
Happy Reading 🌹🌹
Hanya tinggal hitung hari Rose akan melahirkan, dia tak sabar menunggunya. Gabriel selalu berusaha untuk tetap menjaga Rose sebab tak ingin istrinya terluka sedikitpun. Perut Rose yang sudah besar melebihi ekspestasi membuat Gabriel dan keluarga dengan sigap menjaganya. Rose sudah kesusahan untuk tidur dan berjalan karena bobot badannya semakin bertambah.
Seperti saat ini Rose kembali berjalan menuju kamar mandi. Dia merasa sangat kesusahan, malam sudah larut dan Rose merasa perutnya mulas kembali.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Briel dengan suara serak. Dia terjaga saat mendengar suara tapak kaki Rose, pria itu segera membuka matanya lebar tak ingin istrinya terluka dan kesusahan. Di lihatnya Rose yang tampak susah berjalan.
Dia segera membuka matanya lebar dan beranjak dari tempat tidur menghampiri sang istri bertanya pada Rose hendak ke mana. Rose hanya menjawab pelan bahwa dirinya mau ke kamar mandi.
"Aku kebelet pup, Sayang. Entah kenapa perut ku mulas!" Kata Rose pelan membuat Briel siaga mendampingi sang istri masuk ke dalam kamar mandi. Dia mendudukkan Rose diatas WC duduk. Lalu membuka ****** ***** sang istri, tak ada rasa jijik sedikitpun, bagi Briel apa yang dimilikinya oleh Rose adalah anugerah yang pantas di syukuri nya. Mereka sudah berbagi peluh bersama membuat Rose maupun Gabriel tak ada lagi rasa canggung.
"Keluar dulu, Sayang. Aku mau pup nanti bau!" usir Rose lembut tak enak hati membiarkan sang suami berdekatan dengannya yang sedang ingin membuang air besar.
Gabriel menolak pergi, dia ingin berada di samping Rose, takut sesuatu yang buruk terjadi karena mengingat istrinya membawa dua bayi didalam perutnya terlebih dikamar mandi jika terkena air akan menjadi licin lantainya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku berdiri di sini saja dan lagian aku tidak jijik sama sekali dengan bau kotoran mu."
Gabriel berkata dengan nada tegas penuh keyakinan dia tak mampu meninggalkan istrinya walau hanya sesaat. Sebab dia ingin memastikan keadaan istri ya baik-baik saja.
"Baiklah, tak tutup hidung mu." Rose menyerah menyuruh sang suami keluar karena pada dasarnya dia juga tak ingin berdebat. Sudah beberapa menit berlalu tetapi Rose tak kunjung selesai. Jangankan selesai, memulainya saja belum karena tidak keluar apapun dari lubang anus Rose.
Aneh … dia merasa seperti akan membuang air besar, namun tidak keluar sama sekali.
"Sayang," panggil Rose dengan suara seraknya membuat Gabriel segera berbalik.
"Ada apa hemm?" tanya Gabriel tak sadar bahwa istrinya sedang kesakitan.
"Sepertinya sebentar lagi aku akan melahirkan, deh. Soalnya perut aku mulas sekali dan pinggang ku terasa sakit!" lirih Rose dengan suara serak dan terputus-putus sebab rasa sakit itu menyerang pinggang dan perutnya.
Deg.
Gabriel terkejut mendengar ucapan istrinya dia merasa sangat khawatir. Juga panik, seingatnya dokter mengatakan Rose akan melahirkan lima hari lagi, namun mengapa sekarang sang istri sudah mengalami tanda-tanda ingin melahirkan.
"Bukannya lima jari lagi ya, Sayang?" tanya Gabriel panik membuat Rose menggelengkan kepalanya tak tahu.
"Aku juga tidak begitu paham. Tolong bawa aku ke rumah sakit karena pinggang ku benar-benar terasa sakit perutku juga tidak berhenti mules!" pinta Rose penuh harap dengan keringat membasahi tubuhnya.
__ADS_1
Dia merasa sangat kesakitan saat ini. Gabriel buru-buru memasang kembali ****** ***** Rose lalu menggendong sang istri berjalan penuh hati-hati membawa keluar kamar.
"Ma, Yah. Tolong siapkan mobil! Rose hampir melahirkan!" teriak Gabriel membangunkan orang-orang dimansion Kristoff.
Mendengar teriakan Rose membuat Kristal dan Stevan terjaga. Mereka segera keluar kamar dan melihat Gabriel sedang menggendong istrinya.
"Ayah akan siapkan mobil! Ayo cepat."
"Mama ikut!"
Mereka semua masuk ke dalam mobil yang sama, Gabriel memangku Rose yang tampak amat ketakutan sedangkan Kristal duduk di kursi sebelah supir.
