Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Belajar Melalui Internet


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


...Peringatan : Konten mengandung unsur 21+ harap bijak dalam membaca. ...


"Tidak." Jawab Rose cepat.


"Kamu pucat sayang, sudah aku telfonkan dokter sebentar." Briel segera berjalan menuju telfon yang berada di dalam kamar VVIP tersebut.


Rose menggunakan kesempatan ini untuk masuk kedalam kamar mandi, dengan cepat menurunkan gaun dan melempar gaunnya agar tidak menghalangi pintu kamar mandi.


Blam!


Briel langsung menolehkkan setengah tubuhnya, melihat gaun Rose yang sudah teronggok di atas lantai. Seringai tipis muncul di bibir Briel.


πŸ—£οΈ Halo, Tuan. Apakah masih di sana?


πŸ‘€ Tidak jadi.


Briel langsung mematikan sambungan telfonnya dan berjalan menuju sofa menunggu sang istri.


Sedangkan Rose tengah bergumam karena dirinya bingung bagaimana akan menolak suaminya jika mengingunkan aku.


"Rose berfikirlah." Ucap Rose lirih.


Rose menyalakan kran air hangat untuk memenuhi bathup selagi menunggu, Rose juga membersihkan wajahnya dari make up dan mengguyur rambutnya di bawah shower hangat utuk shamponan setelah mencabuti semua perhiasan di rambutnya.


Kini Rose merendam tubunnya di dalam air hangat yang sudah dia siapkan selagi mincari ide tadi, "Ah, nyaman sekali." Kata Rose pelan.


Rose memejamkan kedua matanya, menghurup aroma terapy yang sudah dia tuangkan ke dalam air hangat. Rose merasakan tubuhnya sangat lelah sekali.


Briel yang setia duduk dengan memainkan gawainya, Briel memutuskan menghubungi Robby untuk memgantarkan ponsel pribadinya ke dalam kamar sembari menunggu Rose membersihkan diri.


Terlihat wajah Briel berubah-ubah dengan menatap datar ke arah ponsel miliknya.


"Aku harus memulainya dengan cara apa?" Tanya Briel pada Sky.


"Memulai apa." Balas Sky.


"Jangan pura-pura bodoh, Sky!" Geram Gabriel pada saudaranya.


Sky mengirimkan emotikon kuning dengan lidah menjulur, "Lakukan saja sesuai naluriah." Balasnya lagi.


"Rose sangat pucat, bagaimana aku mengatasinya." Adu Gabriel yang sudah frustasi.


Sky membalas dengan emotikon kuning tertawa terpingkal-pingkal, "Pelan-pelan Briel, jangan langsung menerjangnya." Balas Sky.


Briel berdecih, "Cih, seperti kamu tidak saja." Umpat Briel di tempat.


"Ini semua gara-gara Kakek dan Ayah mertuaku." Kata Briel dalam pesan.


"Kenapa?" Balas Sky.


Gabriel segera memencet nomor Sky untuk menghubunginya, nanum tidak di angkat melainkan di rijec.


"Aku sedang bersana anak dan istriku." Satu pesan masuk ke dalam inbox Briel.


Briel mendengus kesal, "Aku ingin berbicara dengan Putri." Balasnya.


"Kau mau mati." Balas Sky.


Briel melemparkan ponsel ke sampingnya dengan menjambak rambut yang masih berminyak tersebut. Sedangkan Rose kini sudah selesai mengeringkan tubuhnya dengan handuk.


Cklek


Pintu kamar mandk terbuka, terlihat Rose sudah kekuar dengan rambut yang di gulung menjulang ke atas tertutup handuk dan memakai bathdrope putih.


Rose mengedarkan pandangannya, terlihat tertidur di sofa dengan posisi meringkuk karena ukuran sofa terlalu kecil untuk tubuh Briel.


Ulas senyum kecil muncul di bibir Rose, karena waktu semakin larut. Rose berjalan untuk membangunkan suaminya.


Dengan posisi berhongkok, Rose menyamakan tinggi badannya hingga menatap wajah Gabriel. Terlihat wajah tampan dengan pahatan sempurna ciptaan Tuhan.


Jemari Rose meraba wajah Gabriel dan dengan satu jari dari jidat hingga berakhir ke bibir. Rose menatao bibir Gabriel dengan intens sekelebat bayangan saat mereka memangut mesrabterbayang di otak kecilnya.


