Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Terlacak


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Daniel yang tengah tertidur pulas perlahan mulai menggeliat, terbuka kedua matanya dan mengerjab secara perlahan.


Perlahan menguap dan bangun dari tidurnya, "Jam berapa ini." Ucap Daniel seorang diri.


Nampak diluar cahaya matahai mulai semburat orange, Daniel turun dari atas kasur dan berjalan kekamar mandi untuk cuci muka.


Terdengar suara gemericik dan percikan air yang di basuhkan kewajah tampan Daniel.


Tangan kanan Daniel mengambil handuk kecil yang berada didalam keranjang gantung berwarna hitam.


Daniel mulai melangkahkan kakinya keluar kamar mandi dan berjalan menuju ruang tamu.


Nampak Daniel celingukan mencari keberadaan keluarganya, "Kemana semuanya, kenapa sepi sekali." Gumam Daniel pelan.


Daniel berjalan menuju depan rumah dan memanggil salah satu pengawal dikediaman Agung tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya pengawal sopan.


"Kemana perginya semua orang." Jawab Daniel.


"Mereka kembali ke kota Tuan, Nyonya Kristal menghilang." Jawab pengawal jujur.


"Apa!" Seru Daniel karena kaget.


"Cepat antar aku ke mansion." Ucap Daniel yang langsung berlari kearah mobil.


Pengawal segera berlari di ikuti dua rekannya, sedangkan yang lain berjaga dikediaman Agung.


Mobil yang ditumoangi Daniel perlahan mulai bergerak meninggalkan kediaman Agung.


Sedangkan kini di mansion, Stevan langsung berlari masuk begitu memarkirkan mobilnya.


"Eve!"


"Eve!"


Teriakan Stevan menggelegar didalam mansiom tersebut, terlihat Stevan berlari menuju lantai dua menuju kamar dimana Eve selama ini tidur.


Brak!


Pintu kamar terbuka dengan keras hingga membentur tembok, Stevan langsung melangkah masuk dan mendobrak setiap ruangan.


Kosong, tidak ada Eve disana.


Stevan bergegas lari tyrun untuk mencari Eve, hingga berpapasan dengan maid.


"Dimana Eve." Ucap Stevan dengan wajah yang penuh dengan amarah.


"Nyonya pergi sejak tadi, Tuan." Jawab maid dengan gemetar.


"Brengsek!" Umpat Stevan dengan melempar vas yang berada diatas meja.


Maid sangat kaget karena vas bunga dilempar sangat kendang keatas lantai.


Stevan kembali naik ke lantai dua untuk menggeledah seluruh kamar, berharap menemukan petunjuk untuk menemukan Kristal.


Disisi lain Daniel tengah mencoba menghubungi saudaranya, namun tidak di angkat.


"Angkat kak." Ucap Daniel dengan kesal.

__ADS_1


Daniel beralih menghubungi Roby untuk menanyakan kebenaran penculikan Mamanya.


πŸ—£οΈ Kakak dimana?


πŸ‘€ Ada apa, El.


πŸ—£οΈ Apa Mama sudah ditemukan?


πŸ‘€ Belum El, kami sedang menuju apartemen.


πŸ—£οΈ Aku pulang ke mansion.


πŸ‘€ Baiklah, hati-hati.


"Siapa?" Tanya Kakek Kristoff.


"Daniel, Tuan." Jawab Robby.


"Kita harus ke Rumah Sakit dulu untuk melihat keadaan kekasih Gabriel." Ucap Kakek Kristoff tegas.


"Baik, Tuan." Robby melajukan mobil menuju Rumah Sakit.


Terdengar helaan nafas kasar dari Kakek Kristoff, bagaimana bisa menjatuhkan korban dari luar keluarganya.


Sedangkan Agung, tengah berkirim pesan dengan Seo. Mantan kepala IT yang ternyata adalah utusan dari mendiang Nyonya Kristoff.


πŸ“¨ Segera lacak keberadaan Eve.


πŸ“© Baik.


πŸ“¨ Aku ingin secepatnya.


πŸ“¨ 5 menit tidak ada bantahan.


Seo yang melihat pesan dari mantan majikannya mendengus kesal, apa Agung pikir melacak seseorang semudah berkedip.


Namun begitu, Seo segera melakukan tugasnya dengan cepat. Terlihat jemarinya bergerak cepat di atas keyboard dan juga mouse.


Hingga titik koordinat tengah bergerak disatu daerah yang masih belum diketahui.


(Teman-teman kalau ingat, Gabriel pernah menyuruh mata-mata memasukkan kamera sekaligus perekam didalam tas Eve yang sering digunakan itu ya.)


πŸ“© Target sudah ditemukan.


πŸ“¨ Kirim lokasinya.


πŸ“© Target masih bergerak.


πŸ“¨ Pantau dan kerahkan pengawal yang lainnya dengan segera.


πŸ“© Baik.


