Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Nasi Goreng


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Tabletku." Ucap Briel yang melihat sekeliling dalam mobilnya.


Briel ingat jika tadi tabletnya di ambil oleh Rose dan ditaruh di salah satu kursi restoran.


Briel kembali keluar, terlihat Dave menarik Rose secara paksa.


Segera Gabriel kembali masuk kedalam mobil dan mengikuti mobil Dave dengan jarak yang agak jauh.


"Mau kemana curut itu." Ucap Briel dengan perasaan marah.


Meskipun semalam Briel di tolak olah Rose, Briel tidak rela jika sampai Rose kembali lagi kepelukan Dave. Tidak akan, Briel biarkan.


Hingga ponsel Briel berdering langsung saja Briel mengangkatnya, baru akan menjawab terdengar suara gaduh sebelum panggilan terputus.


"Breng*sek!!" Seru Gabriel yang melihat tangan Dave keluar membuang ponsel Rose ke selokan.


Mobil Gabriel masih berhenti dijarak yang cukup jauh, terlihat Rose keluar dengan membanting pintu mobil Dave dan disusul oleh Dave.


Gabriel menatap datar dan dingin kearah keduanya yang tengah menyelesaikan sesuatu di antara mereka.


Hingga Dave bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh kecil Rose. Jantung Gabriel berdetak dengan cepat namun terasa sangat perih dan sakit.


"Ternyata kamu lebih memilih kembali bersamanya, dibanding bersamaku." Ucap Briel dengan tersenyum getir di dalam mobil.


Briel menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan kembali dengan melewati keduanya yang tengah larut dalam kebahagiaan itu.


...🐾🐾...


Sang Surya masih enggan untuk menunjukkan dirinya kepada penghuni bumi.


Tetapi berbeda dengan pria yang sudah berkutat di dapur, terlihat tubuh kekar yang hanya mengenakan kaos rumah memakai apron dengan motif bunga-bunga.


"Tuan, biar kami saja yang memasak." Ucap maid panik.


"Jangan mendekat, kalian disana saja ajari aku." Ucap Dave dengan tegas.


"Tapi Tuan." Ucap maid khawatir.


"Ssttt..! Cepat ajari aku, apa yang harus aku lakukan untuk memasak nasi goreng." Tanya Dave yang membuat maid terdiam.


Dave yang tidak mendapatkan jawaban, menatap tajam kearah para maid di sana.


"Tuan, iris bawang merah 5 siung dengan tipis." Ucap maid yang paling dituakan di sana.


"Yang mana bawang merah?" Tanya Dave terlihat celingak celinguk.


"Itu tuan, yg berwarna merah keunguan." Tunjuk maid tepat terarah di bawang merah.


Dave mengambil dan mencoba mengupas kulit ari bawang merah dengan pisau, perlahan namun pasti.


Para maid yang melihatnya merasa geregetan ingin mengambil dan mengupaskannya agar sang majikan cepat pergi dari dapur.


"Saya bersihkan dulu, Tuan." Ucap maid.

__ADS_1


"Berhenti, biarkan semua aku yang kerjakan. Kalian cukup diam dan awasi aku." Jawab Dave tanpa melihat ke arah maid karena sibuk mengupas.


Lima siung bawang merah dikupas Dave hampir dua puluh menit.


"Ini di iris ketebalannya berapa cm?" Tanya Dave dengan menunjukkan bawang merahnya.


Para maid yang mendengarkannya hanya saling melihat karena tidak tahu juga berapa ketebalannya.


"Em, pokoknya tipis aja Tuan." Jawab maid asal.


Dave mengangguk dan dengan segera mengiris bawang merah setipis mungkin, cukup lama Dave mengiris hingga Dave membanting pisaunya.


"Kenapa mataku jadi pedih sekali." Seru Dave yang ingin mencoba mengucek kedua matanya.


"Jangan Tuan!" Seru maid secara bersamaan.


"Sudah Tuan, biar kami saja yang teruskan." Ucap maid lagi.


"Tidak, aku akan memasaknya hingga matang." Tolak Dave lagi.


Dave kembali melanjutkan meskipun bercucuran air mata.


Dave mengikuti intruksi para maid yang tengah menunggunya di dapur, bahkan Dave harus mengulangi beberapa kali karena hasilnya selalu gosong.


Hingga waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, Dave masih belum selesai memasak.


"Loh, kenapa belum ada sarapan?" Tanya Rudi kepada maid yang melewati ruang makan.


"Maaf Tuan, Tuan Dave sejak subuh memasak di dapur." Jawab maid jujur.


Rudi segera melangkahkan kakinya ke arah dapur, terlihat istrinya tengah asik menonton aksi Dave di dapur dengan sesekali tertawa meskipun tidak mengeluarkan suara.


"Mah." Panggil Rudi yang berbisik di telinga Lila.


