Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Waktu Kematian Terkonfirmasi


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Minzy melepas pelukannya, "Mama sekarang jawab, dimana Tante Kristal berada?" Tabya Minzy serius.


"Di bekas bangunan ditengah hutan." Jawab Nyonya Kim dengan suara seraknya.


Minzy langsung berdiri namun di tarik oleh Nyonya Kim, "Mau kemana?" Tanya Nyonya Kim.


"Ayo kita bebaskan Tante Kristal, Mah." Jawab Minzy.


"Tidak mungkin Minzy, Mama yakin Ayahmu pasti sudah mengerahkan seluruh anak buah yang kita miliki." Ucap Nyonya Kim.


"Mama lupa, para pengawal sudah tahu jika harta keluarga Kim sudah kembali ke tangan Mama. Jadi, yang berhak mereka turuti perintahnya adalah ucapan Mama dan Minzy bukan Ayah." Jelas Minzy dengan tegas.


Nyonya Kim terdiam, benar apa yang dikatakan oleh Minzy.


"Mah, tidak perlu takut kehilangan Ayah. Minzy sudah dewasa dan sebentar lagi akan berkeluarga jadi Mama tidak perlu takut kehilangan apapun lagi kecuali jika Mama ingin terus menyiksa diri sendiri." Ucap Minzy lagi.


Nyonya Kim menatap wajah Minzy dengan sendu, impiannya membina rumah tangga yang bahagia hingga usia senja hanya tinggal impian.


"Baiklah, Mama akan ikut dengan Minzy." Jawab Nyonya Kim yang sudah berdiri.


Minzy mengangguk dan membuka pintu kamar, langsung saja keduanya keduanya berjalan keluar mansion namun di hadang oleh dua orang penjaga.


"Ada apa?" Tanya Minzy dengan menyerengitkan dahinya.


"Maaf Nona dilarang keluar dari mansion oleh Tuan Kim." Jawab pengawal sopan.


"Mulai detik ini, kamu dan yang lainnya hanya menurut seluruh perintahku dan Minzy. Karena seluruh harta dan kekuasaan ada dibawah kendaliku bukan Tuan Kim lagi." Ucap Nyonya Kim dengan tegas dan lantang.


Penjaga yang mendengarnya hanya saling memandang sedangkan beberapa pengawal yang sudah tau dengan lantang menjawab laksanakan. Hingga di ikuti para penjaga yang lain.


Nyonya Kim menarik nafas dalam kini sudah tidak ada yang ditakutkan lagi, Nyonya Kim berjalan keluar bersama Minzy, sebuah mobil sudah siap keduanya tumpangi.


Hingga mobil mulai berjalan meninggalkan mansion Kim dengan di ikuti beberapa mobil pengawal dibelakang.


Selama diperjalanan Nyonya Kim menguatkan hati dan perasaan, sedangkan Minzy menghubungi asisten Kakek Kristoff mengingat jika Daniel akan shock dengan kejadian penculikan Kristal.


πŸ—£οΈ Halo, Nona.


πŸ‘€ Minzy dan Mama sedang perjalanan ke lokasi Tante Kristal.


πŸ—£οΈ Mohon tunggu di apartemen Nona, kami akan menyusul.


πŸ‘€ Apa yang harus kami lakukan?


πŸ—£οΈ Mohon tunggu saja Nona, jangan gegabah karena akan membahayakan semua orang.


πŸ‘€ Baik.

__ADS_1


"Bagaimana sayang?" Tanya Nyonya Kim pelan.


"Kita tunggu di apartemen saja, Mah. Kata Kak Roby akan berbahaya jika kita gegabah." Jelas Minzy.


"Baiklah, Mama mengikuti kalian saja." Jawab Nyonya Kim.


Minzy memberikan alamat kepada sopir dimana apartemen keluarga Kristoff berada. Meski belum pernah berkunjung sebagai tunangan Daniel tentu Minzy tahu.


Sedangkan Daniel kini telah sampai di mansion Kristoff, terlihat tengah mencari petunjuo untuk menemukan Mamanya bersama Stevan.


"Apa kamu menemukan sesuatu, El?" Tanya Stevan dengan mengobrak abrik isi lemari.


"Tidak Ayah." Jawab Daniel jujur.


"Sial, wanita ular itu pintar sekali bahkan tidak meninggalkan jejak apapun." Ucap Stevan geram.


"Itulah wanita pilihan Ayah." Jawab Daniel enteng.


"Ayo kita ke apartemen, menunggu Kakek juga yang lainnya." Ajak Stevan kepada Daniel.


"Baiklah."


Stevan dan Daniel memutuskan untuk meninggalkan mansion Kristoff menuju apartemen, karena baik Daniel maupun Stevan tidak memiliki kemampuan dalam melacak seseorang.


Rumah Sakit.


Gabriel dan Stevani tengah duduk termenung menunggu jalannya operasi Rose hingga selesai.


Perlahan pintu bergerak dan keluarlah seorang dokter, segera Gabriel dan Stevan beranjak dari duduknya. Berjalan cepat menuju sang dokter.


Dokter terlihat membuka masker dan juga penutup kepalanya.


