Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Rose dan Stevani


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Tidak terasa mobil yang ditumpangi Rose telah sampai disalah satu apartemen mewah dinegara tersebut.


"Nona kita sudah sampai." Ucap pengawal.


"Terima kasih, langsung kembali saja nanti Rose pulang diantar oleh Kak Gabriel." Kata Rose meskipun belum pasti.


"Baik Nona." Jawab pengawal sopan.


Rose keluar dari dalam mobil tanpa dibukakan pintunya seperti biasa, sebelum menutup pinti Rose berkata.


"Pak, kopi dan kuenya dimakan ya. Tadi Rose belikan." Ucap Rose yang kemudian menutup pintu setelah mendengar ucapan terima kasih dari sang pengawal.


Pengawal Rose masih menunggu hingga majikannya benar-benar telah masuk kedalam lift, menunggu sekitar lima menit memastikan jika majikannya sudah tidak membutuhkan apapun lagi.


Rose terasa sangat gugup kali ini, sekian lama tidak pernah bertemu Kristal dan saat ini bertemu lagi dengan status sebagai kekasih dari anaknya Gabriel.


Membuat jantung Rose berdetak lebih cepat, bagaimana jika Kristal tidak menyukainya. Begitulah pikiran Rose saat ini.


Terlihat Rose menggenggam erat kotak kue yang berada di kedua tangannya, menyalurkan perasaan gugup yang menerjang hatinya.


Lift berhenti pada lantai yang dituju , terlihat hanya satu pintu disana. Rose berjalan mendekat dengan berdehem menetralkan perasaan gugupnya.


Rose memencet bel apartemen agar yang berada didalam unit tahu jika ada seseorang yang datang.


"Siapa itu, apa Ayah dan yang lainnya sudah pulang?" Tanyan Stevani pada Kristal.


"Tidak mungkin Kak, jika mereka sudah pulang kenapa harus memencet bel." Jawab Kristal masuk akal.


"Oh iya, bodohnya aku. Yasudah biarkan Kakak yang membuka pintu." Ucap Stevani yang beranjak dari rebahannya.


Kristal juga segera membereskan bungkus makanan yang sudah dibuka beberapa, takut jika memang ada tamu penting.


Jika dipikir tidak mungkin ada tamu lain, karena yang tahu apartemen ini hanya mereka saja.


Segera Kristal berlari menuju pintu depan, takut jika Eve yang datang.


Cklek


Suara pintu apartemen terbuka, Stevani hanya melihat punggung seorang gadis dengan kedua kotak kue ditangannya.


Kenapa Stevani bisa tahu jika itu kue, karena kotak pembungkusnya trasparant.


"Siapa?" Tanya Stevani galak.


Rose tertegun sesaat takut salah unit karena itu bukan suara Kristal, perlahan membalikkan badannya berdiri seorang wanita yang cantik diusianya tengah mengunyah permen karet sambil bersedekap dada.


"Ma---maaf, apakah ini benar unit apartemen Tante Kristal?" Tanya Rose takut-rakut.


Stevani meneliti penampilan Rose dari ujung kepala hingga kaki, dari kaki kembali ke ujung kepala.

__ADS_1


"Ke---"


"Kakak!" Ucap Kristal yang menubruk tubuh Stevani.


"Tante." Ucap Rose dengan kedua mata melebar.


"Oh, Rose!" Kristal langsung menyambut Rose dengan memeluknya.


Rose tidak dapat membalas pelukan Kristal karena kedua kue tersebut.


"Ayo masuk." Ajak Kristal setelah melepas pelukannya.


Rose melakukan bow kepada Stevani dan mengikuti langkah Kristal dengan cepat setelah melepas sepatunya.


Beruntung Rose tidak menggunakan sepatu hak tinggi, mungkin dia akan jatuh karena terlalu takut dengan Stevani.


Stevani mengunyah permen karet dan memandang punggung gadis kecil tersebut, dengan tangan kanannya menutup pintu apartemen.


Rose menaruh kedua kotak kue diatas meja dan duduk di sofa berwarna putih tersebut dengan anggun.


"Ya ampun Rose, kamu semakin cantik. Kenapa tidak datang ke mansion mengunjungi Tante?" Tanya Kristal yang duduk disamping Rose.


Rose hanya tersenyum kikuk karena merasa dirinya di tatap tajam oleh Stevani yang duduk disebrang sofa.


"Oh, kenalkan Rose. Itu adalah Tante Gabriel dan Daniel namanya Tante Stevani." Ucap Kristal memperkenalkan Stevani adik sang mantan suami.


