
Happy Reading πΉπΉ
Mentari nampak malu-malu untuk menampakkan dirinya pada dunia, bersembunyi dibalik pegunungan yang menghalangi sinarnya.
Terlihat seorang gadis namoang tersenyum ketika membuka poselnya, terlihat satu pesan masuk dari sang kekasih.
π© Datanglah ke apartemen menemui Mama, aku akan sibuk beberapa hari kedepan. Akan aku kirimkan alamatnya.
Deretan kalimat yang diterima oleh Rose dari Gabriel, seperti mimpi baginya.
"Auch." Rintih Rose yang mencubit pahanya sendiri.
"Ternyata aku tidak bermimpi, hehehe." Ucap Rose lagi tertawa pelan.
π¨ Baiklah sayang.
Sedangkan Gabriel yang tengah duduk didalam mobil tersenyum tipis setelah membuka pesan dari Rose.
"Apakah itu dari kakak ipar?" Tanya Daniel yang tiba-tiba menyembulkan kepalanya hingga berada disamping Gabriel.
Puk
Gabriel memukul kepala sang adik karena merasa kaget karena ulahnya.
Daniel merengut kesal dengan mengelus kepalanya pelan.
"Diamlah." Ucap Gabriel.
"Daniel hanya bertanya." Jawab Daniel yang tidak terima.
Briel hanya acuh tidak menjawab rengekan sang adik.
"Sudah jangan ganggu Kakakmu." Ucap Kakek Kristoff yang duduk disebelahnya.
"Daniel hanya bertanya, Kek." Jawab Daniel sama.
Kakek Kristoff dan Robby yang tengah menyetir hanya menghela nafasnya, saudara kembar tersebut selalu saja membuat lelah orang yang berada disekitarnya.
Daniel yang dulu selalu membentengi dirinya dari orang lain kini mulai nampak sifat aslinya yang lebih ekspresif dibanding Gabriel.
"Tidurlah, jangan sampai kelelahan." Ucap Gabriel tegas.
Daniel masih melipat wajahnya kesal, kesal karena tidak dapat mengorek informasi tentang perkembangan hubungan Gabriel juga Rose.
"Kapan jadwal pemeriksaanmu, El?" Tanya Kakek Krostoff.
Daniel hanya menghendikkan kedua bahunya, "Lupa." Jawabnya enteng.
"Rob, segera jadwalkan pemeriksaan untuk Daniel." Perintah Kakek Kristoff kepada Robby.
"Baik Tuan." Jawab Robby sopan.
Daniel merapatkan duduknya kearah Kakek Kristoff dan memeluk lengan sang Kakek, disandarkanbya kepala Daniel dipundak kanan Kakek Kristoff.
Seulas senyum terbit dibibir Kakek Kristoff, talapak tangan yang sudah tidak lagi muda mengelus kepala sang cucu dengan lembut.
Gabriel hanya melihat kearah kaca spion yang berada ditengah mobil sedangkan Robby melihat wajah Gabriel.
Tidak terasa mobil yang dikendarai Robby telah sampai disalah satu rumah pinggiran kota.
Robby segera keluar untuk membukakan pintu Kakek Krostoff, sedangkan Gabriel sudah keluar lebih dulu dengan membenarkan pakaiannya.
"El, bangunlah." Ucap Kakek Kristoff menggoyangkan lengan Daniel.
Daniel menggeliat dan membuka kedua matanya dengan malas, "Apakah kita sudah sampai?" Tanya Daniel yang masih bersandar di pundak sang Kakek dengan mengucek kedua matanya.
"Sudah, cepat bangun." Jawab Kakek Kristoff.
Daniel hanya menguap lebar dan dengan malas bangun dari pundak sang Kakek.
"Bisakah El tunggu didalam mobil, El sangat mengantuk." Ucap Daniel.
"Nanti tidur dikamar Ayah Agung saja, El." Bujuk Kakek Krostoff.
Kakek Kristoff keluar dengan memutar pundaknya kedepan seakan melakukan peregangan.
"Oh, tulangku." Ucap sang Kakek.
"Apakah sakit, Tuan." Tanya Robby kepada majikannya.
"Ah, tidak. Ayo." Jawab Kakek Kristoff.
Keempat pria berjalan menuju rumah yang sederhana namun asri karena banyak pepohonan yang mengitari rumah tersebut.
Agung yang mendapatkan laporan dari anak buah tentang kedatangan Kakek Kristoff segera keluar.
"Ayah!" Seru Daniel dengan riang.
__ADS_1
Daniel segera berlari menuju Agung dan memeluknya, Agung terlihat menepuk punggung Daniel dengan pelan.
"Bagaimana kabarmu, El?" Tanya Agung lembut.
"Baik Ayah, kenapa Ayah tidak tinggal dihotel atau apartemen saja." Jawab Daniel yang sudah melepaskan pelukannya.
