
Happy Reading πΉπΉ
Perlahan laju mobil Gabriel melambat, terlihat Gabriel memarkirkan mobilnya di area parkir pantai yang terdekat dengan kota.
Mesin mobil dimatikan dan menoleh kearah Rose, terlihat gadis yang membuatnya hilang akal terlelap dalam mimpi indahnya.
Terdengar helaan nafas kasar dari Gabriel, dengan pelan Gabriel menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik gadis pendeknya.
Sejenak Gabriel memandangi wajah tenang Rose yang tidur seperti bayi, bahkan terdengar sesekali bibirnya mengecap dan maju.
Entah apa yang sedang dimimpikan gadis itu, apakah Rose bermimpi sedang makan atau sesuatu hal yang sama dengan pikiran Gabriel.
Perlahan tubuh Gabriel mendekat membuat jarak keduanya hanya beberapa centi lagi, hingga kedua benda kenyal itu saling bertemu.
Gabriel diam namun berjalannya waktu bibir Gabriel mulai terbuka dan ******* bibir tipis Rose dan semakin memperdalamnya hingga Rose yang merasa sesuatu yang aneh segera membuka kedua matanya.
Terlihat sisi wajah Gabriel dan merasakan sapuan lidah yang basah di bibirnya. Rose kembali memejamkan kedua matanya dan memberikan akses agar kedua lidah saling beradu.
Gabriel sejenak tertegun karena Rose merespon ciumannya, hingga terdengar suara decapan dari bibir yang tengah beradu didalam mobil tersebut.
Hingga bunyi dering ponsel Rose yang berulang kali membuyarkan semuanya.
Kring
Kring
Rose langsung mendorong tubuh Gabriel hingga pautan bibir keduanya terlepas, terlihat nafas Rose dan Gabriel saling memburu seolah berebutan pasok oksigen.
Rose segera membuka seat belt serta pintu mobil, di usapnya bibir Rose yang basah mengkilap tersebut dengan telapak tangannya.
Merogoh tas yang dia kalungkan sejak masuk kedalam restoran bersama seniornya, terlihat nama Jin tertera dilayar ponsel Rose.
Sedangkan Gabriel yang masih didalam mobil berdecak kesal, segera Gabriel membuka pintu mobil dan menyusul Rose yang sedang mengangkat telfon.
π€ Hallo, Kak
π£οΈ Apakah kamu sudah sampai di apartemen?
π€ Ah, I---iya kak. Maaf Rose meninggalkan Kakak sendiri di sana.
π£οΈ Tidak apa-apa, tadi aku terkurung didalam kamar mandi.
π€ Apa!
π£οΈ Besok bagaimana jika kita menonton film?
π€ Menonton?
Gabriel segera merebut ponsel Rose secara oaksa disaat gadis itu tengah mengobrol dengan Jin atau setan atau entahlah.
Memberikan waktu tiga menit sudah cukup untuk pria itu mendengar suara kekasihnya.
Kekasih? benarkan mereka sudah berciuman baru saja. Begitu pikir Gabriel.
__ADS_1
π£οΈ Jauhi kekasihku dan urungkan niatanmu untuk menyatakan cinta kepadanya!
π€ Ini siapa? Dimana Rose!
π£οΈ Aku kekasihnya, ah bukan. Tapi calon suaminya jadi tidak perlu menghawatirkan gadisku.
Rose yang mendengarkan ucapan Gabriel dengan sesuka hatinya mendelik kesal, bagaimana bisa pria yang sudah bertunangan itu mengaku-ngaku calon suaminya membuat Rose semakin menjomblo lama saja.
Gabriel langsung mematikan panggilan tersebut tanpa terganggu dengan pandangan tajam Rose.
Segera Gabriel membuka penutup ponsel bagian belakang Rose dan mengambil sim card.
Kedua mata Rose membeliak kaget, "Apa yang Kakak lakukan!" Seru Rose yang mencoba merebut ponselnya.
Namun naas, Gabriel langsung menaikkan setinggi mungkin kedua tangannya hingga sim card tersebut berhasil di lepas.
Gabriel menyerahkan ponsel yang sudah terlepas dari tutup belakangnya ketangan Rose dan mematahkan sim card menjadi beberapa bagian.
"Dasar gila! Apa yang sedang kamu lakukan sebenarnya hah!" Seru Rose yang mengumpat Gabriel.
Terlihat benda pipih yang sudah berbentuk serpihan kasar jatuh di atas pasir pantai yang tersapu oleh angin hingga di area parkiran.
"Ya aku gila! Gila karena memikirkanmu, apa kau puas!" Seru Gabriel dengan menatap lekat kedua mata abu yang ada di depannya.
Setetes air mata turun dari mata indah dan bening Rose, apakah telinganya salah dengar.
