
Happy Reading 🌹🌹
Seperti hari biasanya, Gabriel setiap pagi sudah bersiap untuk kekantor. Sudah satu minggu lamanya Gabriel hidup sebagai Daniel.
Setiap hari dilalui dengan 10% sandiwara dan 90% dirinya sendiri.
"Sarapan dulu, El." Ucap Kristal yang keluar membawa masakan dari dapur.
Gabriel hanya mengangguk dan segera duduk dikursi yang biasanya.
Eve dan Stevan berjalan bergandengan seperti biasanya.
"Tanpan sekali kamu hari ini, El." Ucap Eve dengan senyum penuh arti.
Gabriel hanya melirik dan fokus kearah ponselnya lagi.
"Apa kamu sudah siap untuk ditendang dari perusahaan hari ini?" Tanya Eve penuh dengan sindiran.
Stevan hanya diam dan mengamati Kristal yang sibuk menyiapkan sarapan untuk anak mereka.
"Segera sarapan, sayang. Jangan biarkan suara kasat mata." Ucap Kristal dengan tersenyum menaruh piring didepan Gabriel.
Gabriel hanya beedehem dan menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
Kristal mengambil sarapan untuk dirinya sendiri dan menyusul Gabriel sarapan.
Keduanya terlihat acuh dengan Eve dan Stevan yang sejak tadi diam tanpa ingin mengambil sarapannya.
"Ambilkan." Ucap Stevan singkat.
Eve berdiri dan mengambil piring Stevan, namun gerakan tangannya terhenti karea Stevan kembali bersuara.
"Aku menyuruh Kristal untuk mengambilkannya." Ucap Stevan.
Eve menatap heran kearah Stevan, Stevan terlihat masa bodoh dengan istrinya. Bahkan Stevan menatap tajam kearah Kristal yang tetap melanjutkan sarapannya tanpa menggubris ucapan mantan suaminya.
"Mah, El berangkat dulu." Ucap Gabriel yang sudah menghabiskan air putih digelasnya.
Kristal mengangguk, "Hati-hati sayang, Mama akan menyusulmu." Jawab Kristal lembut.
Gabriel segera berjalan meninggalkan ruang makan hingga menyisakan ketiga orang dewasa tersebut.
Terlihat Kristal membersihkan piring bekas Gabril dan membawanya ke wastafel.
Terdengar suara pecahan piring yang jatuh dilantai hingga membuat pecahan itu berhamburan.
__ADS_1
"Apa kamu mengacuhkanku!" Seru Stevan dengan menatap tajam kearah Kristal.
Kristal hanya diam dan melepaskan cekalan tangan Stevan dari pundaknya, keduamata Kristal menatap Eve yang berdiri tidak jauh dari mereka dan kembali menatap kedua mata Stevan.
Segera Kristal berjongkok tanpa menanggapi ucapan mantan suaminya, jari lentiknya mengambil pecahan piring yang berhamburan diatas lantai.
Stevan menatap Kristal dengan nafas yang memburu, pikirannya melayang mengingat ada nomor anonim yang mengirimkan foto Kristal bersama seorang pria muda yang tidak terlalu jelas wajahnya.
"Apa kamu menyewa seorang gigolo untuk memuaskan hasratmu." Ucap Stevan dengan suara dingin.
Gerakan tangan Kristal terhenti mendengar ucapan Stevan, mendengar ucapan Stevan yang selalu menghina dirinya dimasa lalu seolah melatih hatinya hingga tidak merasakan sakit hati.
Kristal diam dan meneruskan tangannya terus memunguti pecahan piring.
Greb
Stevan yang sudah emosi tidak terima jika dirinya diacuhkan oleh wanita, terlebih Kristal.
Tanpa melihat jika tangan Kristal masih memegang pecahan piring. Stevan berjongkok dan menggenggam tangan mantan istrinya tersebut dengan erat.
Kristal mengangkat wajahnya hingga kini tatapan Stevan dan Kristal saling bertemu, terlihat wajah tampan yang pernah mengisi hatinya. Begitujuga Stevan, melihat wajah wanita yang sejak awal bertemu sudah merebut seluruh cintanya.
"Ada masalah apa kamu denganku?" Tanya Kristal dengan suara datar tanpa emosi.
Stevan mengetatkan rahangnya dan semakin tajam menatap Kristal, bahkan tanpa kedua sadari darah sudah menetes dari kedua tangan yang saling menggenggam itu.
