
Happy Reading 🌹🌹
"Bibi kenapa?" Tanya Kristal yang melihat Bi Asih masih terlihat siswa tawanya.
"Itu, Nona Rose. Baru kali ini ada pria yang berani datang ke mansion." Jawab Bi Asih yang berhenti didepan Kristal.
"Kenapa tidak berani? Apa Rose memang tidak pernah memiliki kekasih, Bi?" Tanya Kristal dengan rasa penasarannya.
"Wah... itu salah besar Nak. Nona Rose itu memiliki kekasih yang sangat tampan-tampan kata Mang Asep. Hanya saja belum pernah ada salah satu dari mereka yang berani datang kerumah." Jelas Bi Asih panjang lebar kepada Kristal.
"Pantaslah Bi, Rose juga cantik pasti banyak pria tampan yang ingin menjadikannya seorang yang special." Ucap Kristal membenarkan ucapan Bi Asih.
"Tapi, ada satu pria yang menolak Nona Rose sebelum Nona Rose pergi ke Korea pekan lalu." Kata Bi Asih pelan.
Kristal menaikkan sebelah alisnya, pikirannya flashback beberapa hari sebelum ikut Rose ke Indonesia.
Ketika Kristal menanyakan seorang kekasih kepada Rose yang berakhir Rose menangis sesenggukan di pelukannya.
"Memang siapa yang menolaknya, Bi. Aku Rasa Rose adalah gadis yang baik dan sangat ceria, meskipun sedikit bar-bar." Tanya Kristal dengan terkekeh jika mengingat kejadian di mansion Kristoff.
"Saya kurang tau juga, sepertinya pengusaha terkenal. Memang Nona Rose sangat ceria, tapi dibalik itu semua Nona Rose menyimpan sejuta luka dihatinya." Jawab Bi Asih dengan wajah yang berubah sendu.
Kristal terdiam, dirinya tengah mencerna ucapan dari Bi Asih tentang Rose.
"Ya Ampun, Bibi harus cepat buatkan minum untuk tamu. Sampai lupa." Ucap Bi Asih dengan menepuk jidatnya.
Kristal terkekeh melihat ekspresi Bi Asih, "Sudah, biarkan Kristal yang membuat minumannya. Mau dibawa keruangan mana Bi?" Ucap Kristal.
"Baiklah, buatkan segera ya. Bawa saja diruang tamu. Bibi akan mencuci baju saja." Jawab Bi Asih kepada Kristal.
Kristal mengangguk sedangkan Bi Asih berlalu dari dapur menuju ruang cuci baju.
Dengan cekatan Kristal mengambil cangkir dan tatakan cangkir, dengan memasukkan satu sendok gula dan memasukkan teh celup di dalam cankir itu langkah terakhir dituangkannya air panas yang terlihat asapnya mengepul di atas cangkir.
Terdengar bunyi sendok yang terkena gelas ketika Kristal mengaduk. Dengan pelan Kristal membawa satu cangkir teh menuju ruang tamu.
Sayup-sayup terdengar suara gaduh di sana, hingga tatapan Kristal bersibobrok dengan mata tajam itu.
Tatapan keduanya saling terkunci satu sama lain, tanpa sadar membuat pijakan Kristal menjadi gamang dan cangkir yang ada ditangannya terjun bebas hingga ke lantai.
Pyar
Ayah Nugroho dan Rose mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara, melihat kepulan air panas yang terlihat di lantai membuat Rose panik.
"Tante!" Seru Rose yang langsung berjalan ke arah Kristal.
Langkah Rose sudah lebih dulu didahului oleh Ayah Nugroho, Kristal didorong pelan kearah belakang.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Ayah Nugroho kepada Kristal.
__ADS_1
Kristal berkedip cepat, "Maaf Tuan, sa.. saya tidak apa-apa." Jawab Kristal yang belum melepaskan pandangannya kearah pria dengan jas hitam tersebut.
"Lain kali berhati-hatilah, jangan malamun jika sedang melakukan sesuatu." Ucap Ayah Nugroho.
"Ba... baik, maafkan saya." Jawab Kristal dengan menyesal.
Sedangkan Gabriel yang melihat Kristal, merasa jika wajah wanita tersebut tidak asing.
"Siapa, dia?" Tanya Briel pada Rose.
"Tante Kristal." Jawab Rose singkat.
Briel menoleh kearah Rose dan menjentikkan jarinya di dahi Rose.
"Aw... kau melakukan KDRT terhadapku." Sungut Rose dengan mengelus pelan jidatnya.
"Jawab dengan benar. Sudah ayo berangkat, karena menunggumu bersolek membuang-buang waktu berhargaku." Jawab Briel tanpa rasa bersalah.
