
Happy Reading 🌹🌹
"Tante, ada apa?" Tanya Rose yang baru saja keluar dari kamar.
"Ah, tidak apa-apa. Maaf Tante tadi tidak sengaja menyenggol HP mu Rose." Jawab Kristal menyesal.
"Tidak apa Tante, jika rusak nanti beli yang baru." Jawab Rose dengan menampilkan deretan gigi putihnya.
Setelah membalas pesan Gabriel, Rose segera beranjak dari ruang tamu untuk mandi dan berganti pakaian.
Rencana hari ini Rose ingin berbelanja beberapa kebutuhan selama tinggal di apartemen.
Rose mengambil HP berwarna pink yang sudah tergeletak di lantai, meskipun tidak retak tetapi layarnya mati.
Terlihat Rose berusaha menghidupkan poselnya, Kristal melihat Rose dengan pandangan yang sulit di artikan.
Banyak sejuta pertanyaan yang sudah terkumpul untuk Kristal tanyakan kepada Rose.
"Rose." Panggil Kristal pelan.
"Ya, Tante. Ada apa?" Jawab Rose dengan menatap Kristal sebentar kemudian fokus ke ponselnya lagi.
"Tadi ada yang menghubungimu, video call." Ucap Kristal pelan dengan tangan yang memainkan kain bajunya.
Rose menatap lurus ke arah Kristal, "Siapa Tante?" Tanya Rose penasaran.
Apa Kak Dave menelfonku, cih. Tapi tidak mungkin. Siapa aku ini, hanya gadis yang mengemis cintanya.
"Rose." Kristal menggoyang kaki Rose pelan.
Rose tersadar dari lamunannya, "Hehe, maaf Tan." Ucap Rose tertawa kaku.
"Itu tadi yang menelfonmu, pria kanebo. Siapa pria kanebo? Kenapa kamu menamainya seperti itu?" Tanya Kristal dengan menekan rasa gugupnya.
"Oh, Kak Gabriel." Jawab Rose dengan mangut-mangut.
"Gabriel? Tapi kenapa wajahnya mirip dengan Daniel, apa mungkin dia Elbarackku." Gumam Kristal dalam hati.
"Apa dia kekasihmu?" Tanya Kristal mencoba mencairkan suasana agar tidak terlalu ketara.
Rose cemberut, "Apa yang dapat diharapkan dari pria kaku itu, dia sangat menyebalkan." Gerutu Rose.
Kristal terkekeh pelan, "Lalu siapa kekasihmu yang sebenarnya, Tante yakin kamu memiliki kekasih." Ucap Kristal dengan tersenyum lembut.
Wajah Rose berubah menjadi sendu, bahkan tanpa sadar Rose menangis. Dengan cepat Rose mengusapnya.
"Ma.. maaf Tante." Ucap Rose dengan suara serak.
Kristal menarik lengan Rose dengan cepat, Kristal segera memeluk tubuh kecil tersebut dan menepuinya lembut.
__ADS_1
"Keluarkanlah, jangan di pendam itu hanya akan membuat hatimu semakin sakit." Ucap Kristal dengan pelan.
Tangis Rose akhirnya pecah, Rose menangis dengan kencang bahkan jika orang mendengarnya akan merasakan sakit yang teramat sangat.
Di dalam kepala Rose bagaikan rangkaian film yang di putar dengan cepat, bagaimana pertemuan pertamanya dengan Dave hingga perbuatan yang Dave lakukan di depan mata kepalanya sendiri.
"Sakit, Tante." Ucap Rose dengan menangis sesekali memukul dadanya.
Kristal tidak menjawab apapun, Kristal hanya dapat memeluk dan menyalurkan ketenangan untuk gadis kecil itu.
Cukup lama Rose menangis, hingga Rose tertidur di pangkuan Kristal.
Kristal membelai pipi kemerahan tersebut, terlihat mata yang sudah membengkak karena terlalu banyak menangis.
"Apa Gabriel itu Elbarackku, apa yang harus Tante lakukan jika kami bertemu Rose. Bagaimana caranya Tante dapat membuktikan jika pria kanebo itu adalah Elbarack Tante." Gumam Kristal pelan dengan memandang wajah Rose yang terlelap.
Sayup-sayup Rose mendengar tetapi kesadaran Rose bagaikan di ambang mimpi dan kenyataan.
Kristal menjadi ragu apakah Gabriel hanya kebetulan saja mirip dengan Daniel. Kristal mengingat terakhir meninggalkan Elbarack di taman bermain.
"Jika benar kamu Elbarack, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu El." Gumam Kristal dengan menitikan air mata.
Penyesalan selalu di akhir, Kristal bukan bermaksud membuang Elbarack. Waktu yang sedang tidak berpihak kepada mereka, sehingga membuat Kristal harus mempertahakan Daniel di sisinya.
Di sebuah apartemen.
Gabriel masih berusaha menghubungi Rose, tetapi ponselnya tidak aktif.
