
Happy Reading πΉπΉ
Teedengar deburan obak yang terpecah karena terkena batu karang, hembusan angin laut yang membelai lembut tubuh para penghuni daratan.
"Kenapa?" Tanya Rose halus.
"Karena, aku mencintaimu." Jawab Gabriel lirih dan terbawa hembusan angin laut.
Rose menatao kedua bola mata Gabriel intens dengan berkedio lucu seperti boneka hidup.
Gabriel yang melihat wanah Rose bingung sungguh gemas.
Ditangkupnya wajah gadis itu dan menyatukan kening hingga ujung hidung mereka saling bertemu.
"Aku mencintaimu Rose, sangat mencintaimu." Ucap Gabriel lagi dengan memandang lekat kedua bola mata tersebut.
Pandangan Gabriel turun berhenti di bibir tipis tersebut, dan mengecup dengan singkat.
"Kenapa diam, hem?" Tanya Gabriel mengelus pipi Rose dengan ibu jarinya.
"Cinta? Kakak mencintai Rose?" Ulang Rose dengan masih setengah sadar.
"Ya." Jawab Gabriel singkat dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
Rose mengulurkan punggung tangannya hingga terkena dahi Gabriel dan kemudia dipindahkan kedahinya.
"Tidak panas." Gumam Rose lirih.
Briel yang sangat kesal menyentil dahi Rose hingga gadis tersebut mengaduh kesakitan.
Dengan mengerutukan bibirnya, Rose menggosok dahi yang terasa panas.
"Ishh."
"Kau pintar sekali merusak suasana." Ucap Gabriel.
"Maaf." Cicit Rose dengan menundukkan kepala.
"Jadi bagaimana sekarang." Ucap Briel dengan berdehem.
"Apanya?" Tanya Rose iseng.
Gabriel mencebik dan berjalan kepinggir pagar dengan bersedekap dada, membuang pandangannya ke arah lautan yang hanya diterangi beberapa lampu.
"Rose juga cinta dengan Kakak, mulai sekarang Kakak jangan menghilang dari pandangan Rose. Tetaplah disisi Rose apapun keadaannya." Ucap Rose yang memeluk tubuh kekar Gabriel dari belakang.
Gabriel memegang dadanya, perasaan haru menyeruak dalam harinya. Bahkan sudah berdebar bagaikan genderang perang.
__ADS_1
Briel langsung membalikkan tubuhnya hingga pelukan Rose mengendur.
"Tentu." Jawab Gabriel dengan tersenyum tipis.
Rose memandang Gabriel dengan mata yang berkaca-kaca, perasaannya sungguh bahagia karena dapat bersama cintanya.
"Kenapa menangis, jangan menangis lagi." Ucap Gabriel dengan menyeka air mata Rose.
"Ak---aku bahagia." Jawab Rose dengan suara tercekat.
"Aku juga bahagia." Kata Gabriel dengan memeluk tubuh kecil sang kekasih.
Ya, hari ini keduanya sudah resmi menjadi sepasang kekasih meskipun harus melewati kesalahpahaman yang menguji keduanya.
Briel memeluk erat dan mengecup ujung kepala Rose bertubu-tubi, hingga suara perut membuyarkan semuanya.
"Kakak lapar?" Tanya Rose tertawa pelan.
"Karena kamu membuatku melewati makan malam." Jawab Briel yang berubah kesal jika mengingatnya.
"Kakak membuntuti Rose sejak tadi?" Tanya Rose lagi.
"Untuk apa membuntutimu, Kakak hanya kebelutan lewat saja dan ingin makan disana tidak sengaja melihatmu." Jawab Gabriel mengelak.
"Bohong! Lalu kelana Kak Jin bisa terkunci di dalam kamar mandi? Kakak lebih baik jujur saja deh, pasti mengikuti Rose kan." Goda Rose dengan berjinjin-jinjit mencoba menatap wajah Gabriel yang selalu menghindar.
Rose terkikik geli dangan senang hati Rose menggenggam tangan Gabriel dan berjalan kearah pantai menuju stand makanan.
