
Happy Reading 🌹🌹
Di perusahaan Danuarta.
Dave terlihat berjalan memasukin perusahaan keluarga, tangannya masuk kedalam saku celana.
Sepanjang jalan, Dave menebarkan senyum menawannya. Membuat ketampanannya meningkat berkali-kali lipat.
"Selamat pagi, Pak." Sapa rombongan karyawan yang di lalui Dave.
"Pagi." Jawab Dave dengan tersenyum.
Para karyawan melebarkan kedua netranya, bahkan menutup mulut mereka yang menga-nga karena kaget.
"Ya ampun... ya ampun, Pak Dave sangat menawan hari ini." Seru seorang karyawan dengan memukul lengan rekannya gemas.
"Wah, apakah Pak Dave habis mendapatkan tander besar?" Tanya seorang karyawan lainnya.
"Mungkin karena Pak Dave memiliki seorang kekasih." Jawab karyawan yang lainnya.
"Benarkah?" Tanya yang lain serentak.
Karyawan itu mengangguk, "Kalian ingat, gadis kecil yang dulu sering menitipkan bekal makan siang untuk Pak Dave. Sepertinya mereka memiliki hubungan yang special." Jelas karyawan tersebut.
"Sepertinya, kekasih Pak Dave berumur panjang. Lihat dia datang." Ucap karyawan lain yang menyenggol rekannya.
"Itu, yang pendek itu?" Tanya karyawan yang tidak percaya.
Pertanyaan tersebut di angguki oleh rekannya.
"Selamat pagi." Sapa Rose dengan senyum lebarnya.
"Pagi." Jawab rombongan karyawan tersebut.
"Wah, pantas saja Pak Dave bahagia. Meskipun pendek bukankah dia sangat cantik." Ucap karyawan yang melihat Rose dari jarak dekat.
"Benar-benar, apalagi masakannya sangat enak. Aku pernah mencobanya dulu." Jawab karyawan lainnya.
Ekhm... Ekmmm
"Apakah, kalian dibayar untuk menggosip?" Ucap Dimas yang sudah berdiri di gerombolan karyawan.
"Maaf, Pak Dimas." Jawab mereka.
Segera mereka langsung kocar-kacir menuju bagian departemen masing-masing.
"Huh, sepertinya hari ini pekerjaanku akan tenang." Gumam Dimas dengan berjalan menuju lift.
.
.
.
Tok
Tok
Tok
"Masuk." Ucap Dave dari dalam.
Pintu terbuka, terlihat wanita yang dirindakannya setiap saat menyembulkan kepalanya.
"Kenapa harus mengetuk pintu, langsung masuk saja sayang." Ucap Dave yang bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Rose hanya tersenyum dengan menampilkan deretan gigi putihnya.
"Aku kira ada orang lain didalam." Jawab Rose asal.
"Siapa yang berani masuk tanpa izinku, mungkin hanya Ayah atau Mamaku yang berani." Jawab Dave yang sudah membawa Rose dalam pelukannya.
Rose membalas pelukan Dave, "Ayo, kita sarapan. Aku hari ini memasak masakan Jawa. Semoga, sayang suka." Ucap Rose dengan riang.
"Benarkah? Tentu, apapun yang kamu masak aku akan memakannya." Jawab Dave menggoda.
"Meskipun racun?" Tanya Rose polos.
"Apa kamu menginginkan, aku mati?" Tanya Dave kembali.
Rose menggeleng, Dave yang gemas memeluk kembali tubuh kecil sang kekasih.
"Sudah, kapan kita akan sarapan." Ucap Rose yang sudah menekuk wajahnya.
"Baiklah-baiklah, ayo." Kata Dave dengan terkekeh pelan.
Dave duduk di sofa ruangannya dan di ikuti Rose yang duduk di sampingnya, dengan aktusias Rose membuka kotak bekalnya dan menatanya dimeja kaca.
Sedangkan Dave, menopang dagu memandang wajah Rose yang terlihat bahagia itu.
"Seandainya aku tidak melukainya, mungkinkah sekarang kami sudah menikah." Gumam Dave dalam hati.
"Cepat, cicipi." Ucap Rose dengan wajah yang gembira.
"Aaaaa...." Ucap Dave dengan membuka mulutnya.
Rose menatapnya heran dan menyodorkan sendoh beserta garpu untuk Dave.
"Suapin, sayang." Akhirnya Dave mengutarakan maksudnya.
"Memang harus sakit?" Jawab Dave.
"Kalau orang sakit, biasanyakan di suapi?" Ucap Rose semakin membuat Dave gemas.
"Baiklah, aku sakit kepala." Ucap Dave dengan menyandarkan kepalanya di pundak Rose.
