Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Menuju Hari Bahagia


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Baiklah, perusahaan kami setuju dengan isi perjanjian dalam proposal ini." Ucap seseorang dengan wajah datar dan dinginnya.


"Begitukah, terima kasih." Jawab seseorang yang duduk di depannya.


Mata datarnya menangkap seseorang yang sangat dikenal, dari awal masuk hingga kini berjalan mendekat.


"Jika begitu, kita sudahi pertemuan hari ini." Ucap Gabriel.


"Baik, Tuan. Sekali lagi Saya ucapkan terima kasih." Jawab rekan bisnis dengan mengulurkan tangan mengajak Gabriel bersalaman.


Gabriel menerimanya dengan senang hati, sebagai tanda menghormati.


Hingga suara langkah berhenti tepat di samping mejanya.


"Hey! Briel, sudah lama tidak bertemu." Sapa Dave dengan wajah cerahnya.


Briel hanya diam, namun pandangannya lurus menatap sepasang tangan yang saling bertautan tersebut.


"Kak Gabriel, sendiri?" Tanya Rose dengan kikuk.


Gabriel tidak merespon sapaan keduanya, dirinya bangkit dan mengambil berkas yang ada di atas meja.


"Bisakah menyingkir, aku harus segera ke kantor." Ucap Briel menatap datar ke arah Dave.


"Ayolah, kita makan siang dulu. Bukan begitu sayang?" Kata Dave dengan tersenyum menoleh ke arah Rose.


Rose tergagap dan mengangguk dengan cepat, setuju dengan usul dari Dave.


Gabriel melihat jam yang melingkad indah di pergelangan tangannya.


"Aku tidak memiliki waktu luang." Ucap Briel.


Gabriel berjalan melewati Dave hingga pundak keduanya bertabrakan.


Hingga suara Dave menghentikan langkah Gabriel.


"Pekan depan datanglah ke acara pertunanganku." Ucap Dave.


Gabriel hanya diam tidak menjawab, segera Briel melangkahkan kembali kakinya untuk keluar dari cafe dan menjauh dari kedua orang tersebut.

__ADS_1


Rose menoleh ke arah Gabriel dengan tatapan yang sulit di artikan, sedangkan Dave menatap Rose dengan tatapan yang sulit di artikan juga.


Gabriel berjalan cepat agar segera keluar dari cafe tersebut, dengan kasar Briel membuka pintu mobilnya dan membanting pintu mobil dari dalam.


Dengan tatapan tajam, Briel menatap kedua pasangan yang berada di dalam cafe hanya terhalang kaca putih.


Segera Briel menyalakan mobilnya dan pergi dari cafe tersebut. Dengan kecepatan yang cukup tinggi, Briel melajukan mobil menuju perusahaan Gandratama.


Tidak butuh waktu lama, mobil yang di kendarai Gabriel telah sampai di basemant perusahaan Gandratama.


Segera Briel keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju lift untuk keruangannya.


Denting bunyi lift menandakan jika telah sampai di lantai yang di tuju.


Dengan langkah lebarnya, Gabriel keluar dari dalam lift dan langsung masuk kedalam kantornya.


Kertas berhamburan di sofa karena Briel lembar begitu saja, tangannya dengan kasar membuka dasi yang sejak tadi serasa mencekik lehernya.


Kedua tangan bertumbu di samping meja, terlihat nafas Briel memburu dengan hebat. Perasaannya bergulat dengan hebat di dalam lebih hatinya.


Kedua tangan meraup kasar wajah tampan yang tersirat beban yang tengah di tanggung oleh Gabriel.


"Hah...."


Di cafe, Rose dan Dave sudah duduk saling berhadapan. Setelah kepergian Gabriel, Dave kembali menjadi dingin dengan Rose.


"Apa, aku memiliki salah?" Tanya Rose dengan perasaan takut.


Dave mengangkat pandangannya, terlihat wanita yang dia cintai tengah menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jari tangannya.


"Tidak ada." Jawab Dave singkat.


"Lalu, kenapa kakak seperti ini." Ucap Rose yang masih menundukkan kepalanya.


"Angkat kepalamu jika berbicara dengan orang." Kata Dave dengan memegapai dagu Rose.


Wajah Rose terangkat perlahan hingga pandangan keduanya saling bertemu, terlihat mimik muka Rose yang sedih menatap Dave.


"Gadis baik." Ucap Dave dengan tersenyum dan mengelus rambut Rose pelan.


Rose masih senantiasa menatap wajah tampan yang ada di hadapannya saat ini, bahkan tanpa sadar air mata Rose membasahi pipi kirinya.

__ADS_1


Dengan pelan, Dave menghapus air mata Rose. Masih senantiasa tersenyum dan mengelus pipi Rose penuh kasih sayang.


"Jangan bersedih, sebentar lagi hari bahagia kita." Dave kembali berucap kepada Rose.


...🐾🐾...


Kini Dave dan Rose telah sampai di sebuah butik yang terkenal.


Dave menggandeng tangan Rose untuk masuk kedalam butik dan memilih gaun serta jas yang akan dikenakan keduanya.


"Selamat datang, Tuan dan Nona." Ucap seorang pelayan sopan.


"Keluarkan koleksi gaun terbaik untuk acara pertunangan yang kalian punya." Ucap Dave dengan berjalan menuju sofa.


Segera para pelayan berpencar mengambil gaun yang terbaik untuk tamu VIP mereka.


Rose hanya duduk diam bersama Dave, hingga satu pelayan membawa satu troli yang sudah banyak gaun-gaun cantik tergantung disana.


"Silahkan, Nona." Ucap pelayan.


"Tolong bantu calon istriku untuk mencoba gaun." Perintah Dave kepada pelayan.


Segera para pelayan menggiring Rose masuk ke dalam ganti dengan gaun yang sudah mereka sediakan.


Cukup lama, Rose keluar dengan memakai gaun yang belahan dadanya sedikit rendah dan juga ketat.


Dave melihat, sangat sexy.


"Aku suka, kita ambil yang ini saja sayang." Ucap Dave.


"Tapi, bukankah ini terlalu rendah." Kata Rose dengan sedikit menaikkan gaunnya agar tidak melorot.


"Tidak, sayang. Ini sangat cocok untukmu." Jawab Dave yang berjalan mendekat ke arah Rose.


Rose mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar ganti untuk mengganti pakaiannya yang semula, sedangkan Dave mengambil satu jas yang senanda dengan warna gaun Rose.


"Antarkan di kediaman Danuarta." Ucap Dave kepada pelayan.


"Baik, Tuan. Silahkan melakukan pembayaran terlebih dahulu." Jawab pelayan dengan sopan.


Dave berjalan menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran gaun pertunangan.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2