Sekali lagi, Seo harus melakukan pekerjaan yang bukan kewajibannya. Mengerahkan pengawal, kenapa tidak menghubungi ketuanya saja.


Meski begitu, Seo tetap menjalankan perintah Agung meski dalam hati berkomat-kamit.


Terlihat Agung memasukkan ponselnya, tidak ada niatan untuk memberitahu Kakek Kristoff mengingat usianya yang sudah tua.


Agung membuang pandangannya keluar jendela dengan bersedekap dada, memikirkan bagaimana hukuman terbaik untuk kedua orang tersebut.


Di mansion keluarga Kim, terlihat Nyonya Kim tengah bertengkar hebat dengan sang suami.

__ADS_1


"Apa kamu tidak cukup membunuh kedua orang tuanya!" Seru Nyonya Kim.


"Tidak." Jawab Ketua Kim tegas.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan hah! Harta, tahta, kekuasaan? Kamu sudah memiliki semuanya dari keluargaku! Apa itu masih kurang, bahkan kamu sudah membuat Kristal menderita sejak remaja apa masih kurang!" Teriak Nyonya Kim dengan memukul dada sang suami.


"Diam! Dengar, aku tidak bisa mendapatkan cinta pertamaku karena pria cupu itu. Maka, Kristal tidak akan pernah bisa bersama dengan cinta pertamanya. Apa yang aku rasakan harus dirasakan juga oleh anak Han." Jawab Ketua Kim dengan tegas didepan wajah Nyonya Kim.


"Apa salah Kristal, apa salahku! Kenapa kamu begitu kejam kepada kami." Ucap Nyonya Kim dmyang terisak hingga luruh ke lantai.


"Karena dia adalah keturunan Han, dan kamu. Karena kamu wanita bodoh karena cinta." Jawab Ketua Kim dengan tersenyum sinis.


Ketua Kim berjalan keluar kamar meninggalkan istrinya menangis seorang diri, Minzy yang sejak tadi bersembunyi hanya mampu diam dan memandang punggung sang Ayah pergi menghilang dari pandangannya.


Dengan cepat Minzy masuk kedalam kamar dan mengunci pintu dari dalam.


Terlihat Nyonya Kim yang menangis dengan memukul dadanya sendiri di atas lantai, Minzy langsung memeluk tubuh Mamanya.


"Jangan menangis Mah, jangan menangis." Ucap Minzy dengan air mata yang mengalir.


"Aaaaa, maafkan Mama Minzy. Maaf kan Mama." Jawab Nyonya Kim yang semakin menangis.


Minzy menggelengkan kepalanya cepat, "Mama tidak salah, tidak ada yang salah disini Mah." Ucap Minzy.


Minzy melerai pelukannya dan menghapus air mata dari wajah yang mulai keriput dengan pelan.


"Mama, dimana Tante Kristal berada?" Tanya Minzy serius.


Bibir Nyonya Kim bergetar dan kembali menangi, "Maafkan Mama Minzy." Ucap Nyonya Kim.


"Minzy sudah memaafkan Mama, sekarang jawab Minzy. Dimana Tante Kristal di sembunyikan Mah." Ulang Minzy lagi.


Nyonya Kim menggeleng cepat, jika dirinya menjawab takut Minzy akan mengetahui yang sudah lama dia tutupi.


Minzy memegang kedua pundak Nyonya Kim dan menatap dengan tegas.


"Mah, jangan takut. Minzy tidak akan marah atau meninggalkan Mama, Minzy sudah tahu semuanya. Minzy adalah anak diluar pernikahan." Ucap Minzy dengan mata berkaca-kaca.


Nyonya Kim shock, bagaimana bisa Minzy mengetahuinya. Suaminya sudah melanggar perjanjian mereka lagi.


"Tidak, Minzy. Jangan dengarkan Ayahmu itu tidak benar." Ucap Nyonya Kim cepat.


"Minzy tahu bukan dari Ayah Mah." Jawab Minzy dengan tersenyum lembut.


Kedua bola mata Nyonya Kim bergetar.


"Minzy sudah tahu sejak lama, Mama tidak perlu takut. Tidak ada anak haram didunia ini begitu kata Kak Gabriel, semua anak terlahir suci karena anak ada karena perbuatan dari orang dewasa. Jadi---Mama tidak perlu takut dengan ancaman Ayah." Jelas Minzy yang sudah menangis.


Nyonya Kim memeluk tubuh Minzy dan menangis, ucapan Minzy bagaikan sebuah tamparan untuk dirinya.


Sang putri justru begitu tegar meskioun mengetahui kenyataan, "Maafkan Mama Minzy." Ucap Nyinya Kim.


"Minzy juga minta maaf Mah, Minzy belum bisa menjadi anak yang baik." Jawab Minzy menangis.


Terlihat keduanya berpelukan terhanyut dalam perasaan mereka masing-masing.


...🐾🐾...


Jangan lupa Vote


__ADS_1


__ADS_2