
MAAF READERS TELAT UP.
INI MASUK KE MEJA EDITOR UP DARI PUKUL 7 SAMPAI MAU JAM 12 BELUM LOLOS
Happy Reading πΉπΉ
Tok
Tok
Tok
"Dave!" Seru Lila yang berada di luar kamar anaknya.
Terlihat Lila sangat cemas karena semenjak pulang dari rumah Rose, Dave mengunci dirinya di dalam kamar.
Terdengar suara langkah mendekat ke arah Lila, "Biar, Ayah buka pakai kunci cadangan saja." Ucap Rudi yang langsung menggeser istrinya.
Terdengar suara pintu terbuka, terlihat Dave sudah rapi.
"Kalian mau apa?" Tanya Dave dengan wajah datarnya.
Rudi dan Lila kaget karena semenjak sore Dave tidak keluar kamar.
"Ayah kira kamu mau mencoba bunuh diri." Jawab Rudi yang memperlihatkan kunci duplikat di tangannya.
Dave mendengus kesal, "Apa, Ayah pikir Dave berpikiran pendek seperti itu." Ucap Dave sedikit kesal.
Rudi menaikkan kedua bahunya.
"Mungkin, secara kau adalah Dave." Kata Rudi yang langsung berlalu dari sana.
"Sudah, ayo segera turun. Kamu membuat kami khawatir Dave." Potong Lila.
Dave mengikuti langkah Lila yang menuruni anak tangga menuju lantai satu, segera keluarga kecil tersebut menyantap sarapannya pagi ini.
"Dave berangkat dulu." Pamit Dave kepada kedua orang tuanya.
"Hati-hati sayang, ini bekalmu." Ucap Lila dengan menggeser kotak bekal ke arah Dave.
Dave menatap datar ke arah kotak bekal yang ada di hadapannya, segera Dave mengambilnya dan berlalu dari ruang makan.
Terlihat Dave tengah mengendarai mobilnya, namun bukan menuju perusahaan Danuarta. Melainkan menuju kediaman Amanda.
Tin
Tin
Terdengar suara klakson mobil di depan gerbang keluarga Amanda.
"Kenapa sepi, apa Paman Nugroho sudah berangkat ke kantor?" Gumam Dave.
Dave akhirnya memutuskan keluar dari dalam mobil, dan berjalan ke arah gerbang.
Terlihat pos satpam yang kosong, Dave mencoba menekan bel yang tersedia di luar.
Cukup lama, hingga seorang wanita paruh baya keluar.
__ADS_1
Dia adalah Bi Asih yang sempat di temuinya kemarin.
"Ada keperluan apa Tuan?" Tanya Bi Asih sopan.
"Aku mau bertemu Paman Nugroho." Jawab Dave.
"Maaf, Tuan Nugroho sudah pergi sejak tadi pagi." Ucap Bi Asih.
"Baik, terima kasih Bi." Jawab Dave yang langsung masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan Bi Asih juga kembali masuk ke dalam mansion.
"Bagaimana Bi?" Tanya Ayah Nugroho kepada maidnya.
"Dia sudah pergi, Tuan." Jawab Bi Asih sopan dan langsung meneruskan pekerjaannya.
Ya, Ayah Nugroho melihat kedatangan Dave melalui CCTV yang terpasang di depan gerbang mansion Amanda.
"Kita lihat Dave, seberapa kuat kamu memperjuangkan anakku." Ucap Ayah Nugroho pelan.
Segera Ayah Nugroho melangkahkan kakinya menuju ruang kerja, rencana Ayah Nugroho hati ini hanya akan bersantai di rumah dengan mengerjakan pekerjaan yang mudah.
Untuk perusahaan, akan di handel oleh asisten kepercayaannya Surya.
"Maaf, Tuan. Anda tidak boleh masuk." Ucap petugas security kepada Dave.
"Apa maksudmu! Aku hanya ingin bertemu dengan bosmu bukan mencuri!" Seru Dave yang tidak terima dirinya di usir lagi.
"Maaf, ini perintah dari atasan kami. Silahkan pergi Tuan jangan membuat keributan di sini." Kata security yang masih sopan.
"Tidak!! Cepat panggilkan Paman Nugroho, atau aku benar-benar akan menghancurkan perusahaan ini." Jawab Dave dengan suara tenang namun penuh penekanan.
Deg
Jantung Dave serasa terpacu, tubuhnya menegang karena mendapatkan jawaban yang Dave tidak pernah pikirkan.
Maksud Dave hanya ingin menggertak saja bukan serius, tidak mungkin Dave membuat keluarga orang yang dia cintai menjadi bangkrut.
