Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Satu Centimeter


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Selamat pagi, Ayah!" Seru Rose yang menghambur ke pelukan Ayah Nugroho.


"Pagi, Rose." Jawab Ayah Nugroho dengan membalas pelukan anaknya.


"Ayah, hari ini Rose akan pergi kerumah Putri ya." Ucap Rose yang sudah mendudukkan dirinya di atas kursi.


"Putri, suami Sky Gandratama?" Tanya Ayah Nugroho memastikan.


"Iya Ayah, siapa lagi." Jawab Rose dengan mengunyah rotinya.


"Jangan pulang malam-malam." Ucap Ayah Nugroho kepada anaknya.


"Ya, Ayah." Jawab Rose patuh.


"Yasudah, Ayah berangkat dulu ke kantor." Ucap Ayah Nugroho yang sudah berdiri dan mencium kening Rose.


Rose menyelesaikan sarapannya seorang diri, "Apakah aku perlu mengabari Putri? Tidak pelukan, aku akan membuat kejutan untuknya." Gumam Rose pelan.


Rose segera berjalan keluar mansionnya dengan bersenandung ringan.


"Widih, pagi-pagi udah bahagia aja Non." Ucap Mang Asep yang tengah menyiram bunga.


"Ih, Mang Asep ngagetin. Kenapa sih Mang, gak boleh ya?" Jawab Rose cemberut.


"Boleh sih, cuma kalau senyum sendirian kan ngeri Non. Dikira orang kesambet setan." Ucap Mang Asep cekikikan.


"Mang Asep setannya, sudah Rose mau pergi dulu Mang." Kata Rose dengan penipu bahu Mang Asep.


"Ya Non, hati-hati." Jawab Mang Asep kepada anak majikannya.


Empat puluh lima menit kemudian, mobil Rose telah sampai di pelataran mansion Wiratama.


"Permisi, Putrinya ada Pak?" Ucap Rose kepada satpam.


"Ada Non, silahkan masuk." Jawab satpam.


Segera saja langka kaki Rose berjalan menuju pintu utama, "Teriakan siapa itu?" Gumam Rose.


Dengan segera Rose berlari masuk kedalam. mansion menuju ke arah sumber suara.


Suara cempreng menggelegar di ruang tamu dimana Putri akan mengeksekusi kedua pria tampan tersebut.


"Aaaaaa.... Kalian!!!" Seru Rose yang melihat adegan tidak senonoh seperti di komik-komik bacaannya.


Putri di ikuti kedua pria itu mengalihkan atensi mereka, Gabriel secara otomatis mendorong Sky untuk menjauh. Briel tidak ingin membuat image dalam pikiran gadis itu tercemar.


"Ini tidak seperi yang kamu bayangkan!" Seru Gabriel pada Rose dirinya otomatis berdiri dan menggerakkan kedua tangannya seperti gerakan menolak.


Tanpa di sadari celana yang di gunakan Gabriel melorot karena Sky berhasil membuka gesper dan juga pengait celana bahan tersebut.


"Aaa....!!!" Rose segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan berbalik badan.

__ADS_1


Apa itu yang besar. Gumam Rose tidak sengaja pandangannya mengarah pada tonjolan besar milik Gabriel.


Gabriel yang mendengarkan teriakan Rose, secara otomatis menutup asetnya dengan kedua tangannya. Gabriel menoleh ke arah Sky yang tengah tertawa karena melihat mereka.


Apa senjata Kak Gabriel sebesar itu, lalu milik Kak Dave apakah juga besar seperti itu atau malah semakin... Glek, Rose menelan ludahnya susah payah. Rose membayangkan senjata penghasil mayonaise tersebut.


Rose jauhkan pikiran kotormu, hus hus hus... Tapi aku sangat penasaran! Kini kedua sisi Rose yang baik dan yang jahat tengah bertarung dalam pikirannya.


"Kak cepat berbaring disini," Suara Putri membuyarkan lamunan kedua orang yang masih berdiri tersebut.


Gabriel hanya menghela nafas panjang, dan menuruti keinginan acara ngidam Putri. Sedangkan Rose segera berbalik melihat kedua pria itu sudah pasrah didepan sahabatnya.


"Kamu ngidam apalagi Put?" Tanya Rose kini berjalan dan duduk di sofa.


"Hanya mencabuti bulu-bulu." Jawab Putri enteng.


Hening...


Rose masih terbengong dengan jawaban Putri, dia melihat kedua pria yang sudah pucat pasi tersebut saling bergandengan tangan.


Rose tergelak kencang, "Bolehkah aku membantumu?" Tawar Rose pada Putri.


Kedua pria itu otomatis melotot ke arah Rose, seakan tatapan mereka mengisyaratkan "Jangan macam-macam!"


