Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Ingin Menantu Mafia


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Kehamilan Rose membuat Gabriel kalang kabut karena ibu hamil itu terus berubah ubah moodnya. Kini usia kehamilan Rose sudah menginjak usia sembilan bulan.


Perut Rose sudah sangat besar padahal awal kehamilan tidak terlihat orang hamil, sama halnya dengan Rose. Minzy juga tengah hamil dua bulan namun berbeda dengan Rose, kehamilan Minzy membuat Daniel mengalami ngidam simpatik.


Seperti hari ini semuanya tengah berkumoul di ruang televisi, termasuk Gabriel yang sengaja kembali mengajukan cuti karena kelahiean sang buah hati semakin dekat dan membuat Stevan harus berkutat dengan pekerjaan kantor karena Daniel tengah mengalami mual yang hebat.


Huek!


Huek!


Suara muntahan terus terdengar didalam kamar mandi dekat dapur, Daniel memuntahkan seluruh makanan yang masuk.


"Sayang, ayo kita kedokter." Ucap Minzy khawatir.


Daniel melambaikan tangan menandakan jika tidak perlu, karena baru dua hari lalu mereka sudah periksa dan sudah diberi obat.


"Aku tidak suka bau kimci, sayang." Kata Daniel lemas.


"Baiklah akan aku singkirkan semua kimci di mansion ini." Jawab Minzy.


Minzy memanggil maid untuk menyingkirkan semua makanan yang di fermentasi tidak hanya kimci, mengingat kimci adalah sayuran yang di fermentasi.


Segera para maid membereskan meja makan dan menyingkirkan semua makanan yang berbau tajam, termasuk jengkol dan pete yang dibeli oleh Rose di Supermarket Asia.


Sudah satu minggu lamanya dua buah berbau tersebut berada di atas meja keluarga Kristoff, bukan untuk dimakan melainkan hanya sebagai pajangan saja. Karena Rose hanya ingin memandang dua buah yang terkenal membuat kamar mandi bau berhari-hari.


"Kenapa di singkirkan, Bi?" Tanya Rose dengan dahi mengkerut.


"Begini Nyonya, Tuan Daniel muntah-muntah mencium aroma tajam." Jelas maid.


"Oh, baiklah." Rose berjalan meninggalkan maid menuju ruang televisi.


Terlihat sudah ada sang suami, Kakek Krostoff, dan Kristal. Rose mendudukkan dirinya berjauhan dengan Gabriel.


Entah kenapa dua bulan ini Rose enggan berdekatan dengan sang suami, bukan tidak menyukai bau tubuhnya ataupun bertengkar. Hanya saja, Rose tidak suka melihat wajah sang suanu yang membuat dirinya kesal setiap melihatnya.


"Kakek sedang menonton apa, kenapa gelap-gelapan filmnya?" Tanya Rose sedikit tidak suka.

__ADS_1


"Film action tentang mafia." Jawab Kakek Kristoff.


Rose menikmati film action yang dilihat sang kakek, terlihat kedua mata Rose berbinar terang karena kagum dengan perkelahian, pembunuhan, dan wajah tampan para pemainnya.


"Pasti sangat keren jika memiliki menantu seorang mafia." Kata Rose yang keluar begitu saja dari bibirnya dengan atensi yang masih menonton film di televisi.


Terlihat makanan berbentuk bulat jatuh dari tangan Gabriel hingga menggelinding entah kemana, "Tidak! Enak saja, aku ingin kedua putriku menikah dengan pria normal." Tolak Briel tegas.


"Mafia juga normal, lihat mereka sangat tampan dan macho." Jawab Rose tidak ingin kalah.


"Mereka itu aktor tentu tampan, pokoknya anak-anakku tidak boleh menikah dengan pria kejam seperti itu." Kekeh Briel.


"Ini juga anakku, aku yang mengandung." Kesal Rose.


"Ingat itu adalah benih premiumku dan aku adalah ayahnya, jadi kedua putriku tidak akan pernah menikah dengan pria kejam seperti itu." Kata Briel sangat tegas.


"Sadar diri itu perlu El, apa kamu lupa jika dirimu juga kejam." Ucap Kakek Kristoff dengan wajah malas.


"Tentu berbeda Kek, El kejam dengan orang jahat berbeda dengan mafia itu. Memang kejam sejak lahir." Bantah Briel dengan cepat.


"Sayang, pokoknya aku ingin menantu seorang mafia. Dia pasti bisa menjaga putri kita jika kuat." Sela Rose dengan wajah bahagia membayangkan seorang mafia bucin dengan anaknya.