Sedangkan kedua security langsung menyingkir memberikan pria tersebut ruang untuk masuk kedalam perusahaan.
"Tuan, silahkan pergi. Jangan menghalangi para karyawan yang akan masuk bekerja. Kami bukan orang kaya seperti Anda yang dengan mudah membuat perusahaan bangkrut, jika Anda membuat perusahaan ini bangkrut coba pikirkan sekali lagi. Banyak orang bergantung di sini untuk sesuap nasi." Ucap security panjang lebar.
Dave hanya mengerjabkan kedua matanya saja, mulutnya kali ini membuat semuanya semakin rumit.
Tanpa menjawab ucapan security, Dave segera berlalu dan menaiki mobilnya menuju perusahaan Danuarta.
Sesampainy di perusahaan, Dave langsung masuk. Banyak karyawan yang menyingkir karena melihat aura Dave sedang tidak baik-baik saja hari ini.
Ting
Suara lift menandakan jika sudah sampai lantai tujuan, segera Dave keluar dengan wajah dingin dan datarnya.
Dengan kasar Dave membuka pintu ruangannya dan membanting kotak bekal yang ada di tangannya.
Terlihat nafas yang memburu, Dave mencoba untuk menekan amarahnya sejak tadi namun tidak bisa.
Arghhh!
__ADS_1
Dave berteriak dengan menyingkirkan semua yang ada di meja kerjanya.
"Tidak Rose, maafkan aku. Maafkan aku." Gumam Dave pelan.
Cukup lama Dave hanya duduk diam di lantai, bahkan hari ini sekertarisnya tidak berani mendekat.
Segera Dave mengeluarkan HP nya, jemarinya mencoba mencari sebuah kontak disana.
Tanpa berpikir panjang langsung saja Dave menghubungi nomor orang tersebut, meskipun Dave akan menerima makian atau justru di reject.
Beberapa kali Dave mencoba, namun panggilannya selalu ditolak, segera Dave keluar ruangan menuju meja sekertarisnya.
"Mana ponselmu." Ucap Dave dengan suara dingin.
"Po.. ponsel?" Beo sang sekertaris tergagap karena gugup.
"Cepat!! Mana ponselmu." Seru Dave yang tidak sabar.
Segera sang sekertaris menyerahkan ponsel mililnya kepada Dave.
Dave segera memasukkan nomor yang dia tuju, cukup lama untuk mengangkatnya hingga suara yang Dave rindukan terdengar.
"Halo."
Tidak ada jawaban dari Dave, Dave takut jika dia bersuara Rose akan mematikan sambungan telfonnya.
"Halo."
Dave masih diam. Hingga akhirnya telfon di matikan oleh Rose.
Dave tersenyum lebar dan berlalu dari meja seksetarisnya.
"Tu... Ann... ishhh. Ponselku." Ucap sekertaris dengan suara lirih dan memelas.
Sedangkan Dave yang sudah berada di dalam ruangan, segera duduk di sofa tidak memperdulikan kekacauan yang dibuatnya hari ini.
Dave menelfon nomor Rose lagi, bahkan rekaman di HP milik sekertarisnya Dave hidupkan.
Dave akan merekam sebanyak mungkin suara Rose yang cempreng itu untuk dirinya.
"Halo!! Kamu siapa, jangan iseng!" Seru Rose yang langsung marah di sebrang telfon.
Dave tertawa meskipun tanpa suara, terlihat senyum yang melengkung sempurna tercetak di bibirnya.
"Hey!! Apa kau tuli, kamu siapa!" Ucap Rose lagi.
Dave semakin tersenyum bahagia, rasa rindu dan penyesalan menjadi satu.
"Tuan, Nyonya, Adek, Kakak. Siapapun Anda, jangan menghubungiku. Kau mengganggu liburanku!" Ucap Rose panjang dan langsung mematikan telfonnya.
Kini rekaman suara Rose tersimpan di ponsel milik sekertarisnya, langsung saja Dave memutar kembali suara Rose yang dia dapatkan hari ini.
Dave yang tengah tersenyum bahagia berbanding terbalik dengan sang sekertaris. Bagaikan dua suasana yang cerah dan mendung.
"Apa selama ini Tuan Dave tahu jika aku terlalu banyak bermain ponsel daripada bekerja sehingga menyita ponsel milikku dengan berkedok meminjam?" Gumam sekertaris Dave yang merasa frustasi.
...πΎπΎ...
__ADS_1
SIAPA YANG SUKA TELFON MANTAN DENGAN NOMOR ASING DEMI MENDENGAR SUARANYA ππ