"Astaga! Ayah, bikin Mama jantungan ya." Ucap Lila dengan sedikit keras karena kaget.


"Ngapain Mama disini, cepat bantu Dave. Ayah sudah lapar." Kata Rudi kepada istrinya.


"Tahan dulu Yah, setelah ini Mama masakkan. Dave mungkin sebentar lagi selesai." Ucap Lila kepada Rudi.


"Sebentar lagi? tapi ini sudah pukul setengah sembilan Mah." Jawab Rudi protes.


"Lihat itu, Dave tidak akan berhenti sebelum semuanya habis." Ucap Lila menunjuk ke arah tempat sampah.


Mata Rudi hanya dapat membulat, melihat tumpukan nasi gosong bukan lebih tepatnya menjadi arang yang sudah ada di tempat sampah.


Hingga atensi keduanya teralihkan karena teriakan Dave.


"Selesai!!!" Seru Dave dengan tersenyum lebar.


Segera Dave mengambil kotak makan pink yang sebelumnya sudah di siapkan oleh maid, terlihat Dave dengan telaten memindahkan nasi goreng yang sudah dia masak.


Lila bertepuk tangan dengan riang, "Akhirnya, setelah menghabiskan dua kilo beras kamu berhasil Dave." Ucap Lila dengan gelak tawanya.


Dave hanya menggaruk kepalanya karena malu.

__ADS_1


"Dave, kamu pintar memasak pasta. Tetapi kenapa tidak bisa memasak nasi goreng?" Tanya Rudi dengan wajah yang heran.


"Tentu berbeda Yah, selama ini Dave hanya memasak pasta dan roti bakar saja selama di luar negeri. Saos yang di gunakan dalam pasta juga instan tinggal beli di swalayan tidak perlu di tambahkan apapun sudah enak." Jelas Dave kepadang Ayahnya.


"Yasudah, Dave mau mandi dan berangkat kerja dulu."


Segera Dave berlari menuju kamarnya dengan wajah yang terlihat berbinar bahagia, Dave sudah membayangkan sesuatu yang membahagiakan dirinya hari ini.


Sedangkan Rudi menatap heran kearah Dave, "Kenapa dengan anakmu itu?" Tanya Rudi yang masih menatap punggung Dave.


"Itu juga anakmu, kita membuatnya bersama."Sungut Lila kepada Agung.


Rudi hanya tersenyum dan memeluk tubuh istrinya dengan sayang.


" Kenapa dengan anak kita Mah, apakah memenangkan tender dengan Sky?" Tanya Rudi kepada Lila.


"Lebih dari tender Ayah, mungkin sebentar lagi kita akan memiliki menantu." Jawab Lila dengan tersenyum bahagia.


Rudu menaikkan sebelah alisnya, "Benarkah, siapa? Apakah Dave setuju dijodohkan dengan anak rekan bisnis kita." Ucap Rudi penasaran.


Lila menggelenglan kepalanya pelan, "Tidak, Dave pasti sudah kembali bersama Rose." Jawab Lila pelan.


Rudi melepaskan pelukannya dan menatap sang istri dengan pandangan yang menuntut penjelasan.


"Nanti, Mama jelaskan. Sekarang ayo kita sarapan dulu dengan roti." Ucap Lila dengan tersenyum.


Lila berjalan menuju meja makan dan menyiapkan sarapan untuk dirinya juga sang suami.


Terdengar siulan dari lantai dua, Dave berjalan dengan perasaan berbunga-bunga bahkan hari ini menggunakan jas yang full colour.


"Kau ingin ke kantor dengan jas pink, Dave?" Tanya Rudi kepada anaknya.


Dave merentangkan tangannya dengan melihat apakah ada yang salah dengan penampilannya.


"Apa tidak cocok, Ayah?" Tanya Dave pelan.


"Cocok sih, tapi... kamu kekantor Dave. Bukan kencan." Ucap Rudi dengan nada yang sedikit menjeda.


"Sangat cocok sayang, sudah kamu ingin sarapan dirumah atau dikantor?" Tanya Lila pelan.


"Kantor saja, Mah. Dave ingin cepat menyelesaikan pekerjaan hari ini." Jawab Dave dengan menyunggingkan senyumnya.


Dave segera berpamitan kepada Lila dan Rudi, tidak lupa bekan makan siang yang sudah dimasak dengan penuh perjuangan di tangan kanannya.


Rudi dan Lila masih menatap kepergian Dave hingga hilang di balik pintu.


"Ayah merasa seram melihat Dave." Ucap Rudi pelan.


...🐾🐾...


...SIAPA YANG BISA MASAK OSENG TAPI GAK BISA MASAK BERKUAH πŸ˜‚πŸ˜‚...


...AUTOR CONTOHNYA 🀣...


__ADS_1


__ADS_2