"Aku tahu, jikabl bibirku sangat sexy."


Rose langsung menurunkan jarinya karena kaget Gabriel sudah bengun.


"Cepat mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat." Kata Rose menutupi kegugupannya.


Rose langsung berdiri namun naas dirinya ambruk dibatas tubuh Gabriel, siapa lagi jika bukan ulah suaminya. Kini kedua wajah saling berhadapan hanya memiliki jarak beberapa centi saja.


Gabriel mengingat pesan Sky, jika dirinya harus melakukan secara naluriah tanpa paksaan apapun. Briel mengelus pipi lembut istrinya yang berwarna merah bak tomat matang.


Kini pandangan Gabriek turun dibibir mungil istrinya dan kembali menatap dua mata Rose, terlihat sangat lucu istrinya saat ini.


"Cepatlah mandi." Ucap Rose.


"Tidak." Jawab Briel dengan meneluk pinggang Rose


"Lepaskan, kamu sangat bau." Kata Rose dengan menggoyangkan tubuhnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu bergoyang." Ucap Briel.


"Kapan? Rose hanya ingin di lepas, kamu belum mandi." Jawab Rose dengan alis bergelombang.


"Tadi, apa kamu sudah tidak sabar sayang?" Kata Briel dengan senyum mesumnya.


"Apa sih." Jawab Rose kesal.


Briel langsung bangun dari tidurnya membuat Rose kini terlentang di bawahnya, "Aku akan mandi, bersiap-siaplah sayang." Ucap Briel dengan mengecup bibir Rose singkat.


Rose segera berjalan menuju lemari setelah Gabriel masuk ke dalam kamar mandi, terlihat wajah Rose yang cemas memikirkan ucapan Ayah dan Kakek.


"Bagaimana jika aku benar tidak bisa berjalan setelah ini, astaga. Jika hanya memberikannya tidak masalah tapi jika tidak berjalan bagaimana jika Kak Briel selingkuh." Gumam Rose frustasi.


Rose membuka lemari dengan alis yang kembali bergelombang, hanya ada satu pakaian disana juga dalaman. Rose mengambilnya terlihat lingeri sexy berwarna merah menyala.


"Kenapa harus ini, ya Tuhan." Rengek Rose dengan menghentak-hentakkan kedua kakinya.


Rose tidak tabu dengan lingeri, karena dirinya semasa lajang juga sering membelinya meski belum memiliki suami karena hanya untuk aktivitas tidur saja.


Suara gemericik air sudah tidak terdengar, dengan buru-buru Rose menakai lingeri merah tersebut dan langsung berlari ke arah kasur hingga membuat angsa dan kelopak bunga berantakan.


Rose menendang kedua angsa yang tidak bersalah itu hingga terjungkal di lantai dingin dan menggulung tubuhnya di selimut tebal putih itu.


Cklek


Pintu kamar mandi terbuka, terlihatGabriel keluar dengan lilitan handuk yang menutupi asetnya juga handuk kecil yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


"Oh, kakak sudah selesai?" Tanya Rose menolehka kepalanya saja sedangkan punggungnya membelakangi Gabriel.


Alis Gabriel mengkerut, "Kenapa tidur dengan rambut yang masih basah?" Tanya Gabriel heran.


"Eh." Rose menggerakkan kepalanya hingga handuk teronggok di lantai sedangkan rambutnya terurai berantakan.


Briel menggeleng lemah dan berjalan ke arah lemari, Rose melongo melihat Gabriel tidak berjalan mendekatinya.


"Mungkin dia lelah." Gumam Rose.


Terlihat Briel sudah berganti pakaian santai dengan celana kolornya, kini Briel duduk di sisi ranjang yang lain dengan memainkan gawainya.


Kening Rose berkerut, bahkan tidak berkedip menatap wajah suaminya meskipun wajah Gabriel terlihat datar tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


"Apa lebih penting ponsel dari pada Rose?" Tanya Rose dengan wajah masam.


"Sebentar lagi." Jawab Briel.


Rose menerucutkan bibirnya dan benar-benar memunggungi Gabriel, entah kenapa dalam hati Rose sangat sedih di malam pertamanya harus di kalahkan dengan sebuah ponsel.