Rose berhenti dan melepas sepatu high hilsnya agar tidak kesusahan berjalan di atas pasir.
Gabriel langsung mengambil sepatu dari tangan Rose dan membawakannya, Rose tersenyum senang karena perhatian kecil dari kekasihnya.
Kepala Rose terlihat mencari stand yang masih menjual makanan, "Sudah tutup semua." Ucap Rose.
"Ayo kita kembali saja jika begitu." Ajak Gabriel.
"Tapi semakin malam, jika sampai di kota apa masih ada restoran yang buka?" Tanya Rose dengan raut khawatir.
"Jika tidak ada yang buka tidak apa-apa, nanti makan dirumah saja. Mama menanyakanmu dan menyuruhku untuk mengajakmu datang kerumah." Jawab Gabriel panjang.
Sepertinya Gabriel akan lebih banyak berbicara dengan Rose, entah kenapa Briel lebih senang Rose diam daripada banyak berbicara.
Karena setiap pergerakan bibir Rose membuat sesuatu dalam diri Gabriel bergejolak, terlihat sangat sexy dimatanya.
"Benarkah Kak, Rose sangat merindukan Tante Kristal." Ucap Rose dengan mata berbinar.
Gabriel menganggukkan kepalanya dan berjalan kembali menuju parkiran untuk kembali pulang.
__ADS_1
"Jangan panggil aku Kakak, aku tidak ingin disamakan dengan yang lainnya." Ucap Gabriel tanpa ekspresi.
Rose menolehkan kepalanya dan sedikit mendongak sambil berjalan Rose menjawab "Lalu panggil apa? Sayang , kekasih, Honey, Sweety."
"Terserah yang penting jangan Kakak." Ucap Briel.
"Baiklah jika begitu Kakak Sayang saja." Jawab Rose dengan tersenyum.
"Kakak Sayang?" Beo Briel.
"Hemm, iya." Jawab Rose dengan tersenyum lebar.
"Sayang saja kenapa masih memakai Kakak." Putus Gabriel.
"Memang Kakak yang paling Rose sayang." Jawab Rose.
Gabriel hanya diam dan terus berjalan beriringan.
"Baiklah sayangku." Ucap Rose dengan memeluk lengan Gabriel gemas.
Gabriel masih tetap diam namun bibirnya tersenyum lebar bahkan terlihat sembusat merah dikedua pipinya.
Disisi lain, mansion Kristoff terlihat Eve tengah mengamuk dihadapan Stevan.
"Kemana saja kamu selama ini Stevan!" Seru Eve dengan mata menatap tajam.
"Apa pedulimu." Jawab Stevan acuh.
"Stevan! Jujur padaku kemana kamu tinggal selama ini, kenapa semua orang tidak tinggal lagi dimansion." Seru Eve yang tidak terima mendapatkan respon seperti itu.
"Sudahlah Eve, kamu diam saja selama menjadi istriku. Karena sebentar lagi aku akan menceraikanmu." Jawab Stevan dengan menuding kearah wajah Eve.
Eve melototokan kedua matanya, "Tidak semudah itu Stevan, sampai matipun kamu tidak akan bisa menceraikanku." Ucap Eve berani.
Stevan hanya tersenyum sinis memandang ke arah Eve, "Ya... Ya terserah kamu saja, lakukan sesuka hatimu selama kamu masih tinggal disini." Kata Stevan dan berlalu dari hadapan Eve.
Eve mengepalkan kedua tangannya, menatap tajam punggung pria yang sudah menemaninya puluhan tahun tersebut.
Eve langsung berbalik menuju kamar yang selama ini ditempatinya dengan Stevan, dengan cepat Eve mengambil ponsel diatas nakas dan mencari nomor seseorang.
π€ Segera laksanakan rencana.
π£οΈ Baik, nyonya.
Eve menutup panggilan dengan bersedap dada, dan terbitlah senyum yang menyembunyikan sejuta rencana.
"Hah, Stevan dan Kristal. Kalian akan hancur ditanganku." Ucap Eve pelan.
__ADS_1
...πΎπΎ...