Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Keluarga Utuh


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Ck, kenapa ribut sekali." Stevani mengomel dengan berjalan kearah pintu kamar hotel.


Langkahnya terhenti dan ssalah satu alisnya naik keatas hingga menukik, Stevani kenal dengan dua pria yang berada didepannya namun satu pria paruh baya satunya siapa.


Astaga, memikirkannya saja Stevani sudah pusing kenapa banyak orang asing yang datang didalam kehidupannya.


"Kenapa kalian tidak masuk? Cepat masuk, menghalangi jalan saja." Stevani yang jadwal hari ini marah jadi mempertahankan kemarahannya.


Mendengar suara sang Kakak, Stevanempersilahkan Agung untuk masuk kedalam kamar hotel yang sudah berisi banyak orang disana.


"Silahkan masuk, Tuan." Ucap Stevan.


"Baiklah, terima kasih." Jawab Agung sopan.


Agung yang akan berjalan diuruhgkan niatnya, karena Gabriel hanya berdiam diri ditempat.


"Kenapa kamu tidak masuk?" Tanya Agung heran.


"Briel ingin pergi." Jawab Gabriel singkat.


"Menemui Rose?" Ucap Agung.


Gabriel menailkan kedua pundaknya saja sebagai jawaban.


Stevani yang merasa tidak ada yang mengikutinya menoleh kebelakang, terlihat pria asung seperti membujuk keponakannya yang kaku itu.


Stevan hanya memandang dengan tatapan sendu dan mendengarkan pembicaraan keduanya. Hingga tubuhnya dilm lewati oleh Stevani.


"Ayo masuk." Stevani langsung mengunci leher Gabriel sehingga Gabriel berjalan masuk dengan posisi leher terhimpit ketiak Stevani.


"Kunci pintunya." Ucap Stevani singkat.


Agung berjalan masuk melewati Stevan dan Stevan mengunci pintu sesuai perintah sang Kakak sebelum dirinya yang dibanting kelantai.


Semua orang yang berada diruangan tersebut menyaksikan keributan dari Stevani, terlihat Stevani mendorong Gabriel di sofa dan Agung serta Stevan melangkah beriringan.


"Ayah." Ucap Daniel.


Agung dan Stevam tersenyum namun senyum Stevan langsung luntur lantaran Daniel lebih memilih menghampiri Agung.


"Keren." Ucap Daniel dengan menunjukkan ibu jarinya dengan senyum lebarnya.


"Tentu." Jawab Agung.


"Tuan Agung, silahka duduk." Ucap Kakek Kristoff.


Stevan merasa menjadi orang asing dikumoulan orang tersebut, kenapa semua orang seperti sudah kenal dengan dekat apa banyak hal yang dia lewatkan selama ini.


Stevani yang melihat kegundahan Stevan segera menyeret Stevan dan duduk di tengah2 kedua putra kembarnya.


"Semua menyingkir, kecuali tiga pria menyebalkan itu." Ucap Stevani.


Minzy dan Kristal menggeser duduknya sedangkan Robby sudah duduk dilantai dengan alas karpet bulu yang cukup hangat.


Stevani bersedekap dada dengan kaki kanannya mengetuk-ngetuk lantai sedangkan tatapannya datar kepada tiga pria yang seperti tersangka tersebut.


"Ah maaf, Tuan sebenarnya siapa? Aku sampai lupa karena terlalu banyak orang asing yang hadir dikeluarga Krostoff." Ucap Stevani dengan menaikkan kedua alisnya.


"Aku? Aku Ayah Gabriel." Jawab Agung dengan tenang.


"Kristal bisa jelaskan atau siapapun disini yang tidak aku tahu?" Ucap Stevani dengan menyapu pandangannya keseluruh orang.


"Ah, it--- Tuan Agung adalah Ayah angkat Gabriel sejak usia empat tahun kak." Jawab Kristal dengan terbata karena bingung ingin menjelaskan dari mana.


"Apa!" Seru Stevani dan Stevan secara bersamaan.


Kristal menciut karena suara kedua saudara tersebut seakan mengintimidasi dirinya.