"Apa banyak pekerjaan?" Tanya Rose dengan memijit pelipis Dave.
Dave membuanh nafasnya kasar, sepertinya harus secara frontal menyampaikan apa yang di inginkannya.
"Sayang, aku ingin kamu suapi." Ucap Dave yang sudah menegakkan kepalanya.
"Oh, kenapa tidak bilang sejak tadi." Jawab Rose tanpa rasa bersalah.
Dave rasanya ingin meng-hihhh kekasih kecilnya ini, dengan wajah menekuk Dave tetap membuka mulutnya.
"Bagaimana, enak?" Tanya Rose penuh harap.
"Enak." Jawab Dave singkat.
Moodnya pagi ini rusak, padahal Dave sudah membayangkan bermanja-manja dengan Rose. Tapi apa ini, bahkan kekasihnya tidak peka.
Meskipun akhirnya disuapi oleh Rose, tetapi ekspektasinya sudah buyar.
"Benarkah, Kak Briel juga harus merasakannya." Ucap Rose tanpa sadar.
"Gabriel?" Beo Dave penuh penekanan.
Gerakan Rose terhenti, apa yang barusan diucapkan tadi.
"Apa? Kenapa mencari Kak Gabriel?" Tanya Rose mencoba tidak tahu.
__ADS_1
"Kamu baru saja menyebutkan, Gabriel." Ucap Dave dengan sorot mata tajam.
"Kapan, tidak." Elak Rose cepat.
"Sudah, kita akhiri saja acara sarapan hari ini. Aku masih memiliki banyak pekerjaan." Ucap Dave yang sudah bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangannya.
Rose terjingkat kaget karena Dave menutup pintu dengan keras.
"Apa yang baru saja aku lakukan, kenapa membawa-bawa pria kaku itu." Ucap Rose dengan nada frustasi.
Sedangkan Dimas yang mendengar suara pintu tertutup keras, berusaha tuli. Dimas tahu jika bosnya sedang berada didalam bersama kekasihnya.
Masalah biasa sepasang kekasih, ujung-ujung hanya bertengkar dan besok juga sudah menempel seperti perangko.
Dave berjalan dengan cepat, bahkan wajahnya sudah menghitam. Kedua matanya bagaikan terdapat kilatan petir.
Melihat Dave sudah melalui meja kerjanya, Dimas berdiri dan sedikit menengok apakah Dave sudah benar-benar pergi.
Tidak berselang lama, keluarlah Rose dari ruangan Dave.
"Mau pulang, Nona?" Tanya Dimas kepada Rose.
"Oh, iya. Sepertinya Kak Dave memiliki banyak pekerjaan hari ini." Jawab Rose cepat.
"Perlukah, Saya antar?" Tawar Dimas sopan.
"Terima kasih, tapi tidak perlu." Tolak Rose pelan.
"Hati-hati di jalan, Nona." Ucap Dimas.
Rose mengangguk dan kembali melanjutkan melangkahkan kakinya menuju lift.
Rose menyandarkan tubuhnya di dinding lift setelah pintu lift tertutup.
"Hah, kenapa aku bisa menyebut nama pria menyebalkan itu." Gerutu Rose.
Duk
Duk
Duk
Terdengar benturan di dinding lift, Rose memukullkan dahinya karena merasa frustasi harus bagaimana.
"Apa aku harus kembali lagi ke atas dan meminta maaf kepada Kak Dave. Tapi.... bagaimana jika Kak Dave marah. Aaaaa... ini membuatku gila." Rengek Rose dengan menghentak-hentakkan kakinya pelan dan kedua pundaknya bergerak cepat.
Sedangkan Dave tengah merendam kepalanya didalam wastafel yang sebelumnya sudah Dave sumpal dan dipenuhi dengan air.
Pyas
Terlihat Dave mengeluarkan kepalanya dengan nafas yang memburu.
Dadanya bergemuruh hebat saat ini, "Kenapa selalu Gabriel." Ucap Dave
"Arghhh!!" Dave menghantam air yang masih terlihat penuh tersebut hingga memercik kesegala arah.
Kedua mata Dave terlihat tajam menatap cermin, seringai tipis muncul di bibirnya.
"Kali ini, tidak akan lagi aku kehilangan. Rose, kamu hanya akan menjadi milikku." Ucap Dave pelan.
Dave menegakkan tubuhnya dan mengambil tisu untuk mengeringkan wajah dan tangannya, dibukanya penyumbat wastafel tersebut hingga terdengar suara air yang cukup keras seperti suara kloset ketika disiram.
Terlihat Dave mengguyar rambutnya kebelakang dan merapikan pakaiannya untuk bersiap memulai pekerjaannya hari ini.
...🐾🐾...
__ADS_1