
Happy Reading 🌹🌹
Gabriel bersedekap dada dan menatap dingin kearah Stevan yang terlihat sangat emosi.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan aku bukan anakmu begitu mudahnya? Bagaimana jika memang benar aku anak kandungmu, apa kamu yakin tidak akan menyesal?" Tabya Gabriel dengan senyum sinisnya.
"Aku sangat yakin jika kamu bukan anak suamiku!" Sentak Eve dengan menggebu.
"Benarkah? Apa kamu memiliki bukti?" Tanya Gabriel menantang.
Eve terdiam mendengar pertanyaan dari Daniel (Gabriel) yang memandang remeh kepadanya.
"Kenapa perlu bukti, sudah sangat jelas jika kamu bukan anak dari Stevan." Elak Eve menutupi kegugupannya.
"Aku kira kamu pintar seperti ucapan orang-orang, nyatanya sangat bodoh. Bagaimana bisa kamu menuduh tanpa bukti? Bukankah itu suatu kejahatan dan pencemaran nama baik?" Jawab Gabriel dengan tertawa pelan.
"Kita buktikan dengan DNA." Potong Stevan.
Eve dan Kristal melebarkan matanya, tidak percaya dengan ucapan Stevan yang baru saja keluar.
Eve yang merasa takut jika benar Daniel adalah anak kandung Stevan sedangkan Kristal sangat sakit hati karena Stevan tidak percaya jika Daniel dan Gabriel anak kandungnya.
Gabriel tergelak dan berdiri dari duduknya, "Oh, jangan buat aku tertawa. Aku bahkan tidak peduli jika bukan anak kandungmu, yang terpenting Ibuku adalah Kristal." Jawab Gabriel dengan wajah mengejek.
Stevan terlihat mengepalkan kedua tangannya bahkan wajahnya sudah merah padam karena pria muda yang berada didepannya bahkan terlihat senang jika bukan anak kandungnya.
"Ayo, Mah tinggalkan benalu dan orang bodoh ini." Ajak Gabriel kepada Kristal.
Kristal segera berdiri dan melangkah pergi bersama Gabriel meninggalkan meja makan yang berubah menjadi medan peperangan pagi ini.
Stevan dengan membawa emosinya juga pergi meninggalkan meja makan hingga menyisakan Eve.
Eve juga ikut pergi namun tidak mengikuti Stevan, melainkan pergi keluar mansion untuk menelfon seseorang.
"Ayah, bagaimana ini. Stevan menginginkan tes DNA kepada Daniel." Ucap Eve panik.
"Tenanglah, biarkan Stevan melakukannya." Jawab seseorang yang dipanggil Ayah.
"Apa! Jika sampai Stevan tahu jika Daniel adalah anak kandungnya, dia pasti akan membunuhku Ayah." Sentak Eve.
"Jangan berlebihan Eve, biarkan Stevan melakukannya dan kamu tenang saja. Ayah yang akan bekerja." Jawab orang tersebut menenangkan Eve.
"Baiklah, jika sampai Stevan curiga maka bukan hanya aku yang akan mati tapi juga Ayah." Ucap Eve memberikan sedikit ancaman sebelum menutup telfonnya.
__ADS_1
Tanpa Eve sadari, sejak tadi ada seseorang yang mendengarkan percakapan tersebut.
Terlihat sorot mata yang menggelap bahkan sudah melempar ponselnya hingga berkeping-keping.
"Keterlaluan kamu Eve! Baiklah aku akan mengiku permainanmu dan akan menghabisi seseorang yang kamu panggil Ayah itu." Ucap Stevan dengan nafas memburu.
Ya, penyadap ponsel Eve adalah Stevan. Berawal Stevan yang selalu mendapatkan chat dari dua orang asing dengan nomor yang tidak terdaftar dinegaranya.
Satu nomor mengirimkan foto-foto Kristal yang selalu berganti laki-laki sedangkan nomor asing lainnya mengirimkan foto Eve yang terlihat selalu bertemu seseorang yang sama di sebuah hotel.
Stevan segera menghubungi kepala IT perusahaan Kristoff untuk mencarinyahu nomor yang dihubungi oleh Eve baru saja.
Karena yang Stevan tahu jika itu bukan nomor orang tua Eve, yang selama ini dia kenal.
Stevan mengeluarkan sebuah perekam suara dari balik pakaiannya, dimana secara tidak sadar Eve berucap perihal foto Kristal dengan seorang pemuda.
Stevan tidak pernah bercerita apapun kepada Eve perihal itu, hanya satu jawabannya. Eve adalah pelakunya.