"Bagaimana dokter! Apa kekasihku baik-baik saja." Tanya Gabriel dengan menggebu.


"Mohon maaf Tuan, Nyonya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Karena terlalu banyak mengeluarkan darah dan patah serta retak tulang di beberapa bagian. Kami sudah bekerja keras untuk mempertahankan detak jantungnya dengan puluhan kantong darah namun Tuhan lebih menyayangi kekasih Tuan." Jawab dokter panjang lebar.


"Tidak! Tidak mungkin dokter! Kekasihku wanita yang kuat tidak mungkin semudah itu meninggalkanku!" Teriak Gabriel dengan mencengkram krah dokter dengan kedua tangannya.


Robby yang melihat Gabriel tengah mencengkram dokter segera berlari dengam cepat.


"Lepaskan El." Roby memisahkan Gabriel hingga cengkraman tersebut lepas.


Dokter dengan tenang melihat jam tangannya, "Waktu kematian terkonfirmasi Hari Senin, 32 September 2022. Pukul 03.30." Ucap dokter.


"Apa makhsudmu." Tanya Kakek Kristoff dan Robby bersamaan.


Dokter melakukan bow, "Kami turut berduka cita." Ucapnya.


Gabriel langsung menyikut dada Robby hingga rengkuhan Roby terlepas.

__ADS_1


Briel berlari masuk kedalam ruangan, langsung mendorong para perawat yang akan melepaskan alat-alat kedokteran dari tubuh Rose.


"Tidak Rose! Aku tidak ijinkan kamu mati Rose! Bangun sayang bangun!" Ucap Gabriel yang sudah mengis dengan deras.


"Sayang bangun! Ayo kita menikah, Rose! Dengar aku ayo kita menikah." Teriak Gabriel.


Sekuat apapun Gabriel berteriak dan menggoyangkan tubuh Rose untuk bangun, Rose tetap terlihat tenang dan pulas dalam tidurnya.


"Sayang, jangan tinggalkan aku. Aaaaa Rose! Bangun sayang. Aku mencintaimu sangat mencintaimu sayang." Ucap Gabriel yang kini sudah luruh kelantai menangis dengan meraung-raung.


Stevani dan yang lainnya hanya berdiri diambang pintu dengan dokter yang baru saja mengoperasi Rose, terlihat Stevani menangis dengan memeluk sang Ayah.


"Bangun sayang. Rosenya Briel bangun ayo kita menikah." Ucap Gabriel dengan mengiba.


Terdengar bunyi alat detak jantung kembali terdengar, semua orang langsung terperangah. Dokter dengan cepat berlari menuju brangkar Rose.


Dokter memeriksa denyut nadi Rose, "Siapkan semua alat yang dibutuhkan, segera!" Teriak dokter.


Dengan cepat para perawat memasang alat penunjang hidup untuk Rose. Sedangkan Gabriel terpaku dibelakang para tenaga medis.


Air matanya masih terus mengalir dengan deras, Stevani berjalan masuk dan memeluk tubuh keponakannya dari samping.


"Roseku hidup? Roseku kembali hidup?" Ucap Gabriel dengan setia menatap wajah kekasihnya.


"Tuan, takdir Tuhan memang tidak pernah ada yang tahu. Selamat, kekasih Anda mendapatkan kesempatan kehidupannya. Kami akan melakukan segala upaya agar kekasih Anda membuka kedua matanya kembali." Ucap sang dokter.


Gabriel mengalihkan pandangannya ke arah Dokter dengan tatapan kosong seakan tidak percaya apa yang dokter katakan.


"Selamat Tuan, kami akan memindahkan pasien di ruang perawatan steril karena tidak bisa sembarangan yang boleh masuk hingga pasien sadar." Jelas dokter lagi.


"Terima kasih, dokter." Jawab Stevani dengan haru.


Gabriel berjalan pelan kearah temoat tidur operasi, terlihat tangan kokoh itu bergetar dan mengelus wajah Rose yang masih dengan tenang dalam tidurnya.


"Sayang, terima kasih sudah memberikan kesempatan kepada pria pengecut ini kesempatan untuk bersamamu. Aku janji, aku berjanji kita akan menikah begitu kamu sadar sayang. A---aku sangat mencintaimu Rose, segeralah sadar buka mata indahmu lagi." Ucap Gabriel dengan bibir bergetar bahkan air matanya menetes dari hidung mancungnya.


Briel mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Rose untuk beberapa saat, sebulir air mata luruh dari sudut mata Rose.


"Jangan manangis sayang, segeralah sadar. Aku menunggumu disini. Hemm." Ucap Briel dengan menyeka air mata Rose dengan lembut.


Stevani menangis dalam diam, tangannya mengelus punggung Gabriel dengan lembut.


"Mohon maaf Tuan, kami akan memindahkan pasien keruangannya." Ucap suster dengan sopan.


"Tolong jaga calon istriku, sus." Ucap Briel.


Suster hanya mengangguk dan segera dengan beberapa rekannya memindahkan Rose beserta alat-alat berat penunjang kehidupan pasien.


... 🐾🐾...

__ADS_1



__ADS_2