"Nanti saja Rose, aku benar-benar ingin mencabut bulu agar kelihatan bersih." Jawab Putri lembut.


"Baiklah, aku berbaik hati meminjamkan bantal sofa ini ke kalian berdua Tuan-tuan." Ucap Rose dengan senyum devilnya.


Bahkan bantal sofa yang diberikan oleh Rose tidak mampu menyalurkan rasa sakit mereka ketika kertas itu di tarik oleh Putri.


Setiap Putri selesai menarik hanya menepuk-nepuk pelan pantat kedua pria itu, seakan menyampaikan tidak apa-apa.


Gabriel berguling-guling bersamaan menggosok bagian yang di waxing oleh Putri, terlihat wajah pria itu meringis kesakitan.


Rose yang melihat betapa kejamnya ibu hamil itu, hanya dapat meremas bantal sofa dan juga mengigit kuku-kukunya setelah dirinya merekam kekejaman ibu hamil tersebut.


Cukup lama Rose menjadi penonton, kemudian dia melangkah meninggalkan ruang tamu.


Lima menit kemudian berjalan menuju Gabriel yang masih mengusap kedua kakinya.


"Pakai dulu, Kak." Ucap Rose dengan memberikan selimut tanpa melihat ke arah Gabriel.


Gabriel mendongakkan kepalanya dan terdiam beberapa saat melihat gadis pendek yang ada di depannya.


"Cepat ambil, tanganku pegal." Ucap Rose lagi dengan menggoyangkan selimutnya.


Gabriel segera mengambil selimut tersebut dan melilitkannya ke pinggang agar asetnya kembali suci.


Rose segera duduk di lantai di dekat Gabriel dengan membawa bedak tabur di tangannya.


"Mana Kak, kakimu yang habis di pangkas habis hutannya." Ucap Rose dengan sedikit terkirim geli.


Gabriel terpana melihat senyum gadis pendek di depannya, langsung sana menurunkan kedua kaki jenjangnya ke arah Rose.

__ADS_1


Segera Rose menaburkan bedak di kedua kaki Gabriel dan meratakannya dengan pelan.


"Rose baca di google, untuk meredakan waxing salah satunya menggunakan bedak yang lain Rose tidak tahu." Ucap Rose tertawa karena menganggap dirinya bodoh.


Tidak ada jawaban dari Gabriel, karena dunia dan kesadaran Gabriel tersedot ke arah Rose.


Beberapa saat, "Selesai!" Seru Rose dengan riang.


Terlihat Sky menyemburkan air ke arah Briel, membuat pria itu mendelik kesal.


"Jorok! Ck, kau ini." Kesal Gabriel kepada Sky.


Sky bukannya marah malah tertawa kencang, "Ya ampun sayang, apa temanmu ingin membuat Gabriel menjadi kentucky crispy?" Tanya Sky kepada Putri.


Putri yang baru saja datang membawa beberapa camilan masih bingung dengan ucapan suaminya.


Pandangan Putri menuju ke barat Gabriel, lebih tepatnya kaki Gabriel. Begitu juga Gabriel yang melihat ke arah kakinya.


Putri terkekeh sedangkan Gabriel menatap tajam ke arah Rose.


"Kau! Apa yang kau lakukan pada kakiku!" Seru Gabriel di hadapan Rose.


"Memberimu obat." Jawab Rose dengan wajah polos.


Sky semakin tertawa melihat saudaranya semakin frustasi, "Rasakan, apa kau pikir berhadapan dengan Putri semudah membalikkan telapak tangan." Ucap Sky dalam hati.


Gabriel menghembuskan nafasnya panjang karena semakin frustasi, padahal Briel sudah senang karena adegan romantis itu.


Briel segera berdiri dengan memegang selimutnya, segera meninggalkan ruangan penyiksaan tersebut dengan hati yang dongkol.


"Kak Gabriel mau kemana! Kakak marah?? Woy, ommm!" Seru Rose menggelegar di lantai satu kediaman Wiratama.


Briel menghentikan langkah kakinya, "Om." Veo Briel lagi.


Briel menolehkan kepalanya dan menatap aengit ke arah Rose, "Dasar gadis satu centimeter." Umpat Briel.


Rose termagu dan masih mencerna ucapan Briel.


"Gadis satu centimeter, maksudnya apa?" Tanya Rose kepada sepasang suami-istri yang duduk di sofa.


Putri menggelengkan kepalanya karena tidak tahu, sedangkan Sky tertawa.


"Kau pendek." Ucap Sky tertawa.


...**...



Gabriel yang menatap wajah Rose tanpa berkedip.



Gadis satu centimeter

__ADS_1


__ADS_2