"Jadi, Daniel dan Gabriel kembar? Lalu kenapa bisa Gabriel memiliki Ayah angkat?" Tanya Stevani beruntun karena sangat sangat penasaran.


Kristal mengangguk.

__ADS_1


"Anak Stevan dan kamu." Tanya Stevani.


Sekali lagi Kristal mengangguk.


"Kau Stevan, kamu tidak tahu jika Kristal dulu hamil anak kembar?" Tanya Stevani yang mulai emosi kembali.


Stevan menggeleng, "Tidak kak, karena Kristal selalu periksa sendiri." Jawab Stevan pelan.


"Kau, lelaki bodoh bahkan tidak tahu jika anakmu kembar! Dimana otakmu dlu hah, padahal berangkat selalu bersamamu sebanarnya kamu turunkan dimana Kristal dulu!!" Ucap Stevani menaikkan suaranya satu oktaf dengan melemparkan bantal sofa ke arah Stevan.


Stevan dan kedua anak kembarnya menghalau bantal yang pasti juga mengenai salah satu dari mereka.


"Maaf." Ucap Stevan lirih.


Stevan mengingat masa lalu, seakanputaran film cepat. Saat mengantarkan Kristal selalu mendapatkan telfon dari Mamanya atau Eve yang dengan alasan Eve ngidam dan yang lainnya.


Kristal akan mengalah dan turun di bahu jalan untuk menyegat taxi maupun bis umum.


"Maaf? Kamu bilang maaf Stevan! Sudah terlewat puluhan tahun kenapa sekarang baru meminta maaf, lihat anak-anakmu! Apa kau tidak punya otak, sudah kakak katakan sejak dulu meskipun kamu tidak mencintai Kristal setidaknya jangan abai dengan kehamilannya!!" Seru Stevan yang menggelegar di ruangan itu.


Kristal hanya diam menundukkan kepalanya dalam, mengigit bibirnya dalam-dalam agar tidak menangis namun mengingat semuanya menjadi perih kembali hatinya.


Tidak ada yang berani menjawab ucapan Stevani karena sejatinya yang memahami keadaan saat itu hanyalah keluarga inti Kristoff.


Stevani yang sudah kepalang tanggung berjalan mendekat dan menarik Stevan untuk berdiri, diseretnya tubuh kekar itu hingga berdiri disampingnya.


"Lihat, sekarang lihat mereka! Apa yang kamu rasakan? Jangankan mengetahui anakmu kembar, Daniel yang sejak bayi tinggal bersamamu apakah pernah kamu mencoba dekat dengannya? Bagaimana dengan Gabriel yang tidak menahu tentang keberadaan Ayahnya sendiri tentang Daniel yang memiliki Ayah namun tidak dapat disentuh, apa hati nuranimu mati!!" Stevani berbicara panjang lebar di iringi dengan air mata yang sudah meleleh membasahi wajahnya.


Hati Stevani hancur melihat keluarga adiknya Stevan seperti ini, terlebih kepada kedua ponakannya yang tidak menahu tentang persoalan orang tuanya saat itu menjadi korban hingga usia mereka matang.


Stevan luruh kelantai dan menangis, meminta pengampunan kepada kedua putranya.


"Maaf, maafkan Ayah." Ucap Stevan dengan menangis.


Gabriel dan Daniel membuang muka karena tidak ingin melihat pria yang menyedihkan tersebut, sedangkan Kristal menatap kedua anaknya dengan tatapan sedih.


Stevan berjalan menggunakan lututnya, danbersujud memeluk kaki Kristal dengan tangisnya. Membuat Minzy dan Kristal kaget.


"Maafkan aku Kristal, maafkan aku. Aku memang suami yang tidak berguna saat itu hingga saat ini. Aku--- aku tidak dapat menolak permintaan Ibu dan Eve saat itu karena kalian hamil secara bersamaan." Ucap Stevan kepada Kristal.


"Sudahlah Stevan jangan seperti ini." Ucap Kristal yang berusaha melepaskan Stevan yang masih memeluk kedua kakinya.


Stevan menggeleng cepat, "Tidak, aku benar-benar minta maaf Kristal maafkan aku." Ucap Stevan.


