
Happy Reading 🌹🌹
Terlihat mobil mewah berhenti disebuah hotel, dengan cepat orang yang berada didalam mobil keluar.
Mobil yang mengantarkan majikannya segera berlalu dari depan hoten dan menuju basement untuk menunggu urusan majikannya selesai.
Tak berselang lama sebuah mobil mewah berhenti juga didepan hotel, namun terlihat tenang meski dalam pikirannya kalut.
Langlah kaki yang mengenakan hak tinggi tersebut melangkah dengan ponggah kedalam hotel, langkah kakinya membawa langsung didepan lift karena orang yang akan dia temui sudah memboking kamar hotel untuk mereka.
Ting
Bunyi denting lift menandakan jika kini orang tersebut sudah berada dilantai tujuannya seyelah menunggu beberapa menit didalam lift.
Eve merogoh tasnya untuk menelfon sang Ayah, mengatakan jika dirinya telah sampai didepan kamar.
Cklek
Pintu kamar hoter terbuka, Ketua Kim menyembulkan kepalanya keluar menoleh ke arah kanan dan kiri mencoba mengamati situasi takut-takut jika sedang di ikuti seseorang.
Segera pergelangan Eve ditarik masuk oleh Ketua Kim dengan kasar dan menutup pintu cukup keras.
Tanpa keduanya sadari seorang pria dengan mengenakan pakaian serba hitam telah mengamati keduanya sejak tadi, pria itu tidak terlihat karena selalu bersembunyi disebuah bayangan.
"Sakit Ayah." Ucap Eve dengan mengelus pergelangan tangannya.
"Kamu tidak di ikuti orang lainkan?" Tanya Ketua Kim tanpa menghiraukan rintihan Eve.
Eve menggeleng dan segera melenggang dari hadapan Ketua Kim untuk duduk di sofa.
"Eve, kenapa kamu tidak memberitahu Ayah soal pertunangan Daniel dan Minzy berubah tanggal." Geram Ketua Kim.
"Mana Eve tahu Ayah, Ayah sendiri kenapa tidak tahu? Padahal Minzy anak emas Ayah." Jawab Eve sengit.
"Jika Ayah tahu, tidak mungkin Ayah mengajakmu bertemu hari ini bodoh!" Sentak Ketua Kim kepada Eve.
Eve mencebik kesal dan bersedekap dada, "Lalu apa yang harus kita lakukan, Eve belum mendapatkan saham 10% itu." Ucap Eve dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Apa kamu yakin Kristal yang memegang saham itu?" Tanya Ketua Kim memastikan.
"Tentu saja Ayah, tidak mungkin Eve membual." Jawab Eve menatap sengit ke arah Ketua Kim.
"Apa kamu memiliki bukti? Jika begitu kita harus mencari suratnya terlebih dahulu sebelum menculik Kristal, agar Kristal tanda tangan dikertas tersebut." Ucap Ketua Kim panjang lebar dengan melangkahkan kaki kekanan dan kekiri.
"Eve sudah mendapatkannya." Jawab Eve dengan acuh.
Gerakan Ketua Kim terhenti dan segera berjalan mendudukkan dirinya disamping Eve.
"Apa benar, mana." Ucap Ketua Kim meminta bukti.
"Apanya?" Kata Eve dengan heran.
"Surat kuasanya, Ayah ingin melihatnya." Jawab Ketua Kim kesal.
Eve hanya ber-oh ria dan mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, jarinya lincah bergerak diatas ponsel miliknya dan segera mengirim sesuatu di ponsel sang Ayah.
"Sudah Eve kirim." Ucap Eve dengan kembali memasukkan ponselnya kedalam tas.
Tawa Ketua Kim terdengar ceria, "Pintar kamu Eve, ini baru anak Ayah." Ucap Ketua Kim dengam menepuk pundak Eve.
Eve hanya melirik sinis kearah Ketua Kim, "Ya benar, aku pintar karena semua akan menjadi milikku termasuk hartamu." Ucap Eve dalam hati.
Eve sudah merencanakan hingga matang jika dirinya sudah diangkat menjadi CEO, Eve akan muncul dan mengumumkan didepan publik jika dirinya adalah anak tertua dari keluarga Kim.
Perlahan mendepak Minzy dan kedua orang tuanya itu menjadi gelandangan dijalan. Bahkan Eve sudah menyiapkan drama jika sampai Ketua Kim menyebarkan fotonya yang membunuh Ayah Kristal beberapa puluh tahun silam ke depan publik.
Disebuah kamar, terlihat Stevani yang menerima laporan dari orang suruhannya.
"Kenapa Tuan Kim bertemu dengan Eve, apa benar mereka selingkuh." Ucap Stevani dalam hati.
Stevani selama ini tahu jika Eve sering bertemu dengan Ketua Kim, namun hanya diam. Karena percuma mengatakannya jika Stevan justru semakin membenci Kristal.
"Dasar wanita ular ini, lihat saja aku akan menangkap basah kalian suatu saat." Tekat Stevani dalam hati.
Stevani membalas orang suruhannya untuk terus mengikuti Eve dan Ketua Kim, mencari tambahan personil karena tidak mungkin shadow akan membelah diri seperti amoeba.
__ADS_1
Sedangkan Gabriel terlihat fokus menyetir mengantarkan Minzy untuk kembali ke mansion keluarga Kim.
Minzy juga diam dan larut dalam pikiran juga hatinya. Terlihat Minzy membuang pandangannya keluar.
"Kak." Panggil Minzy.
"Hem." Ucap Briel berdehem.
"Apa Daniel belum ada kabar?" Tanya Minzy dengan wajah sendu.
"Belum." Jawab Briel singkat.
Minzy mendesah kasar dan menatap Gabriel, sejenak Minzy hanya diam.
Menatap wajah Gabriel dari samping dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Jika Daniel tidak kembali, tidak masalah Kakak yang menggantikannya. Meskipun Minzy tahu jika Kakak menyukai Rose namu Minzy akan berusaha agar Kakak mencintai Minzy." Ucap Minzy panjang lebar.
Gabriel menoleh kearah Minzy dengan tatapan dingin dan wajah datarnya, dalam hati dan pikiran Gabriel tengah berkecamuk.
Apakah Gabriel akan menggantikan Daniel jika saudara kembarnya tidak datang ke Korea, bukankah tidak masalah jikapun dirinya yang menikah dengan Minzy toh keduanya tidak menjalin hubungan dengan siapapun.
Gabriel hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Minzy, pertanyaan yang mudah menjawabnya mungkin untuk sebagian besar orang tinggal menjawab iya atau tidak.
"Daniel pasti datang." Jawab Gabriel menenangkan gadis disampingnya.
Setetes air mata Minzy luruh membasahi kembali pipinya, "Benarkah? Jika kemungkinan terburuknya dia tidak datang bagaimana?" Tanya Minzy.
"Kita akan bertunangan." Jawab Gabriel setelah cukup lama memikirkannya.
...🐾🐾...
...VOTE DONG, AUTOR LEMES....
...VOTE VOTE, CRAZY UP BESOK KARENA AUTOR LIBUR KERJA...
__ADS_1