Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Kembali Fokus Dengan Tujuannya


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Gabriel dan Minzy pulang menuju mansion Kristoff, terlihat Minzy selalu mengukir senyum dibibirnya.


Sedangkan Gabriel, tengah gundah gulana apakah rencananya ini akan berhasil. Briel juga berfikir bagaimana jika akhirnya Minzy tahu jika dirinya bukan Daniel.


Tidak mungkin, jika tiba-tiba Daniel kembali namun sudah berstatus tunangan dengan Minzy.


Briel harus memberitahu Daniel lebih dulu untuk rencana yang menyangkut dua keluarga besar ini.


"Sayang, Mamamu suka apa? Aku akan belikan sebelum sampai mansion." Ucap Minzy.


Gabriel tersadar dari lamunannya, "Tidak perlu." Jawab Briel singkat.


"Tapi, ini pertama kali aku akan bertemu dengan Mamamu." Kata Minzy.


"Apa kamu tidak dengar." Jawab Briel dingin.


Minzy mengalihkan pandangannya keluar jendela, terlihat raut wajah sedih tergambar jelas di wajah gadis itu.


Buah tangah, sudah menjadi hal yang lumrah bahkan wajib dinegara Korea. Karena dengan membawa buah tangan menandakan jika kita senang dapat berjumpa.


Mobil yang mereka tumpangi kini telah berhenti didepan pintu utama, segerasang sopir membukakan pintu untuk Minzy karena Gabriel lebih suka membuka pintu sendiri tanpa dibantu.


Minzy dan Gabriel menlangkah masuk kedalam mansion, terlihat sangat sepi. Jika Stevan dan Eve mungkin masih berada diluar.


"Bi, dimana Mama Kristal?" Tanya Briel.


Maid tersebut menunduk takut karena majikannya menanyakan Kristal.


"Apa kau tuli." Ucap Briel dingin.


Minzy merasa tercengang, seperti bukan Daniel. Meskipun baru beberapa kali bertemu Daniel tidak sekasar itu berkata dengan orang lain.


"Nyo... Nyonya tadi dibawa oleh seseorang Tuan." Jawab maid takut.


"Yang jelas!" Sentak Gabriel.


"Tidak tahu, Tuan. Dulu gadis itu pernah datang ke mansion sekali dan hari ini dia datang lagi." Jawab maid dengan cepat.


Minzy mengeratkan pegangannya memberi kode agar Gabriel berhenti.


Hingga terdengar suara deru mobil memasukin mansion.


"Itu mungkin Mamamu, sayang." Ucap Minzy yang langsung menyeret Gabriel untuk kedepan.


Sedangkan maid yang merasa nyawanya diujung tanduk, segera berlari terbirit-birit kebelakang. Takut jika yang datang bukan Kristal melainkan Eve dan Stevan.


Langkah Minzy dan Gabriel terhenti karena dua orang wanita yang cantik hanya berbeda usia telah masuk terlebih dahulu ke dalam mansion.


Gabriel menatap datar wanita muda yang menggandeng Ibunya, masih cantik dan tidak ada yang berubah dari gadis tersebut.


Hingga kini keempatnya duduk di ruang tamu, Gabriel bahkan tidak sadar jika tangan Ibunya terluka. Karena terlalu fokus dengan wanita muda yang sungguh sangat dia rindukan keberadaannya.


Bahkan Gabriel tidak menolak ketika Minzy memberitahukan jika akan bertunangan.

__ADS_1


Hingga Briel mendengar Rose mengatakan sayang kepada seseorang di telfon, "Kamu harus sadar Briel, kalian tidak berjodoh. Lihatlah wajah bahagianya ketika menerima telfon dari Dave." Ucap Gabriel dalam hati.


Hingga Rose beranjak dari duduknya menghampiri Kristal, "Ini obat Tante." Ucap Rose yang menghampiri Kristal.


Kristal diam menatap wajah Rose dengan dalam, "Hati-hati Rose." Ucapnya.


"Selamat Kak, akhirnya tidak jomblo lagi." Ucap Rose kepada Gabriel.


Rose mengulurkan tangannya sebagai tanda ucapan selamat, Gabriel masih bergeming menatap wajah Rose dan turun di tangannya yang masih diam di udara.


"Kemana cincin pertunangannya." Gumam Gabriel.


Tidak ada lagi cincin yang melingkar dijari Rose, cincin yang Dave sematkan ketika berada diatas panggung pertunangan mereka. Gabriel sangat ingat dengan jelas.


Gabriel hanya berdehem dan mengangguk tanpa menerima jabatan tangan Rose.


