Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Permohonan Seorang Ibu


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Dikediaman Amanda.


Terlihat Rose hanya bermalas-malasan di atas tempat tidur.


Terdengar suara ponsel yang berbunyi, terlihat pesan Dave dari jendela apung. Segera Rose membukanya.


πŸ“₯ "Morning sayang 😘."


Rose tersenyum lebar, bahkan dengan cepat kedua kakinya dihentak-hentakkan di kasurnya.


πŸ“€ "Morning honey."


Dave yang tengah menyetir membuka balasan pesan Rose, tersenyum tidak kalah lebar dengan Rose yang ada di rumahnya.


πŸ“₯ "Apa acaramu hari ini?"


πŸ“€ "Menjadi salah satu kaum rebahan πŸ˜‚"


πŸ“₯ "Nanti siang datanglah kekantor, ayo kita makan siang."


πŸ“€ "Baik πŸ€—"


πŸ“₯ "Berdandanlah yang cantik 😘, aku kerja dulu sayang."


πŸ“€ "Semangat bekerja."


Rose masih terus memandangi pesan terakhir dari Dave, apakah Dave masih belum bisa. menerima selera fashion Rose.


Hati Rose tiba-tiba merasa sedih, apakah Rose harus menjadi orang lain demi Dave lagi.


Lamunan Rose buyar ketika suara ketukan pintu terdengar nyaring dari arah luar.


Tok


Tok


Tok


"Rose! Apakah kamu belum bangun?" Seru Kristal dari luar.


Rose segera menyingkap selimut tebalnya dan bangkit untuk membuka pintu.


Cklek


Terlihat Rose yang pura-pura menguap, "Baru saja bangun, Tan." Jawab Rose dengan cengir kudanya.


"Astaga, segeralah mandi Rose. Ayahmu bahkan sudah berangkat bekerja." Ucap Kristal seakan memarahi anaknya.


"Iya... iya...Rose mandi dulu, nanti Rose akan turun." Jawab Rose dengan melambaikan tangan ke arah Kristal.


Kristal menghela nafasnya pelan, "Tante tunggu di meja makan." Ucap Kristal dan berlalu dari depan kamar Rose.


Rose segera menutup pintu kamarnya setelah memastikan Kristal turun ke lantai satu.


Segera Rose melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, Rose perlu menenangkan perasaannya pagi ini.

__ADS_1


Dengan langkah pendeknya, Rose berjalan ke arah bathup untuk menyalakan air hangat. Sembari menunggu air dapat memenuhi bathup, Rose berjalan kearah wastafel untuk menggosok giginya.


Setelah dirasa cukup, Rose melepaskan satu persatu kancing pada Piala tidurnya.


Terlihat pundak yang mulus dan putih ketika piyama tersebut lolos begitu saja dari tubuh Rose, hingga teronggok diatas lantai.


Rose melepaskan pakaiannya satu persatu tanpa tersisa, Rose berjalan kearah bathup dan mengambil aromaterapi yang sangat dia sukai.


Kaki kecilnya satu persatu masuk kedalam bathup dan secara perlahan Rose memasukkan hampir seluruh tubuhnya kedalam bathup.


Sejenak Rose bersandar dengan memejamkan kedua matanya, dihirupya dalam-dalam aromaterapi yang sudah menyatu dengan air.


Sejenak Rose memikirkan hubungannya dengan Dave, apakah ini sudah menjadi keputusan yang benar? Apakah hatinya sudah siap jika tersakiti lagi.


Rose meluncurkan tubuhnya sehingga kepalanya masuk kedalam air bathup.


Rose mengingat, bagaimana pertemuannya dengan Lila. Mama Dave.


Saat itu, Rose hanya berdiam diri dirumah karena kuliahnya sudah dicabut sehingga Rose tidak memiliki kegiatan yang pasti.


Didalam kamar, Rose terlihat menjadi kaum rebahan dengan menonton acara televisi ditemani berbagai camilan ringan.


"Dasar, konyol." Ucap Rose dengan gelak tawanya.


Hingga ponsel Rose bergetar, Rose merubah posisinya menjadi duduk dan tangan yang terkena bumbu micin dicuci dengan mulutnya.


"Nomor siapa ini?" Ucap Rose pelan.


Dilayar ponsel Rose tertera nomor asing yang tidak Rose kenal.


"Halo." Ucap Rose pelan.


"Ini siapa?" Tanya Rose dengan wajah heran karena orang asing tersebut tahu namanya.


"Ah, ini Tante Lila. Rose apakah hari ini kamu ada acara?" Tanya Lila dengan suara tenang.


"Oh, maaf Tante. Suara Tante sangat berbeda ketika ditelfon." Jawab Rose merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, Rose." Ucap Lila dengan tertawa pelan.


"Memang ada apa Tan?" Tanya Rose kembali ketopik.


"Tante ingin bertemu denganmu, Tante kesepian karena suami dan anak Tante semuanya sibuk." Ucap Lila dengan nada sedih.


