Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Kepergian Rose


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Di sebuah Rumah Sakit, terlihat Rose sudah membuka kedua matanya. Ayah Nugroho terlihat tersenyum senang karena putri sematawayangnya masih ingin berjuang hidup.


"Briel." Lirih Rose.


Ayah Nugroho mendengus kesal mendengar Rose memanggi pria pengecut itu, "Ya sayang, apa yang kamu butuhkan?" Tanya Ayah Nugroho pelan.


"Briel." Ulang Rose lagi.


"Gabriel sedang ada urusan di perusahaan, dia sedang menangkap orang yang sudah jahat kepadamu." Jawab Ayah Nugroho.


Setetes air mata luruh dari sudut mata Rose, segera Ayah Nugroho menyeka air mata sang putri perlahan.


"Jangan menangis, kekasihmu pasti akan sedih." Ucap Ayah Nugroho lembut.


"Hem." Rose berdehem karena merasa tubuhnya merasa sangat lemas dan sakit.


"Rose, kita pulang ya." Ajak Ayah Nugroho lirih.


Kedua mata Rose berembun membayangkan berpisah dengan kekasihnya, bagaimana jika sang ayah tidak akan merestui mereka.


"Tenang saja, ayah merestui kalian. Ayah hanya ingin memberi pelajaran kepada kekasihmu itu karena sudah berani menyembunyikan keadaanmu yang sedang terluka parah." Ucap Ayah Nugroho seolah tahu apa yang ada di pikiran sang putri.


Suryo masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu, "Semuanya sudah siap." Ucap Suryo.


Rose menggelengkan kepalanya pelan sekali bahkan hampir tidak ada pergerakan, air matanya sudah luruh di kedua sudut mata indahnya.


"Tenang saja Rose, kita hanya akan pergi berobat. Kamu harus segera pulih dan sehat agar bisa memberikan pelajaran kepada kekasihmu itu yang sudah membuat Ayahmu hampir terkena serangan jantung." Ucap Suryo entah menenangkan hati Rose atau menabur garam.


Rose melirik ke arah sang ayah, Ayah Nugroho mengelus surai hitam sang putri dengan lembut.


"Benar kita hanya akan berobat, kamu tidak ingin membuat kekasihmu sedih bukan? Kita akan berobat hingga kamu sembuh." Timpal Ayah Nugroho.


"Saat ini Gabriel tengah memperjuangkan perusahaan keluarganya, oleh sebab itu kamu juga harus berjuang agar segera sembuh Rose." Ucap Suryo menambahi.


"Parah?" Tanya Rose singkat.


"Hemm... cukup parah mungkin beberapa syaraf di tubuhmu terganggu dan juga cedera kepala dan tulang juga cukup parah. Jika kalian terus bertemu, Briel tidak akan bisa fokus dengan perusahaan begitu juga dirimu yang tidak bisa fokus dalam pengobatan." Jelas Suryo apa adanya.


"Bagaimana sayang, kita pulang ya?" Ajak Ayah Nugroho kembali.


Rose mengangguk pelan, membuat Ayah Nugroho menangis dengan mencium seluruh wajah anaknya perlahan. Begitu juga Suryo yang langsung keluar untuk menenangkan gemuruh di hatinya. Mereka tidak sepenuhnya berbohong namun dokter memfonis jika Rose kemungkinan tidak akan bisa berjalan dan ini adalah pilihan terbaik agar keduanya tidak merasa bersalah.


Suryo langsung mengintupsi para petugas medis untuk menyiapkan keberangkatan Rose segera menggunakan pesawat pribadi yang sudah di siapkan oleh Robby, Suryo ingat ketika dirinya di cegah oleh asisten Kakek Kristoff.


Robby mengatakan jika penyebab kecelakaan Rose adalah akibat ketamakan dari seseorang yang menginginkan harta dan tahta sehingga merugikan banyak pihak termasuk keluarga Jin, Robby juga menceritakan kronologis bagaimana Rose dan Jin di temukan oleh anak buah mereka dalam keadaan tidak sadarkan diri di jalan raya.


"Jika anda ingin membalas perilaku mereka, datanglah ke jalan XYX tuan. Di sana kami akan membawa dua orang tersebut ke tempat penyandraan oleh pengawal kami." Ucap Robby sembari menuliskan nama jalan menuju hutan.


Suryo menerimanya dengan memandang kertas serta Robby bergantian, "Apa kamu tidak membohongiku?" Tanya Suryo.

__ADS_1


"Tidak tuan dan saya mohon jangan pisahkan Nona Rose dengan Tuan Muda Gabriel, karena ini bukan salah kedua pasangan tersebut. Ini benar-benar tidak di sengaja, karena Nyonya Kristal di culik saat bersama Nona Rose yang tengah berbelanja di swalayan depan apartemen." Jawab Robby dengan penuh rasa hormat.