"Semua sudah berlalu Stevan, anak-anak kita juga sudah besar untuk apa mengingatnya. Minta maaflah kepada mereka karena mereka tidak pernah merasakan kehadiranmu sejak dini dan aku sudah memaafkanmu." Jawab Kristal lembut karena tidak ingin berlarut-larut terbelenggu dalam kebenciannya.


Stevan menegakkan tubuhnya dan menatap wanita yang sangat dia cintai namun dia tidak mengakuinya tersebut dengan mata yang memancarkan kesedihan mendalam.


"Sepertinya kita keluar dulu saja, memberikan ruang untuk mereka." Ucap Agung yang disetujui Kakek Kristoff dan semuanya kecuali Stevani.


"Kalian saja yang keluar, Stevani akan tetap melihat pria bodoh itu menangis darah." Ucap Stevani tajam.


Agung berjalan terlebih dahulu dan diikuti yang lain termasuk Minzy berjalan keluar meninggalkan keluarga inti tersebut.


Hingga suara teriakan Stevani kembali terdengar.


"Aaa.... turunkan aku, apa yang kamu lakukan botak!" Seru Stevani memukul punggung bodyguard Agung.


Karena Stevani tidak ingin keluar, Agung memerintahkan bodyguard yang menculik Gabriel untuk menyeret Stevani yang berada didalam.


Bukan diseret karena bodyguard tersebut masih memiliki hati nurani, tanpa berkata apapun bodyguard Agung langsung memanggul Stwvani seperti karung beras.


Suara Stevani terus menggema bahkan di lorong kamar hotel, entah kemana bodyguard Agung akan menurukan Stevani.


"Lebih baik kita istirahan di kamar yang lainnya saja." Ucap Kakek Kristoff.


"Baik." Jawab Agung.


"Jaga kamar ini dengan baik jangan biarkan siapaoun masuk termasuk Eve." Perintah Kakek Kristoff kepada kedua pengawal.


"Bail, Tuan." Jawab mereka serentak.


Segera rombongan Kakek Krostoff berjalan meninggalkan kamar tersebut dengan Agung dan di ikuti Minzy serta Robby.

__ADS_1


Sedangkan didalam kamar terlihat Stevan sudah duduk di salah satu kursi sendirian dan Kristal duduk di hadapan kedua putranya.


"El, Ayah ingin berbicara kepada kalian." Ucap Kristal lembut.


Keduanya tidak menjawab apapun masih betah dengan berdiam diri apalagi Gabriel yang notabennya memang pendiam.


"El, disini tidak hanya Ayah yang bersalah tetaoi juga Mama. Maafkan Mama karena tidak bisa merawat kalian secara bersama-sama, memberikan kalian keluarga yang utuh. Maafkan Mama karena Mama tidak memiliki keberanian untuk mengatakan kabar gembira jika Mama hamil anak kembar kepada Ayah kalian, Ayah kalian disini juga korban karena keegoisan Mama, jika malam itu Ayah dan Mama tidak melakukan hubungan terlarang itu mungkin Mama tidak akan hamil kalian, anak-anak Mama dan Ayah yang sangat tampan ini." Ucap Kristal menbuka percakapan yang panjang.


Air mata Daniel sudah luruh membasahi pipinya sedangkan Gabriel masih tetap acuh dan datar meski dalam hatinya merasakan sesak yang mendesak untuk dikeluarkan.


"A--- Ayah juga meminta maaf kepada kalian dan Mama kalian. Maaf karena Ayah menjadi pria yang bodoh dan pengecut, mengabaikan kalian sejak didalam kandungan bahkan pernah berniat memisahkan Daniel dari Mama kalian kare--- karena saat itu Ayah gelap mata dan termakan ucapan wanita jahat itu. Ayah sungguh minta maaf kepada kalian bertiga, seharusnya Ayah sejak dulu menyelidiki wanita itu tapi---"


"Tapi Anda terlalu mencintainya." Potong Gabriel cepat.


Stevan menatap sayu kearah Gabriel karena suaranya yang lebih dingin dan kasar saat berbicara.


"Maaf." Jawan Stevan.


