
Happy Reading 🌹🌹
Ruangan yang awalnya kosong, kini terlihat penuh dengan keberadaan dua keluarga. Keluarga Gandratama dan keluarga Kristoff.
Sedangkan para pengawal dari dua keluarga berjaga di luar ruangan, beruntung di lantai tiga hanya ada beberapa pasien. Sehingga kedua keluarga dapat dengan cepat meminta maaf karena keributan yang di yimbulkan oleh dua pemuda yang masih bertatapan tersebut.
Kakek Kristoff menghela nafas pelan, matanya tertuju kepada Kristal sang menantu.
"Jelaskan, Kristal." Ucap Kakek Kristoff dengan suara lembut namun tegas.
Kristal terlihat menundukkan kepalanya dalam, Daniel yang duduk di samping Kristal menggenggam erat tangan wanita yang sangat dia cintai tersebut.
Namun pandangan Daniel tidak lepas ke arah Gabriel, begitu juga Gabriel memandang tajam ke arah keduanya.
"Ceritakan, Mah. Daniel juga ingin mendengarnya." Ucap Daniel pelan.
Kristal mengigit bibirnya dalam, kedua matanya memanas mengingat semuanya.
"Ini salah Kristal, Ayah." Cicit Kristal pelan.
"Jawab yang benar Kristal." Ucap Kakek Kristoff.
Kristal mengangkat kepalanya, menatap ke arah pria yang selama ini melindunginya di kediaman Kristoff.
"Ini semua salah Kristal, Ayah." Jawab Kristal lagi.
"Jadi, selama ini kamu melahirkan bayi kembar tanpa sepengetahuan siapapun?" Tanya Kakek Kristoff.
Air mata Kristal menetes, "Mama tahu." Ucap Kristal pelan.
__ADS_1
"Nyonya Kristoff, tahu?" Tanya Robby memastikan.
Kristal mengangguk cepat, tangan kakek Kristoff sudah mengepal.
Bahkan sampai kematiannya, wanita itu membawa rahasia besar hingga akhir hayatnya.
"Lalu, apa apalasan Anda menelantarkan Gabriel waktu kecil dulu Nyonya?" Tanya Agung yang duduk di samping Sky.
"Ak---aku tidak bermaksud membuangnya, Tuan. Mama mertuaku berjanji akan menjemput Gabriel saat itu." Jawab Kristal dengan terbata.
"Nyatanya, sampai saat ini dia tidak menjemputku." Ucap Gabriel dingin.
Kristal hanya menggeleng dengan menahan bibirnya yang sudah bergetar hebat.
"Mama, sungguh tidak tahu hal itu. Ketika kita di taman bermain, Mama mendapatkan telfon dari Nenekmu yang mengatakan jika Daniel sedang drop saat itu. Nenekmu bilang akan menjemputmu, karena tidak ingin Kakek dan Ayahmu mengetahui keberadaanmu." Jelas Kristal yang semakin deras meneteskan air matanya.
Gabriel berdecih dengan sinis, "Jadi, kamu memilihnya daripada aku. Apa aku anak yang tidak di inginkan, hah!" Seru Gabriel dengan wajah bengis.
"Apa kamu tahu, aku menunggumu sampai malam datang! Aku belum bergerak kemanapun karena kamu bilang untuk menunggumu! Sampai aku menahan lapar dan haus, menahan kantuk karena tidak ingin kamu meninggalkanku naik pesawat sendirian!!" Seru Gabriel dengan menggebu.
Kedua mata Gabriel sudah tidak dapat membendung air matanya lagi.
Ambar memeluk tubuh Gabriel dari samping, mencoba menenangkannya agar tidak lepas kendali.
"Maafkan Mama." Ucap Kristal yang kembali bersimpuh di depan Gabriel.
"Apa kata maafmu akan mengembalikan keadaan, hah! Aku bahkan harus mengais bak sampah untuk makan! Memakam makanan basi sisa orang lain, dan kamu... kamu hidup nyaman bersama dia." Lanjut Gabriel mengeluarkan seluruh perasaannya.
Gabriel tertutup mengingat masa lalunya yang seperti film tanpa warna tersebut.
__ADS_1
"Maafkan, Mama." Ucap Kristal.
Kristal hanya mampu meminta maaf dan meminta maaf, karena hanya itu yang mampu Kristal lakukan.
"Apa kamu pikir, Mama hidup nyaman selama ini." Daniel yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
Terlihat kedua mata Daniel memerah dan meneteskan air matanya, Daniel mengingat bagaimana penderitaan Kristal semasa hidupnya.
"Tentu, lihatlah. Bukankah dia masih hidup di dunia." Jawab Gabriel tajam.
"Mama bertahan hidup karenamu! Apa kau mengerti." Seru Daniel.
Gabriel tersenyum miring dengan air mata yang kembali mengalir, menatap remeh ke arah Daniel karena bualannya.
"Simpan saja bualanmu itu." Ucap Gabriel dingin.
Daniel menatap kedua mata Gabriel, perasaan marah dan sedih menjadi satu. Gemuruh didalam hatinya serasa membakar seluruh jiwanya.
"Kalian pergilah, jangan pernah muncul dihadapanku lagi." Kata Gabriel lagi.
Daniel bangkit dari duduknya dan secepat kilat menghajar Gabriel.
"Kau tidak tahu Mama selalu menangis setiap malam! Kau tidak tahu Mama selalu tersiksa batinnya di mansion Kristoff! Kau tidak tahu Mama bertaruh nyawa untuk bertemu denganmu! Kau tidak pernah tahu kesakitan Mama selama ini Gabriel!!" Seru Daniel tepat di depan wajah Gabriel.
Air mata Daniel sudah menetea membasahi wajah Gabriel, dengan nafas yang memburu masih berada di atas tubuh saudara kembarnya.
"Bahkan, Mama selalu memanggilku El karena ingin selalu mengingatmu. Kau tidak tahu apapun perjalanan hidup Mama, kau tidak berhak menghakiminya!" Lanjut Daniel lagi.
Hingga tubuh Daniel terjatuh di atas tubuh Gabriel. Membuat Kristal, Kakek Kristoff dan Robby panik.
__ADS_1
"Panggil dokter, cepat!" Seru Robby.