"Kita lihat saja nanti." Ucap Suryo yang kemudian berlalu dari hadapan Robby.


Robby menatap punggung Suryo dengan penuh harap, kepala Robby menoleh ke ruangan Rose dengan tatapan sendu berharap keduanya baik-baik saja.


Suryo menceritakan apa yang di katakan Robby kepada Ayah Nugroho, setelah Suryo kembali dari ruang dokter. Dokter kembali mengecek keadaan Rose bahkan mereka melakukan CT Scan ulang untuk memastikan keadaan pasien. Keadaan Rose memang parah karena terpental terlalu jauh dan keras di atas aspal. Mendengar diagnosa dokter membuat sekujur tubuh Suryo dan Ayah Nugroho lemas seketika sekan tulang mereka lepas dari tubuh,


"Panggil asisten Kakek Kristoff ke cafetaria Rumah Sakit segera." Ucap Ayah Nugroho kepada Suryo.


Suryo mengangguk dan segera berjalan menuju ruang rawat Kakek Kristoff, bagaikan pucuk ulam tiba tepat Robby keluar dari ruangan bosnya. Suryo segera menyeret Robby tanpa berkata apapun hingga masuk kedalam lift dan membawanya turun ke cafetaria.


Terlihat Ayah Nugroho telah duduk dengan segelas kopi yang terlihat masih mengepul asapnya, pertanda jika kopi tersebut baru saja di sajikan oleh pelayan cafetaria.


"Tuan." Sapa Robby sopan.


"Duduklah." Jawab Ayah Nugroho.


Robby dan Suryo duduk berdampingan di depan Ayah Nugroho dengan wajah yang serius, "Bolehkan aku minta tolong kepadamu?" Tanya Ayah Nugroho pelan.


"Tentu saja tuan, akan saya usahakan." Jawab Robby cepat.


Ayah Nugroho menghela nafas panjang, "Rose--- Rose di diagnosa akan lumpuh, bisakah kami pergi membawanya berobat ke luar negeri tanpa sepengetahuan Gabriel dan yang lainnya?" Tanya Ayah Nugroho dengan mata berkaca-kaca.


Deg


Hati Robby bagaikan di hantam godam mendengar ucapan dari Ayah Nugroho, namun dia segera menguasai hatinya. "Tentu saja tuan, akan segera saya siapkan pesawat pribadi untuk membawa Nona Rose kemanapun. Kapan akan membawanya?" Jawab Robby cepat.


"Tepat saat kalian akan mengadakan rapat pemilihan CEO dan setelah aku membalaskan perbuatan orang tersebut kepada putriku." Ucap Ayah Nugroho tanpa ragu sedikitpun.


Hari berlalu, setelah memastikan seluruh keluarga Kriistoff keluar dari Rumah Sakit. Ayah Nugroho dan Suryo meminta untuk petugas Rumah Sakit mematikan CCTV dalam waktu lima menit saja agar tidak meninggalkan jejak kepada Gabriel. Petugas keamanan segera mematikan CCTV dan petugas medis segera membawa brangkar Rose keluar dari gedung Rumah Sakit.


Kini mobil yang membawa Rose segera menuju ke bandara, sedangkan mobil yang di tumpangi Ayah Nugroho dan Suryo menuju ke jalan XYX. Meski menunggu cukup lama akhirnya mereka melihat mobil polisi yang melewati mereka segera Ayah Nugroho menjalankan mobilnya sepertinya Dewi Fortuna sedang bersama mereka, mereka melihat Eve berlari ke arah mereka Ayah Nugroho tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini kakinya menekan gas mobil lebih dalam agar Eve merasakan apa yang Rose rasakan.


Setelah selesai dengan urusannya, Suryo segera mengambil alih kemudi dari Ayah Nugroho. Segera mereka meninggalkan TKP dan menuju kebandara karena sudah terlalu lama meninggalkan Rose meskipun ada dokter dan perawat bersamanya.


Terlihat sebuah peswat yang sangat besar lepas landas dari bandara Incheon menuju ke sebuah negara asing bukan Indonesia, Ayah Nugroho membawa Rose ke Amerika untuk mengobati kaki Rose agar dapat kembali berjalan. Bukan tidak mengakui keahlian para dokter di Indonesia hanya saja Ayah Nugroho ingin menjauhkan putrinya dari Gabriel untuk waktu yang tidak dapat di tentukan hingga kesembuhan Rose.


Kepergian pesawat yang membawa Rose bertepatan sampainya Gabriel di Rumah Sakit, terlihat wajah Briel tersenyum simpul dengan tangan kanan membawa buket mawar putih yang sudah di bungkus rapi dengan pita berwarna pink. Tangan kirinya berada didalam saku dengan menggenggam kotak yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.