"Kamu membayangkan apa!" Kata Briel dengan cepat berjalan ke arah istrinya.


"Kenapa denganku, kamu sudah menghindariku dua bulan ini. Jangan mengkambing hitamkan anakku yang bahkan belum keluar dari kandunganmu sayang." Gabriel berkata dengan kesal.


"Aku tidak suka dengan wajahmu." Jawab Rose cepat.


"Kenapa dengan wajahku, katamu aku ini tampan. Lalu kenapa?" Cecar Briel.


"Tidak suka saja." Kata Rose tanpa beban.


"Baiklah, aku akan membuatmu kembali jatuh cinta." Gabriel segera menggendong sang istri pergi menjauh dari Kakek Kristoff dan Kristal.


Rose meronta dalam gendongan sang suami, karena tahu apa maksud dari ucapan Gabriel yang berujung kemesuman di atas kasur.


...***...


Malam menjelang, terlihat hening dan gelap mansion Kristoff. Begitu juga kamar Daniel dan Minzy, terlihat Daniel yang tidak bisa jauh untuk mencium aroma tibuh istrinya tersebut karena jika di tinggal akan mual-mual.

__ADS_1


Dikamar Rose dan Briel juga terlihat sepasang suami istri berpelukan, sama halnya dengan kamar Stevan dan Kristal. Berbeda jauh dari ketiga kamar tersebut ada satu kamar yang hanya di huni oleh satu orang yaitu kamar Kakek Kristoff.


Terlihat Kakek Kristoff masih terjaga, duduk termenung di atas tempat tidur dengan menatap foto wanita yang dia cintai hingga ajal menjemputnya.


"Sayang, sebentar lagi kita akan memiliki banyak cicit. Gabriel dan Rose akan memberi dua cicit jika Daniel san Minzy belum terlihat jumlahnya berapa bisa jadi dua atau tiga. Membayangkan mansion ini akan lebih ramai membuat aku tidak ingin cepat menyusulmu, namun aku juga ingin bertemu denganmu. Bagaimana ini? Aku harap kamu tidak marah jika bertemu denganku kelak. Terima kasih sudah menjaga cucu kita hingga dapat kembali berkumpul. Aku akan menerima hukumanmu jika kita bertemu di surga karena sudah selalu memarahimu selama ini."


Kakek Kristoff berkata dengan foto mendiang istrinya, terlihat guratan kesedihan, penyesalan, dan kebahagiaan menjadi satu.


Rose terbangun dari tidurnya karena merasa ingin Buang Air Besar (BAB), kedua kakinya turun menapaki lantai yang dingin karena bertelanjang kaki.


"Sshhh! Kenapa tubuhku sakit sekali. Apa suamiku terlalu keras tadi." Gumam Rose yang sudah duduk di atas WC.


Terdengar suara kran hingga membangunkan Gabriel, terlihat lampu kamar mandi menyala dari celah bawah pintu. Segera Briel turun karena mendapati sang istri tidak ada di tempat tidur.


Cklek.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" Tanya Briel dengan wajah cemas.


"Tidak sayang, perutku hanya mulas." Jawab Rose jujur.


"Kamu sakit perut atau mau lahiran sayang?" Kata Briel panik.


"Ini mungkin kram karena kamu terlaku bersemangat menjenguk mereka sayang, ayo tidur." Ucap Rose yang menenangkan sang suami.


"Maafkan Daddy." Ucap Briel dengan mengelus perut buncit sang istri.


Briel berjalan menuntun Rose kembali ke tempat tidur, namun Rose masih enggan memejamkan kedua matanya merasakan nyeri perut yang datang dan pergi tanpa memberi peringatan.


"Kita kerumah sakit ya?" Ajak Briel.


"Tidak perlu sayang, aku ingin menonton film." Jawab Rose.


Gabriel segera membuka laci dan mengambil remote televisi yang berada di kamar mereka, menyerakan kepada sang istri.


Terlihat Rose segera memencet tombol remote dengan antusias, ternyata Rose menonton siaran ulang film yang di tonton oleh Kakek Kristoff yang bercerita tentang mafia.


"Kalian harus punya suami yang mencintai dan menjaga kalian, seperti Daddy kepada Mommy." Ucap Rose lirih dengan mengelus perutnya.


Beruntung Gabriel sudah masuk ke alam mimpi, hingga tidak mendengarkan ucapan Rose. Rose menoleh menatap wajah damai sang suami, dengan susah payah Rose mencium pipi suaminya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Terima kasih, aku mencintaimu." Ucapnya.


...🐾🐾...


__ADS_2