
Happy Reading 🌹🌹
Robby dan yang lainnya telah sampai di Rumah Sakit.
Dengan hati-hati para perawat yang sudah menanti kedatangan Daniel mendoring brangjar Daniel menuju ruangan yang sudah disiapkan.
"Dimana kamar Ayah?" Tanya Kristal.
"Mari ikut saya Nyonya dan nona Minzy juga bisa ikut karena Nyonya Kim menjaga Tuan Kristoff bersama Nona Stevani." Jawab Robby sopan.
"Lalu paman Stevan bagaimana?" Tanya Minzy tak enak hati.
"Temuilah orang tuamu dulu, paman akan menjaga Daniel disini sekaligus beristirahat sebentar." Jawab Stevan pelan.
Robby keluar bersama Kristal dan Minzy, setelah semuanya pergi Stevan berjalan mendekat ke arah brangkar Daniel.
Tangan yang sudah keriput itu mengelus surai hitam sang putra, tubuh Stevan bergetar karena menangis hingga terdengar isakan lirih.
"Maafkan Ayah, El. Maafkan Ayah." Ucap Stevan dalam tangisnya.
Air mata Stevan mengalir deras bagaikan bendungan yang sudah lama ditahan, terlihat tangis Stevan tersendat-sendat karena merasakan sesak dalam dada yang menyeruak.
Stevani hanya berdiri didepan pintu ruangan Daniel dengan tangan memegang daun pintu, Stevani diam dengan mendengarkan penyesalan Stevan kepada sang ponakan.
Stevani menyeka sudut matanya dan menghidup udara dalam.
__ADS_1
"Kamu sendirian." Ucap Stevani.
Stevan yang mendengar suara sang kakak langsung menyeka air matanya dengan cepat.
"Ah, kakak kesini. Kenapa tidak menunggu Ayah." Ucap Stevan tanpa membalikkan tubuhnya.
"Ayah sudah ada Kristal, tadi kakak pergi ingin melihat keadaan Daniel." Jawab Stevani lembut dengan berjalan ke arah brangkar Daniel.
"Daniel baik-baik saja kak, mungkin sebentar lagi akan sadar." Ucap Stevan.
"Emm... Bagaimana keputusanmu setelah ini?" Tanya Stevani yang sudah berdiri di samping Stevan.
"Aku akan menceraikan Eve dan menjebloskan merek ke dalam penjara." Jawab Stevan dengan serius.
Stevan hanya terdiam entah dirinya juga tidak tahu apa mingkin ibu dari anak-anaknya akan menerima dirinya kembali.
"Kamu masih mencintai Kristal?" Tanya Stevani lagi.
"Sangat." Jawab Stevan lirih.
"Meskipun anak-anak kalian sudah dewasa, tidak ada salahnya mencoba." Ucap Stevani serius.
"Apa mereka akan memaafkanku, aku terlalu banyak dan lama menyakiti mereka bahkan aku tidak tahu jika memiliki anak kembar." Jawab Stevan sendu.
"Kakak yakin mereka memaafkanmu, buktinya Daniel sudah mau memanggilmu ayah bukan. Kamu tinggal mendekati Gabriel saja." Jelas Stevani.
__ADS_1
"Gabrie? Stevan rasa akan sulit mendekatinya." Ucao Stevam jujur.
"Kenapa sulit, bukankah Gabriel foto copyan dirimu. Seharusnya kamu tahu cara mendekati dan mengambil hatinya." Jawab Stevani dengan nada mengejek.
"Ck, memang Stevan seperti itu." Tanya Sevan serius.
"Hemm, tentu saja buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Jawab Stevani.
Stevan diam memikirkan ucapan sang Kakak, apa benar Stevan akan dapat mendekati Gabriel.
"Bagaimana keadaan Daniel, Kakak dengar kamu melakukan tes." Ucap Stevani.
"Kankernya hampir mengenai organ lain kak dan kemoterapi sudah tidak berlaku untuk Daniel, kita harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan hasilnya." Jelas Stevan pada sauadar kembarnya.
"Semoga saja sum-sum tulang belakang kalian cocok, Kakak sudah tidak tahu lagi harus mencari pendonornya karena setiap ada pendonor yang cocok selalu mengundurkan diri." Ucap Stevani sendu.
"Benarkah, kakak selama ini mencarikan pendonor untuk Daniel?" Tanya Stevan yang tidak percaya.
"Benar, bahkan Ayah dan Kristal juga selalu mencari pendonor untuk Daniel. Ayah dan Kristal juga melakukan tes sum-sum tulang belakang mereka berharap cocok untuk Daniel namun nihil tidak ada yang cocok." Jawab Stevani panjanh lebar.
"Stevan berharap tes yang dilakukan tadi cocok, Stevan ingin menebus kesalahan Stevan meski harus mempertaruhkan nyawa." Ucap Stevan lirih.
Stevani menepuk pundak adiknya dengan pelan, "Kamu pasti bisa dan yang penting, Kakak ingin melihatmu hidup bahagia." Stevani memeluk Stevan dengan penuh kasih sayang.
...🐾🐾...
__ADS_1