Ingin sekali Briel menyusul Rose, tapi mengingat pekerjaannya sangat banyak belum lagi persiapan pernikahan Sky.
"Aku butuh meregangkan ototku." Ucap Briel yang berdiri dari duduknya.
Segera Gabriel melangkahkan kaki menuju kamar pribadinya, segera Briel membuka jas dan kemeja yang dia kenakan dengan serampangan.
Briel bahkan membuka celananya dengan berjalan ke arah kamar mandi. Terlihat celana kain jatuh ke lantai dengan gesper yang masih terpasang.
Suara gemericik air terdengar mengalir dari dalam, tetesan air yang keluar dari shower. membasahi ujung kepala Gabriel hingga kakinya.
Tidak membutuhkan waktu lama, aktivitas mandi Gabriel kini telah selesai. Kaki Gabriel terlihat melangkah mendekat ke arah rak yang berisi handuk bersih.
Briel mengambil satu yang cukup besar dan melilitkannya di pinggang hingga menutupi asetnya.
Briel mengibaskan rambutnya hingga percikan air membasahi sekelilingnya.
Cukup lama Briel beraktivitas di kamar pribadinya, hingga pintu kamar Briel akhirnya kembali terbuka.
Terlihat pria yang berbadan proporsional dan wajah tampan rupawan mengenakan kaos oblong dengan di padukan celana pendek rumahan.
Briel segera melangkahkan kakinya menuju dapur dan mengisi teko untuk di panaskan di atas kompor induksi.
__ADS_1
Segera juga Briel mengambil cangkir yang di isi dengan susuk coklat kesukaannya, tidak membutuhkan waktu lama. Air telah mendidih dan Briel menuangkannya di atas tumpukan bubuk susuk coklat di dalam cangkir.
Terlihat kepulan asap dan buih yang ada di dalam cangkir Briel, aroma coklat menyeruak memenuhi dapur Briel.
Dengan sendok kecil Gabriel mengaduk perlahan coklat panasnya dengan berjalan ke arah balkon apartemen.
Dilihatnya pemandangan sore ini, dimana langit yang sebentar lagi akan berubah berwarna jingga.
Sejeka Briel melupakan masalah percintaan, kantor, dan kehidupannya.
Hingga suara yang sangat familiar mengganggu ketenangan jiwa Gabriel.
"Apa tidak bisa hidupku tenang satu hari saja." Gerutu Gabriel yang meletakkan cangkir susu coklatnya di meja ruang tamu.
Segera Briel membuka pintu apartemennya, terlihat Ambar dan Agung sudah berdiri didepan pintu.
Segera Ambar menerobos masuk hingga Briel terdorong ke samping.
"Bagaimana kabarmu Briel." Ucap Agung yang ikut masuk mengikuti istrinya.
"Baik, Ayah. Ada apa datang kesini?" Tanya Briel yang sudah duduk di sofa.
Ambar datang mendekat dan menukul lengan Gabriel, "Dasar anak nakal, kau dan Sky sama saja. Siapa gadis yang tengah kamu dekati Briel?" Cecar Ambar kepada Briel.
Agung hanya dapat menghela nafasnya panjang, Agung sudah duduk di samping Gabriel dan menjadi pendengar setia.
"Apa sih Ma, siapa yang mendekati wanita." Jawab Gabriel dengan mengelus lengannya.
"Tadi ketika bersama Tante Bulan, kamu bilang wanitamu sedang pergi berlibur. Cepat jawab siapa dia, apa Mama kenal dengannya?" Tanya Ambar.
"Apa benar kamu dekat dengan seorang wanita Briel, jawab saja. Mungkin Ayah bisa membantumu mendapatkannya." Timpal Agung kepada Gabriel.
Gabriel hanya dapat menghela nafasnya panjang, "Tidak ada, Ayah. Briel hanya bercanda saja tadi daripada Mama terus memojokkanku." Jawab Gabriel datar.
"Jika begitu, Mama akan menjodohkanmu dengan anak rekan teman Ayah. Bagaimana Yah?" Tanya Ambar kepada Agung.
Agung hanya menaikkan bahunya ke atas, sedetik kemudian menoleh ke arah Gabriel.
Terlihat wajah datar yang sedang bingung untuk mencari alasan. Membuat Agung tersenyum tipis.
"Setuju saja, akan Ayah segera hubungi kolega Ayah yang anak perempuannya belum menikah. Setelah Sky, kita bisa merencanakannya Mah." Jawab Agung dengan tersenyum simpul.
Gabriel mendelik kesal dengan saran dan jawaban kedua orang tuanya.
"Apa kalian pikir, Briel ini Siti Nurbaya." Jawab Briel mendengus kesal.
"Bukan Siti, Gabriel Nurbaya." Kelakar Ambar dengan mencubit kedua pipi Briel gemas.
...🐾🐾...
__ADS_1
...JANGAN LUPA KASIH KEMBANG SETAMAN, DISIRAM KOPI, ATAU DI KASIH KOIN BUAT JAJAN....