Briel memeluk tubuh Rose dari belakang, mendaratkan kecupan di pipi istrinya. Membawa tubuh Rose menghadap Gabriel hingga kini tidak ada lagi selimut yang menutupi tubuh sintal Rose.


Gluk.


Briel menelan ludahnya susah payah, padahal lampu utama sudah dimatikan namun kenapa semakin twrlihat sangat sexy dan ah sudahlah pokoknya membuat Briel semakin menginginkan tubuh istrinya.


"Jangan menangis." Ucap Briel pelan.


"Hiks, kenapa kamu lebih sibuk dengan ponselmu." Jawab Rose menangis seperti anak kecil.


"Aku hanya belajar sayang." Kata Briel dengan menyeka air mata istrinya.


"Belajar?" Beo Rose.


"Benar, belajar membuat anak." Bisik Gabriel di telinga Rose.


Rose melebarkan kedua matanya, entah sejak kapan Gabriel sudah mencium bibirnya. Terasasapuan lembut dan menuntut dari suaminya.


Briel yang gemas mengigut bibur Rose hingga memiliki celah untuk memporak-porandakan didalam sana.


Briel terus memangut bibir Rose bahkan kini tubuhnya sudah berada di atas sang istri, Rose terbawa suasana sudah melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.


Tangan Briel tidak diam saja mebyelinao masuk dari kain tipis nan sexy itu entah berwarna apa karena lampu remang-remang. Kini tangan Briel berhenti di bola karet yang dia rindukan.


Mere*mat dengan pelan dan lembut kedua bola karet kini sudah Briel mainkan beruntung Rose tidak memakai dalaman hingga langsung menyentuh bola karet secara live.


Tubuh Rose mulai memanas bahkan sesekali bergerak gelisah, merasa ujung bola karet di mainkan dengan jemari suaminya. Hingga suara merdu itu keluar dari bibir Rose.


Briel melepaskan ciumannya terkihat bibir mengkilap akibat ulahnya bahkan bibir Rose sedikit bengkak.


Krek! Krek!


Lingeri merah itu di robek paksa dengan kedua tangan kekar Gabriel hingga menampakkan bola karet istrinya.


"Aaa!" Rose menjerit dengan menutup kedua asetnya.


"Kenapa kamu merobeknya!" Seru Rose kesal.


Gabriel tidak menjawab, dirinya sibuk melepas pakaiannya.


"Itu mengganggu mataku." Jawab Briel kemudian.


Rose mendelik kesal, sedetik kemudia tangan Roae sudah berada di atas dan Briek kembali menc*um bi*bir istrinya. Dengan leluasa salah satu tangan Gabriel bermain dengan dua bola karetnya.

__ADS_1


Ci*man Briel turun ke leher jenjang istrinya, memainkan lidahnya di sana dan memberi banyak tanda di leher Rose.


"Ah." De*sahan Rose keluar.


Kini Briel sudah melepaskan cekalan tangannya di tangan istrinya, seperti bayi yang kehausan Briel memainkan kedua bola karet dengan bibirnya.


Rose hanya bisa pasrah menerima semua kenikmatan itu dengan menjambak rambut suaminya.


Briel sudah tidak tahan, dirinya langsung beridiri dan menanggalkan semua celananya. Membuka penutup Rose yang terakhir dengan lembut.


"Stop! Rose takut." Cicit Rose.


"Takut kenapa sayang, aku akan pelan." Jawab Briel dengan nafas serak.


"Nanti Rose tidak bisa berjalan bagaimana?" Tanya Rose dengan kawatir.


Gabriel ingat jika kedua pria itu sudah mencuci otak Rose dengan hal-hal negatif dan merugikan bagi Gabriel.


"Tidak sayang, kamu lihat Putri sampai sekarang masih dapat berjalan. Ayah dan Kakek hanya menakut-nakutimu." Jelas Gabriel.


"Tapi---- ahh." Rose sudah kehilangan akal warasnya.


Briel memainkan jari di area inti sang istri yang sudah basah, Gabriel sudah belajar meski hanya sepuluh menit melalui internet.


Briel menerjang kedua bola karet istrinya dengan lembut namun penuh gairah. Rose meracau karena ulah suaminyaa.


"Sa-sayahhh." Rose terus mende*sah.