Rose diam sesaat, "Jika begitu, bagaimana jika pergi ke taman hiburan Tan?" Usul Rose kepada Lila.


"Ide bagus, hari ini kita bertemu ditaman bermain A. Akan Tante jemput." Ucap Lila setuju dengan usul Rose.


"Kita langsung bertemu disana saja Tan, Rose akan segera bersiap-siap." Jawab Rose dengan semangat.


"Baiklah, kita bertemu didepan loket ya." Ucap Lila.


"Baik, Tan. Sampai jumpa nanti." Kata Rose sebelum Lila mengakhiri panggilannya.


Rose segera meloncat dari atas kasurnya dan secepat kilat Rose mandi dan bersiap untuk pergi kencan dengan mantan Mama Mertuanya.


Memikirkan hal tersebut membuat Rose terkekeh sendiri, "Dasar gila kamu Rose." Ucap Rose pelan.

__ADS_1



Rose segera berjalan cepat menuruni anak tangga.


Kristal yang melihat Rose tergesa-gesa menjadi penasaran, terlihat Rose mengenakan pakaian yang sudah rapi dan berdandan sangat cantik.


"Mau pergi kemana, Rose?" Tanya Kristal berjalan mendekat kearah Rose.


"Rose ada janji keluar Tan, Rose pergi dulu ya." Ucap Rose dengan berlari kecil ketika sampai dilantai satu.


Kristal yang melihat Rose hanya menggeleng kepalanya pelan dengan tersenyum tipis.


"Mang Asep, ayo antarkan Rose ke taman hiburan." Ucap Rose yang menepuk pundak Mang Asep.


"Eh, cicak... cicak... Ya ampun Non, jangan ngagetin Mang Asep." Sungut Mang Asep kepada majikannya.


"Maaf, ayo cepat Mang." Jawab Rose dengan cengir kudanya.


Mang Asep segera berdiri dan berjalan cepat menuju mobil yang akan dikendarainya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Rose telah sampai bertepatan dengan mobil Lila yang juga baru saja masuk kearea parkiran.


"Tante!" Seru Rose yang melambaikan tangan kearah Lila dan berlari menghampirinya.


"Rose, kamu sudah lama menunggu?" Jawab Lila kepada Rose yang sudah sampai dihadapannya.


"Belum Tan, ayo cepat kita masuk." Ucap Rose dengan semangat.


Rose dan Lila terlihat ikut mengantri dan membeli tiket untuk masuk kedalam wahana tersebut.


Segera Rose dan Lila bersenang-senang didalam, mencoba wahana satu persatu. Bahkan Rose tidak segan meminta Lila untuk membelikan permen kapas disana.


Hingga kini keduanya duduk disalah satu bangku yang berada dibawah pohon rindang, dengan ditemabi satu gelas ice americano.


"Dulu, Dave sangat menyukai tempat seperti ini." Ucap Lila pelan.


Rose menolehkan kepalanya kearah Lila.


"Tapi... itu dulu, sebelum kami membuat kesalahan. Memisahkan Dave dengan Putri." Lanjut Lila lagi.


Rose hanya diam, masih menyimak apa yang sebenarnya akan diucapkan oleh Lila.


"Rose, Tante tahu. Jika Dave sudah menyakitimu begitu dalam, tapi... apakah Dave tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaikinya?" Tanya Lila yang kini menoleh hingga tatapan mereka saling bertemu.


Rose menundukkan kepalanya dan kakinya menendang-nendang kecil dibawah dengan pasir.


"Rose, mungkin kamu akan beranggapan jika Tante egois. Kamu tahu, setelah kepergianmu keluar negeri tempo lalu membuat Dave menyesalinya. Dave, setiap hari selalu datang kerumah dan perusahaan Ayahmu agar mendapatkan maaf darinya dan dapat bertemu denganmu. Bahkan ketika Dave dihajar habis-hahisan oleh Ayahmu, Dave tetap menerimanya dan masih terus datang tanpa rasa jera.


Rose, Tante mohon. Berikanlah Dave kesempatan meskipun itu yang terakhir, setidaknya biarkan Dave berjuang untukmu... untuk hubungan kalian." Ucap Lila panjang lebar tanpa terasa airmatanya menetes.


Rose terpaku mendengarkan ucapan dari Lila, apakah benar Dave sangat menyesali perbuatannya malam itu atau hanya perasaan tanggungjawabnya saja.


Lila menggenggam tangan Rose dengan lembut, "Tante mohon Rose." Ucap Lila dengan memelas.


"Tapi, bagaimana dengan Rose. Hati Rose sudah hancur saat malam itu, bagaimana jika Kak Dave mengulanginya lagi?" Tanya Rose yang sudah berlinang air mata.


"Jika Dave mengulanginya, Tante serahkan semua keputusan kepada Rose. Setidaknya, berikan anak Tante kesempatan meskipun terakhri kalinya Rose." Jawab Lila.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2