Rose tersenyum getir dalam hati, apakah Briel sudah tidak sudi menyentuhnya atau menjaga perasaan tunangannya.


Rose tetap memasang senyumnya dan kini beralih ke arah Minzy.


"Selamat Nona atas pertunangan kalian." Ucap Rose juga kepada Minzy.


"Ah, iya. Terima kasih." Jawab Minzy.


Rose dan Minzy saling berjabat tangan, dan Rose yang menarik tangannya terlebih dahulu.


"El---"


"Mah, El dan Minzy akan bertunangan. Apakah Mama setuju?" Tanya Gabriel memotong ucapan Kristal.


"Minzy sangat mencintai Daniel, Tante. Tolong jangan tolak Minzy." Ucap Minzy dengan wajah memohon.


Kristal hanya diam menatap Minzy dengan sedih, "Tapi dia bukan Daniel." Ucap Kristal dalan hati.


Kristal menatap Gabriel yang duduk dibelakang Minzy, "Kamu bagaimana El?" Tanya Kristal.


"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu." Jawab Gabriel singkat.


"Meskipun cinta yang lain sudah melepaskannya untukmu?" Tanya Kristal.


"Tentu aku akan menerima cinta Minzy untukku." Jawab Gabriel yang tidak paham makhsud dari ucapan Kristal.


"Benarkah?" Tanya Minzy dengan mata berbinar.


Gabriel hanya berdeham dan beranjak dari duduknya, meninggalkan kedua wanita di ruang tamu.


"Kamu mau kemana, El?" Tanya Kristal.


"Ganti baju." Jawab Gabriel.


Kristal hanya menatap punggung Gabriel hingga hilang dibalik tembok, sedangkan Minzy sangat senang ternyata Mama kandung Daniel tidak seseram Eve.


Gabriel kini telah sampai dikamarnya, segera melepas jas dan melemparkannya kesembarang arah.


Dihempaskannya tubuh kekar itu diatas kasur berukurang king size hingga posisi Briel telungkup.

__ADS_1


"Kenapa kamu datang disaat aku berusaha melupakanmu." Ucap Gabriel pelan.


Gabriel menghela nafasnya panjang dan mengambil ponsel miliknya di saku celana, terlihat surel masuk.


Segera Briel mengeceknya, ada beberapa foto yang dikirimkan oleh Robby melalui mata-matanya.


Briel langsung bangkit, segera mengetikkan sesuatu di surel tersebut.


"Sebentar lagi, tunggu Daniel. Aku akan membereskan semuanya disini." Gumam Gabriel.


Gabriel melupakan urusan cintanya dan kembali tersadar jika dirinya harus fokus dengan permasalahan keluarga Kristoff juga Kristal.


Segera Gabriel melepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan dan mengganti dengan pakaian rumahannya untuk kembali turun kelabtai satu.


Ponsel Gabriel berdering, terlihat nama Daniel tertera disana.


"Halo."


"Hallo, Kak. Bagaimana kabar Kakak dan Mama?" Tanya Daniel disebrang telfon.


"Baik, bagaimana keadaanmu. Apakahb sudah ada kemajuan?" Ucap Gabriel.


"Sudah Kak, mungkin sebentar lagi Daniel akan bisa pulang." Jawab Daniel dengan senang.


"Senang aku mendengarnya." Ucap Gabriel.


"Kak, apa sudah bertemu dengan Rose?" Tanya Daniel.


"Sudah." Jawab Briel singkat.


"Apa dia sudah mengatakan kepada Kakak?" Tanya Daniel.


"Mengatakan apa?" Jawab Briel.


"Beberapa hari lalu Rose dan Kak Dave datang menjengul Daniel, dan mengatakan jika---"


"Jika mereka akan menikah, Kaka sudah tahu sebelum mereka mengatakan padamu." Jawab Briel cepat.


"Bu---"


"Kakak akan bertunangan dengan Minzy." Ucap Briel tidak memberi kesempatan kepada Daniel.


"Tunangan?" Beo Daniel.


"Ya." Jawab Briel singkat.


"Kakak yakin tidak akan menyesal?" Tanya Daniel disebrang telfon.


"Tidak, meskipun Minzy menyukaimu. Kakak akan mengatakannya dengan jujur." Jawab Gabriel.


"Jangan!! Tunggu Daniel sampai sembuh, baru Kakak katakan yang sebenarnya." Tolak Daniel cepat.


"Jika besok kami bertunangan orang-orang akan tahu jika kamu yang bertunangan." Ucap Briel mengingatkan.


"Tidak apa-apa, Kak.".Jawab Daniel.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2