Apa? Gila karena dirinya. Bulshitt!
"Apa konyol? Kamu yang konyol, kamu datang jauh-jauh kenegara ini untukku tapi kenapa kamu berjalan dengan pria lain!" Jawab Gabriel dengan menatap tajam.
Rose bahkan hampir tertawa mendengar ucapan Gabriel.
"Itu dulu tapi tidak untuk sekarang dan seterusnya." Jawab Rose dengan wajah dingin.
"Katakan kenapa kamu tidak datang menemuiku setelah acara pertunangan itu?" Tanya Gabriel dengan rasa penasaran.
"Apa Kakak berharap ucapan selamat dariku? Ah, maafkan aku karena tidak sempat mengucapkan selamat kepada kalian. Pasti Kakak tahu jika Rose tengah sibuk mempersiapkan pernikahan dengan Kak Dave." Jawab Rose panjang lebar dengan suara dingin.
Gabriel menggigit pipi dalamnya gemas, bagaimana bisa gadis yang ada didepannya berbohong seperti itu. Bahkan dari pembicaraan sebelumnya tidak singkron dengan jawabannya saat ini.
Bahkan melihat bibirnya yang berbicara cepat membuat Gabriel ingin menyumpal bibir itu dengan bibirnya agar diam.
"Benarkah? Kapan kalian menikah?" Tanya Gabriel dengan tenang.
"Satu bulan lagi, ya satu bulan lagi." Jawab Rose sedikit terbata karena merasakan aura dingin dari Gabriel.
"Aaa... benarkah. Dimana kalian akan menikah?" Tanya Gabriel dengan berjalan mendekat ke arah Rose.
"Di---di hotel." Jawab Rose beefikir cepat dan. berjalan mundur.
"Tapi, sayangnya kalian tidak akan menikah." Ucap Gabriel yang sudah menarik Rose hingga bersandar dikap mobil.
"Ap---apa yang Kakak maksud." Tanya Rose yang sudah melunak bahasanya.
__ADS_1
Gabriel mengungkung tubuh kecil itu dibawahnya dan mencondongkan kepalanya hingga bibir Gabriel tepat di samping Rose.
"Karena ... aku yang akan menikahimu." Bisik Gabriel ditelinga Rose.
Buk!
"Dasar pria buaya! Sudah bertunangan tapi ingin mengajak wanita lain menikah? Ck dasar, bahkan jika hanya ada satu pria didunia ini Rose lebih baik jomblo sampai mati." Ucap Rose menggebu setelah menendang tulang kering Gabriel.
Gabriel mendesis menahan sakit karena tendangan Rose yang keras dan juga kesal karena mendengar jawaban dari Rose.
"Tentu, karena pria lain tidak akan mendapatkanmu. Hanya aku yang akan menjadi suamimu." Jawab Gabriel tanpa beban.
Rose hanya menghela nafas, sepertinya berbicara dengan Gabriel hanya membuang tenaganya saja jika saling beradu argumen.
Rose duduk dikap mobil hingga rok span yang selutut menjadi naik menampakkan paha mulusnya.
Gabriel berjalan terpincang kearah Rose dengan melepaskan jasnya, "Jika aku melihatmu berpakaian seperti ini lagi, saat itu juga aku akan menyeretmu pulang." Ucap Briel tegas dengan menyampirkan jas ke tubuh kecil Rose.
"Kenapa Kakak seperti ini?" Tanya Rose halus.
"Memang kenapa." Jawab Gabriel.
"Kakak seharusnya bersama Minzy sekarang, duduk berdua membicarakan pernikahan dan masa depan kalian." Jelas Rose dengan pandangan memindai wajah Gabriel.
Gabriel menatap kedua mata Rose dengan intens, "Baiklah jika maumu begitu, kapan kita akan menikah dan ingin punya berapa anak?" Tanya Gabriel dengan wajah serius.
"Bukan denganku, seharusnya Kakak merencanakannya dengan Minzy." Omel Rose dengan merengut.
"Kenapa harus Minzy." Ucap Briel yang kini memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Roae yang memalingkan muka.
"Karena dia tunangan Kakak." Jawab Rose lirih bahkan hampir tidak terdengar akibat suara ombak yang lebih mendominasi.
"Bukan." Jawab Briel singkat.
Rose menoleh ke arah Gabriel, "Apa?" Tanya Rose memastikan.
"Bukan aku yang bertunangan." Jelas Gabriel.
"Lalu? Apakah---."
"Daniel." Jawab Briel cepat.
Rose masih menatap lekat kedua mata Gabriel seakan mencari kebenaran didalam mata hitam itu.
"Kenapa?" Tanya Rose pelan.
"Karena, aku mencintaimu." Ucap Gabriel pelan bahkan hanya angin yang dapat mendengarnya.
...πΎπΎ...
__ADS_1