Gabriel menarik kerah baju Daniel bagian belakang hingga langkah Daniel mundur.
"Ck, kau ini." Ucap Gabriel.
"Uhuk, Kakak!" Seru Daniel.
Kakek Kristoff dan Robby lagi-lagi hanya menghela nafas.
"Selamat datang Tuan Kristoff." Ucap Agung kepada Kakek Kristoff.
"Terima kasih Tuan Agung." Jawab Kakek Kristoff.
Setelah cukup basa basi didepan rumah, kinisemuanya tengah duduk dikursi tengah sedangkan Daniel pergi kekamar karena merasa tubuhnya lelah.
"Dimana kamar Ayah?" Tanya Daniel.
"Disana." Tunjuk Agung pada kamar bercat biru.
"Daniel tidak akan ikut rapat dengan kalian, Daniel ingin tidur." Ucap Daniel pada semuanya.
"Baiklah, pergi istirahatlah." Jawab Agung.
Daniel melangkah meninggalkan sekumpulan pria dewasa menuju kamar, terada jika sesuatu keluar kembali dari hidungnya.
"Jangan sekarang penyakit sialan!" Umpat Daniel dalam hati.
Sedampainya di kamar Agung, Daniel langsung mencari kamar mandi beruntung kamar mandi berada didalam kamar.
Dengan cepat Daniel menyeka hidubgnya agar tidak diketahui oleh siapapun, terlihat tangan Daniel yang gemetar bersamaan dengan tubuhnya.
Kedua mata yang selalu memancarkan dirinya baik-baik saja kini menunjukkan betapa rapuhnya seorang Daniel.
Setetes air mata jatuh menjadi satu dengan air wastafel yang berwarna merah tersebut.
Ya, Daniel selama ini menahan rasa sakitnya dan meminum obat diluar dari ketentuan. Bahkan secara diam-diam Daniel memeriksakan dirinya ketika beralasan pergi menemui Minzy tempo hari.
Ingatan Daniel terbang ketika meninggalkan Gabriel di balkon saat itu.
Dengan mengendarai mobil seorang diri tanpa pengawal, Daniel merasa sangat bebas dan dapat bergerak dengan leluasa.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, roda mobil Daniel berhenti di parkiran Rumah Sakit.
Segera Daniel memakai kacamata hitam, masker dan topi agar tidak diketahui oleh siapapun. Bagaimanapun sebagai salah satu anggota keluarga Kriatoff wajahnya cukup terkenal.
Setelah memastikan semuanya, Daniel keluar dari dalam mobil dan melangkah berjalan keluar menuju gedung Rumah Sakit.
Daniel berjalan dengan langkah lebarnya dan sesekali membenarkan topi untuk menutupi wajah tampannya.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan." Ucap seorang resepsionis.
"Siapa dokter terbaik tentang penyakit dalam terutama kanker disini?" Tanya Daniel cepat.
"Doker Namjoon adalah dokter terbaik tentang malasah kanker Tuan." Jawab sang resepsionis.
"Baiklah, bisakah jadwalkan aku sekarang untuk bertemu dengannya." Ucap Daniel sopan.
"Tentu Tuan, bisa minta kartu identitas untuk mendaftar." Jawab resepsionis.
Daniel merogoh saku celana bagian belakang dan mengambil dompet kukit, dibukanyadompet tersebut banyak deretan kartu yang memenuhi dompet Daniel.
Daniel mengambil salah satu kartu disana , yaitu kartu identitas dirinya.
"Ini." Daniel menyerahkan kartu identitas kepada resepsionis.
Resepsionis menerima dengan ramah sesuai 3S (Senyum, Salam, Sapa)
Senyum resepsionis tergantikan dengam wajah kaget bahkan menutup bibirnya dengan tangan.
Daniel mengisyaratkan untuk diam, segera kerjakan tugasmu.
Sang resepsionis dengan tangan gemetar mulai mengisi formulir identitas pasien yang berada dikomputer dengan cepat hingga semuanya selesai.
"Tuan silahkan naik kelantai dua, ruangan berada disebelah kanan." Jelas resepsionis dengan mengembalikan kartu identitas Daniel.
"Terima kasih." Jawab Daniel dengan menerima kembali kartu identitasnya.
Segera Daniel meninggalkan meja resepsionis dan berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dua.
Tidak membutuhkan waktu lama, kini Daniel telah sampai di lantai dua. Daniel melangkah keluar dengan membuka topinya beruntung tidak terlalu banyak orang.
Disana Daniel duduk dengan menunggu antrian seperti pasien padabumumnya, karena Daniel tidak menggunakan kekuatan keluarga Kristoff.
__ADS_1
Terasa ponselnya bergetar, segera Daniel mengambil ponsel yang berada didalam sakunya. Terlihat nama sang kakak yang muncul.
π€ Ada apa, Kak?
