Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Bertemu Dave


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Eve akan menggantikan Kakek Kristoff, Ayah." Ucap Eve dengan meminum teh hangatnya.


Ketua Kim tertawa remeh, "Tidak mungkin Eve, kamu hanya menantunya. Lagipula Kristoff masih memiliki Stevani dan Daniel." Jawab Ketua Kim dengan menyandarkan punggungnya.


Eve hanya tersenyum miring, "Apa Ayah iri?" Tanya Eve.


"Untuk apa iri denganmu Eve, kamu ingat pemegang saham terbesar kedua adalah aku. Jika memang benar kamu akan diangkat menjadi CEO, usulanku sangat berimbas dengan perusahaan." Jawab Ketua Kim mengingatkan kedudukannya.


"Benar, tapi--- Apa Ayah lupa, jika Kristal memiliki saham 10% dan Eve akan mendapatkannya." Ucap Eve dengan menaikkan kedua alisnya.


Ketua Kim menegakkan duduknya, terlihat tangannya bertumpu diatas meja dan sedikit mencondongkan tubuhnya.


"Apa kamu mengancamku? Kamu harus ingat, meskipun kamu memiliki saham 10% itu. Tapi kamu harus waspada, karena sewaktu-waktu kamu bisa masuk kedalam penjara." Ucap Ketua Kim yang di akhiri dengan tawanya pelan.


Eve mencengkram pegangan cangkir tehnya, namun Eve menunjukkan wajah yang baik-baik saja.


"Tentu silahkan, aku tidak akan mati sendirian." Jawab Eve tersenyum tipis.


Ketua Kim hanya berdecih mendengar jawaban dari Eve, namun dalam hatinya sangat jengkel bahkan otak liciknya merencanakan sesuatu.


"Pertunangan Minzy dan Daniel akan tetap dilaksanakan, bagaimanapun aku sebagai Ayah tidak dapat menolak permintaan Minzy." Ucap Ketua Kim dengan tenang.


Hati Eve semakin terbakar, begitu cintanya kah sang Ayah kepada Minzy dan Istrinya itu. Tentu saja Eve kenapa kamu bodoh sekali sejak dulu yang selalu diutamakan adalah Minzy.


Eve hanya dapat menahan perasaan cemburunya sebagai anak kepada Minzy dalam hati, Minzy tidak ada salah kepada Eve jangankan berbuat salah bertemu sebagai anak Ketua Kim saja tidak pernah. Hanya Eve ingin Minzy merasakan apa yang selama ini Eve rasakan, selalu dinomor terakhir bagi sang Ayah.


Eve ingin Minzy sekali saja merasakan sakit hati karena tidak dapat bersama Daniel anak tirinya. Ya benar, Eve harus membuat malu keluarga Kim didepan para tamu undangan tidak akan Eve biarkan Minzy selalu mendapatkan apa yang gadis itu inginkan.


"Kita sudahi pembicaraan ini, Ayah ingin segera kamu mendapatkan saham 10% itu. Ayah tidak ingin rencana yang sudah kita susun menjadi kacau." Ucap Ketua Kim tegas.


"Tapi ada Kak Stevani sekarang, dia pasti akan selalu memperhatikanku dan Kristal." Ucap Eve khawatir.


"Tenang saja, Stevani akan menjadi urusan Ayah. Terpenting kamu dapat menculik Kristal terlebih dahulu." Jawab Ketua Kim tenang.


"Baik Ayah." Jawab Eve.


Ketua Kim berjalan meninggalkan meja hingga menyisakan Eve seorang diri, Eve menatap punggung pria tua itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sedangkan di bandara Incheon terlihat seorang pria mendorong troli berisi koper tengah berjalan dengan wanita yang anggun dan cantik.


Keduanya berjalan bersama dengan mengenakan pakaian santai dan kacamata hitam yang bertengger indah menghiasi wajah mereka.

__ADS_1


Mereka datang atas undangan Agung dan Daniel karena keluarga Krostoff sebentar lagi akan mengadakan acara pertunangan salah satu cucunya.


"Sayang, apa kamu haus?" Tanya Prilly.


"Sedikit." Jawab Dave singkat.


"Ayo kita ke cofe shop sebentar sebelum pergi kehotel." Ajak Prilly kepada Dave.


Prilly Bachtiar adalah seorang psikiater yang tidak sengaja bertemu dengan Dave karena sebuah insiden, sejak saat itu Dave selalu datang menemui Prilly untuk melakukan pengobatan tanpa pengetahuan siapapun.


Hingga akhirnya Dave meminta tolong kepada Prilly untuk menjadi kekasih palsunya, namun siapa sangka setelah Prilly berbincang dengan Rose secara empat mata membuat wanita umyang gila kerja itu mencoba membuka hati untuk Dave.


Perasaan Prilly disambut baik oleh Dave, meskipun Dave jujur jika belum bisa melukapan Rose sepenuhnya. Namun Prilly tidak masalah sebagai psikiater Prilly dapat melihat jika Dave benar-benar berusaha untuk menjalani hubungan serius dengannya.