Gabriel berdecih dan tertawa hambar mendengar ucapan kedua orang tuanya.


"Briel, maafkan Mama dan Ayah." Kristal lebih takut jika Gabriel yang bereaksi dibanding Daniel.


Kristal mengingat jika kesalahannya yang meninggalkan Gabriel saat itu membuat anaknya membenci kedua orangtuanya.


"Kalian menelantarkan kami, bahkan Daniel yang tinggal bersama kalian. Lalu aku? Aku yang Mama tinggalkan dan tidak diketahui keberadaannya dari dunia ini. Sekarang kami harus mengerti kalian sungguh lucu sekali." Jawab Gabriel panjang lebar dengan kedua mata yang memerah.


Stevan langsung berjalan dan bersimpuh dihadapan kedua anak kembarnya.


"Maafkan Ayah, jika ingin menyalahkan salahkan Ayah saja. Jika Ayah tidak seperti itu pasti Mama kalian tidak akan berbuat hal seperti itu, jika ada yang pantas disalahkan adalah Ayah. Hukum Ayah sebanyak kalian mau." Ucap Stevan dengan tenang namun air matanya terus mengalir menatap Gabriel dan Daniel secara bergantian.


"Benarkah?" Ucap Gabriel.


Stevan mengangguk dengam cepat, secepat itu juga tubun Stevan terjungkal kebelakang karena pukulan Gabriel.


"Kakak!"


"Stevan!"


Teriak Daniel dan Kristal secara bersamaan.


Gabriel kini menaiki tubuh Stevan dan menggenggam kerah Stevan dengan kencang.


"Seharusnya gunakan kekuasaanmu itu untuk mencariku! Seharusnya gunakan kekuasaanmu itu untuk membahagiaan Mama! Seharusnya gunakan kekuasaanmu itu untuk mendepak Eve! Seharusnya gunakan otakmu itu untuk berfikir sebelum bertindak!!" Suara Gabriel yang seperti orang berteriak kesetanan membuat Kristal dan Daniel berusaha melepaskan cekalan Gabriel.


"Sudah El, sudah."


"Kakak lepaskan Ayah, dia akan kesakitan."


Daniel berhasil melepaskan cekalan Gabriel dari kerah baju sang Ayah dan dengan cepat memeluk tubuh saudara kembarnya.


Terlihat Daniel begitu ketakutan dari tubuhnya yang bergetar, "Kak jangan seperti itu , ak---aku tidak ingin kehilangan Ayah." Ucap Daniel.


Sedangkan Stevan masih terlihat kaget, dibangunkannya tubuh Stevan dengan bantuan Kristal.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Kristal khawatir.


Stevan menggeleng namun tatapannya tertuju pada Gabriel yang masih menatapnya tajam dalam pelukan Daniel.


"Maafkan Ayah." Ucap Stevan lagi.


Stevan tidak dapat berkata apapun karena memang dirinya yang bersalah disini, tidak tahu harus menjelaskan apa lagi karena Stevan yakin kedua anaknya jauh lebih pintar daripada dirinya.


"Kak, Daniel ingin memiliki keluarga yang utuh." Ucap Daniel masih nemeluk Gabriel.


Air mata Gabriel lolos begitu saja dan perlahan tubuhnya terguncang dengan isakan lirih menjadi kecang.


Mendengar ucapan Daniel yang seakan memohon membuat perasaan yang menyesakkan dada meledak. Itu adalah keinginannya sejak dulu saat kecil ingin memiliki keluarga yang utuh dengan seorang Ayah.


Kristal melihat kedua anaknya menangis membuat hatinya sakit, langsung saja Kristal memeluk kedua tubuh kekar anak kembarnya dan di ikuti Stevan.


Ke empat orang dewasa terlihat saling berpelukan dalam tangisnya masing-masing, seakankembali kemasa lalu saat Kristal dan Stevan muda serta Daniel dan Gabriel kecil.


Dengan di sinari cahaya matahari sore hari dengan cahaya jingga, membuat pemandangan yang indah dengan hiasan pantulan kaca dari gedung-gedung pencakar langit seakan ikut merayakan kebahagiaan keluarga tersebut.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2