π£οΈ Kirimkan alamat kampus dan apartemen Rose, segera!
π€ Iya, akan segera Daniel kirimkan.
Daniel segera mengetikkan alamat kampus dan apartemen Rose kepada saudara kembarnya.
"Saudara Daniel." Panggil suster.
"Ya!" Jawab Daniel.
Segera Daniel mengirimkan dan memasukkan ponselnya setelah pesan terkirim.
"Silahkan masuk." Ucap suster.
Daniel masuk kedalam ruangan yang sudah tidak asing bagi dirinya bersama seorang suster.
"Silahkan duduk, Tuan Daniel." Ucap dokter Namjoon.
Nelihat pasien yang sudah duduk, dokterNamjoon kembali berkata.
"Apa yang Anda keluhkan?" Tanya Dokter Namjoon.
Daniel mengatakan semuanya kepada Dojter Namjoon tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Dengan seksama Dokter Namjoon mendengarkan apa yang Daniel ucapkan hingga selesai.
"Baiklah, silahkan ganti pakaian Anda kita akan melakukan pemeriksaan secara keseluruhan pada tubuh Anda." Jawab Dokter Namjoon.
Daniel segera berdiri dari duduknya dan di bimbing oleh suster untuk berganti pakaian pasien.
Daniel keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian pasiennya, terlihatbsuster berdiri dengan kursi roda didepannya.
"Aku tidak lumpuh, singkirkan kursi roda itu." Ucao Daniel dingin.
Suster menundukkan kepalanya sebagai pernintaan maaf, segera suster menunjukkan jalan untuk Daniel pergi keruangan CT Scan.
Diruangan tersebut sudah ada dua dojter yang berada dibalik kaca dan juga Dokter Namjoon yang berada disamping CT Scan berbentuk tabung tersebut.
"Silahkan naik dan tidur di sini." Ucap Dokter Namjoon.
Daniel melakukan apabyang dokter katakan, Dokter Namjoon terlihat mebenarkan posisi Daniel sesuai prosedur pemeriksaan.
Perlahan alat tersebut bergerak, tubuh Daniel perlahan masuk kedalam alat yang berbentukbtabung itu dari mulai kepala hingga kakinya.
Dilayar komputer dokter terlihat bagaimana kondisi tubuh Daniel yang sebenarnya, terlihat pergerakan penyakin kanker yang mulai meluas.
Singkat cerita, Daniel, Dokter Namjoon dan seorang suster telah kembali diruangan Dokter Namjon.
Dokter Namjoon memutar PC-nya berisi video hasil dari CT Scan yang telah dilakukan baru saja.
"Ini adalah penyakit Anda, apakah sebelumnya Anda sudah memeriksakan diri di Rumah Sakit lain?" Tanya Dokter Namjoon.
"Sudah." Jawab Daniel.
"Bolehkah saya meminta hasil pemeriksaannya." Tanya Dokter Namjoon.
"Akan saya bawa di kunjungan berikutnya." Jawab Daniel.
"Bagaimana hasilnya, apakah aku akan mati?" Tanya Daniel kembali bersuara.
"Kita harus melakukan transplantasi sum-sum tulang belakang, Tuan. Karena kanker sudah tidak akan bisa hilang jika hanya melakukan Kemoterapi saja." Jelas Dokter Namjoon.
Daniel terpaku sudah dapat ditebak bagaimanapun transplantasi sum-sum tulang belakang adalah satu-satunya jalan agar dia daoat sembuh dari penyakit ini.
"Berapa lama lagi aku akan dapat bertahan?" Tanya Daniel dengan suara bergetar.
"Saya tidak dapat memprediksinya Tuan, karena berapa lamanya manusia hidup adalah rahasia Tuhan." Jawab Dokter Namjoon.
Daniel terdiam benar apa yang dikatakan dokter tersebut, semua adalah rahasia Tuhan.
"Anda datang ke Rumah Sakit dengan siapa?" Tanya Dokter Namjoon.
"Sendiri." Jawab Daniel singkat.
Terdengar helaan nafas Dokter Namjoon, "Tuan lebih baik, Anda memberitahukan keluarga Anda karena Anda juga memerlukan support dari keluarga. Kita akan melakukan tes kepada keluarga inti Anda untuk mencari sum-sum tulang belakang yang cocok." Jelas Dokter Namjoon panjang lebar.
"Baiklah, terima kasih." Jawab Daniel pelan.
"Sementara akan Saya resepkan obat, silahkan datang kembali minggu depan bersama keluarga Anda." Ucap Dokter Namjoon dengan mengetikkan resep obat pada layar PC-nya.
Daniel kembali masuk kedalam kamar mandi untuk berganti bakaian, selama berganti pakaian Daniel terlihat lebih banyak melamun karena memikirkan ucapan sang dokter.
... πΎπΎ...
__ADS_1