Terlihat Stevan kembali memutar perekam suara itu, ada senyum getir yang muncul dibibirnya.
Dalam hati Stevan sangat mengutuk Eve karena dirinya Stevan harus berpisah dengan Kristal juga menghina anak kandungnya sendiri.
"Maafkan Papa, El." Ucap Stevan pelan.
Sedangkan Gabriel yang tengah berada didalam mobil bersama Kristal, sedang bersin-bersin.
Kristal terkekeh, "El, antar Mama keapartemen Rose saja ya." Kata Kristal lembut.
Gabriel menoleh dengan wajah yang sulit di artikan.
"Kenapa, El? Kamu tidak suka Mama dekat dengan Rose?" Tanya Kristal pelan.
"Bukan tidak suka, Mah. Hanya--- kenapa Mama selalu dekat dengan Rose? Calon menantu Mama itu Minzy." Jawab Gabriel bingung.
Kristal tersenyum lembut, "Benar, Minzy adalah calon menantu Mama siapa tahu Rose juga calon menantu Mama." Ucap Kristal berusaha memberi kode.
Gabriel tergelak mendengar ucapan Kristal, "Mah, bisa-bisa Mama akan dicincang oleh Tante Lila jika sampai dia mendengarnya." Kelakar Gabriel.
"Oh, benarkah? Menarik bukan melihat dua Ibu merebutkan satu wanita untuk dijadikan menantunya?" Tanya Kristal dengan terkekeh pelan.
Gabriel memutar bolanya malas, "Sudahlah Mah, Rose dan Dave sebentar lagi akan menikah. Jangan ganggu mereka." Ucap Gabriel serius.
Kristal melihat Gabriel yang bersedekap dada dan membuang pandangannya kearah luar mobil dengan seksama.
__ADS_1
"Bagaimana jika Rose dan Dave tidak jadi menikah?" Tanya Kristal tidak kalah serius.
"Iti tidak akan pernah terjadi." Jawab Gabriel tanpa melihat kearah Kristal.
"Bagaimana jika terjadi?" Tanya Kristal.
"Maka El akan langsung mengejarnya." Jawab Gabriel asal.
"Benarkah?" Tanya Kristal.
Gabriel mengangguk, dalambenak Gabriel membayangkan jika benar Rose tidak jadi menikah dengan Dave makan Gabriel akan kembali mengejarnya.
Di dalam apartemen, terlihat Rose sudah bersiap untuk berangkat kuliah perdananya hari ini.
"Apakah ini terlalu pendek?" Ucap Rose pada dirinya sendiri yang tengah berkaca.
"Ah, tidak-tidak. Ini penampilan yang sudah biasa dinegara Korea." Ucap Rose lagi.
Segera Rose mengambil tas dan peralatan kuliah lainnya, meskipun Rose kurang mengerti bisnis tapi dia akan berusaha.
Teringat ucapan Ayah Nugroho sebelum dirinya naik pesawat.
"Ingat jangan mengejarnya, fokuslah kuliah dan jadilah wanita mandiri yang sukses." Ucap Ayah Nugroho.
Rose segera melangkahkan kakinya keluar apartemen menuju lift untuk turun ke lantai satu.
Selama tinggal di Korea, Rose akan selalu ditemani oleh satu pengawal yang senantiasa ada disampingnya 24 jam.
Pintu lift berdenting menandakan jika Rose telah sampai ditujuan, dengan langkah pendeknya Rose berjalan menuju luar gedung apartemennya.
Terlihat satu mobil yang sudah sangat Rose kenali, pengawal segera membukakan pintu untuk anak majikannya.
Dengan perlahan roda empat itu berputar meninggalkan apartemen setelah keduanya masuk kedalam mobil.
"Apakah ada yang ingin Nona beli?" Tanya pengawal.
"Tidak ada, kita langsung saja kekampus." Jawab Rose pelan.
Pengawal mengendarai mobil menuju Universitas Seoul. Sepanjang perjalanan Rose hanya menagap keluar jendela terlihat kota yang sangat rapi namun sibuk.
Terlihat anak-anak sekolah dan para pekerja yang tengah berdiri dihalte untuk menunggu bis, adapula bis berwarna kuning yang menyalip mobil Rose berisi anak-anak TK.
Sekelebat bayangan Rose memiliki anak dengan Gabriel, namun bayangan itu harus luntur karena Gabriel yang akan bertunangan dengan gadis bernama Minzy.
__ADS_1
Rose membuang nafasnya dengan kasar dan menyenderkan kepalanya di punggung kursi mobil.
...🐾🐾...