Sebulir air mata jatuh dari pelupuk mata Kristal hingga membasahi pipinya, jikahanya dirinya yang dihina dan disakiti. Kristal masih kuat untuk menghadapinya.
Namun, tidak dengan buah hatinya. Buah cinta hasil pemerkosaan yang dilakukan Stevan dulu.
Tidak mengakui jika Daniel maupun Gabriel bukan anak Stevan tidak masalah untuk Kristal, tapi... Bagaimana perasaan kedua putranya jika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ayah kandungnya sendiri.
"Apa ada masalah jika mereka bukan anakmu?" Tanya Kristal dengan bibir sedikit bergetar.
"Sudah aku duga, kamu menggoda dan mendekatiku karena hanya ingin hidup mewah." Jawab Stevan tajam.
Kristal tersenyum sinis dan miris secara bersamaan, "Hidup mewah apa yang kamu makhsud? Apa dengan tinggal mansion Kristoff sudah termasuk hidup mewah, bagaimana selama ini aku bekerja sebagai pembantumu disini? Apa itu yang kamu makhsud hidup mewah, apa aku pernah menerima atau meminta uang darimu semenjak melahirkan Daniel. Satu koinpun aku tidak pernah memintanya yang menghidupi kami hanya Kakek Kristoff. Jadi, jika kamu mengatakan jika Daniel bukan anakmu itu benar. Karena sejak aku mengandungnya, mereka hanya anakku bukan anakmu." Jawab Kristal panjang lebar.
"Auhh."
Suara rintihan terdengar karena Eve tersungkur hingga terjerembab di atas ubin.
"Apa yang kamu lakukan!!!" Seru seorang gadis dengan suara cemprengnya.
Langsung saja, gadis bertubuh kecil itu mendorong Stevan dan melepaskan genggaman tangan Stevan secara paksa.
__ADS_1
Dengan panik, membuka telapak tangan Kristal yang tertancap pecahan piring itu.
"Tante." Ucap gadis itu dengan suara bergetar.
Dengan keberanian yang kecil, tangan gadis itu mencoba mengambil pecahan piring dari telapak tangan Kristal dan segera melepaskan syal yang melingkar dileher untuk dililitkan di telapak tangan Kristal.
Stevan yang melihat banyak darah ditangan Kristal perlahan mengangkat sebelah tangannya, terlihat darah juga mengenainya.
"Kris-kristal." Ucap Stevan dengan nada bergetar karena kaget dan takut.
Terlihat Kristal masih menatap kedua mata Stevan dengan intens, bukan tatapan benci maupun marah namun tatapan sedih.
Hati Kristal bersedih karena Stevan tidak mengakui jika Daniel adalah anaknya, apakah Kristal sehina itu mata Stevan.
Hingga tubuh Kristal direngkuh oleh seseorang, barulah Kristal menoleh. Menatap dengan tatapan sendu kearah gadis yang menuntun Kristal agar berdiri.
"Ayo Tante, kita ke Rumah Sakit." Ajak gadis itu dengan membantu Kristal berdiri.
Gadis tersebut menatap Stevan dengan tajam, "Paman, urusan kita belum selesai. Aku akan kembali setelah mengobati Tante Kristal." Ucapnya dengan galak.
Segera Kristal dan gadis itu berjalan meninggalkan Stevan yang masih terduduk dilantai.
Melihat Eve yang berjalan menghampiri Stevam, membuat gadis itu sangat kesal dan dengan sengaja langkah kaki Eve dijegal hingga. Membuatnya jatuh untuk kedua kalinya pagi ini.
"Dasar gadis kurang ajar!" Seru Eve dengan menatap kesal.
Kedua wanita berbeda usia itu tidak menanggapi teriakan Eve yang sangat emosional itu. Lebih baik segera ke Rumah Sakit untuk mengobati luka yang ada ditelapak tangan Kristal.
"Rose, sejak kapan kamu datang?" Tanya Kristal pelan.
Ya, gadis yang seperti superhero datang disaat Kristal tersakiti dengan dramatis Rose menerobos masuk dan menolong Kristal.
"Baru saja, Tan." Jawab Rose jujur.
Kristal hanya mengangguk, dan membuang pandangannya kesembarang arah.
Rose juga hanya diam, tidak banyak bicara seperti biasanya, Rose memberi ruang untuk Kristal mungkin hati wanita paruh baya itu sedang membutuhkan ketenangan.
...🐾🐾...
...Maaf baru up, karena baru selesai Ujian ANBK....
...Jangan Lupa Dukungannya 🌸...
__ADS_1