"Aduh, sayang..sakit ya Tuhan … ah … sakit!" Rose menggenggam erat tangan sang suami, nyaris mencakar lengan Gabriel. Dia benar-benar merasa sangat kesakitan. Tubuhnya seperti remuk, pinggang nya terasa sangat sakit. Keringat dingin membasahi keningnya, dia merasa sangat lemah.
Gabriel gugup, dia menggenggam erat tangan sang istri seolah memberikan kekuatan untuk istrinya agar kita. Tak sampai hati melihat raut wajah istrinya yang tampak lemah. Dia sedih … sangat sedih, namun apalah daya.
Dia hanya bisa berdoa agar Rose baik-baik saja dan anaknya lahir dalam keadaan selamat.
"Dari kapan kamu sakit, Rose?" tanya Kristal khawatir seraya menatap Rose dari arah spion depan.
"Dari beberapa hari lalu kemudian tadi jam delapan malam muncul lagi, Ma. Perut ku mengalami kontraksi ringan, aku kira itu wajar. Tapi, saat jam sepuluh malam perutku sudah terasa sakit dan perut ku mules, rasanya pengen BAB. Tapi tidak keluar!" jawab Rose menjelaskan keadaan nya.
"Ya Tuhan sayang … lain kali kalau hamil anak kedua, kamu harus segera tahu kalau apa yang kamu rasakan itu adalah tanda-tanda akan segera melahirkan. Untung saja ketuban nya belum pecah!" ujar Kristal memberi nasihat untuk Rose.
Dia tidak ingin menantunya itu terluka karena ada penerus keluarga nya dalam perut Rose.
"Maklum, Ma. Anak pertama! Nanti kalau punya anak kedua Rose akan paham sendiri!" cetus Stevan yang fokus menyetir.
"Mah, kami akan memiliki anak pertama dan kedua jika kalian lupa." Omel Gabriel pada keduanya.
Kristal dan Stevan hanya ber oh ria karena mereka lupa jika sang menantu tengah mengandung anak kembar.
...***...
Kini Rose sudah berada di ruang persalinan karena sudah mendapatkan pembukaan lahiran tujuh, Rose terus merapalkan doa dengan menggenggam erat tangan sang suami.
Gabriel bahkan sudah menangis karena melihat sang istri yang kesakitan, "Sayang cesar saja ya." Bujuk Briel.
__ADS_1
"Huh... huh... tidak sayang, aku bisa." Tolak Rose lagi.
"Aku tidak kuat sayang melihatmu kesakitan seperti ini." Jawab Briel dengan menyeka keringat yang sudah membasahi wajah Rose.
"Pergilah." Usir Rose.
"Tidak sayang, maaf. Suster apa tidak ada obat pereda sakit, lihat istriku sudah pucat!" Seru Briel.
"Maaf tuan, memang proses melahirkan seperti itu." Jelas perawat.
Briel terus mendampingi istrinya, meski terkena jambak, cakar dan gigitan di tubuh mauoun wajah tampannya. Hingga seorang dokter masuk dengan memasang sarung tangan.
Dengan cepat membuka dan mengecek apakah sudah sempurna, hingga sang dokter mengangguk kepada tiga perawat disana.
Semua segera dalam posisinya, sang dokter juga sudah bersiap menerima sang jabang bayi lahir didunia.
"Nyonya pembukaan sudah sempurna, ikuti intruksi saya. Anda harus mengejang dengan kuat." Kata dokter tersebut tegas.
Rose mengangguk, Rose mengejang dengan mengikuti setiap intruksi dari dokter. Ruangan bersalin bukan dipenuhi oleh suara Rose mainkan Gabriel.
"Ahhhhh!"
Rose menjambak rambut suaminya, dia menggapai apa saja yang mudah digapai karena merasa sakit yang teramat sangat bahkan tulangnya merasa lepas dari setiap tempatnya.
Hingga suara bayi memekik keras didalam ruangan, terlihat lelehan air mata yang bercampur keringat di wajah Rose. Terlihat nafas Rose yang sudah memburu bahkan bibirnya sudah kering.
Gabriel terduduk lemas di atas lantai dingin, dirinya sudah menjadi seorang ayah. Bahkan Gabriel sudah melupakan rasa sakit kepalanya yang mana kulitnya merasa terkelupas di tempatnya.
Rasa nyeri kembali mendera, Rose meringis sakit kembali.
"Nyonya berjuang sekali lagi." Ucap dokter.
Gluk
Gabriel mulai tersadar jika istrinya hamil dua anak, Briel tidak ingin rambutnya dijambak lagi karena sudah banyak rambut yang rontok. Gabriel memberikan tangannya untuk sang istri.
Dokter dan perawat yang melihat Gabriel begitu pasrah hanya tersenyum simpul. Sekali lagi Rose berjuang untuk anak keduanya tangan sang suami bukan hanya di cakar namun juga di gigit.
__ADS_1
...🐾🐾...