulu. Sudah aku hajar jika aku tidak perlu bersembunyi." Ucap Gabriel menggerutu tidak jelas.


Orang-orang yang berasa di ruangan CCTV hanya menatap heran dan mencoba mentranslet bahasa yang digunakan oleh Gabriel.


Ya, Gabriel menggerutu menggunakan Bahasa Indonesia sedangkan orang yang berada diruangan CCTV semuanya asli orang Korea.


Gabriel terus memandang Rose dari layar CCTV hingga gadis itu beranjak dari duduknya dan melenggang pergi meninggalkan ruangan.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2