Rose langsung berdiri dan melakukan bow lagi namun lebih dalam, "Pe---perkenalkan saya Rose. Zia Rose Amanda." Ucap Rose terbata memperkenalkan dirinya.


Rose mengangguk kaku dan langsung mendudukkan pantatnya kembali di sofa.


Kristal yang melihat Rose takut dengan Stevani hanya terkekeh geli, "Jangan takut Rose, Tante Stevani tidak galah. Dia memang begitu jika baru pertama kali bertemu orang yang belum pernah ditemui sebelumnya." Jelas Kristal dengan menggenggam tangan Rose agar gadis itu tenang.


"O---oh iya Tante." Ucap Rose yang tetap tidak bisa menutupin kegugupannya.


"Tante buatkan minum dulu ya." Ucap Kristal dengan lembut.


Rose menggenggam tangannya menandakan jika bawa aku Tante.


Kristal tersenyum dan melepaskan genggaman tangan Rose, beranjak dari duduknya dengan membawa kotak kue yang dibawakan oleh Rose ke belakang.


Tinggallah Rose dan Stevani yang berada diruang tamu, Stevani masih menatap keal arah Rose dengan meneliti.


"Apa kamu kekasih keponakanku?" Tanya Stevani to the point.


Rose mengangguk dan langsung menggeleng dengam cepat.


"Iya atau bukan?" Tanya Stevani lagi.


"Iya Tante." Jawab Rose dengan jantung berdegup kencang.


"Sejak kapan kalian berpacaran? Bagaimana kalian bisa kenal? Apa kamu benar-benar mencintai keponakanku? Kapan kalian akan menikah?" Tanya Stevani dengan cepat sambil membenarkan duduknya.

__ADS_1


Rose berkedip dengan cepat, bingung harus memulai menjawab pertanyaan dari Bibi sang kekasihnya tersebut.


"Jawablah." Ucap Stevani lagi.


"Ah... emmm, sejak semalam." Cicit Rose pelan.


"Apa? Sejak semalam?" Ulang Stevani yang kini sudah bejalan pindah duduk disamping Rose.


Rose langsung menggeser duduknya karena terlalu dekat dengan Stevani membuatnya kurang nyaman.


"Kalian berpacaran sejak semalam?" Ucap Stevani lagi.


Rose menganggukkan kepalanya cepat.


"Apa kamu benar mencintai keponakanku?" Tanya Stevani lagi dengan menggeser duduknya maju.


Rose menggeser lagi duduknya dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Woah, kamu pasti hebat karena bisa menaklukkan hati Gabriel." Ucap Stevani dengan bangga bahkan menepuk pundak Rose cukup keras.


Loh, Rose hanya tetawa kaku karena Rose beranggapan jika hubungannya akan ditentang seperti drama-drama korea yang dia tonton.


Kristal datang dengan membawa nampan berisi tiga minuman dan tiga potong cake yang dibawakan oleh Rose.


"Kakak, jangan menggodanya." Ucap Kristal.


"Tidak, Kakak hanya bertanya saja. Benarkan?" Tanya Stevani pada Rose.


Rose mengangguk cepat, bibirnya terasa kelu untuk bersuara.


"Ayo Rose diminum, terima kasih sudah membawakan banyak cake." Ucap Kristal yang duduk disebelah Rose.


Waktu berlalu bergitu cepat, obrolan ketiganya terus bergulir. Entah sejak kapan Rose dan Stevani menjadi dekat bahkan mungkin tingkah mereka sebelas dua belas.


"Sebentar lagi makan siang, Kristal akan memasak sebentar ya." Ucap Kristal.


"Kenapa tidak delivery saja, kita mengbrol saja disini." Jawan Stevani.


"Tidak apa-apa, Kristal akan memasak makanan yang cepat Kak." Ucap Kristal.


"Baiklah jika begitu, aku tidak bisa membantu karena aku tidak bisa memasak." Jawab Stevani yang mulai bangkit dari posisi tengkurap.


"Jika begitu Rose bantu agar cepat selesai ya Tante." Rose menawarkan diri.


"Apa kamu dapat memasak adik kecil?" Tanya Stevani dengan wajah tidak percaya.


"Bisa." Jawab Rose dengan tersenyum.


"Emm , baiklah kalian sangan cocok menjadi mertua dan menantu memasak bersama di dapur sungguh romantis." Kelakar Stevani dengan terkekeh geli.


...🐾🐾...

__ADS_1


__ADS_2