
Happy Reading 🌹🌹
"Kenapa sejak tadi kamu diam, sayang." Ucap Dave kepada Rose.
"Apa benar, kita akan menikah?" Tanya Rose yang seakan nyawanya masih tertinggal di ruangan Gabriel.
"Benar, bukankah sudah aku bilang. Aku akan memperjuangkanmu meminta restu Ayahmu." Jawab Dave apaadanya dengan suara yang tenang.
"Tapi, kenapa tidak membicarakannya terlebih dahulu denganku?" Tanya Rose yang sudah menangis.
"Aku ingin membuat kejutan, sayang. Apa kamu tidak suka?" Ucap Dave dengan wajah tenangnya.
Rose tergugu di kursi depan samping Dave, bahkan wajah Rose sudah di tutup dengan kedua tangannya.
"Seharusnya, Kakak membicarakan rencana pernikahan itu denganku terlebih dahulu." Jawab Rose di sela tangisannya.
"Maaf sayang, aku sudah tidak sabar ingin hidup bersamamu." Jawab Dave.
Terlihat tubuh Rose masih terguncang pelan, bahkan kedua tangannya berusaha menghapus air mata yang terus keluar dari matanya.
Dave hanya diam dengan mengetuk-ngetukkan jarinya di stir mobilnya, terlihat wajah yang datar tidak menggambarkan emosi apapun.
"Bi... bisakah, menikah setelah Rose lulus sekolah dulu." Ucap Rose dengan sisa sesenggukannya.
"Tiga bulan, tiga bulan kita akan mempersiapkan pernikahan." Jawab Dave tegas.
"Tiga bulan?" Beo Rose dengan wajah kagetnya.
__ADS_1
"Ya, tiga bulan sayang. Kamu boleh melanjutkan sekolah tentunya. Tiga bulan bukan waktu yang singkat." Jawab Dave menjelaskan kepada Rose.
"Kak." Rose sudah kembali meneteskan air matanya.
"Aku tidak menerima penolakan, sayang. Yang menyiapkan persiapan biar Mama atau denganmu." Ucap Dave dengan wajah berfikir.
Kedua bola mata Rose terus bergetar.
"Sebelum itu, minggu depan kita akan mengadakan pertemuan keluarga dulu untuk membahas ini." Lanjut Dave lagi.
Rose meremat tangan yang berada di atas pahanya, dan membuang pandangannya ke luar jendela.
Kenapa begitu menyesakkan, pernikahan dengan Dave adalah impiannya. Tapi ini sangat sakit, kenapa sesakit ini.
Dave mulai menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan area Rumah Sakit.
Sedangkan di ruangan Gabriel, Gabriel terlihat berbaring dan enggan berbicara dengan Ambar. Terlihat kedua matanya terpejam tapi hatinya seperti di sayat sembilu.
Belum berjuang tapi sudah kalah telak di ujung jalan.
Sedangkan Ambar yang tidak tahu apapun, hanya membiarkan Gabriel istirahat saja. Mungkin Gabriel lelah karena bersendau gurau dengan Dave juga Rose tadi.
Tiba-tiba, Gabriel mendesis dengan memegang kepalanya.
"Arghhh!! Sakit, Mah." Ucap Briel dengan menjambak rambutnya sendiri.
"Briel." Ambar panik langsung memencet tombol emergency yang berada di atas tempat tidur Gabriel.
__ADS_1
Gabriel masih terus menjambak rambutnya, kedua matanya terpejam dan terlihat bayangan masa lalunya.
Wajah Briel menyerengit dengan kasar bahkan keringat mulai keluar dari dahinya.
Di dalam bayangan kali ini sangat jelas, bagaimana wajah wanita yang sering di panggil Mama. Wanita yang selalu memanggil El.
Senyuman wanita itu, suara wanita itu, bahkan tawa mereka yang sangat bahagia saat itu.
Gabriel langsung membuka kedua matanya dengan bersamaan dengan para dokter dan psikiater datang keruangan anak kedua CEO Gandratama tersebut.
"Mama." Ucap Briel dengan nafas memburu.
"Iya sayang, ini Mama." Ucap Ambar yang memeluk tubuh Gabriel.
"Mama." Panggil Briel lagi tapi kini wajahnya sudah menampakkan wajah menangis.
"Iya, sayang. Ini Mama Briel... ini Mama." Ucap Ambar dengan mengelus kepala Gabriel.
Tangis Gabriel pecah dengannsesenggukan dan keras Gabriel menangis.
"Mama... hiks... hiks." Ucap Briel lagi.
"Aaa... Mama." Ucap Briel lagi.
Ambar bingung karena dia ada disini, kenapa Briel sejak tadi memanggilnya.
"Mama disini sayang, tenang Briel." Ucap Ambar menenangkan lagi.
__ADS_1
Hingga suara pintu dibuka dengan kasar oleh seseorang, terlihat nafasnya yang memburu.