Gabriel mencium bibir Rose setelah menanggalkan beberapa tanda di dada sang istri, dengan memposisikan rudal balistiknya di bawah sana.


Perlahan namun pasti, Briel mencoba menerobos sesuatu yang sempit dan basah itu beberapa kali. Terus mendorong secara perlahan hingga Briel merasakan sudah merobek sesuatu.


"Ah, sakit kak!" Seru Rose dengan memukul pundak Gabriel.


Briel menghujani wajah sang istri dengan ciuman-ciuman lembut. Mendorong kembali hingga seluruhnya masuk.


"Hiks sakit." Rose menangis karena merasa tubuhnya terbelah menjadi dua.


Intinya terasa perih dan sesak, Gabriel tidak bergerak sama sekali mencoba membiasakan inti sang istri menerima rudal balistiknya.


"Maaf, maafkan aku sayang." Ucap Briel pelan.


Dengan perlahan Gabriel mulai menggerakkan pinggulnya maju dan mundur, meskipun dirinya ingin bergerak cepat seperti ilmu yang sudah dia dapatkan dari internet tadi namun dia urungkan karena melihat istrinya meringis kesakitan.


Perlahan tasa perih tergantikan dengan rasa yang nikmat, Rose terus mende*sah di bawah kungkungan tubuh kekar sang suami.


"Sebut namaku sayang, ah." Ucap Briel terus mendesis karena kenikmatan yang dia dapatkan.


"Ah, Gabri-el ah... Sayang aku ingin pipis." Jawab Rose dalam de*sahannya.


"Hemm, keluarkan sayangku." Ucap Briel.


Gabriel bergerak semakim cepat agar Rose mendapatkan puncaknya, meski dirinya belum namun Briel ingin membuat sang istri mendapatkan pengalaman pertamanya.


"Ahh" Rose menjerit merasakan sesuatu keluar dari bawah sana, tubuhnya bergetar dengan peluh yang deras bermunculan.


Rose memeluk tubuh Gabriel begitu juga sebaliknya, Briel merasakan tubuh istrinya masih bergetar beberapa kali.


Briel melepas pelukannya terlihat wajah Rose yang mengkilap karena keringat dengan dada yang naik turun serta nafas yang memburu.


"Rose capek." Ucap Rose pelan.


"Hemm, sebentar lagi sayang." Jawab Briel yang kembali bergerak di bawah sana.


Ruangan itu kembali di penuhi suara-suara kulut yang saling bertabrakan, desa*han, lenguh*an, dan jeritan.


Semakin malam semakin oanas, Briel benar-benar mempraktikkan apa yang dia dapat di internet bahkan mungkin lebih lama.


"Jika seperti ini rasanya, aku pasti menikah muda." Ucap Briel dalam hati denggan terus bergerak memberikan kenikmatan untuk keduanya.


Hingga Briel merasakan sesuatu akan meledak dari rudal balistiknya, Briel duduk tegak dengan berpegangan pada dua bola karet kesayangannya yang terombang-ambing seirama pergerakan di bawah sana.


Gerakan Briel semakin cepat hingga meledakkan benih-benih Briel junior di dalam harim sang istri, Briel terus melesakkan rudalnya agar semakin dekat mengantarkan calon anaknya menemui sel telur.


"Terima kasih sayang." Ucap Briel dengan mengecup dahi Rose.


...🐾🐾...


Di buang sayang πŸ˜‚


Gabriel mengambil pakaian dengan berfikir, jika berguru dengan Sky tidak akan mendapatkan jawaban apapun maka harus belajar melalui internet.


Briel melihat istrinya disalam selimut dengan acuh, dirinya segera duduk dan berselancar di dunia maya.


"Ingin berlangganan cukup bayar 50$."


Begitulah kiranya isi salah satu link, segera Briel membayarnya agar mendapatkan akses. Dengan wajah datar namun serius Briel melihat adegan film blue diponselnya, Briel menganalisis setiap adegan yang dia tonton.


Cukup sepuluh menit untuk Briel belajar, kini Briel berjalan mematikan lampu utama karena melihat istrinya yang sudah menangis akibat ulahnya.


Gabriel memeluk dan memulai mempraktikkan hasil analisis dan pengamatannya selama sepuluh menit.

__ADS_1


__ADS_2