"Ishhh... yasudah ayo. Tapi, kita pamit dulu kepada Ayah." Ucap Rose dengan menekuk wajahnya kesal.
Rose dan Gabriel berjalan ke arah Ayah Nugroho dan Kristal, Kristal meremat pakaiannya karena merasa jantungnya berdetak dengan cepat dan kencang.
"Elbarack, anakku...." Ucap Kristal dalam hati.
"Tante, tidak apa-apa?" Tanya Rose yang sudah di hadapan keduanya.
Kristal terhenyak dalam lamunannya, jarak antara Gabriel dan Kristal hanya beberapa centimeter saja.
Ingin sekali Kristal berjalan memeluk tubuh pria yang ada dibelakang tubuh Rose.
Ingin sekali Kristal menangis dan berkata jika Kristal adalah ibunya.
"Tan." Ucap Rose yang mengguncang pundak Kristal pelan.
"Eh, iya Rose. Apa kamu mau berangkat?" Tanya Kristal dengan menetralisir emosinya.
Rose mengangguk, "Tante tidak apa-apakan, apa Tante sakit?" Tanya Rose.
"Oh, tidak. Sudah cepat pergilah sudah sangat terlambat bukan." Jawab Kristal asal.
"Ayah... Tangey, Rose dan Kak Gabriel berangkat dulu ya." Pamit Rose kepada keduanya.
Ayah Nugroho mengangguk yang di ikuti dengan Kristal, Rose dan Gabriel berlalu dari hadapan keduanya.
Kedua netra Kristal tidak lepas menatap punggung lebar berbalit jas hitam itu, hingga sosoknya menghilang dibalik pintu.
"Oh, ya. Ini biarkan Mang Asep yang membersihkan." Ucap Ayah Nugroho kepada Kristal.
"Tidak perlu, Tuan. Biar saya bereskan saja sendiri." Tolak Kristal pelan.
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Ayah Nugroho yang langsung meninggalkan Kristal sendiri.
Sedangkan Gabriel sudah jalan lebih dulu dan Rose mengikutinya dari belakang.
"Kak, jangan cepat-cepat jalannya." Ucap Rose yang susah payah berjalan dengan mengenakan gaun panjang.
Briel berdecak kesal dan berjalan menghampiri Rose.
"Aaa...." Rose memekik kaget karena Gabriel tiba-tiba langsung menggendongnya.
"Sudah pendek, lemot, lelet. Apa tidak ada yang bisa kamu banggakan dari dirimu." Omel Gabriel dengan kesal.
"Aku cantik." Jawab Rose dengan melingkarkan tangannya ke leher Gabriel.
Gabriel memutar bolanya malas, "Cepat masuk." Ucap Briel setelah menurunkan Rose di depan pintu mobil.
Rose segera membuka pintu mobil begitu juga Gabriel yang sudah jalan memutari setengah badan mobil.
Selama diperjalanan hanya ada keheningan, Rose sibuk bermain dengan ponselnya sedangkan Gabriel sibuk fokus dengan jalan.
"Kak.".Panggil Rose.
"Hem." Gabriel hanya berdehem.
"Apa, Kak Dave akan datang?" Tanya Rose yang sudah memiringkan tubuhnya kearah Gabriel.
Gabriel hanya menaikkan kedua bahunya saja sebagai jawabannya.
"Ishh, menyebalkan." Ucap Rose dengan cemberut.
"Kenapa, apa liburanmu belum dapat membuat melupakan Dave?" Tanya Gabriel dengan wajah datarnya.
"Tentu saja sudah, tapi... tidak semudah membalikkan telapak tangan." Jawab Rose yang berubah menjadi sendu.
"Cobalan membuka hati untuk yang lain, mungkin di sekitarmu ada yang menyukaimu." Ucap Gabriel ambigu.
"Rose masih takut." Jawab Rose pelan.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Gabriel dan Rose telah sampai di gedung pernikahan.
Terlihat parkiran yang cukup sepi, "Lihat, karenamu membuat aku jadi terlambat." Ucap Gabriel kesal.
Rose berdecak kesal dengan memasukkan ponsel kedalam tasnya.
"Kakak yang salah, siapa suruh menyetirnya lamban." Jawab Rose yang tidak ingin disalahkan.
"Bagaimana tidak lamban, sejak dijalan kamu terus saja mengajak mengobrol." Ucap Gabriel yang sudah sangat kesal.
Segera Gabriel berjalan lebih dulu, Rose berusaha berjalan mengimbangi Gabriel namun kesusahan.
__ADS_1
Briel menghela nafasnya kasar, "Ya Tuhan, berikanlah hamba kesabaran yang lapang." Do'a Gabriel dalam hati.
...🐾🐾...