Gabriel masuk kedalam lift dengan bersiul kecil, tak lupa Briel mencium bunga mawar yang akan diberikan kepada kekasihnya. "Sudah 18 jam belum bertemu." Gumam Briel dengan melihat jam rolex mewah yang melingkar indah di tangannya.


Lift telah sampai membawa Gabriel di lantai ruangan Rose di rawat, Briel melangkah dengan cepat karena sudah tidak sabar bertemu sang kekasih yang sejak semalam tidak dapat di temuinya karena harus menyelesaikan urusan di kantor.


Alis Gabriel mengkerut karena melihat seorang OB masuk keruangan rawat Rose, seharusnya tidak boleh seorangpun masuk kedalam ruangan steril tersebut.


Deg


Gabriel langsung berlari menjatuhkan buket bunga mawar putih yang sudah dia gengam dengan hati-hati sejak keluar dari toko bunga.


Brak!

__ADS_1


Kosong.


Gabriel masuk ke ruangan tersebut berharap Rose berada di dalam kamar mandi, namun nihil semua alat yang menopang hidup Rose juga sudah tidak ada. Semua bersih hanya ruangan kosong.


Terdengar suara nafas yang memburu asal suara itu dari Robby yang berusaha lari sekencang mungkin untuk menghalau Gabriel, namun gagal karena Robby menemukan buket bunga mawar putih yang tidak jauh dari lift.


"Rose." Panggil Briel lirih.


Gabriel langsung menoleh ke arah belakang dengan langkah lebar Briel dengan cepat sudah berada di depan Robby, "Kemana Rose kak?" Tanya Briel dengan tidak sabar.


"A-aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan El." Jawab Robby yang kaget karena dirinya masih sibuk mengatur nafas.


Briel mencengkam kerah Robby dengan kedua tangannya, terlihat rahangnya yang mengetat dengan tatapan yang tajam sungguh Briel sedang tidak bisa di ajak bercanda hari ini.


"Katakan! Di mana Rose!" Sentak Briel tepat didepan wajah Robby.


"Aku tidak tahu, aku juga baru saja sampai di sini karena mengejarmu." Jawab Robby dengan menyentak cengkraman Gabriel.


Tanpa berkata apapun, Gabriel langsung berlari meninggalkan Robby untuk menuju bagian informasi. Dengan berlari cepat bahkan beberapa kali menabrak tubuh pengunjung lain Briel terus berlari hingga sampai di depan meja informasi.


"Atas nama pasien Zia Rose Amanda di pindahkan kemana?" Tanya Briel langsung.


"Sebentar tuan." Jawab petuugas informasi.


Segera petugas tersebut mencari nama Rose, "Maaf, pasien baru saja telah keluar dari Rumah Sakit." Jelas petugas.


"Dimana!" Seru Briel sepontan karena merasa kepalanya akan pecah.


"Kami tidak tahu tuan, disini tidak ada keterangan pasien di pindahkan ke Rumah Sakit mana hanya keluarga pasien mencabut pengobatan pasien di Rumah Sakit ini." Jelas petugas dengan sopan.


"Dimana ruang CCTV?" Ucap Briel dengan wajah yang sudah menggelap.


Petugas informasi memberitahukan lokasi ruangan keamanan kepada Gabirel, Gabriel segera berlari tanpa memperdulikan Robby yang menyusulnya sejak sampai di meja informasi.


Brak!


Para petugas menoleh ke arah sumber suara, "Maaf tuan di larang masuk." Ucap petugas.


Briel menghajar petugas tersebut hanya ingin menumpahkan emosinya, "Carikan CCTV di ruangan steril lantai tiga sekarang!" Seru Gabriel.


Petugas mempersilahkan Gabriel mencarinya sendiri setelah mendapatkan kode dari Robby, dengan teliti Gabriel menonton potongan video di setiap jam, menit dan detik namun nihil.


Robby memberi kode agar para petugas keluar dari ruangan karena melihat Gabriel yang hanya diam terpaku dengan menatap layar. Air mata Gabriel luruh begitu saja tanpa aba-aba terlihat bergetar dengan suara isak tangis lirih. Robby berjalan mendekat dengan memeluk tubuh Gabirel dengan penuh kasih sayang, dirinya merasa bersalah karena harus membohongi Gabriel karena janjinya kepada ayah Rose.


"Hiks... Rose meninggalkanku kak." Adu Gabriel.


"Sabar pasti akan ketemu, El." Jawab Robby.


"Rose meninggalkanku." Ulang Gabriel lagi.


Robby hanya mampu memeluk tubuh pria jangkung yang tengah rapuh tersebut, dalam hati berdoa semoga keduanya segera dapat di persatukan kembali.

__ADS_1


...🐾🐾...



__ADS_2