Kini Prilly dan Dave tengah duduk diaalah satu meha coffe shop yang berada didalam bandara.


"Apa kamu tidak menghubungi, Rose?" Tanya Prilly.


"Tidak, untuk apa?" Tanya Dave kembali.


"Hanya bertanya sayang." Jawab Prilly dengan mencolek dagu Dave.


Dave mencebik kesal karena sikap Prilly yang sebelas duabelas dengan Rose, sikap ceroboh dan bar-barnya itu.


Bahkan Dave sampai tidak bisa berfikir, kenapa wanita itu dapat bekerja sebagai dokter dengan sikap yang seperti itu.


"Berarti kita akan di Korea sampai acara pertunangan itu digelar?" Tanya Prilly dengan menghembuskan nafasnya kasar.


"Kenapa?" Tanya Dave.


"Pasti sangat membosankan, waktunya padahal masih dua minggu lebih bukan." Jawab Prilly memajukan bibirnya.


Dave hanya tersenyum simpul, "Tidak akan membosankan, aku yakin jika memberitahukanmu kamu akan menjadi semangat." Ucap Dave dengan memeriksa pekerjaannya melalui email.


"Apa kamu akan melamarku?" Tanya Prilly dengan mata berbinar.


Dave menoyor kepala Prilly karena pikiran wanita itu terlalu jauh.


Prilly mencebik kesal, "Lalu apa!" Tanya Prilly dengan suara nge-gas. (Apa ya bahasa Indonesianya, hari ini autor Jawanya baru medok banget 😂)


"Jika sudah sampai hotel nanti aku beritahu." Ucap Dave dengan memasukkan tabletnya kedalam tas.


Prilly hanya memutar bolanya malas dan memakai kembali kacamata hitamnya bersamaan dengan Dave yang sudah berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Keduanya kembali berjalan menuju pintu keluar bandara untuk mencari taxi.


Karena Gabriel yang berada di mansion Kristoff membuat Daniel menyuruh Dave dan Prilly menaiki taxi.


Sopir taxi segera memasukkan koper milik Dave dan Prilly didalam bagasi, sedangan Prilly masuk terlebih dahulu baru disusul Dave.


Mobil taxi perlahan bergerak meninggalkan bandara untuk menuju tempat tujuan.


Dave membuang pandangannya keluar jendelan menatap gedung, jalanan, dan masyarakat lokal disana.


Pikirannya melayang kepada seseorang yang sudah dia lepaskan untuk mengejar cintanya.


"Apakah kamu sangat bahagia bisa dekat dengannya." Gumam Dave dalam hati.


Prilly yang melihat Dave menggenggam tangan Dave dengan pelan seakan tahu perasaan sang kekasih yang kembali merindukan Rose.


Dave menoleh karena merasakan tangannya digenggam, terlihat tangan seputih susu itu menggenggam tangan Dave dengan lembut.


Seulas senyum Dave terbit dan melihat kearah gadis yang membuang pandangannya keluar jendela taxi. Dave membalas genggaman itu dengan menggerakkan ibu jarinya mengatakan jika dia baik-baik saja.


Prilly tersenyum namun juga berdoa didalam hati, jika keputusannya tidak salah.


Tidak lama taxi berhenti dmtepat didepan hotel yang sangat mewah, segera seorang petugas hotel datang dan membantu sopir taxi mengeluarkan koper dari bagasi.


Dave segera membayar dengan uang tunai yang sebelumnya sudah disiapkan oleh asistennya.


Dave dan Prilly segera masuk bersama dengan tangan saling bergandengan, keduanya berjalan dibelakang petugas hotel yang akan mengantarkan keduanya dikamar yang sebelumnya sudah direservasi oleh Agung dan Daniel.


Di sisi lain Gabriel menyincingkan matanya melihat pria yang sangat dia kenali masuk kedalam lift bersama seorang wanita.


Namun wanita itu bukan tunangannya melainkan wanita asing yang sebelumnya belum pernah Gabriel lihat.


"Tuan." Ucap Robby membuyarkan lamunan Gabriel.


"Eh, Ayo." Ajak Gabriel yang langsung tersadar.


Gabriel masuk kedalam lift yang berada dilorong lainnya, karena Gabriel akan menemui petinggi hotel untuk acara pertuangannya besok.


Selama didalam lift terlihat Gabriel terlihat tengah berfikir dalam diam, dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku.


Sedangkan Robby yang melihat merasa bingung, karen Briel menjadi lebih pendiam dan wajahnya sulit ditebak.


"Ah, tidak mungkin itu Dave untuk apa dia datang ke Korea." Gumam Gabriel.

__ADS_1


"Ck, tentu saja untuk menemui Rose bodoh! Tapi kenapa dengan wanita lain, apa mataku salah lihat. Ck apa peduliku jika Dave berselingkuh toh itu pilihan Rose sendiri." Gabriel terus berbicara didalam hatinya sendiri.


Robby merapatkan tubuhnya hingga punggung membentur dinding lift, karena melihat Gabriel yang menggelengkan kepalanya sendiri bahkan terkadang mendesis kesal.


__ADS_2